Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 52. Rencana Melamar


__ADS_3


Tiga Bulan Kemudian...


Waktu terus bergulir. Detik berganti menit. Menit berganti jam. Siang berganti malam, hari berganti minggu dan minggu berganti dengan bulan. Tiga purnama telah terlewat. Menyisakan jejak-jejak kehidupan yang terasa semakin hangat. Cinta dan kasih sayang dari orang-orang sekitar, seakan senantiasa memeluknya dengan erat.


Dewi mematutkan tubuhnya di depan cermin. Seutas senyum manis terukir di bibir kala melihat perubahan yang ada di dalam tubuhnya. Kumpulan-kumpulan lemak yang sebelumnya bersarang di lengan, paha, perut kini meluruh. Lingkar lengan dan paha mengecil. Pipi yang sebelumnya chubby kini semakin tirus. Lemak-lemak yang sebelumnya nampak bergelambir kini hilang dan menampakkan kesan langsing dan kencang. Berat badan yang sebelumnya berhenti di angka tujuh puluh lima kilogram kini bergeser ke kiri di angka lima puluh kilogram.


Bingkai wajah pun juga tidak luput dari perubahan. Wajah yang sebelumnya kusam kini nampak cerah dan bersinar. Kulit yang sebelumnya bersisik kini nampak halus dan lembut, sampai-sampai jika ada lalat yang menempel bisa dipastikan lalat itu akan terpeleset.


Bak terlahir kembali ke dunia, Dewi menjelma menjadi sosok yang berbeda. Tiga bulan menjalani program diet, workout, dan perawatan wajah, kini membuahkan hasil yang sempurna. Sosok yang dulu selalu di buly dan diolok-olok kini terlihat begitu cantik luar biasa. Bagi laki-laki yang baru pertama bertemu dengan Dewi, dapat dipastikan akan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Jangan terlalu sering berdiri di depan cermin, aku tidak suka!"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar di telinga, sukses membuat kesadaran Dewi yang sebelumnya berkelana, kini kembali ke dalam raga. Wanita itu mengulas senyum di bibir masih dengan menghadap ke cermin, membelakangi Bhumi yang bergerak semakin mendekat ke arahnya.


"Memang kenapa Bang? Apakah ada yang salah jika aku sering memandang bentuk tubuhku di depan cermin ini? Atau apakah mungkin cermin ini akan retak jika aku terlalu lama memandanginya?"


Bhumi semakin merapatkan tubuhnya di belakang punggung Dewi. Perlahan, ia memutar tubuh wanita ini hingga kini keduanya berada dalam posisi saling berhadapan.


"Aku takut jika cermin itu jatuh hati kepadamu Dew. Terlalu sering engkau pandang, bisa saja bukan kalau dia tiba-tiba jatuh hati kepadamu?"


Dewi tertawa renyah mendengar perkataan Bhumi ini. Jika sebelumnya Bhumi yang sering mencubit hidungnya, kini ia mencubit gemas hidung mancung milik lelakinya ini.

__ADS_1


"Cermin itu benda mati Bang. Bagaimana bisa dia jatuh hati kepadaku? Bukankah dia tidak punya hati?"


Bhumi mengedikkan bahu. Tiga bulan menjalani jalinan asmara bersama Dewi, ia merasa bahwa semakin hari cinta yang ia miliki untuk Dewi semakin besar saja. Tak ingin sejenak pun ia jauh dari wanita ini.


"Mungkin memang benar. Namun aku iri kepadanya. Karena cermin itu jauh lebih sering kamu tatap. Sedangkan aku?"


Bhumi menghela napas sedikit panjang dan perlahan ia hembuskan. Ia lanjutkan kembali ucapannya yang terjeda. "Rasanya, aku ingin segera menikahimu Dew. Sehingga ketika bangun tidur dan mau tidur lagi, kamu selalu ada sisi."


Senyum lebar kembali merekah di bibir ranum Dewi. Hatinya selalu saja menghangat jika Bhumi membicarakan perihal pernikahan.


"Perkara pernikahan, semua aku serahkan kepadamu Bang. Kapanpun kamu akan menikahiku aku siap."


"Namun, kamu sedang berada di puncak karier Dew. Aku tidak ingin pernikahan kita justru menghancurkan semuanya."


