
Tap.... Tap.... Tap....
Derap langkah sepasang kaki yang berbalut sepatu pantofel menggema di koridor-koridor sebuah kantor polisi yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Di tempat inilah, Wenda berhadapan langsung dengan penyidik yang memberondongnya dengan berpuluh-puluh pertanyaan.
Sang penyidik mengakhiri pertanyaannya tepat di saat seorang laki-laki berdiri di ambang pintu ruangan. Ia beranjak untuk keluar dari ruangan ini dan mempersilakan lelaki itu masuk. Ia paham bahwa lelaki ini memiliki urusan terhadap wanita yang tengah duduk di ruangan ini.
"Silakan Pak!" ucap sang penyidik kepada Wiraguna yang berada di depan pintu.
Wiraguna menganggukkan kepala pelan sebagai bentuk rasa hormat. "Terima kasih Pak!"
Setelahnya, sang penyidik gegas meninggalkan ruangan dan Wiraguna mengambil langkah untuk berhadapan langsung dengan Wenda.
"Papa... Keluarkan aku dari sini Pa. Keluarkan aku. Aku tidak bersalah Pa!"
Wenda berdiri dan memeluk tubuh Wiraguna. Wanita itu menumpahkan air matanya seraya memohon untuk dibebaskan dari tempat ini. Pastinya dengan air mata buaya yang ia yakini bisa mengelabuhi sang suami.
"Jauhkan tubuhmu dari tubuhku Wen! Aku jijik!"
Wiraguna mendorong tubuh Wenda hingga tubuh wanita itu kepentok di salah satu sudut dinding. Hal itulah yang membuat Wenda terperangah seketika.
__ADS_1
"Apa maksudmu Pa? Aku ini istrimu. Bagaimana bisa kamu jijik kepadaku?"
"Aku menceraikanmu Wenda. Mulai detik ini kamu bukanlah istriku lagi!"'
Kedua bola mata Wenda terbelalak dan membulat sempurna. Dua poin membuatnya terkejut setengah mati. Wiraguna yang merasa jijik terhadapnya. Dan Wiraguna yang tiba-tiba menceraikannya.
" Apa Pa? Kamu menceraikanku? Mengapa kamu melakukan itu Pa? Apa salahku?"
Wiraguna berdecih, kali ini rasa benci yang bercokol di hati melebihi setitik rasa cinta yang pernah ada untuk Wenda. Kejahatan yang dilakukan oleh Wenda, layaknya kobaran api yang menghanguskan rasa cinta yang pernah ada untuk wanita itu.
Wiraguna semakin didera oleh rasa sesal yang tiada bertepi ketika sadar bahwa selama ini ia hidup bersama seorang wanita yang merupakan otak dari hilangnya nyawa sang mendiang istri. Ia benar-benar tertipu oleh tipu muslihat wanita iblis yang justru selama dua puluh empat tahun ini menjadi istrinya.
Setelah mendengar pengakuan dari Gilang, Hans pun juga membawa sebuah berita yang tidak kalah mengejutkan. Ia baru tahu bahwa Wenda yang menjadi dalang di balik penculikan sang ibu hingga membuatnya hilang berhari-hari.
Lagi, Wenda terkejut setengah mati dengan apa yang menjadi penuturan Wiraguna. Ia sungguh tidak menyangka jika kejahatannya bisa terbongkar secepat ini. Tanpa basa-basi, wanita itu mendekat ke tubuh Wiraguna dan kemudian bersujud di bawah telapak kaki Wiraguna.
"Maafkan aku Pa. Maafkan aku. Aku benar khilaf Pa. Aku khilaf!" mohon Wenda dengan derai air mata yang mengalir deras di pipinya.
"Cih, kamu bilang khilaf? Khilaf itu jika kamu lakukan sekali. Namun yang kamu lakukan ini apa? Hampir semua musibah yang terjadi di dalam keluargaku, itu semua hasil perbuatanmu. Itu bukanlah khilaf. Itu semua sudah merupakan tindak kejahatan," teriak Wiraguna dengan lantang.
__ADS_1
"Aku mengaku salah Pa. Ampuni aku. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Tapi tolong jangan ceraikan aku. Aku sungguh sangat mencintaimu Pa. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Wenda semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di kaki Wiraguna. Sedangkan Wiraguna menghentakkan kakinya sehingga membuat Wenda sedikit terjerembab di sisi lantai lain.
"Aku tidak sudi memberikan maaf untukmu wanita iblis. Silakan nikmati hari-harimu di dalam penjara. Aku harap kamu membusuk di dalam sana. Dengan begitu rasa sakitku bisa terhapus secepatnya."
Wiraguna melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Rasa-rasanya ia sudah tidak sanggup lagi untuk berlama-lama berada di tempat ini.
"Ingat, mulai hari ini kamu bukanlah istriku lagi. Aku tidak mau memiliki istri yang ternyata seorang pembunuh," ucap Wiraguna dengan tegas.
Perlahan bayang tubuh lelaki itupun hilang di balik pintu. Sedangkan Wenda masih terduduk di atas lantai. Wajahnya nampak begitu kacau. Rencana menguasai harta Wiraguna ternyata hancur berantakan dalam waktu sekejap saja. Semua rencana seakan sia-sia karena saat ini semua gagal di depan mata.
Wenda mengacak rambutnya asal hingga menutupi sebagian wajahnya. "Aarrrrgghhhh.... Dasar sialann... Hancur sudah Mimpi-mimpiku untuk menjadi orang kaya!!!"
.
.
.
__ADS_1