Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 53. Di Ruang Keluarga


__ADS_3


Seluruh penghuni kediaman Kartika berkumpul di ruang keluarga. Mereka sengaja dikumpulkan oleh Bhumi, mengingat ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Setelah mendapatkan kata sepakat dengan Dewi perihal acara lamaran, Bhumi bermaksud untuk memberitahukan kepada keluarga besarnya.


"Ga, sebenarnya ada keperluan apa kamu mengumpulkan kami semua di sini?"


Sembari menyeruput secangkir kopi panas, Wiraguna nampak sudah tidak sabar untuk menanyakan maksud dan tujuan sang putra mengumpulkan semua di sini. Baginya, ini sudah seperti pembentukan panitia pernikahan saja.


Bhumi yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dewi hanya bisa tersenyum simpul. Ia berharap, apa yang akan ia sampaikan ini membahagiakan seluruh anggota keluarganya.


"Pa, Oma, aku ingin segera melamar Dewi. Bagaimana menurut Papa dan Oma? Apakah kalian setuju?"


Wiraguna menanggapi santai ucapan putranya ini. Sejatinya, tidak masalah jika sang putra segera menikah, mengingat usianya juga tidak muda lagi.


"Bagi Papa tidak masalah Ga, justru Papa sangat mendukung. Tidak baik juga jika terlalu lama berpacaran. Namun entah dengan Oma."


"Oma juga setuju Ga. Dengan segera menikahi Dewi, itu artinya akan ada generasi penerus keluarga kita. Dan jika sampai kamu memiliki putra, putramu akan menjadi cucu pertama untuk papamu dan akan menjadi cucu buyut pertama untuk Oma. Dan kamu pasti sudah tahu bukan perihal warisan yang akan Oma berikan untuk putramu?"


Bhumi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sejatinya, ia tidak ambil pusing perihal warisan. Yang ia inginkan, kelak anak-anaknya dapat tumbuh di dalam dekapan keluarga yang utuh.


"Arga sama sekali tidak berpikir ke arah sana Oma. Apalagi perihal warisan. Arga hanya ingin bisa segera hidup bersama Dewi. Mencurahkan cinta dan kasih sayang yang aku miliki di bawah ikatan suci."


"Meski kamu tidak berpikir ke arah sana, namun Oma akan mempersiapkan warisan yang banyak untuk putramu Ga."


Berbeda dengan Bhumi yang menanggapi santai perihal warisan, Wenda yang sedari tadi terdiam mendadak ada sesuatu yang mengusik hati dan juga pikirannya. Raut wajah wanita itu nampak cemas jika sampai keturunan dari Arga akan mendapatkan harta warisan yang banyak.


"Kalau menurutku, lebih baik nanti-nanti saja dulu Arga dan Dewi menikah. Kita semua tahu bukan kalau karier Dewi sedang melesat bak sebuah roket? Jadi biarkan saja Dewi menikmati masa-masa famous nya terlebih dahulu sebelum menikah."


Meski tidak dituntut untuk memberikan pendapat, namun Wenda nekad untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya. Ia harus mencegah acara pernikahan Arga dan Dewi dalam waktu dekat. Ia tidak ingin jika setelah menikah, mereka memiliki anak kemudian bisa menguasai harta warisan Kartika. Sungguh tidak dapat ia terima.


"Terima kasih untuk sarannya, Nyonya. Tapi saya sudah memantapkan hati untuk segera melamar Dewi dan setelah Dewi mengadakan konser bersama Titi Dj, saya akan segera menikahinya."

__ADS_1


Arga menanggapi saran dari Wenda ini dengan dingin. Dari cara sang ibu tiri mengemukakan pendapatnya, ia dapat menilai jika ada maksud terselubung di balik setiap kata yang terucap. Entahlah, bahkan untuk berprasangka baik terhadap sang ibu tiri pun merupakan hal yang begitu sulit untuk ia lakukan.


"Ceh, aku benar-benar heran padamu Ga. Baru saja calon istrimu ini berada di puncak kariernya, tapi malah kamu rusak begitu saja."


Dewi yang mendengar ucapan Wenda hanya bisa terperangah. "Nyonya bukan seperti itu. Saya bahkan percaya jika setelah menikah, karier saya jauh akan lebih bersinar lagi Nyonya."


Wenda tersenyum miring. Ia dapat menangkap sinyal kebusukan dari calon istri Arga ini. Wenda sampai berpikir, jika Dewi sejatinya juga ngebet ingin mendapatkan warisan dari sang mertua.


"Bu, Ibu juga harus ingat warisan untuk Gilang. Bagaimanapun, Gilang juga merupakan cucu Ibu. Sudah sepantasnya juga dia mendapatkan warisan yang banyak."


"Kamu tidak perlu khawatir Wen, sudah ada warisan yang kelak akan aku berikan untuk Gilang. Jadi, kamu bisa bernapas lega."


