Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 61. Pembalasan


__ADS_3

Gilang memberhentikan laju mobilnya saat tiba di salah satu gedung yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk menyelenggarakan event di kota ini. Pelataran gedung ini sudah nampak ramai dengan kerumunan orang yang satu per satu dari mereka mulai mengambil nomor antre untuk menampilkan bakat yang mereka miliki. Hal itulah yang membuat Bhumi menyunggingkan senyum lebar tiada henti. Melihat antusiasme dari para pemusik yang begitu besar seperti ini sungguh menjadi kepuasan tersendiri.


"Aku tidak menyangka acara yang diadakan kak Arga akan mendapatkan respon semeriah ini. Itu artinya kak Arga sukses besar dalam mengadakan acara ini."


Gilang tiada henti menatap takjub sajian yang ia lihat dari balik kaca mobil ini. Beberapa orang nampak begitu bersemangat dan happy untuk menunjukkan bakat yang dimiliki. Mungkin bukan hanya untuk menunjukkan bakat namun juga sebagai salah satu bentuk upaya untuk bisa lebih maju lagi.


"Aku juga tidak menyangka jika akan semeriah ini. Itu artinya di luar sana masih banyak yang memiliki bakat bermusik dan seharusnya mendapatkan kesempatan untuk mengeksplor bakat mereka itu."


Tak jauh berbeda dengan Gilang, Bhumi pun turut menatap takjub orang-orang yang satu persatu datang untuk mengikuti ajang pencarian bakat ini. Tujuan dari acara ini hanya satu, bisa menjadi wadah bagi mereka untuk mengeksplor kemampuan yang mereka miliki. Dan melalui jalan ini, bisa menjadi peluang untuk dikenal oleh khalayak umum. Mencetak generasi baru di belantika musik.


Dewi yang duduk di bangku belakang pun juga turut menatap sajian di depan matanya ini dengan perasaan haru. Jika melihat keadaan seperti ini, seakan mengingatkan ia pada masa-masa di mana ia berjuang untuk mewujudkan mimpi yang ia punya. Meski tinta takdir yang dituliskan untuknya jauh lebih mudah untuk mewujudkan mimpi itu, namun ia juga bisa merasakan bagaimana perjuangan seseorang untuk bisa menjadi seorang bintang.


"Ada apa denganmu Dew? Mengapa tatapanmu nampak menerawang seperti itu?"


Bhumi yang melihat pantulan wajah Dewi melalui spion yang menggantung di atas kemudi, semakin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi pada kekasihnya ini. Tatapan matanya nampak kosong dan menerawang.


Dewi sedikit tersentak. Tidak terasa jika telah berkumpul bulir bening di sudut matanya. "Tidak apa-apa Bang, aku hanya teringat saat pertama tiba di kota ini. Ternyata jalan untuk menjadi seorang bintang itu tidaklah mudah."


"Itu benar sekali Dew. Setiap orang yang bermimpi untuk menjadi bintang, pasti mengalami kesulitan masing-masing. Dan Svarga records mengadakan event ini semata-mata hanya untuk menjadi jalan pembuka bagi mereka yang memang memiliki kemampuan di bidang musik seperti ini. Bisa jadi mereka berasal dari musisi jalanan yang seharusnya mendapatkan wadah untuk mengeksplor bakat mereka."


Pandangan Dewi yang sebelumnya menatap lekat suasana luar kini ia geser untuk menatap lekat wajah Bhumi. Ia tersenyum penuh arti. Menjadi kekasih seorang laki-laki yang begitu baik seperti Bhumi ini, seakan membuat dirinya ingin sujud syukur setiap hari. Laki-laki dengan paket lengkap yang mungkin jarang dimiliki.


"Semoga niat baik Abang ini mendapatkan pahala yang berlipat dari Tuhan. Dengan karier yang semakin bagus dan dengan dijauhkan dari segala mara bahaya."


"Aamiin..," seru Bhumi dan Gilang bersamaan.


"Lekaslah turun. Di dalam pasti Aldo dan yang lainnya sudah menunggumu," titah Bhumi kepada kekasihnya ini.


Dewi melepaskan safety belt yang ia kenakan. Dan bersiap untuk keluar dari dalam mobil. "Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya Bang. Abang hati-hati dan semoga pertemuan dengan relasi berjalan lancar tanpa adanya hambatan."


