
"Lihatlah Pah, anak kamu itu benar-benar kurang ajar. Berani-beraninya dia menampar Mama!"
Masih merasa jengkel dengan apa yang dilakukan oleh Bhumi, Wenda sampai rela mendatangi sang suami di kantor untuk mengadukan apa yang telah dilakukan oleh sang anak tiri. Dadanya masih terasa bergemuruh dengan emosi yang meletup-letup. Berharap dengan mengadukannya kepada sang suami, letupan emosi itu dapat mereda.
Di ruangan ini tidak hanya ada Wiraguna. Gilang pun turut menemani sang papa untuk menyelesaikan proposal untuk presentasi di hadapan relasi. Namun pekerjaan mereka terpaksa terhenti tatkala Wenda datang dengan raut wajah yang sudah seperti nenek gayung yang kehilangan gayungnya.
"Kamu itu bicara apa Wen? Siapa yang kamu maksud sudah menamparmu?"
Sekilas Wiraguna menatap wajah sang istri, namun sesaat kemudian kembali fokus ke arah layar laptopnya. Entah bagaimana ceritanya, semua yang dikatakan oleh istrinya ini tidak terlalu menari perhatiannya.
Dengan wajah ditekuk, Wenda mengayunkan tungkai kakinya untuk berjalan ke arah sofa. Ia daratkan bokongnya di sana dengan deru napas yang memburu.
"Arga Pah, dia menampar Mama. Tidak berakhlak kan anak kamu itu? Lihatlah, pipi Mama sampai memerah seperti ini."
Wenda menunjukkan pipinya. Pipi itu memang memerah, namun bukan karena bekas tamparan melainkan efek blush on yang ia pergunakan. Sedangkan Wiraguna hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Itu bukan karena tamparan Arga, Wen. Tapi blush on yang kamu pergunakan. Lihatlah perona pipimu itu nampak tebal sekali seperti ondel-ondel."
Wenda sedikit terkejut mendengar ucapan sang suami. Ia yang mengira sang suami akan bersimpati, justru malah mengolok-olok dan menginjak harga diri yang ia miliki. Wajahnya semakin ditekuk, nampak jelas sekali.
"Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu Pa. Mama ini habis ditampar Arga. Masa kamu tidak mau membela Mama?"
Dengan terpaksa, Wiraguna menghentikan aktivitas jemarinya menjamah papan keyboard. Ia tautkan kembali manik matanya ke arah Wenda.
"Memang apa akar permasalahannya, sampai-sampai Arga menampar pipimu?"
Tidak ingin langsung percaya dengan apa yang diucapkan oleh Wenda, Wiraguna mempertanyakan bagaimana kronologi sebenarnya. Wiraguna merasa, sang putra memiliki alasan tersendiri jika sampai menampar pipi Wenda.
"Aku hanya protes perihal kedatangan dua orang gelandangan yang mengganggu pandangan itu Pa. Mama tidak suka jika rumah kita dijadikan tempat penampungan dua gelandangan yang entah berasal dari mana itu. Mama tidak suka!"
"Pantas jika Arga menamparmu Wen!"
Wenda terperangah. "Apa? Papa bicara apa? Mengapa Papa justru membenarkan perilaku kurang ajar Arga? Di sini Mama korbannya Pa. Bisa-bisanya Papa membela Arga!"
Tidak habis pikir, itulah yang Wenda rasakan. Apa yang ia alami ternyata tidak sedikitpun mendapatkan pembelaan. Ia yang berharap sang suami akan berada di pihaknya justru malah terkesan turut menyalahkan.
__ADS_1
"Ucapanmu benar-benar keterlaluan, jadi pantas saja jika Arga menamparmu. Jika aku menjadi Arga, aku juga akan melakukan hal yang sama. Apa yang kamu ucapkan benar-benar tidak menunjukkan bahwa kamu orang terpelajar Wen!"
