Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 48. Kecelakaan?


__ADS_3


Atmosfer ruangan ini seketika diselimuti oleh keharuan luar biasa. Dewi dan Bhumi sama-sama menumpahkan air mata untuk mengekspresikan apa yang mereka rasa. Bukan air mata duka namun air mata bahagia.


Mereka tidak pernah menyangka jika goresan takdir hidup yang telah dipilihkan oleh Tuhan akan seindah ini. Menjadikan keduanya sebagai manusia yang diliputi oleh kebahagiaan yang hakiki. Yang kelak, akan mempersatukan mereka di dalam sebuah ikatan tali suci. Tak jauh berbeda dari Bhumi dan Dewi, Kartika dan Wiraguna pun juga turut berbahagia atas takdir ini.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan Ga?"


Wiraguna melontarkan sebuah tanya untuk memecah keheningan yang ada. Sejauh ini, ia tidak terlalu paham dengan apa yang menjadi rencana Arga, sehingga lelaki itu sedikit cemas akan masa depan sang anak.


Bhumi menyeka jejak-jejak air mata yang masih terasa basah di pipi. Ia labuhkan tatapan matanya untuk menatap intens ayahnya ini.


"Maksud Papa apa? Aku akan tetap seperti ini."


"Maksud Papa, setelah ini kamu akan bekerja di bidang apa? Ingat, mulai sekarang tanggung jawabmu semakin besar. Bukankah kamu sudah harus mempersiapkan masa depanmu bersama Dewi. Jika kamu tidak bekerja, bagaimana bisa kamu menghidupi anak dan istrimu nanti?"


Bhumi mengulas sedikit senyumnya. Ia paham sekali ke mana arah pembicaraan papanya ini. "Apakah dari pertanyaan Papa ini tersirat sebuah makna bahwa Papa masih mengharapkan Arga menggantikan posisi Papa untuk menjadi direktur utama?"


"Ya, Papa memang masih menyimpan sebuah harapan kamu bersedia menggantikan posisi Papa, Ga."


"Tidak Pa, untuk posisi direktur utama, bisa Papa serahkan kepada Gilang. Aku rasa Gilang jauh lebih memiliki passion di bidang itu."


"Tapi, adikmu pun juga tidak bersedia menduduki posisi itu jika tidak ada hitam di atas putih darimu Ga."


"Itu bukanlah perkara besar Pa. Secepatnya, kita bisa pergi ke notaris untuk mengurus itu semua. Bahwa Arga tidak akan pernah menduduki posisi itu."


Wiraguna membuang napas sedikit kasar sembari memijit-mijit pelipisnya. Ternyata, ini merupakan titik akhir untuk membujuk sang putra. "Lalu, setelah ini apa yang menjadi rencanamu? Tidak mungkin bukan jika kamu masih menjadi pengangguran seperti ini?"


Arga tergelak lirih. Ternyata memang benar jika sang Papa masih menganggapnya sebagai seorang pengangguran. "Siapa bilang Arga pengangguran Pa? Setiap hari Arga bekerja. Menghibur para pecinta sajian musik. Dan semua juga ada hasilnya."


"Tapi apa selamanya kamu akan menjadi musisi jalanan? Yang setiap hari manggung dari satu tempat ke tempat yang lain? Apa kamu tidak memiliki niatan untuk mengubah keadaan hidupmu?"


Rasa cemas itu masih saja dirasakan oleh Wiraguna. Meski rezeki manusia bisa di dapatkan dari mana saja, namun ia merasa bahwa kehidupan sang putra jauh akan lebih layak jika menjadi seorang pengusaha daripada menjadi seorang musisi. Ia hanya merasa khawatir jika sesuatu yang digeluti oleh putranya ini tidak banyak membuahkan hasil untuk keluarganya kelak.


Lagi-lagi Bhumi hanya tersenyum simpul. Ia paham jika sang Papa akan terus dihantui oleh rasa khawatir jika ia memang belum bisa menunjukkan apa yang sejatinya ia miliki.

__ADS_1


"Papa tidak perlu khawatir. Nanti akan ada masanya aku akan menunjukkan kepada Papa apa yang sebenarnya sudah aku miliki. Saat ini, biarkan aku untuk mendampingi calon istriku ini untuk mewujudkan mimpinya terlebih dahulu. Aku ingin menjadi jembatan bagi calon istriku ini untuk menjadi seorang bintang."


"Haaahhh .... baiklah. Papa tidak akan memaksamu lagi. Namun ingat pesan Papa. Ketika kamu menjadi seorang suami, kamu bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan istri dan juga anakmu. Jangan sampai kamu membuat keluargamu menderita ataupun hidup dalam kesusahan."


Bhumi menganggukkan kepala. "Itu sudah pasti Pa. Aku pasti akan mengingat akan hal itu."


Wiraguna menyerah dan mengalah. Ia berpikir sudah saatnya memberi kebebasan kepada sang putra untuk menentukan masa depannya. Sebagai seorang ayah, ia hanya akan berupaya untuk mendukung semua yang menjadi pilihannya.


Dewi, sedari tadi wanita itu hanya terdiam. Pembahasan antara sang kekasih dengan lelaki paruh baya itu hanya membuat kepalanya terasa pening sekali. Ia benar-benar tidak paham akan topik yang dibicarakan oleh dua orang berbeda generasi ini.


