
Jemari nan lentik itu masih setia menjamah dawai-dawai gitar dalam genggaman. Menggetarkan nada-nada penuh cinta yang terdengar menentramkan. Menembus dinding kalbu, mengalir lembut melalui aliran darah hingga terasa melenakan.
Petikan dawai gitar terdengar menyentuh hati. Mengiringi lirik-lirik lagu yang sarat akan memori. Nada-nada cinta kian berpadu membentuk harmoni. Seirama dengan melodi asmara penuh penghayatan diri. Simfoni seakan turut menaungi. Membuat hati semakin terpatri. Dan waktu pun terasa enggan untuk berlalu pergi.
Plok... plok... plok...
Suara tepuk tangan menggema memenuhi langit-langit ruangan berukuran tiga kali empat meter ini. Tepatnya setelah satu buah lagu berhasil didendangkan oleh Dewi. Tak ayal, hal itulah yang membuat wajah wanita itu kian menampakkan aura berseri.
"Waaaaa .... suara kak Dewi benar-benar bagus. Aku sampai terbuai mendengarnya. Ayo lanjut lagi Kak!"
Sita, memekik kegirangan setalah Dewi bernyanyi. Gadis itu selalu saja memuji suara Dewi tiada henti. Bahkan, ia ingin mendengarkan Dewi bernyanyi sekali lagi.
Melihat ekspresi wajah Sita, hanya membuat Dewi terkekeh geli. Gadis kecil itu tidak tahu saja jika saat ini kerongkongan kering kerontang sedang merajai. Akibat sedari tadi belum ada setetes air pun yang membasahi.
"Besok lagi Sita. Kasihan kak Dewi jika harus terus menerus bernyanyi. Lebih baik Sita ajak kak Dewi untuk beristirahat. Biar besok kak Dewi bisa ikut dengan bang Bhumi."
Tubuh Dewi seakan terkejut setengah mati kala mendengarkan kata yang terlisan dari bibir Bhumi. Ia yang sebelumnya menatap lekat wajah girang Sita kini ia geser untuk menatap lekat lelaki yang duduk di sampingnya ini.
"Ikut bang Bhumi? Ikut ke mana maksud Abang?"
Seutas senyum simpul membingkai bibir lelaki berusia tiga puluh tahun itu. Yang seketika mencetak dua lesung pipit, terlihat begitu memukau. Wanita manapun yang bertemu dengan Bhumi, pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama kala melihat senyum nan memukau itu.
"Aku ingin mengajakmu bernyanyi di sekitar TMII. Aku yakin jika keberadaanmu akan menghibur para penikmat malam di kota ini."
Dewi seakan kian terperangah dan bibirnya menganga lebar. "TMII? Bukankah itu Taman Mini Indonesia Indah, Bang?"
Bhumi menganggukkan kepala seraya menyetel ulang senar-senar gitar yang ada di tangan. "Iya benar. Kenapa? Apakah sebelumnya kamu juga pernah tampil di sana?"
"Belum Bang, aku sama sekali belum pernah bernyanyi di sana. Tapi..."
Kata yang keluar dari bibir Dewi terjeda dikala manik matanya menatap lekat pakaian yang ia pakai. Bagaimana mungkin ia bisa tampil untuk menghibur para penikmat malam jika hanya ini satu-satunya pakaian yang ia miliki. Pastinyaa hal itu hanya akan membuat Bhumi malu setengah mati.
Lagi-lagi Bhumi hanya tersenyum penuh arti seakan paham dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Dewi. Ia beranjak sembari meletakkan gitar di sudut ruangan bagian kiri. Ia mengambil sebuah dompet yang terbuat dari kulit asli. Ia ambil beberapa lembar uang untuk ia berikan kepada Dewi.
"I-ini apa Bang?" tanya Dewi dengan kerutan kening dalam.
"Uang. Masih haruskah kamu pertanyakan?"
Bhumi menjawab pertanyaan Dewi dengan mimik wajah datar minim ekspresi. Yang seketika membuat Dewi terbengong-bengong sendiri. Mengapa ada lelaki dingin seperti Bhumi ini.
