
Pagi yang cerah. Bersambut wajah mentari merekah. Bangkitkan sebuah gairah. Pagi nan indah. Awal dari sebuah langkah. Langkah yang terarah untuk sebuah kehidupan yang lebih indah.
Dewi memincingkan mata, di kala sinar mentari mulai masuk melalui celah triplek yang terbuka mengenai manik mata. Wanita itu berupaya keras untuk menyesuaikan bias cahaya yang berada di sekelilingnya. Perlahan ia menggeser tubuhnya untuk duduk di atas dipan dan sedikit meregangkan otot-otot yang begitu kaku terasa.
Dewi beranjak. Ia ayunkan tungkai kaki miliknya untuk menghampiri Sita yang tengah duduk di tepi ranjang milik ibunya.
"Sita, ibu sudah sarapan?"
Gadis kecil itu menggeleng pelan. "Belum Kak. Sita lupa kalau uang hasil mengamen Sita kemarin sudah habis. Mungkin Sita akan mengamen sebentar dan setelah itu baru bisa membelikan nasi untuk ibu.
Dewi tersenyum simpul. Ia merogoh saku celana yang ia kenakan dan mengambil beberapa lembar uang yang sudah ia persiapkan untuk gadis kecil ini.
"Ini untuk Sita. Terimalah!"
Sita yang melihat beberapa lembar uang seratus ribuan itu hanya bisa membuka lebar-lebat bola matanya. "Kak, ini uang apa? Dan mengapa banyak sekali?"
Seperti halnya yang dilakukan oleh Bhumi, Dewi meraih tangan kecil Sita. Membuka telapak tangan gadis itu dan ia letakkan lembaran uang itu di telapak tangannya.
"Mulai sekarang, Sita di rumah saja ya menemani ibu. Biarkan kak Dewi yang mencari uang. Sita bisa beristirahat di rumah."
"Tapi Kak...?"
Dewi mengusap lembut rambut milik gadis kecil ini. "Sudah ya Sayang. Keadaan di jalanan jauh lebih berbahaya untukmu, biarkan Kakak saja yang mencari uang."
Bibir gadis itu hanya bisa terkatup. Tidak mampu untuk berucap satu patah kata pun. Tanpa basa-basi, Sita mendekap erat tubuh Dewi. "Sita harus mengatakan apa Kak? Kak Dewi baik sekali."
"Kamu juga gadis baik, Sayang. Jika tidak bertemu dengan Sita, entah apa yang akan terjadi kepada Kakak. Mungkin kak Dewi akan menjadi gelandangan yang luntang-lantung di kota ini."
"Terima kasih kak Dewi, terima kasih."
"Sama-sama Sayang."
__ADS_1
***
Lelaki berusia tiga puluh tahun itu nampak fokus dengan gitar di tangannya. Sibuk menyetem gitar untuk mengatur nada senar gitar dengan benar. Lelaki itu mengambil nada untuk memberikan intro untuk lirik lagu yang akan ia nyanyikan.
"Terus melangkah, melupakanmu. Lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu. Tak mungkin ini tetap bertahan."
Bhumi terkesiap di kala akan bernyanyi sendiri justru ada suara lain yang lebih dulu mengiringi petikan gitarnya. Lelaki itu hanya bisa tersenyum simpul masih sambil melanjutkan petikannya.
"Engkau bukanlah segalaku. Bukan tempat tuk hentikan langkahku. Usai sudah semua berlalu. Biar hujan menghapus jejakmu."
Pada akhirnya dua orang itu bernyanyi bersama. Baru saling mengenal beberapa hari namun kedekatan keduanya semakin kian terasa. Memangkas jarak yang ada. Dan membunuh segala perbedaan yang ada. Melebur, menjadi satu dalam alunan nada.
"Bang, aku ingin turun ke jalan. Apa bang Bhumi mau ikut?"
Dahi Bhumi sedikit berkerut. "Apakah hasil semalam kita perform di TMII sudah habis?"
Cepat-cepat Dewi menggelengkan kepala. "Belum Bang. Hasil semalam bahkan masih utuh. Tapi aku harus melakukan apa di siang hari seperti ini Bang? Aku bahkan merasa bosan karena tidak melakukan apapun. Lagipula, kita perform di TMII tidak setiap hari bukan? Jadi kalau aku tidak sambil mengamen lama kelamaan uang itu juga habis."
