
Butiran embun nampak bergelayut manja di atas dedaunan. Mengeratkan pelukannya, tidak ingin sedetikpun terlepas dari dekapan. Bias warnanya nampak berkilauan. Seperti kilau mutiara yang berada di dasar lautan.
Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu masih setia berdiri di depan cermin kecil yang menggantung di salah satu sudut ruangan. Memori otaknya berkelana ke kejadian semalaman. Di mana untuk kali pertama ia merasakan apa itu cium*an.
Berkali-kali jemari tangannya menyentuh bibir. Jika teringat akan kejadian semalam hanya membuat dadanya berdesir. Ingin rasanya bayang-bayang itu ia usir. Namun mau bagaimana lagi jika semuanya sudah terlanjur terukir.
"Kak Dewi! Kak Dewi kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?"
Gelombang suara yang mengalun pelan merembet ke dalam indera pendengaran, membuat Dewi terperanjat seketika. Ia tersadar dari lamunannya dan menautkan pandangan ke arah sumber suara.
"Sita? Sejak kapan Sita berada di sana?"
"Sejak tadi. Sejak kak Dewi senyum-senyum sendiri sambil memegangi bibir. Memang bibir kak Dewi kenapa? Apakah digigit semut?"
Pertanyaan polos namun membuat Dewi merasa kikuk tak terbantahkan. Rupa-rupanya perbuatan Bhumi semalam membuatnya terbang tinggi hingga ke awan. Membuatnya lupa daratan. Dan setelah tersadar, justru pertanyaan polos gadis kecil ini yang membuat rasa malu itu tiadak bisa terelakkan.
Jika sudah seperti ini jawaban apa yang harus diberikan oleh Dewi? Tidak mungkin bukan jika ia mengatakan bahwa bibirnya dicium oleh Bhumi? Pastinya Dewi akan lebih malu lagi.
"Ah ... ini bibir kak Dewi baik-baik saja kok, Ta. Hanya nampak sedikit kering. Mungkin karena kurang vitamin C. Ya, kurang vitamin C."
Entah masuk akal atau tidak, yang terpenting jawabannya ini dapat membuat Sita berhenti bertanya dan tidak ingin tahu lebih jauh lagi. Meskipun sejatinya jantungnya juga ikut berdetak tiada beraturan karena telah membohongi gadis kecil ini. Namun Dewi tetap berpikir tidak mengapa ia berbohong sedikit demi kebaikan dirinya sendiri.
"Oh kurang vitamin C? Syukurlah kalau begitu Kak. Sita kira digigit semut."
Dewi tergelak lirih. "Tidak Sayang. Bibir kak Dewi tidak digigit semut kok. Oh iya, kak Dewi belikan sarapan ya. Setelah itu kak Dewi ingin pergi ke luar sebentar. Sita tetap di rumah ya, jaga ibu sambil belajar membaca buku-buku yang sudah kak Dewi belikan kemarin."
"Iya kak Dewi!"
Dewi mengusap rambut gadis kecil ini dengan penuh kelembutan. Ia tersenyum penuh arti melihat semangat Sita untuk belajar membaca melalui buku-buku yang ia belikan. Satu hal yang patut ia syukuri, sedikit rezeki yang ia dapatkan bisa ia gunakan untuk membelikan Sita buku-buku bacaan yang pastinya akan bermanfaat bagi masa depan.
"Ya sudah, kak Dewi cari sarapan dulu ya."
Wanita itu mengayunkan kakinya untuk pergi ke penjual nasi uduk yang sudah menjadi langganan selama ia tinggal di ibu kota. Seperti biasa, tiga bungkus nasi ia beli untuk dirinya sendiri, utuk wanita paruh baya yang tinggal bersamanya dan pastinya untuk Sita.
Rekahan senyum menghiasi bibir Dewi. Ia melangkahkan kaki diiringi dengan semangat yang berapi-api. Berdiri tegap, menantang dunia dengan gagah berani.
Sementara itu di tempat berbeda, seorang laki-laki terlihat sedang memainkan gitar di tangannya. Memadukan bait-bait lagu dengan nada yang ia cipta. Hingga tercipta sebuah harmoni yang terdengar menentramkan jiwa.