"Maksudku, mengapa bang Bhumi memberikan uang ini kepadaku? Untuk apa uang ini Bang?"
"Untukmu!"
__ADS_1
Raut yang dipenuhi oleh tanda tanya kian nampak di wajah Dewi. Ia merasa sudah berkomunikasi baik dengan Bhumi. Namun tetap saja lelaki ini membuat Dewi berdecak kesal di dalam hati.
"Iya untukku Bang, tapi ...."
"Untuk membeli semua yang kamu perlukan. Baju, peralatan mandi atau yang lainnya."
Sekilas, Dewi menatap lekat wajah Bhumi. Lelaki itu menganggukkan kepala seperti sebuah isyarat untuk bisa diterima oleh Dewi. Telapak tangan yang gemetaran, terulur jua untuk menerima lembaran uang yang diulurkan oleh lelaki yang berdiri di hadapannya ini.
"Apakah ini merupakan salah satu hutang yang aku tanggung kepada Abang?"
Sebelum bersenang hati, Dewi mempertanyakan terlebih dahulu perihal posisi uang ini. Apakah uang yang diberikan oleh Bhumi merupakan uang cuma-cuma atau pinjaman semata. Sedangkan lelaki itu hanya memperlihatkan ekspresi wajah tiada terbaca.
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan perkara uang ini. Lebih baik sekarang kamu pulang dan beristirahat kembali. Besok sore, kita berangkat ke TMII."
Ada satu kata yang terlisan dari bibir Bhumi yang membuat Dewi terhenyak. Terlalu sibuk dengan urusan mencari uang di pinggir jalan membuat satu hal yang luput dari perhatian. Setelah ini harus kemana ia pulang untuk berteduh dari panas dan hujan? Atau hanya sekedar untuk mengistirahatkan tubuh dari kelelahan?
"Kak Dewi tidak perlu khawatir. Kak Dewi bisa tinggal bersama Sita. Meski tempat tinggal Sita tidak terlalu bagus, namun bisa untuk kak Dewi jadikan tempat untuk beristirahat."
Salah satu bukti kasih sayang Tuhan. Segala hal yang dirisaukan oleh Dewi langsung mendapatkan jawaban. Seketika senyum lebar itu membingkai wajah Dewi yang nampak kelelahan. Namun rasa lelah itu seketika sirna di kala jawaban polos dari Sita mulai merembet masuk ke dalam indera pendengaran.
"Benarkah begitu Sita? Kakak boleh tinggal di rumah Sita?"
"Tentu boleh Kak. Bagi Sita, kak Dewi sudah Sita anggap seperti kakak sendiri."
"Terima kasih Sita, terima kasih."
"Sama-sama kakak Dewi."
Wanita itu mengurai pelukannya dari tubuh Sita. Manik matanya bergeser untuk melihat Bhumi yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sebuah ponsel jaman baheula yang hanya bisa berkirim SMS dan telepon semata.
"Bang, bolehkah aku meminjam ponselmu?"
Sorot mata Bhumi yang sebelumnya fokus ke arah layar ponsel di dalam genggaman, ia geser ke arah Dewi yang saat ini tengah duduk bersebelahan dengan Sita.
"Untuk apa? Apakah kamu datang ke kota ini tanpa membawa bekal apapun? Salah satu contohnya ponsel?"
Dahi Bhumi berkerut dalam saat mengetahui bahwa Dewi tidak membawa apapun ketika memutuskan untuk tinggal di kota ini. Bhumi sampai berpikir jika wanita ini hanya membawa modal nekad saja untuk bisa sampai di sini.
"Sesungguhnya, aku memiliki ponsel dan sejumlah uang Bang. Namun ketika tiba di terminal, aku dijambret. Dan mereka berhasil membawa uang beserta tas yang aku punya."
"Lain kali berhati-hati lah. Jakarta itu keras. Jangan sampai kamu lengah."
Sembari memberikan sebuah petuah, Bhumi mengulurkan ponsel yang ia pegang ke arah Dewi. Meski lelaki yang berdiri di hadapannya ini begitu dingin dan minim ekspresi namun Dewi dapat melihat sisi kelembutan dalam hati Bhumi.
