Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 38. Manis


__ADS_3


Bughhhh!!


"Aaaaawwwww... Bang Bhumi!!!"


Bhumi terpaksa menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba setelah menyadari sedari tadi wanita yang berjalan di belakang punggungnya ini berjalan sembari menundukkan kepala. Seperti seseorang yang sedang kehilangan koin emas berharga dan sibuk mencarinya.


"Hei ... mengapa sedari tadi kamu menundukkan wajahmu seperti itu?"


Berjuta pertanyaan muncul di dalam benak Bhumi. Melihat polah tingkah Dewi yang sungguh tidak biasa sekali. Sepulang dari pusat kebugaran, wanita ini banyak terdiam seperti larut dalam pikirannya sendiri. Dan kini, di saat mereka akan berangkat ke TMII, lagi-lagi ia berada dalam mode hening, tak bersuara sama sekali.


"Aku ...."


Wanita itu bahkan tidak mampu untuk berucap. Lidahnya serasa kelu seiring dengan debar dalam dada yang kian merayap. Entah mengapa rasa kikuk tatkala bersama dengan Bhumi terasa semakin menyergap.


Dewi merupakan salah satu dari seorang wanita yang baru pertama kali merasakan betapa bahagianya diajak jadian. Ia yang sebelumnya hanya bisa merasakan apa itu perasaan bertepuk sebelah tangan, kini ada seorang laki-laki yang mengajaknya untuk menjalin sebuah hubungan. Meski berkali-kali ia mencoba untuk percaya bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi dan angan namun ia masih takut jika hanya dijadikan permainan.


Sejenak, Bhumi menatap lekat sosok wanita yang masih saja setia menundukkan kepalanya ini. Ia bisa memahami akan apa yang dirasakan oleh Dewi. Ia paham, jika Dewi masih teramat terkejut dengan apa yang terjadi tadi. Ia yang menganak Dewi untuk menjalin sebuah hubungan yang pastinya terasa tiba-tiba sekali.


Bhumi tersenyum penuh makna. Tiga puluh tahun hidup di dunia, baru kali ini ia merasakan sebuah rasa yang berbeda tatkala berdekatan dengan seorang wanita. Padahal sebelumnya ia sering berinteraksi dengan wanita-wanita yang memiliki sejuta pesona. Namun ketika berada di dekat Dewi, ia merasakan getar yang berbeda.


Cinta tanpa memandang rupa? Mungkin bagi kebanyakan orang merupakan omong kosong belaka. Namun saat ini Bhumi mengalaminya. Hatinya seakan telah tertambat pada seorang wanita yang bahkan hanya memiliki wajah biasa-biasa saja. Jauh dari kata sempurna.


Bhumi meraih telapak tangan Dewi. Menggengganya erat seperti tidak ingin terlepas lagi. Hal itulah yang membuat Dewi mendongakkan wajah, turut menatap lekat wajah lelaki yang berdiri di hadapannya ini.


"Percaya padaku!"


Dua kata singkat yang keluar dari bibir Bhumi membuat Dewi mengernyitkan dahi. Matanya menyipit seakan dihujam oleh pertanyaan yang membuatnya tidak mengerti akan maksud yang diucapkan oleh lelaki ini.


"Maksud bang Bhumi?"


"Apa yang aku utarakan bukanlah candaan. Semua yang aku ucapkan bisa aku pertanggungjawabkan. Bahwa aku serius mengajakmu untuk menjalin sebuah hubungan."


Lagi, tubuh Dewi hanya terpaku dan membeku. Lidah kelu yang hanya membuatnya terdiam dan membisu. Jendela hati milik wanita itu nampak sayu. Seiring dengan hatinya yang dipenuhi oleh sensasi rasa mengharu biru.


Tanpa terasa setetes kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata. Menjadikan tanda tanya bagi orang yang melihatnya. Apakah wanita ini berbahagia ataukah justru sebaliknya. Sungguh, tidak dapat ia menerka-nerka.


"Jangan paksakan, jika kamu memang tidak bersedia. Aku tidak akan pernah memaksa. Dan kamu jangan khawatir, kita akan tetap seperti ini. Aku akan tetap berada di sisimu untuk membantumu meraih angan dan mimpimu. Jadi, kamu boleh menolakku jika kamu memang tidak ingin menjalani semua ini bersamaku."


Bhumi melepaskan genggaman tangannya. Ia berbalik badan, bermaksud untuk melanjutkan langkah kakinya. Hingga tubuhnya menjauh dari Dewi, perlahan.


Dewi sedikit terhenyak. Ucapan Bhumi yang baru saja terekam di dalam indera pendengaran, membuat Dewi semakin sadar jika ia pun juga memiliki sebuah rasa yang sama. Sebuah rasa yang entah kapan datangnya namun sungguh bisa membuatnya bahagia tiada terkira.


Tubuh Bhumi sudah berada jauh di depan Dewi. Dewi berlari kecil untuk bisa menjangkau tubuh lelaki ini. Tanpa basa-basi, wanita itu memeluk dari belakang tubuh Bhumi.

