Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 42. Undangan


__ADS_3


"Kaulah seluruh cinta bagiku. Yang slalu menentramkan perasaanku. Dirimu kan slalu ada di sisiku slamanya. Kau bagaikan napas di tubuhku. Yang sanggup menghidupkan sgala gerakku. Ku kan slalu memujamu hingga nanti kita kan bersama."


Denting dawai cinta. Mengalun irama getar asmara. Terasa begitu indah dan nyata. Memanggil kepak sayap rindu yang bergelora.


Di beranda, sepasang manusia itu nampak larut dalam melodi asmara. Mengalun indah nan merdu di telinga. Bermandikan cahaya cinta yang menelusup hingga ke palung jiwa.


Binar-binar penuh kebahagiaan begitu kentara. Menenggelamkan raga dalam rasa yang sama. Rasa cinta sampai di ujung usia.


"Sempurna. Teknik vokal kamu semakin hari semakin matang. Aku rasa, tidak perlu menunggu waktu lama kamu bisa masuk ke dunia rekaman."


Kata yang terucap dari bibir Bhumi membuat perhatian Dewi terbagi. Ia yang sebelumnya menatap lekat layar ponsel untuk menghafal bait lagu yang ia nyanyikan kini terpaut pada sosok lelaki yang tengah duduk masih sambil membawa gitar di tangannya ini. Matanya sedikit menyipit sebagai pertanda bahwa ia tidak terlalu paham dengan apa yang terlisan dari bibir Bhumi.


"Rekaman? Maksud bang Bhumi rekaman bagaimana? Aku sungguh tidak paham."


Bhumi terkekeh pelan. Raut wajah Dewi yang seperti orang kebingungan ini justru nampak semakin menggemaskan. Bisa-bisanya wanita ini tidak paham dengan apa yang ia ucapkan. Padahal sudah dengan jelas dan lugas ia sampaikan.


"Apakah kamu tidak berkeinginan untuk masuk ke industri rekaman? Apakah lirik-lirik lagu yang kamu ciptakan ini hanya ingin kamu simpan? Tidak ingin kamu publikasikan?"


Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang. Jelas, aku ingin masuk ke dunia rekaman. Tapi apakah..."


Lagi-lagi Dewi memangkas ucapannya. Tiba-tiba saja satu beban di hati kian meraja. Ia yang baru saja viral melalui sosial media, kini berkeinginan untuk masuk ke industri rekaman? Sungguh ia merasa sebagai orang yang tamak akan karunia Tuhan.


"Ada apa? Apakah kamu masih merasa insecure dengan keadaan fisikmu? Aku peringatkan sekali lagi ya, aku paling tidak suka jika kamu terlalu cemas dengan kondisi fisikmu."


Bhumi kembali mengingatkan apa yang pernah ia ucapkan. Sejatinya ia tidak terlalu menyukai sikap Dewi yang tiba-tiba merasa insecure perihal bentuk badan. Di matanya, hal itu bukanlah perkara besar yang dapat menghentikan mimpi serta angan.


"Bukan Bang, bukan itu."


"Lalu?"


"Apakah aku tidak seperti seseorang yang tamak? Baru saja aku menjadi viral yang sudah sangat jelas akan memberikan pengaruh positif untukku. Dan sekarang kamu membicarakan perihal rekaman? Apakah itu sama saja aku ini orang yang tamak, Bang?"


Bhumi tersenyum penuh arti. Ia semakin menyadari bahwa Dewi memang wanita yang berbeda dari para wanita yang pernah ia temui. Wanita ini benar-benar tidak dipenuhi oleh ambisi.


"Tidak ada kata tamak untuk meraih apa itu mimpi. Kesempatan sudah terbuka lebar di depan mata. Dan tidak seharusnya engkau sia-siakan. Karena bisa jadi, kesempatan itu hanya datang untuk satu kali."


"Tapi, apakah aku sudah pantas untuk masuk ke dunia rekaman Bang?"


