
Satu persatu para peserta audisi telah menunjukkan bakat yang mereka miliki. Binar-binar kebahagiaan begitu kentara membingkai wajah saat mereka bisa pulang dengan membawa golden tiket, yang artinya mereka bisa langsung masuk ke industri rekaman.
Hampir satu jam menunggu, kini giliran grup Magatra yang berdiri di depan para juri. Menampilkan performa terbaik untuk bisa membawa pulang golden tiket yang mereka impikan. Dengan adanya golden tiket itulah yang kelak akan membuat mereka terkenal sebagai rising star.
Para personel Magatra mulai mengambil posisi masing-masing. Mereka nampak bersemangat bisa tampil di hadapan salah satu juri yang begitu terkenal ini.
"Hallo....Boleh tahu sedikit tentang grup musik kalian?"
Terdengar Ariel Noah menyambut kedatangan Magatra di atas panggung. Seperti biasa, lelaki itu menyapa dengan ramah yang membuat para kontestan merasa nyaman dibuatnya. Menghalau rasa gugup dan bisa semakin percaya diri.
"Hallo kak Ariel Noah. Kami adalah Magatra. Berasal dari kota Jogja. Sebelumnya, genre musik yang kami bawakan adalah musik dangdut. Namun untuk kali ini, kami akan memberikan warna baru di belantika musik dengan genre musik koplo."
Langit sang manajer yang kali ini memegang orgen mencoba untuk memperkenalkan grup musik yang ia bawa. Meski baru sekali tampil yang secara langsung disiarkan oleh salah satu stasiun televisi, namun lelaki itu cukup terlihat percaya diri. Pembawaannya terlihat tenang dan santai.
"Waooowww ... genre musik koplo? Seperti apa itu?" timpal Aldo yang juga bertindak sebagai salah satu juri.
Langit dan kawan-kawan hanya tersenyum simpul. Ia sangat yakin bahwa Magatra bisa mendapatkan golden tiket untuk bisa masuk ke dunia rekaman.
"Koplo ini genre musik yang menggabungkan antara akustik dengan dangdut, Bang. Dan musik yang mereka bawakan ini memiliki ciri khas sendiri yakni dengan adanya alat musik ketipung."
Kini Dewi ikut menimpali pertanyaan Aldo. Baginya, genre musik seperti ini tidaklah asing, mengingat ia juga lama bernaung di bawah bendera Magatra.
"Wahhhh ... kamu tahu banyak Dew? Apakah kamu sebelumnya juga bergelut di genre ini?" tanya Ariel sembari menautkan pandangannya ke arah Dewi.
__ADS_1
Dewi tergelak lirih. "Jelas aku tahu banyak Bang. Karena sebelum aku menjadi seperti sekarang ini, aku ikut bergabung dengan Magatra."
"Waooowww ... waooowww ... waooowww ... ini aku benar-benar baru tahu, Dewi. Dewi Sekar Kemuning, diva musik pop tahun ini ternyata lebih dulu berkecimpung di genre musik koplo? Hebat kamu Dew!"
Lagi-lagi Ariel nampak terkejut dengan apa yang diutarakan oleh Dewi. Bahkan penyanyi itu memberikan applause untuk wanita ini. Sedangkan Dewi hanya tersenyum simpul.
"Lalu apakah Magatra akan memiliki jalur khusus untuk mendapatkan golden tiket? Mengingat mereka merupakan teman-teman yang dulu merupakan teman seperjuanganmu?" sambung Ariel kepada Dewi.
Dewi yang sebelumnya bersitatap dengan Ariel kini ia geser pandangannya untuk menatap para pesonil Magatra. Ia pun menyunggingkan senyum dengan ekspresi tidak terbaca.
"Mereka akan mendapatkan golden tiket jika memang bisa memberikan penampilan terbaik dan memiliki ciri khas yang dapat meningkatkan nilai jual."
"Baiklah .... sekarang, silakan kalian tunjukkan penampilan terbaik kalian di audisi ini." titah Ariel setelah merasa cukup untuk memberikan ucapan selamat datang kepada grup musik ini.
Langit dan personil lainnya mulai bersiap untuk mengambil nada.
Wes nglakoni tekan semene
Nek akhire bakal bubar pisahan
Kowe kegodo karo tresna wong liyo
Satu bait berhasil dinyanyikan oleh Amara. Setelah itu saat akan tiba pada bagian Adelia, tiba-tiba saja wanita itu terbatuk-batuk sama persis dengan apa yang terjadi pada Dewi beberapa bulan yang lalu. Amara bermaksud ingin mengambil kendali bagian Adelia, namun naas. Sepertinya nasib baik belum berpihak kepadanya. Amara pun juga turut terbatuk-batuk bahkan terdengar lebih parah dari Adelia.
