
Dewi duduk termenung di balkon sembari mendongakkan kepala. Menanti rembulan menampakkan wajah ayunya. Namun sayang seribu sayang, goresan awan hitam seakan erat mencumbunya. Hingga hanya ada nuansa gelap di atas permadani malam.
Dewi menggeser pandangannya ke arah benda pipih yang masih setia di dalam genggaman. Membaca pesan yang dikirim oleh Bhumi tentang siapa saja yang mengikuti audisi pencarian bakat yang akan diadakan esok hari. Manik mata wanita itu tidak lepas dari salah satu nama yang tidak asing di penglihatannya.
"Ternyata mereka ada di Jakarta untuk mengikuti audisi ini."
Dewi bermonolog lirih sembari tatapan matanya nyalang ke sembarang arah. Tiba-tiba saja memory otaknya memutar ulang peristiwa di tiga bulan lalu yang berhasil meluluhlantakkan hidupnya dalam waktu sekejap. Membuatnya menanggung malu seperti seseorang yang ditelanjangi di depan umum. Dan sejak saat itu, ia bahkan seperti kehilangan arah untuk melanjutkan kembali jalan hidupnya.
Senyum seringai terbit di bibir Dewi. Seperti dendam, semua rasa sakit yang pernah ia rasakan harus terbalaskan. Membuat mereka sadar bahwa dirinya tidak pantas untuk diremehkan.
"Jika kalian bisa menghancurkan mimpi dan juga anganku, aku pastikan kalian juga akan menerima hal yang sama. Aku akan menghentikan langkah kalian sampai di sini."
Semua rasa seakan berkecamuk dalam dada. Dendam yang seharusnya tidak ada namun tiba-tiba saja meronta untuk segera terbalaskan. Dengan seperti itu, ia percaya bahwa orang-orang itu tidak akan lagi meremehkan keberadaannya.
"Lihatlah, aku akan menjadi salah satu bagian dari karma yang akan kalian dapatkan. Kalian akan merasakan bagaimana rasanya diinjak, dipatahkan dan juga dihancurkan dalam waktu bersamaan. Dan bagaimana rasanya mimpi itu pupus dalam sekejap mata. Akan aku tunjukkan bahwa Dewi yang sekarang bukanlah Dewi yang seperti dulu kalian kenal."
Dewi membuang napas kasar. Mencoba untuk mengurai rasa dendam yang bercokol di dalam hati. Menghempaskan ke udara dan kembali meraup udara dalam-dalam. Ia beranjak dari posisi duduknya. Mengayunkan tungkai kaki untuk menuju ke ranjang. Gegas wanita itu menarik selimut dan mulai merajut mimpi-mimpi indahnya.
***
Sebuah kontrakan yang ditempati oleh Langit dan personil Magatra nampak ramai di pagi hari ini. Mereka sibuk bersiap mempersiapkan diri untuk mengikuti audisi hari ini. Tak terkecuali Amara dan Adelia. Dua wanita itu sejak pukul enam pagi sibuk di depan kaca.
"Aaarrrggghhh ... aku sampai bingung harus memakai pakaian yang mana. Aku merasa pakaian ini kurang pas di badan."
Amara kembali memekik kesal saat pakaian yang ia kenakan tidak satupun yang ia rasa pas di tubuhnya. Ini sudah kelima kalinya ia melemparkan pakaian ke atas ranjang karena merasa ada yang kurang. Wanita itu mengacak rambutnya frustrasi karena tiba-tiba hatinya diserang oleh perasaan kesal setengah mati. Mood wanita itu mendadak memburuk dan hanya ada rasa kesal yang merajai.
"Kamu ini aneh Ra. Pakaian sebanyak ini tidak ada satupun yang pas di badanmu? Memang pakaian seperti apa lagi yang kamu cari Ra?"
Adelia yang tengah berkutat dengan riasan di wajahnya hanya bisa bertanya-tanya akan apa yang dilakukan oleh temannya ini. Sedari tadi temannya ini bahkan belum selesai untuk memilah dan memilih pakaian yang ia kenakan. Adelia sampai heran model pakaian seperti apa lagi yang diinginkan oleh temannya ini.
