Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 71. Terbongkar


__ADS_3

Dewi dan Gilang terduduk lunglai di depan ruang UGD sebuah rumah sakit yang berada di kota ini. Keduanya sama-sama menatap lurus ke depan dan sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Raut wajah keduanya menyiratkan binar kekhawatiran yang tiada terkira. Khawatir akan keadaan dua orang laki-laki yang saat ini tengah berada di dalam ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan.


Rasa khawatir itu seakan kian membelenggu saat hampir satu jam dokter yang menangani Bhumi dan Rajasa belum juga keluar dari ruangan.


Gilang melirik ke arah Dewi. Dapat ia rasakan bagaimanapun pilunya hati calon istri Bhumi ini. Lelelahan-lelehan air mata dari kedua jendela hati milik wanita ini, sedari tadi tiada henti mengalir. Seakan berbicara bahwa saat ini ia tengah berduka.


"Mau aku antar ke kantin Kak? Kak Dewi belum makan kan?"


Melihat wajah Dewi yang sedikit pucat, membuat Gilang juga turut khawatir. Wanita di depannya ini benar-benar nampak lemah sekali. Oleh karenanya, ia mengajak ke kantin yang berada di rumah sakit ini.


Dewi menggeleng pelan. Meski perutnya terasa sangat lapar namun ia enggan untuk mengisi perutnya dengan makanan. Sebelum ia mengetahui akan keadaan Bhumi yang sebenarnya, kerongkongan rasa-rasanya ia tidak sanggup untuk menjalankan fungsinya.


"Tidak Lang. Aku masih ingin di sini. Aku tidak bisa meningggalkan Bang Bhumi sendiri. Aku harus bisa memastikan keadaan bang Bhumi terlebih dahulu."


"Tapi Kak. Wajah kak Dewi nampak pucat sekali. Ayo kita ke kantin dulu. Mengisi perut," ajak Gilang.


"Tidak Lang, aku ....."


Dewi menjeda ucapannya di saat penglihatannya nampak berkunang-kunang dan kepalanya terasa berputar. Semakin lama pandangannya terasa gelap dan...


"Kak Dewi!" pekik Gilang saat tubuh Dewi ambruk di atas pangkuannya.


Pemuda itu nampak begitu panik melihat Dewi yang tidak sadarkan diri. Tubuh wanita ini juga terasa panas sekali. Gilang mengedarkan pandangan matanya ke arah sekitar mencoba untuk mencari pertolongan.


"Sus, tolong Sus. Kakak saya ini pingsan!" teriak Gilang saat dari kejauhan terlihat seorang dua orang perawat sedang mendorong brankar kosong di salah satu sudut lorong rumah sakit.


Dua perawat itu bergegas menghampiri Gilang.


"Ada apa ini Pak?"


"Kakak saya pingsan. Tolong berikan penanganan untuk kakak saya ini Sus!" ucap Gilang dengan dipenuhi oleh rasa cemas.


Gilang dan dua suster itu bergegas meletakkan tubuh Dewi di atas brankar.


"Baiklah Pak. Akan kami bawa kakak ini ke ruang perawatan. Agar segera mendapatkan penanganan. Sepertinya saudara Anda ini harus diinfus untuk memulihkan keadaannya."


"Apapun yang terbaik, lakukan saja Sus. Nanti akan saya urus administrasinya."


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi."

__ADS_1


Dua orang perawat itu meninggalkan Gilang dengan mendorong brankar. Sedangkan Gilang kembali duduk di tempat semula untuk menunggu Bhumi dan juga sang ayah.


Decitan suara pintu ruang UGD seketika membuyarkan lamunan Gilang yang berkelana entah kemana. Pemuda itu bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan ini.


"Dok, bagaimana keadaan Ayah dan kakak saya, Dok? Mereka baik-baik saja kan? Tidak ada luka serius yang terjadi pada mereka kan?"


Begitu khawatirnya Gilang terhadap kondisi Rajasa dan Bhumi, membuat lelaki itu memberondong sang dokter dengan berbagai macam pertanyaan. Ia sungguh sangat tidak sabar untuk segera mendengar kabar ayah dan juga kakaknya itu.


Sang Dokter dengan nametag dr.Alfonso Tirtonegoro itu hanya mengulas sedikit senyum tipis di bibirnya. Mungkin bisa menjadi sebuah sugesti agar Gilang tidak terlalu khawatir akan keadaan pasien yang masih berada di ruang UGD.


"Tenang ya Pak. Kami sedang mengupayakan yang terbaik."