__ADS_1
"Loh, loh, loh, ini ada apa? Mengapa kalian bisa terbatuk-batuk seperti ini? Tolong crew bawakan minum!" seru Ariel dari tempatnya terduduk.
Wajah Langit, Anki dan Satya mendadak berubah. Seperti dejavu, apa yang terjadi pada Dewi beberapa bulan yang lalu, kini terjadi lagi. Tiga laki-laki itu nampak begitu khawatir dengan apa yang menimpa kedua vokalisnya ini. Dan mereka pun mendekat ke arah Amara juga Adelia.
"Kalian kenapa? Mengapa bisa batuk-batuk seperti ini?" ujar Langit sembari memberikan air mineral yang dibawakan oleh crew acara ini.
Kedua wanita itu masih terbatuk-batuk. Mereka meraih air mineral yang diberikan oleh Langit dan mencoba untuk mengatur napas. Baru saja ingin menanggapi pertanyaan Langit, namun sepasang mata dua wanita itu nampak terbelalak dan membulat sempurna. Suara mereka tiba-tiba menghilang.
Langit, Anki dan Satya semakin dibuat terkejut setengah mati. Apa yang dialami oleh Dewi di beberapa bulan yang lalu, kini benar-benar dialami oleh Amara dan Adelia. Tubuh ketiga laki-laki itu seakan remuk seketika.
Derai air mata membasahi wajah Amara dan Adelia. Mereka menundukkan kepala, merasa malu karena peristiwa ini. Ingatan keduanya pun seketika tertuju pada kejahatan yang pernah mereka lakukan kepada Dewi. Mereka masih berupaya untuk mengeluarkan suara, namun sayang suara mereka benar-benar tidak dapat keluar.
"Bagaimana? Apakah kalian bisa melanjutkan penampilan kalian? Jika memang kalian tidak bisa melanjutkan penampilan kalian, aku rasa kalian lebih baik bersegera kembali ke tempat sebelumnya. Karena masih banyak peserta audisi lainnya yang ingin menampilkan bakat mereka.
Dengan nada sinis, Dewi berujar dari kursi yang ia tempati. Hatinya seakan puas karena bisa membalas semua perlakuan jahat orang-orang yang pernah menghancurkan dunianya ini. Ada setitik rasa sesal karena telah berbuat jahat seperti ini, namun mau bagaimana lagi? Bagi Dewi orang-orang inilah yang telah memaksanya untuk menjadi orang jahat.
"A-aku mohon, beri kesempatan kepada kami lagi Dew! Kami akan memberikan penampilan terbaik yang kami miliki."
Dengan tatapan memelas, Langit mencoba untuk meminta kesempatan sekali lagi. Lelaki itu beranggapan bahwa apa yang terjadi kepada Amara dan Adelia hanya sebentar saja, setelah itu akan kembali seperti semula.
Dewi tersenyum remeh. "Tidak ada kesempatan lagi saudara Langit yang terhormat. Karena akan membutuhkan waktu lama bagi vokalis Magatra ini untuk bisa mendapatkan kembali suaranya. Bisa jadi satu minggu."
Langit terperangah. "Tapi Dew, aku mohon. Beri kesempatan sekali lagi untuk kami. Apakah kamu tidak ingat bahwa dulu sebelum kamu sukses kamu lebih dulu menjadi salah satu personil Magatra?"
__ADS_1
Dewi tergelak lirih. "Oh tentu, tentu saja aku mengingat semua saudara Langit yang terhormat. Bahkan sampai pada saat kalian semua menghinaku, merendahkanku dan terakhir kali kalian membuatku dipermalukan di atas panggung dengan serbuk laknat yang kalian berikan kepadaku, itu semua masih tersimpan jelas di dalam memoriku. Dan sekarang, kalian bisa merasakan bukan bagaimana malunya aku saat itu? Tapi aku benar-benar kasihan kepada kalian karena saat ini kalian dipermalukan di depan seluruh masyarakat Indonesia yang tengah melihat acara ini. Dan asal kalian tahu, pembalasan jauh lebih menyakitkan, kawan!"
Keadaan semakin bertambah riuh di saat Langit dan kawan-kawan disoraki, diteriaki oleh para penonton yang ada di tempat ini. Mereka berteriak lantang meminta Magatra untuk segera turun dari atas panggung. Sedangkan para personil itu hanya bisa menunduk pasrah. Teramat malu dengan apa yang menimpanya saat ini.