
Jam digital di layar ponsel menunjukkan tepat pukul sebelas siang. Amara dan Adelia nampak sedang berada di salah satu mall yang berada di kota ini. Setelah tiba di ibu kota dan mengistirahatkan tubuh semalaman, siang ini mereka memilih untuk menikmati suasana kota Jakarta. Merefresh pikiran yang terasa penat dengan cara menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan.
"Ra, kamu jangan kalap seperti itu! Ingat, uang saku kita terbatas!"
Memasuki outlet Uniqlo, Adelia tiada henti memberikan peringatan kepada Amara untuk mengendalikan kekalapannya di dalam berbelanja. Teman satu profesinya ini nampak memasukkan beberapa potong pakaian tanpa ia pikir sebelumnya. Seperti seseorang yang tengah kalap berbelanja.
"Apaan sih kamu Ra. Uang saku kamu saja yang terbatas. Kalau aku sih tidak. Aku diberikan uang saku yang banyak oleh orang tuaku. Dan itu bisa untuk hidup di kota ini sampai tiga bulan yang akan datang."
Amara bahkan tidak mengindahkan peringatan dari Adelia. Tanpa merasa khawatir akan kehabisan uang, ia masih saja berkeliling outlet ini untuk berburu pakaian. Jawaban Amara inilah yang membuat jiwa kepoo Adelia sedikit meronta.
"Kamu bisa mendapatkan uang saku banyak seperti itu dari mana Del? Padahal sebelumnya kamu mengatakan bahwa kamu sama sekali tidak memiliki uang. Tapi ini mengapa kamu mengatakan sebaliknya?"
Amara tergelak lirih sambil menempelkan salah satu t-shirt warna putih ke badannya. "Ibuku menggadaikan sertifikat sawah untuk bisa aku pakai sebagai pegangan hidup selama berada di kota ini, Del. Jadi, aku tidak khawatir uang ini akan habis untuk berbelanja karena uang yang aku bawa banyak sekali."
Amara kembali meletakkan t-shirt ke tempat semula setelah dirasa tidak pas dengan tubuhnya. Dan ia pun kembali berburu tanktop untuk menunjang penampilannya agar terlihat lebih berani.
"Lagipula ya Del, kita itu akan audisi jadi sudah seharusnya kita tampil sempurna. Salah satu penampilan sempurna itu ditunjang dengan cara memakai baju baru seperti ini. Masa iya, kita audisi memakai pakaian lusuh seperti yang kita pakai di kampung? Malu dong!" imbuh Amara dengan berapi-api. Seakan mengingatkan Adelia untuk memprioritaskan penampilan.
Adelia hanya berdecak lirih. Ia tahu betul jika sudah memiliki keinginan, Amara tidak mudah untuk dihentikan. Sehingga Adelia hanya bisa membuang napas sedikit kasar.
"Memang berapa uang saku diberikan oleh ibumu Ra?"
Amara nampak merotasikan kedua bola matanya. Mencoba mengingat jumlah uang yang diberikan oleh sang ibu. "Lima belas juta Del. Bagaimana? Banyak kan?"
"Apa? Lima belas juta? Gila, itu banyak sekali Ra!" pekik Adelia dengan raut wajah yang dipenuhi oleh keterkejutan.
"Ya, memang seperti itu adanya. Dengan uang ini, aku tidak akan khawatir lagi bagaimana untuk bertahan di kota ini. Lagipula jika kita lolos audisi, kita akan segera tanda tangan kontrak dan pundi-pundi uang kita juga akan bertambah banyak."
Amara sedikit melirik ke arah keranjang belanja yang berada di tangan Adelia. Wanita itu hanya tersenyum remeh dibuatnya.
"Pakaian yang kamu beli hanya segitu?"
Adelia menganggukkan kepala. "Ya, memang hanya segini. Memang kenapa?"
"Ckkckkcckkckkk ... kasihan sekali kamu Del. Sudahlah, aku berikan jatah satu juta untukmu. Bisa kamu gunakan untuk membeli beberapa pakaian sesuai keinginanmu."
Adelia tersentak. Kedua bola matanya sedikit terbelalak. "Serius kamu Ra?"
"Serius lah. Kapan, aku pernah berbohong kepadamu? Aku tidak mau jika audisi kita sampai gagal hanya gara-gara pakaian yang kamu kenakan tidak sesuai dengan model yang tengah hits di masa sekarang."
Hati Adelia layaknya dihujani oleh ribuan kelopak kebahagiaan. Kapan lagi ia mendapatkan rezeki nomplok dari teman duetnya ini. Gegas, Adelia memeluk tubuh Amara dengan erat.
"Kamu baik sekali Ra. Terima kasih, terima kasih, terima kasih!" puji Adelia kepada temannya ini.
"Aaaahhh .... sudah, sudah, sudah. Pakai acara peluk-pelukan segala. Malu tahu!" ucap Amara seraya melepaskan tubuhnya dari tubuh Adelia yang justru membuatnya malu setengah mati.
