Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 72. Dijemput ke Penjara


__ADS_3

"Apa-apaan ini Lang? Mengapa kamu bisa berbicara seperti itu?Menuduh Mama yang telah merencanakan kecelakaan Arga?"


Wenda berteriak lantang di depan ruang operasi dengan mimik wajah yang dipenuhi oleh amarah. Tidak habis pikir dengan apa yang terlontar dari mulut anaknya, di mana ia menuduhnya sebagai penyebab kecelakaan yang dialami oleh Arga. Meskipun itu semua benar adanya, namun Wenda benar-benar tidak mengerti darimana putranya ini mengetahui tentang hal itu.


Gilang hanya bisa menatap wajah sang mama dengan raut wajah tiada terbaca. Hatinya ikut berdenyut nyeri melihat wanita yang telah melahirkannya ini akan mendekam di dalam penjara. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk menghentikan semua kejahatan yang telah dilakukan oleh sang mama kecuali dengan cara seperti ini.


"Kenyataannya memang seperti itu, Ma. Mama lah yang sudah merencanakan kecelakaan kak Arga. Jadi, lebih baik Mama memberikan keterangan kepada pihak kepolisian saja."


"Wen, apa benar yang dikatakan oleh Gilang? Apakah benar bahwa kamulah yang menjadi otak dari kejahatan ini?"


Tidak kalah lantang, Wiraguna juga ikut berteriak di hadapan Wenda. Kedua bola mata Wiraguna membola lebar, rahangnya mengeras dan suaranya terdengar menggelegar seperti pertanda bahwa lelaki itu juga sedang dikuasai oleh amarah.


Wenda terkesiap sembari menggelengkan kepala. "Tidak Pa. Aku tidak melakukan itu. Ini semua hanya fitnah Pa."


Wiraguna tersenyum sinis menatap wajah Wenda. "Kali ini, aku jauh lebih percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gilang, Wen, bukan ucapanmu!"


"Tidak Pa. Itu semua tidaklah benar. Aku tidak melakukan apapun. Kecelakaan Arga sama sekali tidak ada kaitannya denganku Pa!"


"Sudahlah Bu. Mari Ibu ikut dengan kami. Ibu bisa memberikan penjelasan di kantor polisi," ucap salah satu polisi dengan tegas.

__ADS_1


Gilang merogoh saku celana yang ia pakai. Ia ambil ponsel dari dalam sana. Dan ia serahkan kepada salah satu polisi itu.


"Apa ini Pak?" tanya polisi itu dengan keheranan.


"Di dalam ponsel itu terdapat percakapan ibu dan juga ayah saya Pak. Di sana terdengar jelas tentang rencana jahat yang direncanakan oleh ibu saya!"


"Apa maksud kamu Lang? Percakapan antara siapa dengan siapa? Papa tidak pernah terlibat percakapan apapun dengan Wenda perihal rencana jahat itu."


Wiraguna terkejut setengah mati dengan apa yang terlontar dari bibir Gilang. Ia sama sekali tidak pernah melakukan percakapan apapun dengan Wenda. Terlebih tentang sebuah rencana busuk untuk mencelakai Arga, putranya sendiri.


"Ini bukan percakapan antara Papa dan mama namun percakapan ayah dan mama."


Kernyitan di dahi Wiraguna semakin dalam. Perkataan Gilang sungguh hanya menyeretnya ke dalam kubangan tanya yang entah apa jawabannya.


Gilang hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya. Meski hatinya bergemuruh namun ia tetap mencoba untuk tenang. "Nanti akan Gilang jelaskan, Pa. Lebih baik sekarang Papa menemani kak Arga dan kak Dewi. Gilang biarkan menunggu ayah di sini."


Wiraguna yang berdiri di samping Hans hanya bisa sekilas melirik pengawal pribadi sang ibu itu dengan tatapan yang mengisyaratkan sebuah tanya. Hans pun hanya tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala.


Hingga pada akhirnya, pria paruh baya itu mengayunkan tungkai kakinya untuk menunju ke salah satu ruang rawat untuk melihat keadaan sang putra. Pastinya ditemani oleh Hans.

__ADS_1


Sedangkan Wenda hanya bisa menatap pintu ruang operasi ini dengan beberapa pertanyaan yang bergelayut manja di dalam pikirannya. Wanita itu teramat heran akan siapa yang dipanggil oleh Gilang dengan sebutan ayah itu. Namun tiba-tiba kedua bola mata Wenda terbelalak dan sempurna. Bibirnya menganga lebar.


"Lang ... apakah lelaki yang ada di ruang operasi ini adalah..."


"Ya, beliau adalah tuan Rajasa. Ayah kandung Gilang. Sekarang, ada baiknya Mama ikut dengan petugas kepolisian ini. Dan pertanggungjawabkan atas apa yang menjadi rencana jahat Mama."


"Lang... Mama...."


"Mari Nyonya, ikut kami ke kantor. Di sana Nyonya bisa menjelaskan semuanya," timpal salah satu polisi memangkas ucapan Wenda.


Pada akhirnya, wanita paruh itu berjalan dengan diapit oleh kedua petugas kepolisian. Dan Gilang hanya bisa menatap punggung sang mama yang semakin lama semakin hilang ditelan oleh lorong-lorong rumah sakit dengan tatapan nanar.


"Itulah buah yang harus mama tuai. Semoga setelah ini, hidup Mama akan jauh lebih baik dan bermanfaat lagi," lirih Gilang dengan air mata yang mulai membasahi pipi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2