"Itu sudah pasti Dew. Kamu juga hati-hati. Ingat, jangan tebar pesona dengan Ariel Noah yang akan duduk di sampingmu," ujar Bhumi dengan sedikit penekanan.


Dewi tergelak lirih. Bisa-bisanya sang kekasih memberikan warning yang terdengar menggelikan telinga dan juga hati. "Iya Bang, iya. Kalau begitu aku turun ya."


Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Bhumi, Dewi mulai mengayunkan tungkai kaki untuk turun dari mobil. Ia melambaikan tangan dan setelah itu mobil yang dikemudikan oleh Gilang kembali bergerak. Mobil itu bergerak pelan dan tak selang lama, hilang dari pandangan Dewi.


Dengan suasana hati yang riang, Dewi mulai menyusuri area pelataran gedung ini. Rupanya selain mengadakan acara pencarian bakat, di event ini juga dijadikan wadah bagi para pelaku UMKM untuk mempromosikan produk mereka. Banyak berdiri stand-stand UMKM yang menjual produk mereka mulai dari olahan makanan, minuman dan juga barang-barang kerajinan. Satu poin lagi yang membuat Dewi begitu bangga dengan sosok Bhumi. Lelaki tampan yang memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Langkah kaki Dewi terus terayun untuk memasuki area dalam di mana para tim juri sudah berkumpul di sana. Namun saat pijakan kakinya baru akan memasuki area lobby, manik mata wanita itu menangkap bayangan beberapa orang yang begitu familiar di penglihatannya. Mereka terlihat tengah duduk di ruang tunggu setelah mengambil nomor antrean.


Senyum seringai terbit di bibir Dewi. "Jika dulu kalian membuatku malu di hadapan orang-orang sekecamatan, kini akan aku buat kalian malu di hadapan seluruh orang Indonesia. Apa yang pernah kalian tanam, hari ini akan kalian tuai."


Dewi mengambil sesuatu yang berada di dalam tas yang ia bawa. Serbuk putih yang mungkin sama persis dengan apa yang pernah dicampurkan Amara dan Adelia ke dalam air mineral yang saat itu diberikan kepadanya. Tungkai kaki Dewi kembali terayun. Ia menghampiri salah satu penjual minuman yang nampak sedang mempromosikan produknya. Dewi bermaksud membeli minuman itu untuk melancarkan pembalasan yang akan ia lakukan.


"Setelah ini kalian akan sadar bahwa aku tidak pantas untuk diremehkan."


"Mbak!" sapa Dewi tatkala tiba di depan salah satu stand penjual minuman yang berada di depan lobby.


"Eh, iya Mbak. Mau beli yang variant apa? Kebetulan produk kami adalah jamu Mbak. Ada beras kencur, kunyit asam, sereh jahe, brotowali dan masih banyak lagi."


Dewi nampak sejenak berpikir. Ia ingat ada salah satu ramuan yang bisa membuat suara merdu. "Tolong bikinkan air jahe dicampur dengan perasan jeruk nipis ya Mbak. Nah, nanti tolong Mbak berikan kepada dua wanita berbaju merah yang duduk di sana," ujar Dewi sambil menunjuk ke arah Amara dan Adelia.


"Tapi nanti jika saya ditanya mengapa tiba-tiba saya memberikan minuman ini, saya harus menjawab apa Mbak?"


"Jawab saja tester geratis Mbak sekalian untuk promosi."


Penjaga stand minuman itu mengangguk patuh. Ia mulai meracik minuman sesuai dengan apa yang dipesan oleh Dewi.


Satu cup minuman jahe jeruk nipis sudah selesai dibuat. Diam-diam, Dewi memasukkan serbuk yang telah ia persiapkan ke dalam minuman ini.


"Oh iya Mbak, tolong bikinkan untuk saya wedang uwuh ya. Nanti sekalian ditotal saja berapa yang harus saya bayar," ucap Dewi memberikan instruksi.


"Baik Mbak."


Cup kedua telah selesai diracik. Dewi kembali memasukkan serbuk yang ia bawa ke dalam minuman itu. Senyum penuh kemenangan pun terbit di bibirnya.


"Mungkin kalian beranggapan bahwa aku ini adalah orang jahat. Ya, itu memang benar. Karena bagiku apa yang sudah kalian lakukan benar-benar telah menghancurkan kehidupanku. Dan sebentar lagi ... pertunjukan akan segera dimulai bestie!"

