Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 44. Show


__ADS_3


"Nah, kita lihat di layar belakang ini!"


Peniti Bros, presenter acara 'Pagi Happy' menunjuk ke sebuah layar berukuran besar yang berada tepat di belakangnya. Diikuti oleh Bhumi dan juga Dewi yang turut memperhatikan dengan seksama.


"Ada komentar dari salah satu netizen yang seperti ini."


mulut_pedas_tetangga "Alah ... zaman serba gimmick, yang dilakukan oleh dua orang ini pasti juga hanya settingan. Hello... mana ada di zaman sekarang laki-laki yang mau menjalin hubungan dengan wanita over size seperti itu."


Peniti Bros kembali menautkan pandangannya ke arah dua bintang tamu yang tengah viral ini. "Bhumi ... apa tanggapanmu perihal komentar dari salah satu netizen ini? Apakah benar yang kamu lakukan di TMII beberapa saat yang lalu hanya sekedar gimmick untuk membuatmu terkenal melalui jalan pintas?"


Bhumi mengulas sedikit senyum yang ia miliki. Sesekali, ia melirik ke arah Dewi yang sedari lebih banyak berdiam tidak menanggapi. Ia paham sekali bahwa komentar dari salah satu netizen yang seperti ini pastinya akan mengusik pikiran Dewi.


Bhumi meraih jemari tangan Dewi. Ia genggam erat jemari tangan wanita ini yang sudah terasa dingin sekali. Mentransfer rasa hangat yang akan memupus segala resah yang bercokol di dalam hati.


Menyampaikan kata yang tersirat melalui sorot mata. Menegaskan bahwa apa yang ada di dalam komentar itu sama sekali tidak ada benarnya. Meyakinkan wanita ini bahwa semua yang ia rasa memang tulus adanya. Bukan gimmick, bukan settingan ataupun rekayasa.


"Semua orang berhak berkomentar. Namun yang harus aku tegaskan, bahwa komentar itu tidaklah benar. Aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang aku lakukan di TMII beberapa saat yang lalu akan viral seperti ini. Karena pada dasarnya aku memang berniat untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan kepada wanitaku ini di dalam suasana yang berbeda."


"Jadi, hubungan kalian ini bukanlah settingan?"


Bhumi menggelengkan kepala. "Bukan. Sama sekali bukan settingan. Apa yang aku jalani bersama Dewi memang tulus dari rasaku yang ada untuk wanitaku ini."


Peniti Bros menoleh ke arah kamera yang berada tepat di hadapannya. "Nah para netizen yang budiman, sudah jelas ya bahwa hubungan antara Bhumi dengan Dewi bukan settingan. Ini semua nyata. Jadi, jangan lagi deh kalian beranggapan ataupun berkomentar bahwa ini semua hanya settingan."


Peniti Bros kembali menoleh ke arah Bhumi. "Nah, mungkin pertanyaan ini yang juga banyak ditanyakan oleh netizen di luar sana. Sebenarnya apa yang membuatmu jatuh hati dan menjatuhkan pilihanmu untuk menjalani sebuah hubungan bersama Dewi? Apakah karena Dewi memiliki suara yang bagus sehingga bisa menjadi aset masa depan untukmu yang berharga?"


Masih dengan menggenggam jemari tangan Dewi seakan tidak ingin terlepas, Bhumi tergelak lirih menanggapi pertanyaan presenter acara ini.

__ADS_1


"Aset masa depan yang berharga? Jelas, bahwa suara emas milik wanitaku ini memang merupakan aset dari Tuhan yang sangat berharga. Aku tidak munafik bahwa aku ikut bangga dengan apa yang dimiliki oleh wanitaku ini. Namun, bukan karena hal itu aku melabuhkan hati untuk mencintai Dewi. Aku mencintai Dewi, karena dia berbeda. Dia sederhana. Dia selalu tampil apa adanya. Tidak berpura-pura. Dia memiliki keteguhan hati untuk meraih apa itu mimpi dan juga asa."


Peniti Bros turut tersenyum simpul. "Apakah itu bisa diartikan bahwa kamu mencintai seseorang tanpa memandang rupa? Dan bisa menerima pasanganmu apa adanya? Bukankah lelaki yang seperti itu merupakan salah satu lelaki langka?"


Bhumi menganggukkan kepala, membenarkan apa yang dikatakan oleh Peniti Bros. "Ya, memang langka. Namun wanitaku ini harus bangga. Karena dia menemukan itu semua ada dalam diriku. Dan aku pastikan tidak akan pernah membaginya dengan yang lain."


"Luar biasaa. Bagaimana pemirsa? Apakah kalian semua juga ingin mendapatkan pasangan seperti Svarga Bhumi ini? Banyak-banyak berdoa saja ya, agar masih ada stok nya."


Kini, giliran Peniti Bros yang menatap lekat wajah wanita yang duduk di sebelah Bhumi yang sedari tadi lebih banyak terdiam ini.


"Nah Dewi Sekar Kemuning. Nama yang menurutku sangat indah artinya. Ada rumor yang mengatakan bahwa kamu datang dari desa ke ibu kota, mengadu nasib untuk bisa menjadi seorang penyanyi terkenal?"


Dewi menganggukkan kepala. "Iya kak Pen, itu memang benar."


