
Bhumi mengakhiri petikan gitar dan mengakhiri nyanyiannya di kala bait-bait lagu penuh cinta itu berhasil ia nyanyikan dengan sempurna. Diiringi riuh tepuk tangan dan teriakan dari para pengunjung, memaksa Bhumi bernyanyi lagi dengan tema lagu yang sama. Tema lagu cinta yang membuat siapa saja yang mendengarnya hanyut dalam suasana romantis yang tercipta.
Bhumi menatap para pengunjung kawasan ini dengan sorot mata penuh cinta. Bisa menghibur orang-orang yang berada di tempat ini sungguh membuatnya berbahagia. Mendendangkan lagu cinta yang terasa hingga ke palung jiwa.
Bhumi berjalan mendekat ke arah Dewi yang saat ini masih berada dalam mode terkesima. Wanita itu seakan tenggelam dalam sejuta rasa yang hadir secara tiba-tiba. Sedari tadi hanya membuatnya duduk terdiam sembari meresapi segala rasa yang bergelora.
"Ikutlah bersamaku!"
Bhumi mengulurkan tangannya di hadapan Dewi. Sedangkan wanita itu sedikit tersentak namun pada akhirnya menyambut jemari tangan lelaki ini. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan di samping Bhumi. Kini mereka berdua berdiri bersisihan di depan para pengunjung yang semakin malam justru semakin bertambah ramai.
"Meskipun aku memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi kata-kataku bersembunyi dariku dan aku tidak bisa mengungkapkannya. Hal sederhana yang ingin aku katakan adalah aku mencintaimu hari ini dan selalu."
Dewi semakin dibuat terperangah oleh kata-kata yang diucapkan oleh Bhumi. Bibirnya semakin menganga lebar dengan degup jantung yang semakin tiada terkendali.
"Bang Bhumi..."
Tanpa disangka, Bhumi mengecup punggung tangan Dewi yang semakin membuat suasana romantis semakin menyelimuti. Semua yang berada di tempat ini seakan dibuat meleleh oleh sikap yang ditunjukkan oleh Bhumi. Tak terkecuali Dewi, wanita itu semakin merasa melambung tinggi. Sembari merapalkan doa agar ini bukanlah mimpi.
"Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, seseorang yang akan mendukungmu tanpa batas, membiarkanmu tumbuh tanpa batas, dan mencintaimu tanpa akhir. Apakah kamu akan mengizinkan aku menjadi orangnya?”
" Izinkan... Izinkan... Izinkan....!!!!"
Bagai dihujani ribuan kelopak bunga mawar, saat ini hati Dewi terasa begitu teduh. Semua hal yang dilakukan oleh Bhumi benar-benar membuat hatinya terenyuh. Hingga pada akhirnya meluruh melalui desir jantung yang terasa begitu menyentuh.
Dewi menganggukkan kepalanya. "Aku izinkan Bang. Aku mengizinkanmu!"
Entah perasaan apa yang saat ini bergelayut manja. Yang pasti Dewi merasakan sebuah kebahagiaan dan keharuan yang bercampur menjadi satu yang terasa begitu menyeruak dalam dada. Hingga pada akhirnya terbentuk titik-titik air di pelupuk mata. Dan tanpa menunggu waktu yang lama, kumpulan titik air itu jatuh dengan sendirinya.
Dengan lembut, Bhumi menyeka air mata yang membasahi pipi Dewi. Ia kembali tersenyum penuh arti. "Semampuku, aku akan berusaha membahagiakanmu dan menemanimu untuk meraih angan dan mimpi itu!"
Dewi tak mampu lagi untuk berucap. Tanpa membuang banyak waktu, wanita itu mendekap tubuh Bhumi dengan erat. "Terima kasih banyak Bang. Terima kasih."