__ADS_1


"Aku percaya padamu Bang. Aku juga ingin menjalin sebuah hubungan yang serius denganmu."


Senyum tipis terbit di bibir Bhumi. Lelaki itu bisa merasakan ketulusan yang mengalir perlahan melalui aliran darah dalam tubuh Dewi. Ia pun hanya bisa mengusap lengan tangan Dewi yang melingkar di pinggangnya ini.


"Maaf, jika aku bukanlah tipe lelaki romantis. Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkannya kepadamu."


Dewi menggelengkan kepala. "Aku tidak membutuhkan itu Bang. Kehadiran Bang Bhumi yang selalu menjadi support system untukku sudah jauh melebihi apa itu makna romantis. Aku tidak membutuhkan kata-kata. Yang aku butuhkan hanyalah kehadiran Abang di sisiku, selamanya."


"Semoga, semoga Tuhan mengizinkan kita untuk bersama selamanya."


****


Sorot lampu kota berjejer menerangi jalanan beraspal kota Jakarta petang ini. Hiruk pikuk aktivitas anak-anak muda mulai terlihat di sepanjang kawasan TMII. Ada yang ber-swafoto (selfie) , ada yang berjalan- jalan sambil menikmati suasana malam kota , dan ada pula yang hanya sekedar duduk- duduk manis di area TMII yang memang di khususkan untuk para pemburu suasana malam kota ini. Kawasan ini dapat menjadi alternatif lain bagi para pemburu suasana malam selain menghabiskan malam-malam mereka di tempat yang sudah terasa membosankan.


Seperti biasa, di tempat ini sudah ramai didatangi oleh para kawula muda. Mereka nampak berpasang-pasangan saling bercengkrama sembari menunggu sang penyanyi bersiap-siap untuk memperdengarkan suara emasnya. Meski baru sekali tampil namun sepertinya penyanyi itu sudah mendapatkan tempat di hati para penggemarnya.


"Kamu duduklah di sini!"


"Tapi Bang, bukankah aku harus tampil?"


Bhumi hanya tersenyum simpul. "Malam ini biarkan aku yang menyanyi. Kamu cukup duduk di bangku taman ini."


Dewi sedikit keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Bhumi. Namun, ia pun hanya bisa mengangguk, menuruti semua permintaan lelaki ini. Ia berpikir jika Bhumi sedang ingin menghibur para pengunjung yang ada di sini. Pastinya dengan suara yang ia miliki.


Dewi mendaratkan bokongnya di bangku taman yang terbuat dari beton ini. Sembari menikmati segala keindahan malam yang tersaji.


"Selamat malam Bang!!!!"


Bhumi tersenyum tipis di hadapan para pengunjung kawasan ini. Sama seperti yang dirasakan oleh Dewi, ia sendiripun juga merasa bahagia setengah mati mendapatkan apresiasi seperti ini.


"Jika kemarin kalian dihibur oleh suara emas milik Dewi, bolehkah jika malam ini aku yang bernyanyi?"


"Boleh Bang!!!!"


"Oke, malam ini aku akan membawakan sebuah lagu baru khusus untuk seorang wanita yang saat ini sedang duduk di sana."


Bhumi menunjuk ke arah Dewi yang seketika diikuti oleh para pengunjung di kawasan ini. Hal inilah yang membuat Dewi terkejut setengah mati karena seluruh tatapan mata para pengunjung, tertuju ke arahnya.


"Waaaaa... So sweet sekali...."


Bhumi menghela napas sedikit panjang dan perlahan ia hembuskan. "Dewi, aku memang bukan lelaki romantis yang bisa mengungkapkan apa yang aku rasa lewat bunga, lewat cokelat atau lewat benda apapun itu. Namun, melalui lagu yang akan aku bawakan ini aku harap bisa membuatmu semakin mengerti bahwa perasaanku kepadamu tidaklah bertepi."


"Waaaoowwwww.... manisssnyaaaaaa..."


Dewi hanya bisa terperangah dan membelalakkan mata. Sungguh kejutan yang begitu manis ia rasa. Dan ini untuk kali pertama Dewi mendengar Bhumi memanggil namanya. Hal itulah yang semakin membuat Dewi merasa bahagia tiada terkira.

__ADS_1


"Dewi ... lagu ini khusus aku nyanyikan untukmu."


"Yeeaayyy ... bang Bhumi... Bang Bhumi..!!!"


Mungkinkah kau tahu


Rasa cinta yang kini membara


Yang masih tersimpan


Dalam lubuk jiwa


Ingin kunyatakan


Lewat kata yang mesra untukmu


Namun ku tak kuasa


Untuk melakukannya


Mungkin hanya


Lewat lagu ini


Akan kunyatakan rasa


Cintaku padamu


Rinduku padamu


Tak bertepi


Mungkin hanya


Sebuah lagu ini


Yang slalu akan kunyanyikan


Sebagai tanda


Betapa aku, inginkan kamu


🍁🍁🍁🍁🍁


Songs by Ungu "Laguku"

__ADS_1


Lagu lama namun masih tetap mengena di hati.. Jadi teringat jaman-jaman SMA🥰🥰


__ADS_2