
Puas berkonsultasi perihal perawatan wajah, kini Dewi dan Bhumi mengayunkan tungkai kaki mereka untuk mendatangi salah satu pusat kebugaran. Beruntung letak pusat kebugaran ini satu deret dengan klinik kecantikan milik Sandy, sehingga tidak membuat dua manusia itu kelelahan.
"Bang, yakin hari ini aku mulai fitness?"
Dewi sejenak menghentikan langkah kakinya saat tiba di depan pusat kebugaran ini. Manik matanya menatap lekat sebuah pelakat yang bertuliskan 'Queenza Health Club'. Ada sedikit perasaan gugup yang beegelayut. Gugup jika ia tidak bisa konsisten melakukan fitness di tempat ini.
"Apa lagi yang membuatmu ragu? Bukankah kamu tinggal mendaftarkan diri kemudian bergabung dengan club ini?"
"Tapi aku takut tidak konsisten dan tidak tahu akan apa yang harus aku lakukan Bang. Aku takut jika di tempat ini justru lebih memperlihatkan kebo*dohanku karena tidak dapat melakukan apapun. Karena bagaimanapun juga ini merupakan pengalaman pertamaku."
Bhumi yang mendengar cicitan Dewi hanya bisa berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepala pelan. Nampaknya wanita ini masih belum terlalu berani untuk melangkah lebih jauh lagi. Ia masih sering merasa tidak percaya diri.
"Apakah kamu berpikir di dalam nanti kamu melakukan semaumu sendiri?"
"Maksud Abang apa? Bukankah di dalam nanti aku akan melakukan latihan-latihan fisik untuk mencapai body goals? Dan itu artinya aku harus menggunakan alat-alat gym yang ada di dalam sana bukan? Aku tidak paham tentang cara penggunaannya Bang. Aku malu jika aku sampai keliru menggunakan peralatan yang nampak asing itu."
"Lalu apa gunanya pusat kebugaran ini didirikan jika tidak ada instruktur yang akan membantumu? Kamu tidak perlu khawatir. Akan ada instruktur profesional yang akan membantumu."
Sejenak, akal sehat Dewi terbang entah kemana di saat lelaki di hadapannya ini mencubit hidungnya. Perlakuan tiba-tiba yang dilakukan oleh Bhumi yang terasa begitu manis, seperti seorang kekasih yang mencubit gemas hidung milik pasangannya.
"Hei, mengapa kamu malah melamun?"
Bhumi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dewi. Ia tidak mengerti akan apa yang terjadi dengan wanita ini. Ia malah terlihat terbengong sendiri. Beruntung tidak ada lalat yang mengerubungi.
"Eh, Bang...."
"Ada apa?"
__ADS_1
"Bisa tidak, kalau Abang tidak melakukan hal-hal di luar dugaan seperti ini?"
Bhumi mengernyitkan dahi. "Hal-hal macam apa itu?"
"Ya seperti ini. Tiba-tiba mencubit hidungku. Tiba-tiba mengacak-acak rambutku. Tiba-tiba menggandeng tanganku. Jangan seperti itu lah Bang. Aku takut."
"Takut apa?"
Masih dengan santai, Bhumi menanggapi perkataan Dewi. Padahal Dewi sendiri sudah merasa gugup setengah mati. Jika sebelumnya ia gugup karena tidak bisa menggunakan peralatan fitness dan takut mempermalukan diri sendiri, kini ia merasa gugup karena sikap Bhumi yang di matanya terasa begitu spesial ini.
Dewi membuang napas sedikit kasar. "Takut benar-benar jatuh cinta kepadamu, Bang. Abang tahu bukan jika wanita itu seringkali terjebak dalam pikiran dan asumsinya sendiri? Jangan sampai perilaku bang Bhumi yang serba tiba-tiba itu membuatku beranggapan bahwa bang Bhumi ini memiliki perasaan kepadaku. Padahal sebenarnya tidak."
"Kalau begitu mari kita bercinta!"
Kedua bola mata Dewi terbelalak dan membuat sempurna. Baru saja ia menyampaikan perihal jatuh cinta, namun ditanggapi dengan ajakan bercinta. Apa maunya coba?