Amara mengendikkan bahu. "Entahlah, aku juga bingung Del. Aku merasa semua pakaian ini tidak pas di tubuhku. Aku merasa ini semua jelek untuk aku pakai ke acara audisi."
Adelia hanya bisa berdecak lirih. "Sudahlah, cepat pilih salah satu pakaian yang akan kamu kenakan. Ingat, hari ini kita akan audisi. Jangan sampai terlambat hanya karena kamu tidak bersegera memakai baju. Kecuali..."
Amara menyipitkan mata dan menatap wajah Adelia dari pantulan cermin. "Kecuali apa maksudmu?"
"Kecuali jika kamu menginginkan hanya aku yang menjadi vokalis Magatra, sehingga kamu tidak perlu ikut audisi. Dan kamu cukup memberikan support dari balik layar."
Kedua bola mata Amara membulat sempurna. Gegas, ia melemparkan bantal ke arah Adelia yang masih berkutat di depan kaca.
"Jangan asal bicara kamu Del, bisa-bisanya menyuruhku untuk hengkang dari Magatra. Ingat ya, informasi perihal audisi ini berasal dari aku. Dan jika tanpa aku, kalian semua tidak mungkin bisa sampai ke kota ini. Enak saja kamu memintaku untuk tidak ikut bergabung dengan Magatra lagi."
"Nah, itu kamu paham. Maka dari itu segeralah berganti pakaian dan berdandan. Jika kamu terus seperti ini, mau sampai kapan kita akan berangkat?"
Adelia kembali memasukkan peralatan make up ke dalam pouch berwarna biru. Sekali lagi ia pastikan bahwa penampilannya sudah sempurna. Dan tinggal menunggu Langit untuk memberikan perintah untuk segera berangkat ke lokasi acara.
"Hei kalian!"
Suara bariton di ambang pintu membuat Amara dan Adelia sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Anki berdiri di ambang pintu yang terbuka.
"Apa Ki?"
"Ayo kita berangkat. Kita berangkat pagi agar bisa mendapatkan nomor antrean awal sehingga kita tidak perlu panas-panasan."
Tubuh Amara terperanjat seketika. "Apa? Kita berangkat sekarang? Kamu bercanda Ki?"
"Ckckck ckckckck ... bercanda bagaimana maksudmu Ra? Ini sudah pukul delapan pagi. Kita berangkat sekarang mumpung belum terlalu panas."
__ADS_1
"Aaaaaa ... aku belum siap-siap!"
Dilanda oleh kepanikan, Amara bergegas menyambar satu stel pakaian asal. Wanita itu mengambil langkah kaki lebar untuk masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat kaki wanita itu melintas di depan kamar mandi, tiba-tiba...
Gedebuggghh!!!!
"Aaaahhhh ...!" pekik Amara saat terpeleset di depan pintu kamar mandi.
Adelia dan Anki sama-sama menautkan pendangan mereka ke arah tubuh Amara yang sudah terkapar di atas lantai. Ingin rasanya mereka menahan tawa namun pada akhirnya tawa itu lepas juga.
"Hahahaha hahaha kasihan deh kamu Ra!"
Keduanya bergegas meninggalkan kamar yang ditempati oleh Amara. Sedangkan Amara sendiri masih setia berasa di dalam mode terkapar dengan perasaan terhina sembari memijit pelipis yang terbentur kusen pintu.
"Aaarrrggghhh ... dasar sialan. Teman tidak ada akhlak. Lihat aku jatuh seperti ini malah tertawa dan tidak membantuku sama sekali. Awas saja kalian jika sampai memintaku untuk mentraktir kalian makan ya!"
Sadar bahwa tiada arti dirinya mengumpat seperti ini, Amara berupaya sendiri untuk bangun dari posisinya. Meski kepala terasa sedikit kliyengan, namun ia tetap memaksakan diri untuk berdiri tegap. Wanita itu pun bersegera masuk ke dalam bilik kamar mandi.
***
Langkah Dewi seketika terhenti di saat ia berpapasan dengan Bhumi yang melintas di depan pintu kamarnya. Ia melihat kerah kemeja yang dipakai oleh calon suaminya ini kurang rapi dan gegas membenahi kerah pakaian yang dikenakan oleh Bhumi.