"Bukan hanya pantas, tapi sangat-sangat pantas. Persiapkan dirimu untuk menjadi seorang bintang, Dewi!"


Tutur kata lembut namun terdengar begitu tegas. Mampu meruntuhkan dinding keraguan yang masih membekas. Membangun asa tiada terbatas yang sebelumnya tergilas.

__ADS_1


"Tetap dampingi aku Bang. Aku tidak ingin berjalan sendirian."


Bhumi tergelak lirih. "Apakah itu sebuah paksaan dan keharusan?"


Dewi menganggukkan kepala. "Itu sudah jelas. Karena Bang Bhumi yang akan selalu menguatkan."


Bhumi mengacak rambut Dewi sedikit kasar. Ia tersenyum lebar dengan sorot mata cinta yang terpancar. "Jika Tuhan memberikanku umur panjang, aku akan senantiasa berada di sisimu untuk menguatkanmu."


"Terima kasih banyak Bang."


Srek... Srek.. Srekkk...


Bunyi alas sepatu yang bergesekan dengan sampah-sampah plastik di gang sempit ini membuat Dewi dan Bhumi sedikit terperanjat. Semakin lama bunyi itu terdengar semakin dekat. Dan kehadiran tiga orang nampak jelas terlihat.


"Selamat siang ...."


"Siang ... maaf, Anda-Anda ini siapa? Dan ada keperluan apa datang kemari?"


Melihat tiga orang asing datang ke kediamannya, membuat Bhumi bertanya-tanya. Pasalnya, orang-orang ini nampak begitu asing di indera penglihatannya. Bahkan tidak pernah berlalu lalang di sekitar tempat tinggalnya. Hal itulah yang membuat lelaki itu sedikit dipenuhi oleh rasa curiga.


"Apakah benar ini merupakan kediaman Bhumi yang beberapa waktu yang lalu tampil di TMII?"


Bhumi menganggukkan kepala. "Iya benar, saya Bhumi. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Mari silakan duduk, maaf tempatnya sempit."


"Terima kasih."


"Jadi, ada keperluan apa Anda kemari? Sepertinya saya baru sekali melihat Anda berada di kawasan ini?"


"Begini mas Bhumi, kami dari program acara 'Pagi Happy' Uye TV bermaksud untuk mengundang mas Bhumi dan mbak Dewi untuk menjadi bintang tamu di acara kami. Bagaimana? Apakah mas Bhumi dan mbak Dewi berkenan untuk mengisi acara kami."


Bhumi dan Dewi saling bersitatap. Keduanya terlihat sulit untuk menjawab. Dan hanya bisa terdiam tidak sedikit pun berucap. Kedatangan crew salah satu program acara televisi ini sungguh hanya membuat mereka terkesiap.


"Bagaimana Mas, Mbak? Apakah kalian berkenan untuk menjadi bintang tamu di acara kami? Untuk honor jangan khawatir, kami akan memberikan honor yang sesuai."


"Bukan perkara honor. Tapi mengapa tiba-tiba kami diundang untuk menjadi bintang tamu di program acara tersebut? Kami bahkan sebelumnya belum pernah nangisi acara seperti itu."


Salah satu crew televisi itu hanya tersenyum simpul. "Saat ini, mas Bhumi dan mbak Dewi menjadi salah satu pasangan fenomenal yang berada di jagad dunia maya. Bahkan berita mas Bhumi dan mbak Dewi di TMII beberapa hari yang lalu sempat menjadi tranding satu di salah satu kanal YouTube, mengalahkan isu dari Thofu yang dikabarkan putus. Jadi sebuah hal yang wajar jika mas Bhumi dan mbak Dewi kami untuk di program acara kami."


Bhumi kembali menautkan pandangan matanya ke arah Dewi. Ia tidak ingin memberi keputusan sepihak perkara undangan salah satu program acara televisi ini. Baginya, Dewi lah yang berhak memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran ini.


"Dew, bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk mengisi program acara televisi ini? Jika kamu bersedia, kita terima penawaran ini. Namun jika tidak, kamu boleh menolaknya. Yang terpenting adalah kenyamananmu."