Bhumi menatap intens manik mata milik Dewi. Ia mencoba mencari kebohongan yang terpancar melalui sorot mata wanita ini. Kebohongan jika sejatinya ia mengucapkan kata-kata itu hanya sekedar untuk menenangkannya. Namun, semakin dalam ia menatap manik hitam wanita ini, hanya ada kejujuran yang terpancar.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu ini Dew? Apa kamu tidak ingin berkelana lagi? Saat ini kamu sudah menjadi seorang bintang, barang tentu banyak juga lelaki yang terpikat kepadamu. Apakah kamu yakin untuk tetap menjalani kisah cinta ini bersamaku?"


Dewi membelalakkan mata. Ucapan Bhumi ini sungguh membuatnya terperangah seketika. "Berkelana? Abang pikir aku ini pengelana?"


Sejenak Dewi hentikan ucapannya. Jemari yang sebelumnya ia gunakan untuk menggenggam jemari Bhumi, kini ia geser untuk mengusap lembut pipi sang kekasih.


"Aku sudah menambatkan hatiku hanya untukmu Bang, tidak untuk yang lain lagi. Lagipula, jika saat ini banyak yang terpikat kepadaku, itu semua tidak ada artinya apa-apa untukku."

__ADS_1


"Mengapa bisa begitu? Bukankah dengan begitu kamu bisa mendapatkan banyak pilihan?"


Dewi menggelengkan kepala. "Aku sudah menjatuhkan pilihanku kepada lelaki yang mencintaiku tanpa syarat. Lelaki yang mencintaiku sejak kondisi fisikku belum seperti ini. Lelaki yang membersamai langkahku untuk mewujudkan semua mimpi dan asaku. Serta lelaki yang menggenggam erat tanganku, menguatkanku, membuatku berdiri lagi di kala aku terjatuh. Siapa lagi lelaki itu jika bukan kamu Bang?"


Bulir bening menetes dari jendela hati milik Dewi. "A-aku akan menjadi wanita yang tidak pandai bersyukur jika sampai melepaskan lelaki seperti kamu hanya demi orang-orang baru yang tiba-tiba datang dalam hidupku Bang. Dan aku tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah mungkin melakukan hal itu. Bagiku, kamu adalah lelaki paling sempurna dan tidak akan pernah terganti."


Ucapan Dewi bak embun pagi yang menyejukkan hati Bhumi. Sejatinya lelaki itu tidak perlu meragu akan ketulusan cinta yang dimiliki oleh Dewi. Wanita ini tidak akan mudah untuk berpindah ke lain hati.


Perlahan, Bhumi menarik lengan tangan Dewi untuk ia bawa ke dalam pelukan. Dikecupnya pucuk kepala wanita ini dengan penuh sayang. "Aku percaya Dew, aku percaya. Jika memang seperti itu, dalam waktu dekat aku akan menikahimu."


"Kapan itu Bang?"


Masih sambil memeluk tubuh Dewi, Bhumi mencoba untuk memikirkan sesuatu. Semenjak album milik Dewi tersebar di pasaran, karier wanita ini semakin melesat. Beberapa lagu yang ia nyanyikan berkali-kali menjadi tranding satu di kanal YouTube dan mendapatkan respon begitu baik dari para pecinta musik. Sejak saat itulah, Dewi sering diundang untuk mengisi berbagai acara di televisi. Dia yang notabene sebagai penyanyi pendatang baru di belantika musik sering berkolaborasi dengan para penyanyi papan atas. Hal itulah yang membuat karier wanita itu semakin bersinar.


"Setelah kamu mengadakan konser tunggal, kita akan menikah. Namun sebelumnya, aku ingin bertemu dengan ibu kamu terlebih dahulu. Aku akan melamarmu."


Dewi merenggangkan pelukannya. "Abang serius akan melamarku?"


"Tentu saja aku serius Dew. Untuk menikahimu saja aku serius apalagi untuk melamarmu kan?"


Bhumi menjeda sejenak ucapannya. Ia selipkan anak-anak rambut milik Dewi di belakang telinganya. Hingga kini kecantikan wanita itu semakin nampak nyata. "Minggu-minggu ini kamu tidak ada schedule bukan? Bagaimana kalau lusa kita berangkat ke rumah orang tuamu. Aku akan memintamu secara langsung di hadapan ibumu."


Bibir Dewi bergetar. Hatinya tiba-tiba saja diselimuti oleh keharuan dan kebahagiaan yang bercampur menjadi satu. Hingga hanya ada lelehan air mata yang berbicara bahwa saat ini ia benar-benar bahagia. Dewi kembali memeluk tubuh Bhumi dengan erat. Ia tumpahkan semua air mata bahagianya di atas pundak Bhumi.

__ADS_1


"Aku mau Bang... Aku mau!!!"


__ADS_2