"Nah Dewi, mulai hari ini kamu tinggal lah di sini. Dengan begitu, aku bisa membalas budi akan kebaikan yang pernah kamu lakukan."


Dewi sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Kartika. "Tinggal di sini? Membalas budi? Maksud Nyonya bagaimana?"


"Ya, dengan kamu tinggal di sini, kehidupan kamu akan jauh lebih layak, Dewi. Dengan memberikan kehidupan yang layak untukmu, aku merasa bisa membalas semua budi baikmu."


"Tapi Nyonya, saya benar-benar ikhlas menolong Nyonya saat itu. Dan saya sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun. Sehingga, saya akan tetap tinggal di kediaman saya sebelumnya Nyonya. Karena di sana juga ada seseorang yang juga menjadi tanggung jawab saya."


Sita, adalah alasan terbesar bagi Dewi untuk melewatkan kesempatan hidup serba kecukupan di rumah megah bak istana ini. Bagaimanapun juga, Sita adalah orang pertama yang memberikan sambutan hangat ketika dirinya tiba di kota ini.


"Kalau begitu, ajak seseorang itu untuk turut tinggal di sini, Dew. Kita semua akan berkumpul di sini. Dan, kamu juga tidak perlu khawatir karena di rumah ini nantinya akan ada semua fasilitas untuk menunjangmu dalam berkarier."


Dahi Dewi mengernyit dengan mata sedikit menyipit. "Fasilitas? Fasilitas apa Nyonya?"


"Aku akan menyediakan tempat khusus untuk merawat wajah dan tubuhmu. Sehingga kamu tidak perlu kemana-mana untuk menjalani perawatan. Semua akan tersedia di sini."


Mata yang sebelumnya menyipit, kini terbelalak dan membulat sempurna. Dewi sampai terkejut setengah mati mendengar penuturan wanita berusia senja ini. Semudah itukah orang-orang kaya seperti ini memindahkan pusat kebugaran dan pusat kecantikan ke kediamannya? Tanpa memikirkan berapa banyak biaya yang akan ia keluarkan? Sungguh, itu semua tidak bisa ia bayangkan sama sekali.


"Bagaimana Dew? Kamu menerimanya bukan? Aku harap kamu akan menerimanya karena hanya dengan cara seperti ini, aku bisa membalas semua kebaikanmu."


Dewi bahkan dapat memikirkan apa-apa lagi. Sekilas, ia menoleh ke arah Bhumi untuk meminta pendapat. Lelaki itu menganggukkan kepala, sebagai isyarat agar Dewi bersedia menerima tawaran omanya ini.


Bak berada di keadaan yang terjepit pada akhirnya Dewi menganggukkan kepala. "Baik Nyonya. Saya akan tinggal di sini jika Sita juga bersedia tinggal di sini. Karena bagaimanapun juga, saya masih bertanggung jawab atas kehidupan Sita."


"Sekarang aku jauh lebih paham mengapa cucuku ini menjatuhkan pilihannya kepadamu, Dew. Ternyata kamu memang wanita baik dan wanita yang penuh dengan ketulusan. Dan apakah boleh aku meminta satu hal lagi kepadamu?"

__ADS_1


"Apa itu Nyonya? Jika saya sanggup untuk melakukan, pasti akan saya lakukan."


"Mulai sekarang, panggil aku Oma. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi cucu menantuku."


****


Senja menyapa. Menghadirkan warna jingga di atas cakrawala. Membuat siapapun yang memandang pasti akan terpesona. Seakan tidak ingin melewatkan suasana seperti ini barang sedetik saja.


Dengan hati yang diselimuti oleh kebahagiaan, Bhumi dan Dewi bergandengan tangan menyusuri jalanan sempit ini. Sepulang dari kediaman sang Oma mereka berencana menjemput Sita dan sang ibu. Mereka yakin jika Sita akan senang mendengar kabar bahagia ini.


Pandangan Dewi mengedar ke arah sekitar. Dahinya sedikit berkerut ketika banyak orang-orang yang berlarian di jalan ini. Mereka nampak begitu tergesa-gesa.


"Bang, ini ada apa? Mengapa orang-orang di sini berlarian seperti itu? Mereka seperti mengejar pencuri."


Tidak berbeda jauh dengan Dewi, Bhumi pun juga turut dibuat penasaran. Jika biasanya yang berlarian adalah anak-anak kecil, namun kali ini orang-orang dewasa yang berlarian. Mereka seperti sedang menghadapi sesuatu yang teramat genting.


"Aku juga tidak paham Dew. Tapi sebentar. Aku tanya dulu dengan orang-orang ini."


"Pak!" panggil Bhumi menghentikan salah seorang laki-laki paruh baya yang sebelumnya juga nampak berlari-lari.


"Aduh, ada apa kamu memanggil-manggil aku, Bhumi? Ini keadaannya gawat, sangat gawat."


Bhumi terhenyak. "Gawat? Gawat bagaimana Pak? Bisa Bapak jelaskan?"


"Sita, Sita tertabrak motor!"


"Apa???? Sita???"


.


.


.


Hari Senin datang lagi Kakak... Jangan lupa vote nya yah... 😘😘😘😘😘 Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2