Kartika tahu betul akan apa yang diinginkan oleh menantunya ini. Seorang wanita yang begitu menggebu ingin mendapatkan harta warisan darinya, yang sangat tidak tahu malu. Bahkan untuk sekedar menyimpan rapat-rapat bahwa dirinya mata duitan dan gila harta tidak dapat ia lakukan.


"Syukurlah kalau begitu. Setidaknya aku sudah sangat merasa lega karena putraku juga akan memiliki warisan dari harta milik Ibu."


Masih dengan sikap santai, Wenda bahkan tidak perduli dengan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka sama-sama menganggap bahwa wanita paruh baya ini memang mengincar harta warisan.


"Ah iya, kapan kamu akan pergi menemui orang tua Dewi?"


"Lusa, Oma. Arga berencana lusa kita berangkat bersama-sama ke rumah Dewi. Bagaimana? Oma dan Papa setuju kan?"


Sekilas, ibu dan anak itu saling melempar pandangan dan sama-sama menganggukkan kepala.


"Papa dan Oma setuju Ga. Lebih cepat lebih baik. Karena memang niat baik itu harus disegerakan."


Senyum merekah di bibir Dewi dan juga Bhumi. Nampak jelas bahwa wajah keduanya dihiasi oleh binar-binar kebahagiaan yang begitu kentara. Pada akhirnya, niat baik mereka untuk menjadi satu di bawah ikatan tali suci pernikahan akan segera terealisasi.


"Hans!"


Hans yang sedari tadi berdiri di sisi Kartika membungkukkan sedikit tubuhnya. "Ya Nyonya."

__ADS_1


"Tolong persiapkan semua barang-barang untuk kita bawa ke acara lamaran Arga. Perhiasan, emas batang, mobil, dan sertifikat rumah yang sudah aku persiapkan. Dan pastikan pula acara lamaran Arga berjalan sempurna."


Dewi terperangah. Mendengar kata mobil, perhiasan, emas batang dan juga sertifikat rumah hanya membuat bibirnya menganga lebar.


"Oma .... barang-barang itu sungguh sangat berlebihan. Dewi belum pantas menerimanya Oma."


Kartika menggelengkan kepala sembari tersenyum simpul. "Tidak Sayang, itu semua tidaklah berlebihan untukmu. Bahkan semua itu tidak akan pernah bisa sepadan dengan apa yang sudah kamu lakukan untukku."


"Tapi Oma...?"


"Terima saja Dew. Kamu wanita luar biasa. Dan kamu pantas untuk mendapatkan itu semua."


Genggaman erat jemari Bhumi dan ucapan lirih dari bibir lelaki itu, berhasil menghentikan ucapan Dewi yang mungkin akan menolak pemberian sang Oma. Lagi-lagi wanita itu hanya bisa meneteskan air mata atas segala karunia dari Tuhan yang datang tanpa terduga.


Dasar wanita penuh drama. Wajahnya saja sok menolak pemberian si nenek tua. Padahal dalam hatinya dia kegirangan karena mendapatkan barang-barang mewah untuk acara lamarannya. Semakin lama dia sudah persis dengan rubah berbulu domba.


Sembari menikmati bolu kukus pandan yang menggoyang lidah, sempat-sempatnya Wenda mengumpat di dalam hati perihal Dewi. Perlakuan Kartika yang nampak begitu mengistimewakan Dewi seakan membuat wanita itu tidak terima karena rasa iri dan dengki yang merajai. Diam-diam, Wenda menatap wajah Dewi dengan sorot mata kebencian yang kentara sekali namun juga masih sibuk menikmati bolu kukus yang ada di dalam mulutnya.


"Hiik!!!"


Tetiba tenggorokan Wenda seperti tercekat hingga menimbulkan suara yang sedikit kencang. Suara itulah yang membuat semua orang yang berada di sini menoleh ke arah Wenda.


"Ada apa Ma?"


Gilang yang sedari tadi terdiam sedikit terkejut dengan apa yang dialami oleh sang mama. Wanita paruh baya itu nampak memegangi bagian lehernya.


"A-air Lang... Air!!!"


Paham dengan apa yang terjadi terhadap sang mama, gegas Gilang mengulurkan gelas berisi teh panas yang tersaji di atas meja. Dan dengan cepat, Wenda menerima apa yang diberikan oleh sang putra. Namun tiba-tiba...


"Aaarrghhhhh ... ini panas Gilang!!!! Kamu ingin membunuh Mama?!!!!"

__ADS_1


"Aaahhh... maafkan Gilang Ma. Gilang tidak sengaja!!"


Keadaan Wenda ini tidak lantas membuat orang-orang yang berada di sekeliling menjadi simpati. Mereka justru menahan tawa di dalam hati. Sungguh, ekspresi wanita ini sangatlah menggelitik hati.


__ADS_2