Sesekali tatapan mata lelaki itu nampak menerawang. Di kala teringat akan sesuatu yang ia lakukan semalam. Tanpa permisi mencium bibir anak orang. Yang semakin membuatnya malu dan tidak enak hati jika ia kenang.
Ya Tuhan, apakah aku ini pantas disebut lelaki kurang ajar karena telah berani mencium Dewi tanpa permisi? Maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk melecehkannya. Entah mengapa aku seperti ditarik oleh pesona yang dimiliki oleh wanita itu. Tuhan .... Apakah mungkin aku jatuh cinta?
Bhumi kembali bangun dari lamunan panjangnya. Ia kembali fokus terhadap bait-bait lagu yang diberikan oleh Dewi kepadanya. Mencari nada yang pas agar indah terdengar di telinga.
"Ahhh ... akhirnya, selesai sudah lagu pertama yang diciptakan oleh Dewi. Tinggal lagu ke dua, dan lagu-lagu yang telah aku cipta. Nantinya akan aku jadikan sebuah album untuk mengawali langkah kaki Dewi terjun ke industri tarik suara.
__ADS_1
***
" Hans... Hans... Hans!!!"
Lengkingan suara nyaring yang berasal dari dalam kamar Kartika terdengar memenuhi seluruh penjuru ruangan. Memecah keheningan pagi hari yang terasa dingin hingga menusuk tulang. Hans yang sedang berada di dapur bersama mbok Jum seketika terkesiap mendengar suara sang Nyonya besar. Kedua orang itupun hanya bisa saling bertatap netra.
"Ada apa ya Mbok? Tidak seperti biasa, nyonya sepuh berteriak seperti itu?
"Aku juga tidak tahu Hans. Lekas ke kamar nyonya sepuh. Barangkali nyonya sepuh sedang membutuhkanmu!"
Hans meletakkan kembali secangkir kopi hitam buatan mbok Jum di atas meja dapur. Gegas, ia mengambil langkah kaki lebar untuk menuju ke kamar sang nyonya.
"Nyonya sepuh memanggil saya?"
Kartika mengedarkan pandangannya ke arah lelaki yang berdiri di ambang pintu kamar pribadinya. Wanita berusia senja itu pun menganggukkan kepala seraya mempersilakan sang pengawal memasuki kamarnya.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Hans, hari ini hari Senin, bukan?"
"Betul Nyonya, hari ini hari Senin."
"Lekas pergi ke pegadaian Hans. Tanyakan kepada pegawai pegadaian itu barang apa yang digadai ataupun dijual oleh wanita yang menolongku. Kamu tebus saja barang itu. Setelahnya, kamu cari keberadaan wanita itu."
"Baik Nyonya, saya akan segera ke pegadaian. Kalau begitu, saya permisi Nyonya."
"Hati-hati Hans!"
***
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kantor pegadaian, Dewi nampak sedang duduk di salah satu kursi tunggu. Hari ini, ia berniat untuk menebus kembali kalung emas putih yang tempo hari ia gadaikan untuk membayar biaya administrasi sang nenek yang ia temukan di pinggir jalan. Dengan sabar, wanita itupun menunggu antrean sembari bertukar kabar dengan sang ibu di kampung halaman.
Waktu terus berjalan. Lima belas menit Dewi menunggu antrean, pada akhirnya sang customer service memanggil nomornya.
"Silakan Kak, ada yang bisa saya bantu?"
Dewi mengeluarkan surat gadai yang ia dapatkan dari pegadaian ini. Ia serahkan kepada customer service di depannya ini.
"Begini Kak, tempo hari saya datang kemari untuk menggadaikan sebuah kalung. Bisakah hari ini saya tebus Kak?"
Customer service itu memperhatikan dengan lekat surat gadai yang dibawa oleh Dewi. "Oh bisa Kak. Mohon ditunggu sebentar, biar saya ambilkan kalungnya."
Sang customer service terlihat mencari-cari barang yang dimaksud oleh Dewi. Tak selang lama, wanita cantik itupun kembali ke hadapan Dewi.
"Ini kalungnya ya Kak."
"Jadi yang harus saya bayar berapa ya Kak?"