Dewi tersentak. Ia yang sebelumnya sibuk membuat coretan-coretan pada selembar kertas, kini ia alihkan perhatiannya ke arah Bhumi.
"Maksud Bang Bhumi apa? Jika tidak hanya di TMII, lalu ke mana lagi kita akan perform, Bang?"
"Ada tiga kafe yang akan menjadi tempat kita perform. Dan aku harap kamu bersiap diri untuk bisa memberikan yang terbaik."
Kedua bola mata Dewi terbelalak sempurna. "T-tiga kafe? Dan itu aku semua yang menjadi vokalisnya?"
Bhumi yang kini menatap manik mata milik Dewi. "Apakah kamu tidak sanggup? Jika kamu tidak sanggup, biar aku perform sendiri."
Gegas, Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang. Aku sanggup. Aku sanggup Bang!"
"Bagus. Calon seorang bintang memang harus pandai memanfaatkan peluang. Siapa tahu, dari bernyanyi dari kafe ke kafe, ada produser musik yang akan mengorbitkanmu."
"Bang Bhumi yakin jika aku bisa menjadi seorang bintang?"
__ADS_1
Bhumi beranjak dari tempatnya terduduk saat ini. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk berdiri di pojok beranda. Ia ambil sprayer untuk menyemprot tanaman aglonema yang ia miliki dengan sedikit cairan pengkilap daun.
"Apakah kamu pernah mendengar bahwa apa yang tertanam dalam pikiran kita merupakan sesuatu yang akan kita dapatkan?"
Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang. Aku bahkan belum pernah mendengarnya."
"Jika kamu yakin bahwa suatu hari kamu akan menjadi seorang bintang. Kelak hal itu akan menjadi kenyataan. Namun jika kamu meragu, maka itu semua hanya akan menjadi angan belaka."
"Benarkah seperti itu?"
"Ya, memang seperti itu. Jangan takut untuk bermimpi. Karena hidup bisa saja berawal dari mimpi. Hanya ada dua pilihan. Kita segera bangun untuk membuat mimpi itu menjadi kenyataan. Ataukah kita tetap terlelap dan terbuai sehingga selamanya hanya menjadi bunga tidur semata."
Sepasang jendela hati milik Dewi tiba-tiba memanas. Membentuk titik-titik embun yang membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas. Ada rasa sesak dalam dada yang sukar untuk terhempas.
Apakah Dewi sakit hati dengan perkataan Bhumi? Tentu saja tidak. Dewi justru merasa terenyuh dalam mencerna setiap kata yang terucap dari bibir lelaki ini. Orang asing yang sama sekali tidak ia kenal namun begitu memiliki peran besar di dalam upayanya untuk meraih mimpi.
"Bang, sebenarnya siapa kamu? Mengapa kamu begitu total mencarikan peluang untukku, untuk bisa meraih mimpi itu?"
Dahi Bhumi berkerut dalam. "Siapa aku? Bukankah sebelumnya kita pernah berkenalan? Apakah kita harus mengulang perkenalan kita?"
"Aku merasa kamu seperti sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku. Keberadaanmu seakan membukakan jalan untuk terwujudnya mimpiku."
Bhumi tersenyum tipis. Ia merasa jika wanita di hadapannya ini terlalu hiperbola. "Kamu terlalu berlebihan. Aku hanyalah lelaki biasa bukan malaikat seperti yang kamu katakan."
"Tapi aku merasa seperti itu Bang. Semenjak aku mengenalmu, aku semakin percaya bahwa suatu hari nanti aku bisa meraih mimpi dan anganku."
"Itu hanya perasaanmu saja. Semua ini bisa jadi merupakan buah dari kesabaranmu, keikhlasanmu dalam menghadapi segala ketidakadilan yang pernah kamu dapatkan. Dan aku pesan satu hal kepadamu."
"Apa itu Bang?"
"Tetaplah menjadi orang baik. Karena kebaikanmu itulah yang juga akan membawa kebaikan-kebaikan untukmu. Termasuk dikelilingi oleh orang-orang baik."
Menetes sudah bulir-bulir embun di pelupuk mata Dewi. Untuk kesekian kalinya ucapan lelaki ini mampu menembus relung-relung hati. Ia tempatkan di salah satu sudut hati. Tertancap, terpatri, tidak akan pernah ia lupakan apa yang dikatakan oleh Bhumi.
__ADS_1