
Beberapa mobil pick-up nampak berjajar memenuhi ruas-ruas jalan kabupaten sudut negeri ini. Nampak dari kejauhan, beberapa furniture memenuhi muatan pickup itu. Mulai dari sofa, satu set meja makan, spring bed, nakas, almari dan masih banyak lagi. Tak ketinggian, berbagai macam peralatan elektronik juga nampak memenuhi. Kulkas, mesin cuci, televisi dan masih banyak lagi. Siapapun yang berpapasan dengan mobil-mobil itu, pastinya akan takjub dibuatnya.
Iring-iringan mobil itu mengurangi kecepatan laju kendaraannya saat melaju di jalan sebuah kampung yang terletak di lereng gunung berapi. Mobil paling depan berhenti, di saat melintas di depan sebuah halaman rumah yang nampak ramai dengan kumpulan ibu-ibu sosialita. Mereka sepertinya sedang mengikuti demo memasak dari salah satu produk panci presto yang sedang nge-hits saat ini.
"Selamat siang Mbak ... mohon maaf, saya ingin bertanya."
Sopir mobil pickup yang masih nampak muda itu mendekat ke arah salah seorang sales yang tengah mengeluarkan beberapa barang dari dalam mobil. Bermaksud ingin bertanya perihal alamat yang akan menjadi tujuan pengantarannya.
"Iya Mas, mau tanya apa? Apa mas nya juga ingin ikut membeli produk panci presto ini? Mumpung ada diskon lho Mas, mari dibeli. Mau cash atau kredit, semua pasti murah."
Seorang wanita yang merupakan salah satu sales dari panci presto itu justru malah menawarkan dagangannya kepada sang sopir mobil pickup. Hal itulah yang membuat sang sopir tertawa renyah.
"Tidak Mbak, saya tidak ingin membeli panci presto. Di sini saya hanya ingin bertanya rumah ibu Ambarwati itu di mana ya?"
Dahi sales panci presto itu sedikit mengernyit. Ia bahkan tidak tahu siapa itu ibu Ambarwati, mengingat dia hanyalah seorang sales panci yang sedang menyelenggarakan demo memasak untuk mendapatkan pelanggan sehingga bonus bisa keluar di bulan ini.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu Mas. Tapi tunggu sebentar sebentar, Mas nya ikut saya saja, biar saya tanyakan kepada ibu-ibu di sana."
Sales panci menjeda ucapannya dan menuju ke arah teras di mana diselenggarakan demo memasak diikuti oleh sang sopir mobil pickup.
"Ibu-ibu ... ini ada yang bertanya rumah bu Ambarwati di mana. Apakah Ibu-ibu di sini ada yang kenal?"
Mendengar kata Ambarwati, membuat perhatian Mini, Mia, dan Ine yang sebelumnya fokus ke arah daging entok yang tengah direbus di dalam panci presto ini seketika terpecah. Tanpa diberi aba-aba, ketiga orang itu langsung menoleh ke arah sang sales yang sebelumnya bertanya perihal alamat Ambarwati.
"Ambarwati? Memang siapa yang mencari Mbak?" tanya Mia yang dipenuhi oleh rasa penasaran.
__ADS_1
"Ah, pastinya dari pihak bank, Bu. Bukankah satu bulan terakhir ini bu Ambar melakukan renovasi rumah besar-besaran? Uang dari mana dia kalau tidak pinjam dari bank?" tukas Ine memberikan argumentasinya sembari memainkan kuku-kuku jemarinya.
"Betul sekali itu, pasti pihak bank yang mencari bu Ambar. Mendekati akhir bulan, diingatkan untuk membayar cicilan. Saya sampai heran lho Bu, hanya untuk menyaingi kita sebagai orang kaya di kampung ini, dia sampai rela kredit di bank untuk merenovasi rumah. Memang dikira setelah itu dia bisa masuk ke circle kita? Ya jelas tidak bisa lah!" timpal Mini yang juga turut mengutarakan pendapatnya.
Sales panci dan sopir pickup justru malah terperangah dibuatnya. Kedua orang itu sama-sama geleng-geleng kepala.
"Jadi rumah bu Ambarwati di sebelah mana Bu? Ini saya terburu-buru karena sudah sejak satu jam yang lalu, seharusnya barang-barang yang saya bawa tiba di rumah bu Ambarwati."