"Kalau begitu, aku hunting baju-baju dulu. Setelah itu traktir makan ya Ra. Kita belum sempat makan loh dari tadi!" kelakar Adelia semakin ngelunjak.
"Hah! Dasar tukang palak!"
__ADS_1
Keduanya sama-sama tertawa terbahak sampai membuat perhatian pengunjung otlet ini menautkan pandangan mereka ke arah Adelia dan Amara. Namun dua orang itu hanya acuh saja tidak terlalu memperdulikan beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan sinis. Mungkin, gelak tawa Amara dan Adelia terasa mengganggu kenyamanan mereka dalam berbelanja.
***
Dewi berdiri di depan cermin besar yang berada di area toilet pusat perbelanjaan kota Jakarta. Ia basuh wajahnya untuk meredam rasa panas yang terasa. Dan seketika kembali mengalirkan kesejukan dan kesegaran di wajah cantiknya. Setelah satu jam lebih berjalan-jalan mengelilingi mall, inilah waktunya untuk meng-touch up riasan yang mulai sedikit memudar.
"Sita, makannya sudah selesai?"
Selepas menuntaskan segala keperluannya di toilet, Dewi kembali ke salah satu food court yang berada di mall ini. Terlihat, Sita masih asyik menikmati sajian fried chicken yang ada di hadapannya.
Sita menggeleng pelan. "Belum Kak. Sita malah ingin nambah lagi. Ayam goreng ini rasanya enak sekali!"
Sembari mencocol ayam goreng di atas saos cabai, Sita mengutarakan keinginannya untuk menambah lagi. Hal itulah yang membuat Dewi terkekeh geli. Ia daratkan bokongnya di atas kursi sembari menatap lekat Sita yang tengah lahap menyantap makan siangnya ini.
"Sita ingin nambah lagi?"
"Iya Kak. Boleh?"
Dewi tersenyum penuh arti. Melihat Sita begitu lahap dan nampak bahagia setelah berkeliling mall , seakan membuat hatinya menghangat seketika. Ada kebahagiaan tersendiri baginya bisa membuat gadis kecil ini senantiasa tersenyum bahagia. Karena kebahagiaan Sita lah yang menjadi salah satu prioritasnya.
"Tentu saja boleh Sayang. Sita ingin nambah lagi, ingin dibungkus untuk dibawa pulang juga tidak masalah. Sita boleh pesan lagi."
"Terima kasih Kak!"
"Sama-sama Sayang."
Setelah sajian yang ada di hadapannya telah tandas tanpa bekas, Sita beranjak dari tempat duduknya. Gadis kecil itu mengayunkan tungkainya untuk kembali memesan menu makanan yang yang sebelumnya ia pesan.
Senyum mengembang di bibir Dewi saat melihat suasana baru di kediamannya. Seluruh ruangan telah di renovasi total dan diganti dengan furniture-furniture baru yang nampak memanjakan mata. Tak lupa bagian depan rumah yang dihiasi oleh taman dan kolam ikan, seakan menambah sejuk dan asri kediamannya. Inilah hasil kerja kerasnya selama ini. Bisa membuat keluarganya tersenyum bahagia dan hidup dalam keadaan cukup, seakan menjadi suplay energi tersendiri bagi Dewi untuk lebih bersemangat lagi. Karena, bagi Dewi kebahagiaan ibu dan juga adiknya lah yang menjadi prioritas utama.
"Dew!"
Suara baroton yang tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Dewi sedikit terhenyak kala fokus dengan benda pipih yang berada di dalam genggaman tangan. Ia menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Bhumi dengan pakaian casualnya sudah berdiri tegap di sampingnya.
"Bang ... kamu ini sudah seperti jelangkung saja. Tiba-tiba sudah berdiri di sini. Padahal aku belum memberitahu di mana aku berada kan Bang?"
Bhumi tertawa renyah. Ia turut mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang nampak kosong. "Bukankah hati kita sudah terpaut? Jadi aku rasa aku akan selalu menemukanmu di mana kamu berada, meskipun kamu belum memberitahukannya."
"Kamu itu bicara apa sih Bang? Malu tahu?"
Rona merah jambu mendadak tercetak di tulang pipi milik Dewi. Mendengar Bhumi mengucapkan kata-kata seperti ini hanya bisa membuatnya tersipu malu setengah mati.
"Untuk apa kamu malu? Bukankah kamu ini calon istriku? Jadi, tidak perlu malu!"
Bhumi menjeda sejenak ucapannya dan mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. "Sita ke mana Dew?"
"Itu Bang. Sita memesan makanan lagi. Dia bilang makanan ini enak, jadi ia minta nambah," jawab Dewi seraya menunjuk ke arah Sita yang masih mengantre.
Bhumi hanya menganggukkan kepala. "Dew, apa aku bisa minta tolong?"
__ADS_1
"Apa itu Bang?"
"Begini, seharusnya besok aku ikut menjadi tim penilai audisi yang diselenggarakan oleh Svarga record. Namun, mendadak Papa memintaku untuk ikut menemani Gilang bertemu dengan relasi. Ingin rasanya aku menolak, tapi melihat wajah papa yang sudah memelas seperti itu, rasa-rasanya aku tidak tega untuk menolaknya."