__ADS_1


****


Grup Magatra menduduki bangku kosong yang tersedia. Meski udara siang ini terasa begitu panas dan wajah mereka nampak begitu lelah, namun tidak sedikitpun meredupkan binar kebahagiaan dari aura yang terpancar.


"Haahhh .... ternyata Jakarta panas ya. Lihat keringatku sampai bercucuran seperti ini!"


Amara mengibas-ibaskan selembar brosur di depan wajah. Wanita itu tengah berupaya mati-matian untuk mengusir rasa gerah yang merajai. Bahkan tetes-tetes peluh tiada henti mengalir, menyusuri tiap lekuk wajahnya.


Adelia yang sebelumnya fokus dengan layar ponsel di tangannya, kini ia gulirkan pandangannya ke arah Amara. Kedua bola mata itu terbelalak dan diikuti oleh gelak tawa yang membahana.


"Hahahahahaha ... astaga Ra. Lihatlah wajahmu. Riasan wajahmu luntur semua. Dan, hahahah hahaha kamu seperti ondel-ondel Ra!"


Amara terkesiap. Buru-buru ia mengambil cermin kecil yang ada di dalam tas yang ia bawa. Kedua bola matanya pun seketika membulat sempurna.


"Apa-apaan ini? Mengapa wajahku jadi seperti ini? Foundation luntur, mascara bleber ke mana-mana dan ah, komedo di hidungku muncul semua!"


Perut Adelia seperti dikocok habis-habisan saat melihat wajah teman duetnya ini. Gegas, ia mengulurkan micelar water agar bisa dipakai oleh Amara.


"Pakailah ini. Mumpung giliran kita untuk tampil masih lama. Dan benahi riasanmu itu."


Tanpa basa-basi, Amara mulai menghapus makeup yang ada di wajahnya. Setelah bersih sempurna, hanya ia aplikasikan compact powder untuk memaksimalkan tampilannya.


"Bagaimana Del? Sudah lebih baik buka?" tanya Amara dengan sedikit cemas.


Adelia menganggukkan kepala. "Ya, itu jauh lebih baik dari sebelumnya."


"Permisi Kak!"


Adelia dan Amara yang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing sedikit terkejut akan kedatangan seseorang di dekat mereka. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


"Iya .... ada apa ya Mbak?"


Wanita yang tak lain adalah pemilik stand minuman yang sebelumnya disambangi oleh Dewi itu, tersenyum tipis sembari mengulurkan dua cup wedang jahe plus jeruk nipis.


"Begini Kakak ... kami dari outlet minuman tradisional. Nah, untuk event ini kami akan memberikan tester kepada beberapa peserta audisi ini Kak. Nah, kakak berdua ini merupakan salah satu orang yang beruntung."


"Oh seperti itu? Memang ini minuman apa Mbak?" tanya Amara ingin tahu.


"Ini campuran jahe dan jeruk nipis Kak. Ini merupakan salah satu minuman yang bisa membuat suara kakak-kakak ini merdu dan nyaring."


Dahi Adelia mengerut. "Benarkah? Memang begitu ya Mbak?"


Wanita pemilik lapak minuman tradisional itu mengambil ponsel dari dalam saku baju yang ia kenakan. Ia tunjukkan sebuah artikel tentang manfaat jahe dan jeruk nipis ini.


"Ini buktinya Kak. Setelah minum minuman ini saya jamin suara Kakak-kakak ini akan merdu dan nyaring."


Adelia dan Amara sama-sama melihat artikel yang diperlihatkan oleh sang pemilik lapak. Tanpa menaruh rasa curiga sama sekali keduanya menerima pemberian wanita itu.


"Baiklah, ini biar kami minum. Lagipula, saya juga merasa haus sekali. Mungkin ini bisa jadi penawarnya," timpal Amara dengan mengulas sedikit senyumnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Kak. Terima kasih banyak karena sudah bersedia untuk ikut menikmati produk minuman dari kami."


Pemilik lapak itu melenggang pergi meninggalkan Amara dan Adelia. Keduanya mulai menikmati cup minuman yang ada di dalam genggaman tangan.


"Dewi!" lirih Adelia saat melihat seseorang yang begitu familiar di indera penglihatannya.


"Apa Del? Kamu bicara apa?" tanya Amara yang sedikit kurang jelas dengan pekikan Adelia.


"Itu Dewi, Ra. Itu Dewi!" tunjuk Adelia ke salah satu sudut tempat ini.