Berusaha memangkas benih-benih ghibah dari kumpulan Ibu-ibu sosialita ini, sang sopir pickup mencoba untuk kembali ke pokok permasalahan. Bahwa sejatinya, ia berada di tempat ini untuk menanyakan kediaman Ambarwati.
"Jadi Mas nya ini bukan dari pihak bank yang ingin menagih cicilan?" imbuh Mia yang semakin dibuat penasaran.
"Bukan Bu, saya bukan pegawai bank. Saya driver dari Informa yang merupakan toko furniture paling hits di Indonesia dan beberapa produk elektronik," terang sang driver dengan bangga.
Ine, Mia, dan Mini sama-sama terperangah dan membelalakkan mata. Ketiga orang itu nampak terkejut dalam waktu yang bersamaan.
"Wah kalau itu banyak sekali Bu. Itu, mobil pickup yang berjajar di depan sana, semuanya membawa barang-barang pesanan bu Ambar..."
Belum sempat sang sopir mobil pickup memberikan informasi, ketiga ibu itu lebih dulu mendekat ke arah mobil-mobil pickup yang telah berjajar rapi. Lagi, ketiga pasang bola mata itu membulat sempurna.
"Bu .... kepala saya kok tiba-tiba terasa pusing ya?" lirih Mia saat melihat barang-barang mewah memenuhi mobil pickup itu.
"Tubuh saya juga gemetaran Bu.... baru kali ini saya melihat barang-barang mewah seperti ini," sambung Ine dengan kaki yang nampak gemetaran dan netra, masih menatap lekat barang-barang mewah itu.
"Aduh ... aduh ... aduh ... dada, dada saya Bu .. dada saya rasanya begitu sesak. Sulit untuk bernapas."
__ADS_1
Berbeda dengan Mia dan Ine, Mini justru merasakan sesak di dalam dada dan sulit untuk bernapas. Wanita itu nampak memegangi dada sebelah kirinya seperti terkena serangan jantung.
Ine dan Mia menautkan pandangan mereka ke arah Mini yang nampak begitu shock. Keduanya juga ikut panik, melihat kondisi Mia yang persis seperti seseorang yang tengah sekarat.
"Loh, loh, loh... Bu Mini baik-baik saja kan? Kok seperti orang yang terkena serangan jantung?"
Mini susah payah mengatur napas. Bahkan napasnya nampak terputus-putus seperti kesulitan untuk menghirup oksigen yang berada di sekitar.
Dada semakin terasa begitu sesak. Kepala juga terasa berat. Pandangan mata berkunang-kunang dan sendi-sendi di tuuhnya juga ikut melemas. Tak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba...
Bruk!!!!
Mini hilang kesadaran dan tubuhnya terjatuh di atas tanah.
"Bu Miniiii!!!!" teriak Ine dan Mia bersamaan dan seketika mengundang perhatian orang-orang di sekitar.
Jika sebelumnya orang-orang yang berkumpul di tempat ini fokus ke arah daging entok yang direbus di dalam panci presto, kini perhatian mereka fokus ke arah tubuh wanita yang tergeletak di atas tanah. Dengan langkah kaki lebar, mereka pun mengerumuni Mini yang tengah tidak sadarkan diri.
"Hei Mas sopir! Mengapa kamu diam saja? Ayo bantu kami untuk mengangkat ibu Mini!" seru Ine kepada sang sopir mobil pickup.
Sopir itu pun terperangah. "Tapi Bu, saya di sini sedang ada pekerjaan untuk mengantar barang."
"Mas ini bagaimana? Apa tidak mempunyai rasa empati? Sudah, lekas bantu kami untuk membopong Bu Mini. Letakkan di teras sana!" perintah Mini yang juga tidak kalah garang.
Sopir mobil pickup itu pun hanya berdecak lirih. Ia sedikit merutuki dirinya sendiri, dekat-dekat dengan kumpulan para penggosip, ternyata membuatnya ditimpa kesialan seperti ini. Pekerjaan yang seharusnya selesai dari tadi, kini harus terjeda lagi.
__ADS_1
"Hah .... nasib ...nasib..."