Wenda bergeming, tak menanggapi perkataan Wiraguna. Ia merasa saat ini bukan waktunya untuk menyangkal ucapan suaminya ini. Namun di dalam hati, api kebencian itu tetap berkobar hebat. Lagi-lagi karena Arga, posisinya sebagai seorang istri benar-benar terancam.
"Lang, kamu berada di pihak Mama kan? Apa yang telah dilakukan oleh kakak tirimu itu benar-benar sudah keterlaluan kan?"
Belum puas karena tidak dibela oleh Wiraguna, Wenda meminta pembelaan dari sang putra. Ia yakin bahwa putranya ini akan membelanya. Bahkan sorot mata wanita itu nampak tajam seakan mengintimidasi.
Gilang hanya dapat membuang napas sedikit kasar. Di mata dan juga pikirannya, dirinya pun juga tidak membenarkan perilaku sang mama yang sudah seperti preman pasar itu.
"Tidak Ma. Gilang sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Papa. Tidak seharusnya Mama mengucapkan kata-kata seperti itu. Meski di mata Mama orang yang baru saja dibawa kak Arga seperti seorang gelandangan, namun tidak bagi kak Arga. Kak Arga begitu menyayangi dua orang itu."
Brak!!!
"Hahhh.... Dasar, anak sama bapak sama saja. Tidak ada yang membelaku!"
Untuk meluapkan rasa kesalnya, Wenda menggebrak meja yang ada di hadapannya. Ia benar-benar naik pitam karena upayanya menjatuhkan nama Arga di mata Wiraguna gagal total.
"Jelas aku tidak membelamu Wen, karena sikapmu itu sangatlah keterlaluan. Lagipula, apakah kamu tahu siapa wanita dewasa yang dibawa oleh Arga?"
Wenda merotasikan kedua bola mata. "Aku tahu siapa wanita itu. Dia calon istri Arga bukan? Ceh, bisa-bisanya dia memilih wanita bertubuh seperti gajah itu untuk menjadi istrinya? Apa dia memang sudah tidak laku? Atau mungkin telah buta karena tidak dapat membedakan mana wanita cantik dan mana yang bukan."
"Hentikan ucapanmu itu Wen. Asal kamu tahu, wanita itu adalah penyelamat Ibu ketika dibuang oleh para penculik di kawasan kumuh yang ada di kota ini. Berkat pertolongan wanita itulah nyawa Ibu bisa diselamatkan."
"Apa? Yang menyelamatkan Ibu?"
Kali ini Wenda sudah tidak dapat berkata apapun. Terlalu banyak kejutan-kejutan yang ia terima sepulang dari healing ke kawasan puncak. Sebuah kejutan yang membuatnya berpikir keras untuk dapat menjalankan rencananya.
Ternyata dia yang sudah membuat nyawa si tua bangka itu selamat. Sepertinya, aku memang harus bersegera melakukan sesuatu. Aku akan berusaha, sekali tepuk, dua lalat mati. Dan aku ingin merencanakannya untuk mereka berdua.
***
"Pegang tanganku Dew!"
Bhumi mengulurkan tangannya ke arah Dewi yang masih duduk di dalam mobil dalam keadaan kedua matanya tertutup oleh selembar kain.
Dewi menyambut tangan Bhumi. Dengan hati-hati, ia mulai bangkit dari posisi duduknya. "Bang, sebenarnya kita ini di mana? Mengapa mataku ditutup seperti ini?"
__ADS_1
Sejak diperjalanan, Dewi tiada henti bertanya akan dibawa kemana dirinya ini oleh Bhumi. Namun, sebanyak apapun ia bertanya, maka sebanyak itu pula lah Bhumi menjawab 'sabar, nanti kamu juga akan tahu'.
Bhumi hanya tersenyum simpul. Ia arahkan lengan tangan Dewi untuk menggamit langan tangannya, dan perlahan mereka mulai melangkahkan kaki untuk menuju ke suatu tempat.
