
"Arga cucuku!"
"Oma, jalannya pelan-pelan!"
Bhumi yang masih rebahan di atas ranjang rumah sakit memekik ketakutan saat melihat Kartika dengan setengah berlari menghampirinya. Ia teramat takut jika sampai omanya ini terjatuh karena kurang berhati-hati.
"Bagaimana keadaanmu Ga? Kamu baik-baik saja kan?"
Kartika memeluk erat tubuh Bhumi sembari mengecup kening sang cucu dengan lekat. Beberapa hari ini hati dan pikiran wanita berusia senja itu tidaklah tenang karena selalu dihantui oleh perasaan cemas. Takut jika sampai terjadi sesuatu yang fatal terhadap cucunya. Namun kini ia bisa bernapas lega setelah melihat Bhumi dalam keadaan baik-baik saja.
"Sekarang justru Bhumi yang cemas akan keadaan Oma. Melihat Oma berjalan tergesa-gesa seperti ini bagaimana kalau nanti tiba-tiba Oma terkena encok?" seloroh Bhumi dengan kekehan lirih.
Kartika hanya bisa mencebik dan menjitak kening sang cucu. "Dasar cucu tidak tahu diuntung. Aku ini benar-benar mencemaskanmu Ga. Kamu malah bercanda."
"Hahahaha... Iya Oma, Bhumi hanya bercanda. Lihatlah, Bhumi baik-baik saja bukan?" ucap Bhumi sembari memperlihatkan bagian kepala, lengan dan kakinya.
"Baik-baik saja bagaimana? Lihatlah, jidat kamu ini seperti kue mochi, Ga," ujar Kartika seraya terkekeh pelan melihat jidat Arga yang sedikit benjol dan berwarna lebam. Sedangkan pemuda itu hanya nyengir kuda.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu Ga? Mengapa kamu bisa mengalami kecelakaan seperti ini? Apa yang kamu alami ini benar-benar mengingatkan Oma kepada mendiang mamamu. Dia juga meregang nyawa saat mengalami kecelakaan seperti ini."
Kartika mengenang masa-masa sang menantu yang mengalami kecelakaan di beberapa tahun silam. Kecelakaan mobil itulah yang membuat Kartika harus kehilangan menantu yang paling ia sayang. Sosok menantu paling sempurna, sosok seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anaknya, serta sosok yang memiliki welas asih. Tidak ayal, jika Aster senantiasa di kelilingi oleh orang-orang baik. Namun sampai saat ini, Kartika masih bertanya-tanya mengapa sosok seorang wanita sempurna seperti Aster harus meninggalkan dunia dengan cara mengenaskan seperti itu.
"Ini semua perbuatan mama tiri Bhumi, Oma. Dia lah yang sudah merencanakan semua itu."
Pandangan Kartika yang sebelumnya menerawang ke sembarang arah, kini ia tautkan manik matanya ke arah netra Bhumi. Dengan kernyitan di dahi, ia menatap cucunya ini dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa? Itu semua perbuatan Wenda? Bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui akan hal itu Ga? Darimana kamu bisa tahu?"
"Gilang yang menceritakan semua, Oma. Gilang dan ayahnya lah yang menyelamatkan nyawa Bhumi."
Kartika semakin terperangah. "Gilang dan ayahnya? Maksud kamu apa, Ga?"
Ceklekkk...
"Akan saya ceritakan yang sebenarnya Nyonya."
Ucapan Kartika terpangkas saat melihat Gilang, memasuki ruang rawat Arga. Wanita berusia senja itu sedikit terperangah dengan panggilan yang dilontarkan oleh Gilang.
***
Kartika terduduk lemas di atas sofa yang berada di dalam ruangan Bhumi. Air matanya tiada henti mengalir, menyusuri tiap lekuk wajahnya saat mendengar kata demi kata yang terucap dari bibir Gilang. Apa yang diucapkan oleh pemuda itu seperti sebilah belati tajam yang menancap lekat di dasar hatinya. Mengalirkan darah luka tak kasat mata yang menghujam jiwa.
Ucapan Gilang bukan isapan jempol semata. Selama ini ia merasa bahwa kasih sayang yang diberikan oleh Kartika kepadanya jauh berbeda dengan yang diberikan kepada Arga. Pemuda itu juga tidak bisa berbuat apapun selain hanya diam, memendam semua rasa itu. Dan ternyata hari ini Tuhan telah membuka semuanya. Ia memang tidak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan keluarga Wiraguna.
Ada rasa sakit, marah, dan kecewa saat mendengar cerita Gilang. Di mantanya Wenda adalah wanita berhati iblis yang dengan tega telah merencanakan ini semua. Baginya, tidak ada ampun untuk wanita seperti Wenda.
"Saya minta maaf jika selama saya tinggal di rumah besar, banyak perliku saya yang kurang berkenan. Saya juga sekalian pamit, setelah ayah saya sadar dan pulih kembali, saya akan keluar dari rumah besar."
"Lang, apa maksudmu keluar?"
Bukan Kartika yang terkejut mendengar penuturan Gilang, namun Arga yang teramat shock dengan apa yang diucapkan oleh pemuda ini.
__ADS_1
Gilang tersenyum simpul. "Aku akan pindah ke rumah yang sudah aku persiapkan sebelumnya Kak. Rumah yang akan aku tempati setelah menikah, akan aku tempati terlebih dahulu bersama ayah."
"Tapi mengapa harus pindah Lang? Kamu tetap bisa tinggal di rumah besar. Sama seperti sebelumnya. Aku bahkan belum sempat membalas budi kepadamu Lang."
Gilang menggelengkan kepala. "Tidak Kak. Kak Arga tidak perlu membalas budi apapun. Ini semua merupakan kemauan ayah untuk menebus semua kesalahannya karena tidak bisa membimbing mama dengan baik. Sehingga, menyelamatkan kak Arga dalam kecelakaan itu merupakan kewajiban yang harus ia tunaikan."
Bertambah deras air mata yang mengalir dari pelupuk mata Kartika. Menyaksikan ketulusan Gilang dan Rajasa benar-benar mrmbuat hatinya diliputi oleh keharuan yang luar biasa.
"Lang, kemarilah. Mendekatlah ke arahku!"
Gilang sedikit terkejut dengan ucapan Kartika. "Maksud Nyonya?"
"Kemarilah, duduk di samping Oma!"
Gilang menurut. Ia bangkit dari posisinya dan duduk di sebelah Kartika. Dan tanpa basa-basi, wanita berusia senja itu memeluk tubuh Gilang dengan erat.
"Maafkan Oma jika selama ini kamu merasa dibedakan, Lang. Sejak awal, Oma memang sanksi bahwa kamu adalah putra kandung Wiraguna dan Oma sempat berpikir bahwa kamu akan menuruni sifat mamamu. Namun ternyata Oma salah besar. Sifat yang mengalir di dalam darahmu adalah sifat papamu dan menjadi kamu sebagai seorang pemuda yang berbudi pekerti luhur. Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Ucapan Kartika bak butiran-butiran embun yang membasahi gersangnya hati. Membuat hatinya trenyuh hingga membuat bulir bening itu menetes dari pelupuk matanya. Ucapan dan dekapan Kartika inilah yang selama ini ia rindukan.
"Terima kasih Nyonya. Terima kasih."
"Kamu akan tetap menjadi cucuku, Lang. Kamu akan tetap menjadi cucuku. Maka dari itu tetap panggil Oma."
.
__ADS_1
.
.