Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 73. Segera Menikah


__ADS_3

Angin pagi berhembus pelan membelai tirai putih yang berada di salah satu ruang rawat sebuah rumah sakit. Membuatnya berayun seiring seirama dengan hembusannya. Meniupkan napas-napas kehidupan baru yang jauh lebih cerah dan penuh makna.


Bola mata Bhumi bergerak meski kelopaknya masih tertutup rapat. Jemari tangan yang sebelumnya terdiam kini juga mulai bergerak-gerak seakan menjadi sinyal kehidupannya. Bola mata itu semakin lama semakin intens bergerak. Perlahan kedua kelopak mata lelaki itu terbuka sebagai pertanda bahwa ia telah bangun dari tidur panjangnya.


Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan. Nampak sang papa tengah terlelap di salah satu sofa yang berada di ruangan ini.


"Pa... Papa...!"


Meski lirih, namun Wiraguna seakan mendegar panggilan sang putra. Lekaki itu mengerjap mencoba untuk meraih kesadarannya. Dan seketika menoleh ke arah ranjang yang ditempati oleh Bhumi.


"Arga! Kamu sudah sadar?"


Wiraguna gegas bangkit dari posisinya. Dengan langkah lebar ia mendekat ke arah ranjang sang putra dan duduk di salah satu kursi kecil yang berada di sana.


"Bagaimana keadaanmu Ga? Apa ada keluhan?"


Bhumi menggelengkan kepala. "Tidak Pa. Bhumi baik-baik saja. Dewi di mana Pa? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius yang terjadi kepadanya kan?"


Seakan tidak perduli dengan keadaannya, Bhumi justru mengkhawatirkan keadaan sang kekasih. Terakhir, ia hanya ingat saat mobil yang ia dikemudikan menabrak mobil yang entah dikemudikan oleh siapa dan saat Dewi meneriakkan namanya. Setelahnya tidak ingat apapun apa yang terjadi.


"Dewi baik-baik saja Ga. Dia sedang dirawat di salah satu ruang rawat karena tekanan darahnya drop," jelas Wiraguna mencoba untuk menenangkan sang putra agar tidak terlalu mencemaskan calon istrinya.


"Antar Bhumi ke sana Pa. Antar Bhumi ke sana. Bhumi ingin melihat keadaan Dewi!"


Bhumi mencoba untuk menggeser posisinya, namun rasa pening tiba-tiba saja menyergap kepalanya. Hal itulah yang membuat Wiraguna terkekeh geli.


"Kondisi tubuh kamu itu masih lemah Ga. Jangan terlalu banyak bergerak dahulu."


Wiraguna berujar sembari mengatur posisi sandaran head board ranjang yang ditempati oleh Bhumi. Dan kini posisinya pun jauh lebih nyaman dengan menyandarkan punggungnya di sana.

__ADS_1


"Tapi Bhumi benar-benar khawatir Pa. Bhumi takut terjadi sesuatu dengan Dewi."


Wiraguna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata buah yang jatuh tidak akan pernah jauh dari pohonnya. Kekhawatiran putranya ini sama persis dengan sikapnya yang begitu overprotective kepada sang mendiang istri. Dulu ia sampai pernah menangis tergugu hanya melihat jari sang istri yang tertusuk jarum. Berlebihan sekali bukan? Hihihihi hihi akal-akalannya si penulis ini mah.


"Ga .... tenang, kamu ti...."


Ceklekkk...


"Bang Bhumi!!!"


Ucapan Wiraguna terpangkas saat mendengar pintu ruangan terbuka dan setelah itu suara seseorang yang begitu familiar di telinganya menggema memenuhi seisi ruangan. Wiraguna dan Bhumi sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Dewi yang berada di atas kursi roda didorong oleh Hans.


"Dewi!"


Melihat Bhumi yang sudah membuka matanya, membuat kekuatan yang ada dalam diri Dewi seakan pulih kembali. Wanita itu seperti menemukan kekuatannya kembali yang sebelumnya entah kemana. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mengambil langkah kaki lebar mendekat ke arah Bhumi. Ia berhamburan ke dalam pelukan sang kekasih.


"Bang ... kamu baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius dalam dirimu kan?"


Kehangatan mengalir di dalam aliran darah Bhumi. Lelaki itu berkali-kali mengecup pucuk kepala sang kekasih dan membelainya dengan penuh sayang.


"Aku baik-baik saja Sayang. Aku baik-baik saja. Karena kamu lah yang membuatku bertahan untuk tetap hidup!"


Dewi mengurai pelukannya dari tubuh Bhumi. Dahi wanita itu mengernyit, tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan oleh Bhumi. Sedangkan Hans dan Wiraguna seakan sadar diri bahwa keberadaan mereka di ruangan ini hanya menjadi obat nyamuk semata. Dengan perlahan, mereka keluar dari ruangan ini. Membiarkan dua insan itu untuk saling melepas rindu.


"Maksud bang Bhumi apa? Aku sungguh tidak paham."


Senyum manis terbit di bibir Bhumi. Lelakiku itu merapikan anak-anak rambut yang terlihat sedikit berantakan di wajah Dewi.


"Bukankah kita belum jadi menikah? Aku tidak ingin mati dengan menyedihkan karena masih dalam keadaan lajang. Bukankah itu sangat menyedihkan? Mati dengan membawa gelar lajang?"

__ADS_1


Kedua bola mata Dewi hanya terbelalak dan membulat sempurna. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini Bhumi mengajakknya bercanda. Ia pun mencubit perut Bhumi dengan gemas.


"Apaan sih Bang? Malah bercanda?"


Bhumi terkekeh pelan. Ia kembali menarik tangan Dewi dan membawanya ke dalam pelukannya. Lagi, ia pun memberikan kecupan-kecupan intens di pucuk kepala Dewi.


"Sayang, setelah kejadian ini aku memikirkan satu hal."


"Apa itu Bang?"


"Tapi sebelumnya aku tanya kepadamu terlebih dahulu tentang satu hal."


"Apa Bang?"


"Hubungan kita sudah pasti direstui oleh keluargamu bukan?"


Dewi menganggukkan kepala. "Iya Bang, ibu dan adikku menyerahkan sepenuhnya kepadaku tentang siapa yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku."


"Kalau begitu, aku rasa tidak perlu lagi kita mengadakan acara lamaran, Sayang."


Dewi sedikit terkesiap. Buru-buru ia melepaskan tubuhnya dari pelukan Bhumi. "Maksud bang Bhumi? Aku sungguh tidak paham."


Bhumi tersenyum penuh arti. Ia raih tangan Dewi dan ia kecup buku-buku jemarinya dengan intens. "Setelah keluar dari rumah sakit, aku ingin langsung menikahimu Sayang."


"Apa Bang? Coba ulangi sekali lagi!"


"Ya, kita akan menikah setelah aku keluar dari rumah sakit!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2