"Nah, kalau seperti ini terlihat lebih rapi kan Bang?"
Bhumi hanya tersenyum simpul. Ternyata calon istrinya ini merupakan sosok yang sangat detail sekali. Sampai perkara kerah kemeja yang sedikit terlipat itu tidak luput dari penglihatannya.
"Terlihat lebih rapi atau lebih tampan Dew?"
"Jika sudah rapi pasti akan terlihat lebih tampan kan Bang?"
"Bisa saja calon istriku ini. Oh iya, apakah aku sudah siap untuk menjadi salah satu juri untuk audisi kali ini? Selain ada tim dari Svarga records, kita juga kedatangan juri undangan, Dew."
Bhumi menganggukkan kepala. "Tentu saja benar. Hari ini kita juga akan menghadirkan Ariel Noah untuk ikut menjadi juri audisi kali ini."
Dewi terperangah. "Apa Bang? Ariel Noah? Abang serius?"
Bhumi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi wajah sang kekasih yang nampak begitu senang setengah mati. Tak lupa, ia berikan sedikit cubitan di hidung milik kekasihnya ini.
"Tentu saja aku serius, Dew. Meski ketampanan Ariel Noah tidak lekang oleh waktu, jangan sekali-kali kamu bermain mata dengannya. Ingat ya, kamu sudah memiliki calon suami."
Dewi terkikik geli mendengar ultimatum dari Bhumi. Sama seperti yang dilakukan oleh Bhumi, ia pun juga ikut menoel hidung milik kekasihnya ini.
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa jika sudah memiliki calon suami Bang? Meski ketampanan Ariel Noah tidak lekang oleh waktu namun ketampanan milik calon suamiku ini melebihi ketampanan milik Ariel Noah. Jadi, aku rasa tidak ada alasan untuk berpaling."
Bhumi tergelak lirih. Ia dekatkan wajahnya ke arah pipi Dewi dan memangkas jarak yang ada.
Cup...
Sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Dewi. Yang seketika mencetak rona merah jambu di pipi wanita yang sebentar lagi akan menyandang gelar nyonya Bhumi itu. Tak hanya di pipi saja, ternyata Bhumi juga melabuhkan kecupannya di kening milik sang kekasih.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan ya. Setelah itu, aku antar kamu ke lokasi acara, baru aku akan berangkat bersama Gilang untuk bertemu dengan relasi."
Dewi menganggukkan kepala dengan senyum lebar yang merekah di bibirnya. Wanita itu pun menggamit lengan tangan Bhumi untuk bersegera menuju ruang makan.
"Selamat pagi semua!" sapa Bhumi di hadapan keluarga besarnya ini.
"Pagi!"
__ADS_1
"Hahhh ... kalian ini sudah seperti amplop dan perangko, nempel terus. Kalau seperti ini, Oma jadi ingat masa-masa muda Oma!"
Kartika yang sedang menikmati teh chamomile sedikit terusik dengan kedatangan Dewi dan juga Bhumi yang berjalan berhimpitan seperti itu. Sikap cucunya ini sama persis dengan sikap mendiang sang suami di masa muda dulu.
Bhumi tersenyum simpul. Ia mendekat ke arah sang oma dan memberikan kecupan selamat pagi untuk oma tercintanya ini. "Itu artinya Bhumi memang benar-benar cucu opa, Oma. Sifat Bhumi tidak jauh berbeda dari almarhum opa bukan?"
Kartika hanya sedikit mengendikkan bahu. "Ya, Oma rasa memang seperti itu."
Kartika memindai penampilan kedua cucunya ini dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. "Tumben, jam segini kalian sudah nampak begitu rapi? Mau ke mana kalian? Apakah kita jadi pergi ke kampung halaman Dewi hari ini?"
Bhumi dan Dewi mengambil posisi untuk menduduki kursi kosong yang melingkati meja makan. Keduanya pun juga turut mengambil menu sarapan yang sudah tersaji.
"Belum Oma. Hari ini Dewi akan menghadiri acara pencarian bakat yang diadakan oleh Svarga records. Sedangkan bang Bhumi akan pergi bertemu dengan relasi bersama Gilang."