"Lalu, bagaimana bisa kamu bertemu dengan lelaki yang saat ini duduk di sampingmu ini?"


Sekilas, Dewi menatap manik mata milik Bhumi. Lelaki itu menanggukkan kepala dan menanggapi dengan senyum penuh arti.


Peniti Bros mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi, sejak saat itu kamu selalu ikut Bhumi untuk perform dari satu tempat ke tempat yang lain?"


"Iya benar, memang seperti itu Kak."


"Nah, aku ingin bertanya kepada Dewi, namun mungkin sedikit kurang berkenan. Bagaimana? Apa kamu mengizinkan?"


Dewi menganggukkan kepala. Sebagai isyarat mempersilakan Peniti Bros untuk bertanya perihal apapun. "Silakan Kak!"


"Apa tanggapan kamu perihal komentar netizen yang mengomentari perihal bentuk fisikmu? Apakah kamu sering merasa insecure dengan kondisi fisikmu ini?"


Dewi sedikit tersentak kala mendengarkan pertanyaan Peniti Bros ini. Ada sebilah pisau tak kasat mata yang menghujam tepat di jantungnya jika teringat akan fisik yang ia miliki. Bentuk fisik yang selalu saja membuatnya rendah diri. Dan bentuk fisik yang membuatnya dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang mengelilingi. Membuatnya terjebak dalam putus asa yang tiada bertepi. Beruntung ia dipertemukan dengan Bhumi. Sehingga ia bisa kembali percaya diri lagi.

__ADS_1


Dewi menghirup napas dalam-dalam dan perlahan ia hembuskan. "Itu memang benar, aku memang sering merasa insecure dengan kondisi fisik yang aku miliki. Namun perlahan, semua berubah di saat aku bertemu dengan bang Bhumi. Itulah yang harus senantiasa aku syukuri. Dan, sebagai wujud rasa syukurku, aku berupaya untuk mencintai diriku sendiri."


Peniti Bros sedikit terperangah. "Mencintai dirimu sendiri? Apakah itu dapat diartikan, kamu akan mengubah penampilanmu?"


"Ya, itu salah satunya."


"Kamu melakukannya untuk Bhumi?"


Dewi mengulas sedikit senyum di bibirnya. "Bukan hanya untuk bang Bhumi. Namun juga untuk ibu, adik dan juga orang-orang yang mencintaiku. Aku ingin hidup lebih lama untuk mereka. Dengan kondisi fisikku yang seperti ini, mungkin akan membuatku lebih rentan terkena penyakit. Maka dari itu, aku ingin mengubah pola hidupku untuk bisa lebih sehat."


"Apakah ini juga merupakan salah satu upayamu mempersiapkan diri sebelum menjadi seorang penyanyi terkenal?"


Dewi menganggukkan kepala. "Bisa diartikan seperti itu. Namun aku melakukan itu semua juga untuk membungkam mulut-mulut orang yang pernah merendahkanku bahkan pernah menghancurkan hidupku."


***


Derai air mata tiada henti mengalir, menyusuri bingkai wajah wanita berusia paruh baya yang sedikit keriput ini. Sepanjang ia menyaksikan sang anak tampil di sebuah acara televisi, rasa haru selalu saja menggerogoti hati. Sulit dipercaya bahwa sang anak menjadi terkenal saat ini.


"Ibu bangga padamu, Dew. Ibu bangga. Perlahan, Tuhan menunjukkan kasih sayang Nya kepadamu. Dia membayar tunai segala kesakitan yang pernah kamu rasakan dengan keberhasilan seperti ini. Ibu sampai tidak mampu untuk berucap apapun lagi."


Seruni yang duduk di samping Ambarwati juga tiada henti meneteskan air mata. Melihat sang yang sudah menemukan jalan kesuksesannya ini membuat dirinya juga merasakan bahagia tiada terkira. Ternyata memang benar, bahwa Tuhan akan lebih cepat mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya.


Gadis belia itu merengkuh tubuh sang ibu dan keduanya berpelukan erat. Sepertinya inilah cara mereka untuk menjalani kehidupan yang serasa berat. Dengan saling berpelukan, membuat mereka serasa jauh lebih kuat.


"Setelah ini tidak akan ada lagi yang merendahkan kak Dewi, Bu. Setelah ini mereka pasti akan memandang takjub siapa kak Dewi. Dengan cara seperti ini, kak Dewi bisa menunjukkan bahwa dia tidak pantas untuk direndahkan."


"Ibu tetiba merindukan kakakmu, Run. Apa mungkin dalam waktu dekat ini ia pulang?"


"Yang paling penting kita doakan kak Dewi, Bu. Jika memang sudah waktunya kak Dewi pulang, dia pasti akan pulang. Lagipula, baru beberapa minggu kak Dewi ada di ibu kota. Biarkan ia lebih dulu meniti karier nya."

__ADS_1


"Dan lelaki itu? Bagaimana pendapatmu tentang lelaki yang bersama Dewi ini Run? Apa menurutmu dia lelaki baik-baik?"


"Kak Dewi orang baik, Bu. Runi yakin jika lelaki yang bersama kak Dewi itu juga orang baik. Dia benar-benar tulus mencintai kak Dewi."


__ADS_2