Dewi hanya mengulas sedikit senyum di bibirnya. "Apakah itu artinya bang Bhumi mulai tertarik untuk melanjutkan bisnis Papa?"
Bhumi tersentak. Ia sedikit tersadar bahwa ada sesuatu berbeda yang ia rasakan. Biasanya ia tidak terlalu perduli meski sang Papa sudah memaksa untuk meng-handle perusahaan. Namun entah mengapa saat ini, ia merasa iba kala melihat sang Papa memasang wajah memelas dan berharap penuh.
"Eh, bukan ... bukan seperti itu Dew, aku hanya..."
Dewi menggenggam jemari tangan Bhumi yang sukses membuat lelaki itu memangkas ucapannya. Lagi-lagi Dewi hanya tersenyum kala manik matanya bersiborok dengan manik mata milik kekasihnya ini.
"Mungkin sudah waktunya Abang memenuhi permintaan Papa untuk meng-handle perusahaan. Lagipula tidak ada salahnya juga kan kalau bang Bhumi ikut berkecimpung di bisnis yang Papa bangun?"
Sejenak, Bhumi memikirkan apa yang dikatakan oleh calon istrinya ini. Entah apa yang menjadi akar permasalahan ia tidak ingin melanjutkan bisnis sang Papa. Namun, semenjak ia tahu bagaimana sifat dan sikap sang ibu tiri, membuat Bhumi bertekad untuk pergi jauh dari kehidupan sang Papa. Oleh karena itu ia berdalih untuk menjadi seorang musisi agar dapat menjauh dari sang ibu tiri.
"Tapi aku masih fokus ke Svarga record dan juga kamu Dew. Aku masih ingin membuat kamu jauh lebih bersinar daripada saat ini. Dan juga membuat Svarga record bisa mengepakkan sayapnya lagi sehingga menjadi salah satu label musik yang dapat bersaing di industri rekaman."
"Bang ... aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang aku raih saat ini. Tuhan benar-benar memberikan nikmat yang lebih untukku dan itu yang harus senantiasa aku syukuri. Lagipula untuk Svarga record, aku yakin dengan tim Abang yang ada di sana. Mereka pasti dapat mewujudkan apa yang menjadi mimpi-mimpi Abang."
Dahi Bhumi sedikit mengerut. "Jadi menurutmu, aku juga harus ikut meng-handle perusahaan Papa?"
Dewi mengangguk pelan. "Jadikan ini salah satu bukti bakti Abang kepada Papa. Selain kepada Abang, dengan siapa lagi Papa menggantungkan harapan untuk meneruskan bisnisnya? Ya meskipun ada Gilang, namun Abang juga tahu bukan jika Gilang tidak ingin menempati posisi yang memang bukan menjadi haknya?"
Bak disirami oleh rintik air hujan, hati Bhumi terasa sejuk sekali. Kerasnya hati yang sebelumnya ia rasakan, kini seketika melunak setelah mendengar setiap kata yang terucap dari bibir kekasihnya ini. Senyum tipis terlukis di bibir Bhumi. Tanpa basa-basi ia mengecup buku-buku jemari calon istrinya ini.
"Ternyata hanya kamu yang bisa melunakkan kerasanya hatiku. Membuang ego dan mencoba untuk lebih perduli akan permintaan Papa yang mungkin akan menjadi permintaannya yang terakhir. Terima kasih, Dew!"
"Sama-sama Bang. Besok biar aku yang menggantikan Abang menjadi tim penilaian audisi pencarian bakat itu. Abang fokus saja dengan urusan perusahaan milik papa."
"Iya Dew. Besok aku akan menemani Gilang untuk bertemu dengan relasi."
Hati Dewi terasa lebih lega melihat Bhumi bersedia untuk menggantikan posisi sang papa. Dengan begitu harapan Wiraguna yang disampaikan di depannya, akan terwujud tanpa adanya drama penolakan lagi.
Tatapan mata Dewi yang sebelumnya fokus dengan rupa menawan lelaki di hadapannya ini, mulai terusik dengan sosok dua wanita yang dari kejauhan nampak menenteng beberapa paper bag di tangannya. Dua wanita yang nampak tidak asing di indera penglihatannya dan sudah dapat dipastikan bahwa ia mengenalnya.
Dua wanita licik yang ikut andil dalam kehancuran kariernya di masa yang telah lalu. Dan dua wanita yang membuat dunianya jungkir balik dalam waktu sekejap.
"Mereka...??"
Dahi Bhumi sedikit mengernyit. Dewi yang sebelumnya intens menatap wajahnya, kini tatapan itu seakan kosong tak terbaca. Bhumi mendadak bergidik ngeri. Khawatir jika Dewi tiba-tiba kesambet makhluk penghuni mall ini.
"Dew, ada apa?"
"Amara dan Adelia..."
.
.
__ADS_1
.
Salam love, love, love Kakak-kakak semua 😘😘😘