Dewi mengulum senyum termanis yang ia punya. Dan segera memencet deretan angka yang terdapat di ponsel yang ia bawa. Akan menghubungi siapa dia? Jika bukan sang adik dan ibunda tercinta.
__ADS_1
****
Rasa cemas nampak membingkai wajah wanita berusia paruh baya yang sedang duduk di beranda. Sorot matanya menatap nyalang sebuah percakapan yang berada di dalam salah satu aplikasi WhatsApp milik putri keduanya. Melihat status aktif ponsel sang anak sulung yang sejak pagi tadi sudah tidak aktif lagi.
Siluet-siluet kejadian buruk kian merayap, memenuhi pusaran hati. Membuat rasa takut dan khawatir kian membelenggu diri. Membuatnya tidak nyaman untuk melakukan apapun bahkan hanya sekedar untuk mengisi perutnya yang ia biarkan kosong sedari tadi.
"Bu, percayalah, kak Dewi pasti akan baik-baik saja. Sekarang Ibu makan ya. Runi sudah memasak mie rebus untuk Ibu."
Seruni menyodorkan satu mangkuk mie rebus di hadapan Ambarwati. Harum aroma bumbu ayam bawang yang menguar dari hidangan yang berada di depan wanita paruh baya ini, nyatanya tidak bisa mengalihkan atensi dari ponsel di tangannya ini. Wanita itu terus saja menatap lekat benda pipih dalam genggaman tanpa berkedip sama sekali. Berharap mendapatkan kabar dari Dewi.
"Tidak Run, Ibu benar-benar mencemaskan kakakmu. Ponselnya tidak aktif sejak pagi tadi. Ibu takut..."
"Ibu jangan berpikir macam-macam. Mungkin saja kak Dewi kehabisan baterai, dan sampai sekarang belum bisa menemukan colokan."
Meski rasa cemas itu juga terasa menguasai diri, namun Runi tetap berpikir positif. Ia tidak ingin membebani sang ibu jika sampai melihatnya ikut panik.
"Tapi Run..."
Drrrtt.... Drrttt.... Drrrtt...
Getaran ponsel yang berada di dalam genggaman, membuat Ambarwati menyipitkan mata. Ia teramat penasaran dengan nomor ponsel yang sama sekali tidak tertera namanya.
"Siapa Bu?"
Ambarwati menggelengkan kepala. "Ibu tidak tahu Run. Tidak ada namanya."
Runi, gadis remaja itu juga nampak sedikit kebingungan. Karena tidak biasanya ponsel miliknya ini dihubungi oleh nomor yang tidak ia kenal dan cenderung mencurigakan. Namun buru-buru ia tepis segala rasa curiga itu, barangkali sang kakak lah yang mempergunakan.
"Coba diangkat saja Bu. Siapa tahu kak Dewi."
Ambarwati menurut. Ia menggeser icon berwarna hijau dengan dahi sedikit mengerut dan... "Hallo, dengan siapa ini?"
"Ibu, ini Dewi!"
Binar-binar kebahagiaan nampak begitu kentara di raut wajah Ambarwati. Bibirnya menganga lebar seakan tiada percaya bahwa seseorang yang dinanti-nanti menghubunginya kini. Tak ayal, hal itulah yang membuat bulir bening dari pelupuk mata Ambarwati jatuh membasahi pipi.
"Dewi .... putriku!"
๐๐๐๐๐
Mohon maaf pendek dulu ya Kak... Ini authornya sedang diberi kenikmatan sakit oleh Allah SWT. InshaAllah jika sudah pulih, akan rutin up dua episode setiap hari๐ค๐ค
Terima kasih banyak atas kehadirannya di cerita Mengubah Takdir : Sang Dewi ini ya Kak... Mohon berikan dukungan kakak-kakak semua dengan cara like, komentar, favorit, rate bintang 5, gift koin maupun poin dan juga Vote.
๐พPercayalah, tulisan yang ditulis sepenuh hati pasti akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca.
__ADS_1