Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 41. Menyusul?


__ADS_3


Video yang tengah viral di jagad dunia maya nyatanya tidak luput dari perhatian Langit, Amara dan Adelia. Tiga orang yang pernah menjadi bagian perjalanan hidup Dewi dalam berkarier itu juga nampak tidak percaya dengan berita yang berseliweran di sosial media. Hingga membuat mereka bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Dewi hingga membuat wanita itu viral dalam sekejap mata.


"Ini benar-benar gila Bang. Sungguh sangat gila. Lihatlah, saat ini wajah Dewi terpampang di dunia maya. Setelah ini wajahnya pasti akan memenuhi layar kaca. Karena setiap orang yang viral di dunia maya, setelah itu pasti akan diundang di sana sini untuk tampil di acara televisi."


Amara, wanita seusia Dewi itu menatap benda pipih yang berada di dalam genggaman tangan tiada henti. Berkali-kali ia mencoba mengingkari bahwa wanita yang ada di dalam video ini bukanlah Dewi. Namun semakin ia mengingkari justru kenyataan pahit yang ia dapati. Wanita yang ada di dalam video ini memanglah Dewi.


"Benar apa kata kamu Ra. Namun yang aku heran, siapa penyanyi laki-laki ini? Mengapa ia bisa mengenal Dewi? Dan siapa yang merekam video hingga viral begini? Dan apakah kamu tahu? Di dalam video ini si penyanyi laki-laki mengungkapkan perasaannya kepada Dewi. Itu artinya..."


Adelia yang menimpali ucapan Amara, seketika ia hentikan perkataannya. Kedua telapak tangan miliknya menutupi bibir yang mengaga. Sebagai isyarat bahwa ia benar-benar tiada percaya. Tiada percaya jika wanita yang pernah ia rusak jalan rezekinya, kini tiba-tiba saja wajahnya berseliweran di dunia maya. Dan dapat dipastikan, wanita itu akan terkenal dalam sekejap mata.


Langit yang duduk di sofa kecil ruangan ini juga menampilkan wajah yang dipenuhi oleh ekspresi tiada percaya. Seorang wanita yang pernah ia rendahkan bahkan ia olok-olok kondisi fisiknya kini justru lebih dahulu terkenal hingga ke pelosok negara. Sedangkan grup orkes melayu miliknya, kini justru kondisinya semakin menyedihkan saja.


Rencana mempermalukan Dewi saat itu, justru menyeret orkes melayu miliknya ke dalam lembah kehancuran. Akibat peristiwa Dewi yang kehilangan suara membuat orang-orang memandang rendah orkes melayu yang ia dirikan. Tidak ada satupun yang mengundang grup musik miliknya untuk unjuk kebolehan. Alhasil, beberapa minggu ini personil Magatra mendadak jadi pengangguran.


Langit menghela napas pelan. Di raupnya udara yang ada di sekitar dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan suplay oksigen yang terasa semakin berkurang. Terasa sangat menyesakkan. Ia merasa bahwa dirinya telah kalah oleh keadaan.


"Ternyata kita telah salah strategi. Kita yang beranggapan bahwa karier Dewi akan hancur seketika, yang terjadi justru sebaliknya. Aku benar-benar tidak menyangka jika ia akan terkenal seperti ini."


"Tapi menurutku ini tidak akan bertahan lama Bang. Bisa saja ini hanya merupakan settingan untuk sekedar viral. Setelah itu lambat laun nama Dewi akan terlupakan."


Meski mencoba untuk meyakini bahwa semua ini tidak akan bertahan lama, namun tetap saja ada kekhawatiran yang dirasakan oleh Adelia. Khawatir jika Dewi akan jauh lebih terkenal darinya dan lebih dulu meraih mimpi serta angannya. Meski di mata orang hal itu merupakan hal yang biasa, namun tidak untuk Adelia. Ia tidak bisa terima jika Dewi yang notabene memiliki fisik yang tidak sempurna jauh lebih sukses berkarier daripada dirinya. Itu semua dapat terjadi karena rasa iri dan dengki yang menguasai hatinya.


"Meski tidak bertahan lama, namun setidaknya saat ini Dewi sudah terkenal, Del. Sedangkan kita apa? Semakin hari keadaan kita semakin belangsak saja. Lihatlah, Magatra sudah tidak pernah lagi mendapatkan job manggung setelah kejadian itu."


Amara mengusap wajahnya kasar, melihat Dewi sukses dan wajahnya akan memenuhi layar kaca sungguh sangat tidak bisa ia terima. Ia merasa bahwa wanita yang memiliki fisik sempurna seharusnya mendapatkan kesempatan untuk meraih kesuksesan yang jauh lebih besar daripada wanita yang berpenampilan biasa-biasa saja. Dan kini wajah Dewi yang berseliweran di sosial media seakan menginjak-injak harga dirinya.

