Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 50. Singa Betina


__ADS_3


Tiga orang itu telah sampai di istana milik Kartika. Sita, yang baru sekali menginjakkan kaki di rumah megah dan mewah ini hanya bisa membelalakkan mata dengan bibir menganga. Gadis kecil itu benar-benar takjub dibuatnya.


Bhumi yang melihat ekspresi gadis kecil ini hanya bisa terkekeh geli. Ia tahu betul bagaimana perasaan Sita yang akan tinggal di sini. Tempat tinggal yang mungkin tidak pernah ia duga sama sekali.


"Ayo masuk!" perintah Bhumi sembari melangkahkan kaki.


Lelaki itu menggiring Dewi dan Sita untuk memasuki teras di mana sudah ada Jumi yang menyambut kedatangan mereka. Seperti biasa, kepala asisten rumah tangga kediaman Kartika ini menyambut kedatangan Dewi dan Sita dengan rona wajah yang berbahagia.


"Selamat datang Tuan Muda."


"Makasih Mbok." Bhumi berujar sembari menganggukkan kepala.


Inilah akhlak baik yang dimiliki oleh Bhumi. Lelaki itu selalu sopan dengan para pekerja yang tinggal di kediamannya. Meski dia merupakan tuan muda, namun selalu bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua.


"Kalian sudah datang?"


Suara Kartika terdengar nyaring memenuhi langit-langit ruangan, kala melihat tiga orang itu melintas di ruang tengah. Netra wanita berusia senja ini nampak berbinar, saat seseorang yang ia tunggu telah tiba di kediamannya.


Bhumi berjalan mendekat ke arah Kartika. "Iya Oma. Arga juga membawa Sita. Sita ini nantinya juga akan tinggal di sini. Oma mengizinkan bukan?"


"Tentu saja Oma mengizinkan, Ga. Oma justru merasa senang karena di rumah ini akan bertambah ramai."


"Nah Sita, ayo salim dulu sama Oma."


Meski terselip sedikit rasa takut dan ragu karena berada di lingkungan baru, namun gadis kecil itu menuruti perintah Arga. Sita meraih telapak tangan Kartika dan mencium punggung tangan wanita berusia senja ini dengan takdzim.


"Hallo anak cantik. Siapa nama kamu?"


"Saya Sita, Oma."


"Waaah ... nama yang bagus. Sita sudah kelas berapa?"


Sita hanya terdiam. Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan Kartika jika selama ini ia tidak pernah sekolah.

__ADS_1


"Kok diam, Sayang?"


"Sita tidak sekolah, Oma."


"Tidak sekolah?"


Gadis itu hanya mengangguk lirih, membenarkan apa yang diucapkan oleh Kartika.


"Ga, segera carikan tutor home schooling untuk Sita. Agar ia bisa mengembangkan bakat yang ada di dalam dirinya."


"Baik Oma, nanti akan Arga carikan tutor untuk Sita."


"Bagus, aku senang mendengarnya. Ya sudah, sekarang kalian masuk ke kamar masing-masing. Istirahatkan tubuh kalian."


"Baik Oma."


Baru saja tiga orang itu melangkahkan kaki, tiba-tiba muncul seorang wanita paruh baya yang tengah menuruni anak tangga. Wanita paruh baya yang masih terlihat begitu modis. Wanita itu memakai midi dress warna merah maroon dengan model rambut curly dan diberikan sedikit sentuhan warna pirang. Kemunculan wanita itulah yang membuat langkah kaki Dewi, Bhumi dan Sita terhenti.


"Loh, loh, loh, ini siapa? Mengapa di rumah ini tiba-tiba banyak didatangi oleh orang asing?"


"Saya Dewi, Tante. Dan ini adik saya, Sita."


Dewi mengulurkan tangan, bermaksud untuk berjabat tangan dengan wanita yang baru sekali ia temui ini. Namun di luar dugaan, tangannya justru ditepis oleh Wenda.


"Aaahhhhh ... sudah, sudah. Jauhkan tanga-tangan kalian yang kotor itu. Aku tidak sudi jika bersalaman dengan kalian."