Suara tepuk tangan semakin menggema. Suara seseorang yang bersiul juga terdengar bersahut-sahutan. Mereka seakan turut merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh dua orang yang larut dalam segala rasa yang mereka punya. Dan, salah seorang yang berada di tempat ini, diam-diam mengabadikan moment romantis ini. Sedari tadi, ia merekam apa yang tersaji. Dan akhirnya ia unggah ke media sosial yang ia miliki dengan memberikan hastag #keromantisan di TMII.
***
Mentari mulai menaiki singgasana. Memancarkan sinar keemasan yang hangat terasa. Menelusup masuk melalui jendela. Membuat jiwa yang tengah terlelap mulai membuka mata.
__ADS_1
Tubuh Dewi bergeliat di kala rasa pegal terasa sedikit mendera. Ia bangun dari posisinya sembari berupaya mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali ke dalam raga.
Hoaaaammmm....
Dewi menguap di kala rasa kantuk itu masih begitu terasa. Sesekali ia meregangkan tubuh, merilekskan otot-otot tubuh yang sedikit kaku.
"Aneh, setelah fitnes mengapa tubuhku serasa sakit semua? Rasanya seperti seseorang yang memanggul beban berat. Apa mungkin karena tidak terbiasa menggunakan alat-alat itu membuat tubuhku sakit semua seperti ini?"
Seketika ingatan Dewi tertuju pada alat-alat gym yang ia gunakan. Mulai dari treadmill, pull-up assist, sepeda elastis, dan juga water rower yang begitu asing di penglihatan dan pengetahuannya. Beruntung ada salah seorang instruktur yang begitu sabar melatihnya, sehingga meski baru pertama, wanita itu merasakan enjoy di sana. Ia yakin, jika sudah terbiasa, rasa pegal dan sakit di sekujur tubuhnya ini mungkin tidak akan lagi terasa.
Dewi meraih ponsel yang berada di atas meja. Iseng, ia membuka salah satu media sosial dan betapa terkejutnya ia ketika melihat salah satu video yang berseliweran di dalam beranda.
"Astaga, ini kan perform bang Bhumi semalam dan ini, ini aku juga terekam jelas di sana."
Kedua bola mata Dewi semakin membulat dan terbelalak sempurna di kala melihat jumlah like dan tayangan yang tertera. Berpuluh ribu like dan tayangan semakin membuatnya terhenyak seketika. Ia tidak menyangka jika dalam waktu semalam, penampilan Bhumi dan dirinya bisa se-viral ini.
"Astaga,ini banyak sekali jumlah like, tayangan dan repost nya. Bahkan beberapa akun gosip juga turut merepostnya. Bahkan sampai berseliweran di beranda. Ya Tuhan, apakah saat ini aku adalah orang terkenal?"
Meski lirih, namun suara Dewi tetap saja terdengar di telinga Sita yang saat ini tengah menyuapi sang ibunda. Karena begitu penasaran, gadis kecil itupun mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Dewi.
"Kak Dewi kenapa? Mengapa bebicara sendiri seperti itu?"
Sita turut mendaratkan bokongnya di samping Dewi. Ia menatap lekat sebuah ponsel yang ditunjukkan oleh wanita ini.
"Waaaoowwwww keren. Kak Dewi dan bang Bhumi menjadi orang terkenal. Ini siapa yang membuat video ini Kak?"
Tak jauh berbeda dengan Dewi, gadis kecil itu juga turut memekik takjub saat mengetahui wajah dua orang yang begitu dekat dengannya berseliweran di media sosial. Dari wajah gadis kecil itu juga nampak binar kebahagiaan yang begitu kentara.
Dewi menggelengkan kepala. "Kak Dewi juga tidak tahu, Sayang. Tiba-tiba saja video ini berlalu lalang di dunia maya. Dan kak Dewi sama sekali tidak mengetahuinya."
"Waaaaahhhh ... sekarang kak Dewi dan bang Bhumi jadi orang terkenal. Sita turut bahagia Kak. Horeee!!!"