"Apa? Bercinta? Maksud Abang apa?"
Tanpa basa-basi, Bhumi melangkahkan kaki untuk memasuki lobby pusat kebugaran ini. Meninggalkan Dewi berdiri terdiam, terpaku dan membeku sendiri. Tiba-tiba saja, ia diserang oleh getaran tremor yang membuat tubuhnya gemetar tiada terkendali. Ia mencoba menyinkronkan apa yang ia dengar, apa yang ia pikirkan dan apa yang ia rasakan akibat ucapan Bhumi.
Apa tadi Bang Bhumi bilang? Aku kekasihnya dan dia kekasihku? Bukankah itu artinya saat ini kita berpacaran? Oh Ya Tuhan... Apakah Bang Bhumi serius dengan ucapannya? Jika memang serius, mengapa se simpel ini?
"Hei, mau sampai kapan kamu berdiam diri di sana? Ayo segera masuk!"
Pada akhirnya, kesadaran Dewi pulih sempurna. Ini merupakan pengalaman pertama baginya bertemu dengan seorang laki-laki dengan karakter seperti Bhumi. Ia sampai tidak paham mana yang merupakan obrolan serius dan mana yang hanya merupakan bahan candaan.
"Bang ... maksud ucapan Abang tadi apa?" ucap Dewi meminta penjelasan dari lelaki ini.
"Masih haruskah kamu pertanyakan?"
__ADS_1
"A-Apakah itu artinya saat ini kita....?"
Bhumi menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, mulai hari ini, kita menjalin hubungan."
Lagi-lagi Dewi hanya bisa terperangah. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan sebagai isyarat bahwa ia terkejut setengah mati.
"Waaaooww .... simpel banget!!😂
****
"Saya benar-benar mohon maaf Nyonya karena saya belum bisa menebus kalung itu dan menemukan pemiliknya. Ternyata kedatangan saya kalah cepat dengan wanita pemilik kalung itu."
Dengan raut yang dipenuhi oleh penyesalan, Hans menundukkan kepalanya di hadapan Kartika. Lelaki itu benar-benar merasa tidak enak hati karena tidak bisa bekerja maksimal untuk membahagiakan wanita berusia senja yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri. Padahal jika dituruti, permintaan Kartika hanya merupakan permintaan yang simpel saja.
Meski sedikit kecewa karena belum berhasil menemukan seseorang yang menjadi penyelamat nyawanya, namun Kartika memahami apa yang sudah dilakukan oleh pengawal pribadinya ini. Di matanya, Hans sudah bekerja dan berusaha sangat keras sekali.
"Tidak mengapa Hans. Mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengan wanita itu. Namun aku yakin, jika suatu hari nanti Tuhan akan mempertemukanku dengannya agar aku bisa membalas semua kebaikannya. Aku sungguh tidak tahu apa yang akan aku alami jika tidak bertemu dengannya Hans."
Setetes kristal bening, jatuh dari pelupuk mata Kartika yang sudah terlihat sedikit berkerut itu. Hal itulah yang membuat Hans semakin merasa tidak enak hati karena belum bisa membahagiakan wanita ini. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, ia akan memilih untuk bermalam di emperan pegadaian sehingga ia bisa bertemu dengan pemilik kalung itu.
"Sekali lagi saya benar-benar minta maaf Nyonya. Saya bekerja kurang maksimal. Sehingga membuat Nyonya begitu kecewa seperti ini."
"Tidak Hans, kamu tetaplah hebat di mataku."
"Lalu, apa yang harus saya lakukan saat ini Nyonya?"
"Aku masih memberimu tugas yang sama Hans. Temukan dua orang yang saat ini aku butuhkan. Arga dan wanita penyelamatku itu. Entah mengapa aku merasa keduanya berada di sekelilingku dan dekat denganku."
"Baik Nyonya. Saya akan kembali melakukan upaya pencarian tuan muda Arga dan juga wanita pemilik kalung itu."
__ADS_1
"Bagus Hans. Aku percaya bahwa kamu mampu untuk segera menemukan dua orang itu."