Kini, ucapan Adelia tidak hanya terdengar lirih namun terdengar kencang. Hingga membuat personil Magatra yang lainnya juga turut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Adelia.


"Dewi!" pelik yang lainnya yang juga tidak kalah kencang.


Dewi yang tengah dihadang oleh para fans di antara kerumunan para peserta audisi sedikit terperanjat ketika suara beberapa orang yang memanggil namanya merembet masuk ke dalam telinga. Wanita itu menoleh ke arah sumber suara dan terlihat para personel Magatra dalam posisi berdiri untuk menyapanya.


Dewi tersenyum simpul. Sejatinya, ia ingin menghindar dari grup musik yang pernah menjadi tempatnya bernaung ini. Namun, ia rasa tidak ada salahnya jika saat ini ia memberikan ucapan selamat datang untuk mantan teman-temannya ini. Wanita itupun mulai mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Dew, kamu apa kabar?"


Kali ini Satya lah yang nampak begitu antusias bertemu dengan Dewi. Ia tidak menyangka jika saat ini ia bisa kembali dipertemukan dengan seorang bintang yang tengah naik daun di negeri ini. Seorang bintang yang dulu pernah menjadi satu grup musik.


Dengan senyum ramah Dewi menjawab pertanyaan Satya. "Aku baik Bang. Bagaimana dengan kalian? Baik juga kan?"


"Iya Dew, kami semua baik," sahut Anki yang juga tidak kalah bahagia bisa bertemu dengan Dewi.


Berbeda dengan Anki dan Satya yang nampak begitu excited dengan pertemuannya bersama Dewi, Langit, Adelia dan Amara justru hanya nampak diam seribu bahasa. Bibir ketiga orang itu sama-sama terkatup dan seolah begitu terkesima dengan penampilan Dewi ini.


Gila, gila, gila .... ternyata Dewi jauh lebih cantik daripada yang aku lihat di layar kaca. Ternyata wanita yang pernah aku sebut dengan gajah bengkak ini bisa bermetamorfosis menjadi peri kupu-kupu yang sangat cantik.


Di dalam hati, Langit tiada henti memuji kecantikan Dewi. Hatinya sedikit tercubit saat melihat wanita yang pernah ia hina ini berubah menjadi cantik sekali.


Ya Tuhan ... badan Dewi mengapa bisa bagus seperti ini? Ia yang dulu begitu gemuk, saat ini menjadi langsing sekali. Bahkan nampak begitu proporsional. Berapa banyak budget yang harus ia keluarkan untuk bisa mengubah tubuhnya hingga bisa seperti ini?


Itu wajah Dewi mengapa bisa glowing sekali? Bahkan pipinya juga nampak lebih tirus. Kulit wajahnya berseri dan nampak terawat, dan tidak ada jerawat, noda hitam dan kerutan yang ada di wajahnya. Gila, Dewi benar-benar menjelma seperti seorang ratu kerajaan yang hidupnya benar-benar sempurna. Dan itu, pakaian, tas, sepatu, kacamata hitam yang ia pakai, barang-barang branded semua. Ya ampun ... mengapa wanita ini bisa beruntung sekali seperti ini sih?


Amara dan Adelia sama-sama bermonolog di dalam hati. Pandangan mata mereka pun juga tidak lepas dari wajah dan tubuh Dewi. Seorang wanita dengan berat badan berlebih, berkulit kusam seperti tidak terawat kini mendadak menjelma menjadi Sang Dewi kecantikan. Wajah wanita ini benar-benar cantik dan begitu enak untuk dipandang.


Dewi yang melihat ekspresi wajah Adelia dan Amara ini hanya bisa tersenyum tipis. "Kalian berdua apa kabar? Baik juga kan?"


Amara tergagap. "A-aku baik Dew."


"Begitupun dengan aku!" sahut Adelia yang juga menanggapi ucapan Dewi.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya. Oh iya, kalian ikut audisi juga?"


"Iya Dew, Magatra ikut audisi. Sejak kejadian di panggung haji Amir beberapa bulan yang lalu, Magatra sudah jarang lagi mendapatkan job manggung. Bahkan kami sempat akan bubar namun melihat ada kesempatan audisi ini, kami bermaksud untuk mengikuti. Ya, siapa tahu melalui audisi ini keadaan grup musik ini bisa berubah."