Uhukkkk... Uhuukkkk..
Mendengar penuturan Dewi, membuat Wenda tersedak bola-bola daging yang ia makan. Gegas wanita paruh baya itu mengambil air putih dan meneguknya cepat-cepat.
Kartika menatap sinis wajah menantunya ini. "Wen, aku merasa akhir-akhir ini kamu sering tersedak. Hati-hati kamu Wen!"
Wenda berupaya untuk mengatur napasnya. "Hati-hati kenapa Bu? Perasaan tersedak seperti ini merupakan hal yang wajar."
"Hati-hati, bisa jadi itu sebagai pertanda!"
Kening Wenda semakin berkerut dalam. "Pertanda apa lagi sih Bu? Wenda benar-benar tidak paham."
"Pertanda jika malaikat pencabut nyawa sudah mengintaimu. Aku punya kenalan, dia itu sering tersedak seperti kamu ini. Tak selang lama, dia meregang nyawa setelah tersedak biji buah salak!"
Perkataan Kartika ini sukses membuat orang-orang yang berkumpul di ruang makan tergelak. Namun hal itu tidak terjadi kepada Wenda. Wanita paruh baya itu semakin menampakkan rasa wajah kesalnya.
"Tadi apa kamu bilang? Arga ingin pergi bertemu dengan relasi bersama Gilang?" tanya Wenda sembari menautkan pandangannya ke arah Dewi.
"Betul Nyonya, bang Bhumi memamg akan pergi bersama Gilang untuk bertemu dengan relasi."
Tak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Dewi, Wenda beralih menatap lekat wajah Gilang. "Lang, apakah benar yang dikatakan oleh Dewi ini?"
Gilang mengangguk. "Benar Ma. Gilang memang akan pergi bersama kak Arga. Karena Papa sedang tidak enak badan."
"Kamu ini bagaimana sih Lang? Hanya ingin bertemu dengan relasi saja harus ditemani Arga? Mengapa kamu tidak pergi sendiri? Kamu ini sudah bertahun-tahun ikut Papa di perusahaan, masa hanya untuk bertemu dengan relasi saja masih belum punya nyali?"
Kesal, itulah yang dirasakan oleh Wenda. Lagi-lagi putranya ini membuka kesempatan bagi Arga untuk masuk ke dalam urusan perusahaan. Jika seperti ini, pastinya akan lebih sulit untuk bersegera menjadikan putranya ini sebagai direktur utama.
"Sudah seharusnya seperti itu Ma. Kak Arga harus ikut bertemu dengan relasi. Karena saat ini segala urusan perusahaan di handle oleh kak Arga!"
Wenda semakin terperangah. Sulit rasanya ia memahami ucapan putranya ini. "Maksud kamu apa Lang? Bukankah Arga memutuskan untuk tidak ikut campur perihal bisnis yang dijalankan oleh Papa? Tapi mengapa seolah-olah ucapan kamu ini menegaskan bahwa Arga adalah pimpinan perusahaan?"
Gilang menanggapi santai pertanyaan sang mama ini. Ia mengelap mulutnya dengan tisu setelah selesai menyantap sajian sarapan paginya.
"Mulai hari ini kak Arga akan masuk ke perusahaan Ma. Jadi itu artinya kak Arga lah yang akan menjadi pengganti posisi Papa. Jadi, setiap keputusan untuk kemajuan perusahaan berada di tangan kak Arga!"
Tubuh Wenda terperanjat seketika. Pemaparan Gilang, sukses membuat angan-angan untuk menguasai perusahaan Wiraguna musnah seketika. Segala daya dan upaya yang sudah ia lakukan sejauh ini, sepertinya akan menjadi sia-sia.
Apa lagi ini? Mengapa tiba-tiba Arga berubah pikiran untuk masuk ke perusahaan? Sebenarnya apa yang menjadi tujuannya? Jika seperti ini, rasa-rasanya sudah tidak perlu menunggu waktu lama lagi untu menjalankan rencanaku. Peristiwa tragis yang pernah dialami oleh ibu anak ini, aku pastikan akan segera dialami oleh putranya.
.
.
__ADS_1
.