__ADS_1


"Ini semua terjadi juga karena rencanamu Ra. Kamu yang memiliki rencana untuk memasukkan obat itu ke dalam minuman Dewi. Dan sekarang kita yang menanggung akibatnya."


Adelia menatap sinis wajah teman duetnya ini. Jika ia teringat perihal serbuk perusak pita suara yang diusulkan oleh Amara, membuatnya dipenuhi oleh penyesalan tiada bertepi. Jika waktu dapat terulang kembali, rasa-rasanya ia ingin menolak saja rencana busuk yang pernah mereka lakukan ini.


"Apa kamu bilang? Ini semua kesalahanku?"


"Iya Ra, ini semua kesalahanmu. Kalau saja saat itu kamu tidak memiliki rencana busuk itu, pastinya kita akan tetap bisa mendapatkan job manggung. Dan sekarang, apa yang kita dapatkan? Nama Magatra justru semakin redup, sedikitpun tidak mendapatkan tempat di hati para penikmat musik."


Adelia meluapkan seluruh kekesalan yang ia rasa. Karena terbuai akan rencana busuk Amara, membuat kariernya semakin hancur tak bersisa. Kini setiap orang yang berpapasan, selalu saja mencibirnya. Menganggap kualitas suara yang ia miliki sama dengan Dewi yang saat itu gagal menunjukkan performanya. Secara tidak langsung, ternyata rencana jahat yang mereka lakukan, justru membawa petaka buruk untuk masa depan mereka.


Sorot mata Amara begitu tegas menatap wajah Adelia. Ia tidak terima jika wanita di depannya ini melimpahkan semua kesalahan kepadanya. Karena apa yang mereka lakukan sudahlah merupakan kesepakatan bersama. Dan tidak seharusnya rekan-rekannya ini menyalahkannya begitu saja.


"Jaga mulutmu Del. Saat itu aku hanya memberikan usul. Kamu dan bang Langit juga menyetujuinya bukan? Jadi tidak bisa kamu limpahkan semua kesalahan itu kepadaku saja. Kalian juga bersalah dalam perkara ini!"


"Tapi jauh lebih besar kesalahanmu Ra. Kamu yang menjadi akar dari permasalahan ini."


"Tidak bisa seperti itu. Kalau saja saat itu kalian menolak rencanaku, pastinya hal ini tidak akan pernah sampai di titik ini."


Amara membelalakkan mata. Emosi dalam raganya seakan naik ke ubun-ubun seketika. Ia tidak terima jika Adelia menghujatnya dengan sedemikian rupa. Tanpa basa-basi, ia menarik rambut Adelia dan menjambaknya dengan kuat.


"Aaaaahhhh ..."


Adelia memekik kesakitan tatkala rambutnya ditarik paksa oleh Amara. Rasa perih itu tiba-tiba saja menyerang kulit kepalanya.


"Kamu juga salah Del, karena pada saat itu kamu tidak berpikir matang-matang akan akibat yang kita dapatkan. Kamu juga terlihat begitu bersemangat untuk menjalankan rencana itu."


"Tetap kamu yang salah Ra!"

__ADS_1


"Kamu juga salah!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


Pertengkaran itu tak dapat terhindarkan. Mereka saling melempar kesalahan sembari jambak-jambakan. Saat ini dua manusia itu nampak seperti seorang istri yang melabrak wanita simpanan. Yang membuat biduk rumah tangga yang ia jalani hancur berantakan.


Langit terperangah kala melihat adegan demi adegan yang terpampang. Jika sebelumnya Amara dan Adelia saling jambak-jambakan, kini mereka beralih dalam mode cakar-cakaran. Tak ayal membuat wajah mereka nampak seperti kuntilanak yang bangun kesiangan.


"Hentikan semua!!!"


Pada akhirnya teriakan Langit lah yang dapat meredam dan menghentikan adegan pertengkaran dua wanita ini. Deru napas keduanya terdengar terengah-engah menahan emosi. Hingga pada akhirnya mereka memilih untuk saling menjauh satu sama lain.


"Sekarang bukan lagi saatnya kita saling menyalahkan. Ada baiknya saat ini kita mengikuti jejak Dewi."


"Maksud bang Langit apa?"


"Kita susul Dewi ke Jakarta. Aku yakin, dia pasti akan membantu kita untuk menjadi terkenal. Bukankah dulu ia pernah bergabung bersama Magatra? Dia pasti akan membantu kita sebagai bentuk balas budinya."


.


.

__ADS_1


.


Mohon maaf belum bisa membalas satu per satu komentar-komentar Kakak semua ya... 😊😊😊


__ADS_2