"Jadi bagaimana keadaan mereka Dok?"


"Untuk kakak Anda, tidak ada luka yang serius. Hanya ada sedikit benturan di pelipisnya dan terkena serpihan kaca sehingga harus dijahit."


Dokter itu mengambil napas dalam sebelum ia lanjutkan ucapan. "Namun, untuk ayah Anda, beliau mengalami gegar otak, sehingga harus segera dilakukan tindakan operasi!"


Kedua bola mata Gilang berembun. Jantungnya seakan diremas dan terasa begitu nyeri. Baru saja ia akan hidup bahagia dengan ayah kandungnya, namun justru ujian hidup yang harus lebih dulu ia dapati.


"Lakukan apa yang terbaik Dok. Yang terpenting nyawa ayah saya bisa selamat."


"Baik Dok. Terima kasih."


Dua orang perawat mendorong brankar yang ditempati oleh Rajasa menuju ruang operasi. Sedangkan dua perawat lagi mendorong brankar yang ditempati oleh Bhumi untuk menuju ruang perawatan. Gilang hanya menatap nanar wajah sang ayah saat melintas di hadapannya. Lelaki itu nampak begitu damai dalam lelap tidurnya.


Bertahan lah Yah... Bertahanlah. Setelah ini, Gilang akan merawat ayah.


****


Gilang berdiri di depan ruang operasi ditemani oleh dua orang polisi yang akan memberikan beberapa keterangan perihal penyebab kecelakaan yang menimpa ayah dan juga kakaknya.


"Jadi kami menemukan ada indikasi sabotase mobil yang dikendarai oleh kakak Anda, Pak. Karena kabel rem di mobil itu putus," ucap salah seorang polisi memberikan keterangan.


Gilang hanya tersenyum simpul saat mendengar keterangan yang diucapkan oleh petugas kepolisian itu. Sejatinya, ia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya Pak, saya sudah mengetahui kronologi dan penyebab kecelakaan itu."


Sang polisi terperangah. "Anda sudah mengetahui? Bagaimana bisa Anda mengetahui padahal baru saja saya dan tim melakukan olah TKP."

__ADS_1


"Kecelakaan ini terjadi atas rencana dari seseorang, Pak. Yang menghendaki mobil yang ditumpangi oleh kakak saya mengalami kecelakaan."


Kedua petugas kepolisian itu saling beradu pandang. Bola mata mereka terbelalak dan membulat sempurna. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Apa? Jadi Anda tahu siapa yang menjadi dalang dari sabotase rem mobil itu?" tanya salah satu polisi memastikan.


Gilang mengangguk pelan. "Iya Pak, saya tahu. Saya tahu siapa yang menjadi dalang di balik sabotase mobil itu."


"Siapa orang itu Pak? Siapa?"


"Gilang!!!"


Teriakan seseorang yang tiba-tiba terdengar, membuat Gilang dan petugas kepolisian menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Hans, Wiraguna dan Wenda berlarian ke arahnya.


"Lang... kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?"


Wenda memeluk erat tubuh Gilang sambil memeriksa dengan lekat bagaimana keadaan sang anak. Wanita itu tersenyum lebar karena melihat sang anak tidak terluka sedikitpun.


Gilang hanya tersenyum getir. Sungguh sangat disayangkan perilaku ibu kandungnya ini begitu jahat sampai membuat nyawa beberapa orang hampir melayang.


"Gilang tidak apa-apa, Ma. Gilang sehat walafiat," ucap Gilang datar.


"Lang, ini sebenarnya ada apa? Mengapa kakakmu bisa kecelakaan? Dan mengapa kamu sama sekali tidak terluka padahal mobilmu rusak parah?"


Gilang kembali tersenyum. "Nanti Papa akan tahu kejadiannya setelah seseorang membuat sebuah pengakuan."


Wiraguna, Wenda, dan Hans sama-sama terperangah.


"Maksud kamu apa Lang? Siapa yang akan membuat pengakuan?" tanya Wenda dengan perasaan yang sedikit tidak enak.


Gilang menautkan pandangannya ke arah dua polisi di depannya. "Pak, silakan Anda bawa mama saya ini. Beliau lah yang harus bertanggungjawab atas kecelakaan yang terjadi!"


.


.


.


Selamat menunaikan ibadah puasa untuk kakak-kakak tersayang.. berkah dan sehat selalu 😘😘😘

__ADS_1


salam love, love, love❤️❤️❤️❤️


__ADS_2