Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 77. Sadar


__ADS_3

"Ayah, sudah satu minggu lebih ayah menutup mata. Apakah ayah tidak bosan? Apakah alam bawah sadar ayah jauh lebih membahagiakan daripada alam nyata?"


Gilang, selama satu minggu lebih tidak pernah jauh dari tempat sang ayah terbaring. Setiap hari, ia selalu mengajak Rajasa berkomunikasi meski ia tahu bahwa sang ayah masih berada dalam keadaan kritis. Namun, ia percaya bahwa sang ayah tetap mendengarnya.


"Ayah, apakah Ayah tahu? Gilang sudah menyiapkan sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kita. Sebuah rumah yang jauh lebih layak dan lebih nyaman dari rumah yang Ayah tempati. Apakah Ayah tidak ingin segera melihatnya? Bangun Yah, Gilang merindukan Ayah."


Gilang masih berusaha untuk mengajak berkomunikasi sang ayah sambil terus berharap Rajasa dapat mendengarnya. Pandangan matanya menatap lekat wajah Rajasa dengan tatapan kosong. Ada rasa sakit yang menghujam dadanya melihat kondisi Rajasa yang begitu memperihatinkan seperti ini. Akibat ambisi dari manusia yang begitu kejam, membuat sang ayah haus mengorbankan diriny, dan mengalami kejadian seperti ini.


Gilang terkesiap, tatkala melihat kelopak mata Rajasa bergerak. Kemudian bibirnya ia geser ke arah telinga Rajasa. "Jika Ayah sudah merasa lelah dari tidur panjang Ayah, bukalah mata Ayah! Gilang menunggu Ayah di sini."


Kelopak mata Rajasa semakin bergerak lebih cepat dan jemarinya pun seperti memberikan respon. Gilang yang melihat itu semua hanya terpana.


Ia kembali berbisik ke telinga Rajasa. "Bangunlah Yah. Bangun!"


Seketika netra milik lelaki yang tengah terbaring itu terbuka, meski sedikit memincing karena sinar lampu yang berada di atasnya terasa begitu menusuk kornea matanya. Hati Gilang dipenuhi oleh rasa haru. Air matanya kembali mengalir deras. Ia memeluk tubuh sang ayah dengan meletakkan kepalanya di atas dada.

__ADS_1


Rajasa menurunkan pandangannya agar dapat melihat lelaki yang tengah meletakkan kepala di atas dadanya ini. "Gi-Gilang?"


Dengan terbata, Rajasa mencoba memanggil nama lelaki di depannya ini. Suaranya terdengar lirih karena terhalang oleh ventilator yang terpasang di hidung dan mulutnya. Namun masih dapat di dengar oleh Gilang.


Gilang mengangguk. "Iya Yah. Ini Gilang. Syukurlah, Ayah sudah sadar."


"A-apa yang sedang terjadi Nak?"


Gilang menjauhkan kepalanya dari dada Rajasa, kemudian kembali dalam posisi tegak. "Ceritanya panjang, Yah. Tapi yang pasti Gilang sangat bersyukur, karena Ayah bisa melewati ini semua."


"Bagaimana dengan putra Wiraguna, Nak? D-dia selamat baik-baik saja, bukan?"


Bibir Gilang hanya terkatup mendengar pertanyaan sang ayah. Dalam keadaan seperti inipun, ia masih memikirkan keadaan Arga. Sungguh lelaki yang sangat mulia.


Gilang menganggukkan kepala. "Iya Yah, kak Arga dalam keadaan baik-baik saja. Dia selamat dari kecelakaan itu."

__ADS_1


"Syukurlah, Ayah lega mendengarnya. Karena sudah tidak ada lagi dosa yang harus Ayah tanggung karena ambisi mamamu."


"Selamanya, Ayah tidak akan pernah menanggung dosa-dosa mama. Mama sudah menanggung dan mempertanggungjawabkan semua kejahatannya Yah. Saat ini mama sudah mendekam di dalam penjara.


Rajasa hanya bisa mengangguk pelan. Kedua netranya menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu, pilu, dan menerawang.


" Semoga, saat berada di dalam penjara, mamamu bisa ber instropeksi diri Lang. Sehingga, setelah keluar dari penjara, ia bisa menjadi sosok wanita yang baik."


"Aamiin Yah. Aamiin!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2