__ADS_1
Sang customer service mengambil kalkulator untuk menghitung beban bunga yang harus dibayarkan oleh Dewi. Dengan cekatan, ia menekan-nekan angka yang ada di kalkulator itu.
"Jadi begini ya Kak perhitungannya. Dalam satu bulan atau tiga puluh hari, bunga yang dibebankan adalah dua koma dua persen. Itu artinya hitungan perharinya adalah dua koma dua persen dibagi dengan tiga puluh. Kita bertemu di angka nol koma nol tujuh tiga persen. Bunga yang harus Kakak bayarkan untuk pinjaman sebesar dua juta dua ratus ribu selama tiga hari yaitu nol koma nol tujuh puluh tiga persen dikali tiga hari dikali dengan besarnya pinjaman. Nah, kita bertemu di angka empat ribu empat ratus rupiah. Sehingga total pengembalian adalah dua juta dua ratus empat ribu empat ratus rupiah."
Dewi mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti. Ia pun mengulurkan lembaran uang sejumlah dua juta dua ratus dan ia lebihkan sepuluh ribu rupiah. "Nah ini saya lebihkan sepuluh ribu rupiah ya Kak untuk membayar bunga pinjamannya."
Customer service itu sedikit terhenyak. "Tapi ini terlalu banyak Kak, karena prosedur dari kantor kami hanya sekitar empat ribu lima ratus rupiah."
Dewi hanya mengulas sedikit senyumnya. "Tidak apa-apa Kak. Anggap saja ini merupakan ucapan terima kasih saya karena dengan adanya pegadaian ini, bisa membantu saya di saat sedang berada di kondisi terdesak."
Sang customer service menganggukkan kepala. "Terima kasih banyak Kakak."
"Sama-sama Kak. Kalau begitu saya permisi."
"Silakan Kak. Semoga hari-hari Kakak menyenangkan!"
Dewi beranjak dari posisinya. Ia mengayunkan tungkai kakinya untuk bersegera pergi meninggalkan kantor pegadaian ini. Dengan senyum merekah ia melangkah. Pada akhirnya, benda berharga pemberian sang ibu bisa kembali ia dapatkan.
Bersamaan dengan Dewi yang sudah keluar dari pegadaian, nampak Hans memasuki kantor ini. Tanpa mengambil nomor antrean, lelaki itu langsung menemui salah satu customer service yang berada di sini.
"Maaf Pak, silakan mengambil nomor antrean terlebih dahulu!"
"Sebentar Mbak, aku ingin bertanya."
Hans mengeluarkan macbook yang berada di dalam tas yang ia bawa. Ia tunjukkan rekaman yang menampilkan wajah Dewi yang berada di rumah sakit tempo hari.
"Apakah wanita dalam rekaman CCTV ini menggadaikan barang berharga di sini?"
Dahi customer service itu sedikit mengernyit. "Iya Pak, wanita dalam rekaman CCTV ini memang menggadaikan sebuah kalung di kantor kami."
Senyum tipis terbit di bibir Hans. "Bolehkah saya menebus kalungnya Mbak?"
"Mohon maaf Bapak, tidak bisa."
"Mengapa tidak bisa Mbak. Saya merupakan salah satu keluarga wanita ini."
Hans terpaksa harus berbohong untuk bisa mendapatkan kalung seperti yang diinginkan oleh Kartika. Karena menurutnya, kalung inilah yang akan membuat Kartika berbahagia.
"Baru saja pemilik kalung ini sudah menebusnya Pak. Sehingga saat ini kalung tersebut sudah tidak ada di pegadaian kami."
"Apa?"
"Iya Pak, baru saja pemilik kalung ini keluar dari kantor kami. Mungkin berpapasan dengan Bapak ketika masih berada di luar sana."
Ya Tuhan... Ternyata aku kalah cepat...
πππππ
__ADS_1
Part ini di sponsori oleh Pegadaian.. Mengatasi Masalah Tanpa Masalahπππ
Demi part ini, sang penulis rela membuka kembali memori tentang cara perhitungan bunga di pegadaian. Meski dulunya mengambil jurusan Ilmu Sosial, namun ternyata sudah lupa bagaimana caranya menghitung bunga seperti ini. πππ