__ADS_1


Dewi menatap lekat manik mata Bhumi sembari menimbang-nimbang perihal penawaran ini. Ia sempat dirundung oleh bimbang yang tiada bertepi. Karena lagi-lagi Tuhan memberinya karunia yang tidak pernah ia duga sama sekali. Jika sebelumnya Bhumi menawarkan agenda rekaman, kini tiba-tiba ada crew stasiun televisi yang datang memintanya untuk mengisi acara yang begitu terkenal ini. Sungguh, rasa bahagia itu benar-benar terasa membuncah di dalam dada Dewi.


"Bagaimana mbak Dewi? Apakah mbak Dewi menerima penawaran kami? Jika menerima, besok pagi mbak Dewi dan mas Bhumi datang ke studio untuk live mengisi acara kami."


Dewi membuang napas perlahan. Sebuah peluang menuju kesuksesan yang tidak sepatutnya ia lewatkan. Dalam hati, ia melangitkan pinta, semoga dengan cara-cara seperti ini, ia dapat membahagiakan orang-orang tersayang.


"Baik, saya menerima penawaran ini. Dan besok pagi, saya dan bang Bhumi akan mengisi program acara televisi itu."


Ketiga crew itu nampak tersenyum lega dan bahagia. Mereka berharap acara besok pagi dengan bintang tamu Dewi dan Bhumi ini dapat mendongkrak ratting acara.


"Terima kasih mas Bhumi, mbak Dewi. Senang bekerja sama dengan kalian."


***


"Jadi kapan Hans, aku bisa bertemu dengan cucuku? Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menantikan waktu itu."


Layaknya seorang anak kecil yang teramat merindukan keberadaan sang ayah yang sedang bertugas di luar kota, Kartika pun juga menampakkan ekspresi wajah yang sama. Sejak sang cucu viral di jagad dunia maya wanita berusia senja itu semakin tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang cucu tercinta. Sejak saat itu, setiap hari ia selalu meminta Hans untuk segera mempertemukannya dengan Arga.


Hans yang sebelumnya fokus terhadap benda pipih yang ada di dalam genggaman tangan, kini ia geser untuk menatap wajah Kartika. Lelaki itu tersenyum penuh arti, karena baru saja ia mendapatkan informasi yang pastinya akan membuat sang nyonya tersenyum bahagia. Sebentar lagi, keinginan sang nyonya ini benar-benar akan menjadi nyata.


"Besok pagi kita bisa bertemu dengan tuan muda, Nyonya."


Raut wajah Kartika nampak terperangah tiada percaya. "Besok pagi? Kamu tidak bercanda kan Hans?"


Gelengan kepala dari Hans seakan mempertegas bahwa apa yang ia ucapkan bukanlah gurauan. "Tidak Nyonya, saya serius. Besok pagi Anda bisa bertemu dengan tuan muda."


"Benarkah? Di mana kita akan bertemu Hans, di mana?"


"Di salah satu stasiun televisi Nyonya. Besok pagi tuan muda akan menjadi bintang tamu di salah satu program acara stasiun televisi itu. Dan saya sudah mengubungi tim kreatif dari program acara itu untuk membuat scene, di mana nanti Nyonya dan tuan muda untuk bisa bertemu secara langsung."


Lagi-lagi Kartika hanya bisa membelalakkan mata. Pekerjaan pengawal pribadinya ini sungguh membuatnya bahagia tiada tara. Ia selalu mengupayakan yang terbaik sehingga hanya ada rasa puas yang ia rasakan.


"Terima kasih Hans, terima kasih!"


"Sama-sama Nyonya. Ini semua sudah menjadi tugas saya. Dan akan selalu saya upayakan untuk memberikan hasil yang terbaik."


.


.


.


Gini nih kalau penulis selalu up to date berita-berita selebritis. Pasangan Thofu pun juga tidak luput dari bagian scene cerita... 😅😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2