Satya menjawab pertanyaan Dewi dengan raut wajah sendu. Ia yang mulai dari awal ikut merintis nama Magatra, seakan merasa begitu miris jika sampai grup musik ini bubar. Dewi yang mendengar penjelasan Satya hanya bisa tersenyum tipis.


Andai saja beberapa orang dari grup ini tidak pernah berbuat jahat kepadaku, aku pasti akan ikut membantu nama Magatra untuk bisa eksis di dunia hiburan. Namun sayang, apa yang telah mereka lakukan sungguh sangat keterlaluan. Dan aku harus memberikan sebuah pelajaran untuk kalian bahwa kalian itu tidak seharusnya merendahkan orang lain. Karena semua akan ada karma yang berlaku. Maafkan aku ya bang Satya, bang Anki. Kalian orang baik, namun untuk sementara harus ikut menanggung balasan yang akan aku berikan untuk bang Langit, Amara dan Adelia.


"Aku benar-benar minta maaf ya Bang, mungkin karena salahku, grup Magatra menjadi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Sungguh, itu di luar dugaanku Bang. Aku tidak menyangka bahwa pita suaraku bisa bermasalah dalam sekejap. Padahal sebelumnya aku dalam keadaan baik-baik saja dan hanya meminum air mineral yang diberikan oleh Amara dan Adelia."


Kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Dewi, sukses membuat seonggok daging bernyawa yang ada di dalam tubuh Amara, Adelia dan Langit tertohok. Ketiga orang itu saling melempar pandangan dengan tatapan yang sukar diartikan. Ada rasa khawatir jika sampai apa yang mereka lakukan terbongkar.


Sekilas, Dewi melirik ke arah Adelia, Amara dan Langit secara bergantian. Wanita itu hanya tersenyum sinis melihat ekspresi wajah tiga orang ini yang sudah seperti ketakutan setengah mati.


"Oh iya Bang, aku baru ingat ternyata aku masih memiliki hutang kepada bang Langit untuk membayar ganti rugi saat manggung di tempat haji Amir. Aku minta nomor rekening Abang saja ya, biar nanti aku transfer. Nanti akan aku berikan lebih sebagai ucapan permintaan maaf dariku. Tapi tunggu sebentar...."


Dewi menjeda sejenak ucapannya dan membuka resleting tas merk Hermes limited edition yang ia bawa. Ia ambil dompet dengan merk yang sama dan ia ambil dua puluh lembar uang seratus ribuan.


"Ini kebetulan yang ada di dalam dompetku baru ada uang cash sejumlah dua juta rupiah. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dariku ya Bang. Dan untuk uang ganti ruginya nanti aku transfer saja. Tidak masalah kan Bang?" ucap Dewi seraya mengulurkan lembaran merah itu di hadapan Langit.


Langit semakin terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh Dewi. Seorang wanita yang pernah ia remehkan karena hanya bernilai recehan seperti uang parkir, kini membalikkan semua yang pernah ucapkan dengan cara elegan seperti ini. Sungguh tidak dapat ia mengerti. Tenyata saat ini roda dunia tengah berputar dan Dewi sedang berada di posisi puncaknya.


Meski sedikit ragu, namun Langit menerima juga apa yang diberikan oleh Dewi ini. "Terima kasih Dew. Oh iya, sedang apa kamu di sini? Apakah nanti kamu akan perform di sela-sela acara audisi ini?"


Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang, aku di sini bukan untuk perform."


"Lalu?"


"Aku menjadi salah satu juri di audisi ini. Jadi, nasib Magatra bisa lolos atau tidak, sedikit banyak berasal dari penilaianku."


"Apa? Kamu juri?"


Dewi hanya tergelak lirih. "Sudah, jangan terkejut seperti itu. Lebih baik, saat ini kalian persiapkan diri untuk bisa menampilkan yang terbaik. Jangan sampai apa yang pernah terjadi di panggung acara haji Amir beberapa bulan yang lalu, terjadi di panggung bergengsi ini."


Dewi melontarkan sebuah perkataan yang sulit diartikan sembari menatap lekat wajah Amara, Adelia dan Langit satu persatu dengan sorot mata tajam. Sorot mata Dewi yang tidak biasa itulah yang membuat ketiga orang itu bergidik ngeri.


"Kalau begitu aku masuk duluan ya semua. Semoga hari ini keberuntungan ada dipihak kalian."


.


.

__ADS_1


__ADS_2