Wajah Sita nampak begitu girang bahkan gadis kecil itu nampak melonjak-lonjak yang membuat hati Dewi turut menghangat. Ia tidak menyangka jika dirinya akan menjadi viral seperti ini.
Ya Tuhan, apakah ini awal dari terwujudnya semua mimpi dan anganku?
***
Sementara itu di kediaman milik Wiraguna nampak Hans sedang duduk santai di halaman belakang. Menghirup udara pagi yang terasa menyegarkan sembari menikmati secangkir kopi hitam yang terasa menenangkan.
__ADS_1
Ia merogoh saku celananya. Mengambil ponsel yang berada di dalam sana. Tidak seperti biasa, pagi ini ia merasa ingin sekali membuka jendela dunia mayanya. Pada akhirnya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu pun login ke salah satu akun media sosial yang ia punya.
Kelopak mata Hans sedikit menyipit di saat sebuah video berhasil tertangkap oleh kornea matanya. Sebuah video di mana terlihat sepasang laki-laki dan perempuan yang tengah perform di dapan kerumunan orang. Keduanya nampak begitu dekat dan romantis. Hans lebih menajamkan lagi indera penglihatannya saat merasa dua orang dalam video itu tidaklah asing di matanya.
"Tuan muda!!!"
Hans bangkit dari posisi duduknya. Karena video ini, ia rela untuk meninggalkan secangkir kopi yang selalu menjadi teman dalam menyambut pagi. Lelaki itupun mengambil langkah kaki lebar untuk bersegera menemui sang Nyonya.
"Nyonya... Nyonya!"
Kartika yang tengah berada di balkon sembari menyemprot tanaman bonsai yang ia miliki, sedikit terkejut di saat suara Hans terdengar memenuhi ruangan. Suara yang menandakan seseorang yang tengah panik atau entah apa itu.
"Ada apa Hans? Mengapa kamu terlihat terburu-buru seperti itu?"
Hans mendekat ke arah Kartika. Ia mengambil posisi bertumpu di kedua lututnya di depan Kartika yang tengah duduk di atas kursi roda.
"Tuan muda Nyonya. Tuan muda!"
Dahi Kartika sedikit mengerut. "Arga? Ada apa dengan Arga Hans? Ada apa dengan cucuku?"
Hans menunjukkan ponsel yang ia bawa. Di depan Kartika ia memperlihatkan video yang saat ini tengah viral ini. "Kita menemukan tuan muda, Nyonya. Kita menemukannya!"
Kartika turut membelalakkan mata di saat ia menatap lekat video itu. "Arga ... cucuku!"
Menetes sudah air mata yang berkumpul di jendela hati milik Kartika. Kerinduannya kepada sang cucu tercinta hari ini terbayar di saat ia melihat video ini. Namun, ada sebuah pertanyaan yang memenuhi pikirannya.
"Hans ... siapa wanita ini? Mengapa Arga nampak begitu dekat sekali? Dan mereka seperti sepasang kekasih."
Hans tersenyum simpul. Ia meyakini sang Nyonya akan berbahagia ketika menyadari siapa wanita yang ada di dalam video ini. "Apakah Nyonya tidak mengenalnya?"
Kartika menggeleng pelan. "Tidak Hans. Aku tidak mengenal wanita ini? Siapa dia Hans?"
Hans kembali meraih ponselnya. Ia membuka folder di mana tersimpan rekaman CCTV rumah sakit yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu.
"Lihatlah Nyonya, wanita yang bersama dengan tuan muda Arga sama dengan wanita yang menolong Nyonya."
Bibir Kartika menganga lebar. Ia teramat tidak percaya jika akan mendapatkan kabar bahagia berkali-kali lipat seperti ini. Dua orang yang ia cari, dapat ia temukan dalam waktu bersamaan.
"Ya Tuhan ... terima kasih atas nikmat Mu ini."
__ADS_1