Wenda mengibas-ibaskan telapak tangannya. Seakan jijik dengan uluran tangan Dewi juga Sita. Sikap Wenda itulah yang membuat Arga sedikit meradang.


"Apa maksud Anda mengatakan hal itu? Dua orang ini memiliki niat baik untuk bersalaman dengan Anda. Tapi mengapa Anda bersikap seperti orang yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki akhlak seperti ini?"


Bibir Wenda hanya mencebik kala mendengarkan perkataan Bhumi. "Oh, jadi mereka teman-teman kamu? Aku heran, kamu sudah lama minggat dari rumah, pulang-pulang membawa gelandangan seperti ini? Kamu mau rumah ini terkontaminasi penyakit akibat kedatangan dua orang ini?"


"Wenda, jangan keterlaluan kamu! Jaga mulutmu!"


Emosi Kartika seakan naik di ubun-ubun. Lidah menantunya ini sungguh sangat tajam sekali. Hingga mampu menggores luka di hati orang-orang yang mendengarnya.

__ADS_1


"Kenyataannya seperti itu Bu. Lihatlah penampilan dua orang ini, persis seperti gelandangan. Apa Ibu tidak malu jika sampai ada yang tahu bahwa di rumah mewah nan megah ini ditempati oleh gelandangan? Lagipula Ibu ini apa tidak memiliki pekerjaan selain menjadikan rumah ini sebagai tempat penampungan para gelandangan?"


Plak..!!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Wenda. Bhumi yang sudah tidak bisa menerima segala ucapan ibu tirinya ini, memberikan peringatan dengan menampar pipinya. Apa yang dilakukan oleh Bhumi, membuat semua yang ada di tempat ini tersentak seketika.


Tangan Bhumi bergetar. Ada sedikit rasa bersalah karena telah berani menampar ibu tirinya ini. Namun, sungguh ia tidak bisa menahan lagi jika harga diri orang-orang yang ia cintai direndahkan oleh wanita ini.


"Ingat baik-baik, Nyonya. Jangan sekali-kali Anda mengusik ketenangan orang-orang yang saya cintai. Sedikit saja Anda mengusik ketenangan mereka, akan saya pastikan Anda berhadapan langsung dengan saya. Camkan itu baik-baik Nyonya!"


"Kamu!!!"


Wenda tidak sanggup lagi berucap kata-kata. Telapak tangannya masih intens memegang pipi di saat sensasi rasa panas itu mulai menjalar. Kedua bola matanya melotot seperti menandakan bahwa ia tengah dikuasai oleh amarah yang membara.


"Dewi, Sita, ayo segera masuk ke kamar kalian masing-masing. Jangan perdulikan orang gila ini. Dan Hans, antar Oma ke dalam kamar. Biarkan Oma beristirahat."


Hans mengangguk patuh. "Baik Tuan muda."


Dewi dan Sita bergandengan tangan menuju kamar yang akan mereka tempati. Sedangkan Hans, mendorong kursi roda milik Kartika dan mengantarkan wanita berusia senja itu untuk memasuki kamar.


"Saya peringatkan sekali lagi Nyonya. Jangan coba-coba mengusik ketentraman calon istri saya. Sedikit saja Anda mengusiknya, akan saya pastikan bahwa Anda hanya tinggal nama."


Bhumi berlalu begitu saja meninggalkan Wenda sendirian di ruang tengah. Ia bahkan tidak perduli jika dianggap sebagai anak durhaka. Wanita ini sangat pantas diberi pelajaran agar tidak keterlaluan. Memandang rendah sesama manusia yang boleh jadi, ia jauh lebih rendah dari manusia yang ia olok-olok.


Sedangkan Wenda, wanita itu masih dalam mode kesal menatap punggung sang anak tiri yang semakin lama semakin hilang di balik pilar. Dengan sorot mata penuh kebencian, wanita itu menatap bayang-bayang Bhumi.


Kita lihat saja. Siapa yang akan lebih dulu tinggal nama? Aku ataukah dirimu Arga??


.


.


.


Mohon maaf pendek dulu ya Kak... Nanti inshaAllah saya sambung lagi.. Dan mohon maaf pula karena belum bisa membalas satu persatu komentar-komentar Kakak-kakak semua🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2