Sampai di sebuah ruangan, kedatangan Bhumi dan Dewi disambut oleh beberapa orang yang merupakan teman-teman Bhumi. Mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sosok Bhumi yang tiba-tiba menjadi romantis seperti ini.
"Ga, ini benar kamu? Svarga Bhumi yang dulu ketika duduk di bangku SMA terkenal sebagai seorang laki-laki dingin tak tersentuh sama sekali, dan kini tiba-tiba bertransformasi menjadi sosok romantis seperti ini? Sungguh tidak dapat aku percaya Ga!"
Aldo, salah seorang sahabat Bhumi sejak berada di bangku SMA terkejut setengah mati dengan sikap Bhumi yang mendadak romantis seperti ini. Entah makhluk apa yang merasuki, sehingga membuat lelaki ini menjadi sosok yang berbeda. Ia sampai berpikir jika Bhumi kerasukan sosok pangeran berkuda putih yang berada di film Cinderella.
"Tidak perlu kamu bahas cerita SMA ku Al, semua sudah berlalu. Aku sangat bersyukur atas sifat dinginku itu, ternyata Tuhan mempertemukan aku dengan sosok wanita sempurna seperti wanita yang sedang berada di sampingku ini."
"Ahahaha .. Baiklah. Aku mendukungmu Ga. Tapi ngomong-ngomong mau sampai kapan kamu menutup mata kekasihmu ini?"
Bhumi sedikit tersentak kala menyadari bahwa kekasihnya ini masih berada di dalam mode gelap-gelapan. Pada akhirnya, dengan gerak perlahan, ia membuka kain yang menutupi mata Dewi.
"Lihatlah apa yang ada di hadapanmu Dew!!"
Dewi mngerjab dan sedikit mengucek matanya di saat pandangan sekitar nampak buram. Tak selang lama, ia dapat melihat dengan jelas semua yang tersaji di ruangan ini. Kedua bola matanya terbelalak sempurna dengan air mata yang mulai menetes perlahan. Bibirnya menganga lebar kala melihat semua yang ada di ruangan ini.
"Bang .... ini.... "
"Selamat datang di industri rekaman, Dew!"
Wanita itu masih tidak percaya kala melihat beberapa peralatan rekaman telah tersedia di tempat ini. Mulai dari komputer, eksternal HD, digital audio workstation, audio interface, monitor, speaker, headphone, microphone, mic stand, dan pop shield. Meski studio rekaman ini nampak sederhana namun hampir menyerupai studio rekaman profesional yang sudah terkenal di seantero negeri.
"Bang ... aku harus mengucapkan apa lagi kepadamu? A-aku benar-benar terharu Bang..."
Bertambah deras air mata yang mengalir dari jendela hati milik Dewi. Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan hingga ia mendapatkan anugerah berkali-kali lipat seperti ini. Wanita itu sampai bingung sendiri, bagaimana cara kerja takdir yang mengubah keadaan hidupnya sesingkat dan secepat ini.
Bhumi hanya tersenyum penuh arti. Ia rapatkan tubuhnya di dekat Dewi. Ia tatap lekat netra sang kekasih dan perlahan ia seka air matanya.
"Kamu tidak perlu mengucapkan apapun. Yang perlu kamu lakukan hanya satu. Tetaplah bersemangat untuk meraih mimpi dan juga asamu, Dew. Tunjukkan kepada dunia bahwa kamu adalah Sang Dewi!"
Ucapan Bhumi layaknya pemantik api yang membuat semangatnya berkobar. Tidak akan ada lagi yang bisa memadamkan. Karena tinggal beberapa langkah lagi ia akan berada di puncak mimpi dan pantang untuk mundur lagi.
Dewi menganggukkan kepala. "Aku berjanji Bang, aku berjanji!"
__ADS_1
"Bagus. Kalau begitu .... are you ready?"
"Ya, aku siap Bang!!"