Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 31. Sebuah Rencana


__ADS_3


Di salah satu food court yang berada di pusat perbelanjaan ini, Dewi dan Bhumi sejenak mengistirahatkan tubuh mereka yang terasa lelah sekali. Sembari mengisi perut dengan memu bakso rusuk, keduanya berupaya untuk menghalau segala rasa lelah sekaligus rasa lapar yang menyelimuti. Dua jam lebih keduanya mengelilingi mall, hingga kini betis mereka terasa kaku sekali.


"Ada apa? Mengapa kamu justru memainkan sendok dan garpu itu?"


Raut penuh tanda tanya nampak jelas membingkai wajah tampan Bhumi. Lelaki itu tidak mengerti mengapa sedari tadi Dewi menatapnya tiada henti. Ia sampai berpikir ada potongan sawi yang menyelinap di gigi.


"Bang, sebenarnya kamu ini siapa? Mengapa kamu membelanjakan aku barang-barang sebanyak ini? Apakah kamu ini orang kaya yang sedang menyamar menjadi orang tak berpunya?"


Pada akhirnya, Dewi sudah tidak kuasa untuk menahan beribu pertanyaan yang bercokol di hati dan pikiran. Melihat cara Bhumi membelikan bermacam-macam barang, Dewi semakin yakin bahwa lelaki di depannya ini bukanlah orang sembarangan. Ia sampai berpikir jika Bhumi ini merupakan sang pangeran.


Mungkin apa yang dipikirkan oleh Dewi terlalu hiperbola. Namun beginilah adanya. Setelah lelaki itu membelikan Dewi bermacam-macam model pakaian, sepatu, dan sandal, lelaki itu juga membelikannya satu barang yang begitu berharga. Ya, lelaki itu membelikan sebuah ponsel untuk Dewi tanpa disangka-sangka.


Bhumi hanya menanggapi pertanyaan Dewi ini dengan santai. Bahkan lelaki itu sibuk menyesap sumsum sapi yang ada di dalam tulang rusuk bakso yang ia nikmati ini.


"Aku siapa? Sudah jelas aku Bhumi. Masihkah kamu pertanyakan?"


"Aku tahu bahwa kamu Bhumi, Bang. Namun yang aku pertanyakan, mengapa kamu bisa membelikanku baju, sepatu, sandal sebanyak ini? Dan kamu juga membelikanku sebuah ponsel baru. Itu semua uang dari mana Bang?"


Bhumi sedikit tersenyum tipis. Ia meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya. "Kamu tidak perlu banyak bertanya bagaimana bisa aku membelikanmu barang-barang ini. Jadi, kamu tinggal menerima dan memakainya saja."


Sorot mata Dewi kembali tajam memindai ekspresi wajah Bhumi. Ia mencoba mencari tahu akan sesuatu yang disembunyikan oleh lelaki ini.


"Apakah bang Bhumi ini merupakan salah satu afiliator binomo? Yang bisa kaya mendadak dalam waktu singkat?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Bhumi tersedak daging bakso yang baru saja berjalan memenuhi kerongkongan. Mata lelaki itu sedikit terbelalak dan segera meraih jus jeruk yang ada di hadapan. Ia teguk cepat-cepat minuman menyegarkan ini.


"Afiliator binomo? Kamu bercanda? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang afiliator binomo jika ponsel yang aku gunakan saja ponsel zaman baheula?"


"Lalu, jika tidak menjadi afiliator binomo seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan, dari mana bang Bhumi bisa membelanjakan aku belanjaan sebanyak ini?"


Bhumi hanya bisa menghela napas perlahan. Nampaknya wanita di depannya ini begitu penasaran. Namun, sebisa mungkin, Bhumi mencoba untuk tidak mengungkapkan. Bahwa sejatinya, ia merupakan salah satu anak dan cucu dari keluarga terpandang.


"Sebelum bertemu denganmu, aku lebih dulu mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan cara perfom di beberapa tempat. Dari sana lah, aku mengumpulkan uang untuk bisa menjadi tabungan."


Bhumi tidak sepenuhnya berbohong karena pada dasarnya ia sempat tampil dari kafe ke kafe sebelum bertemu dengan Dewi. Sedangkan alasannya menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya, itu semua karena ia ingin melihat seperti apakah Dewi ini. Apakah ia benar-benar tulus berteman atau sama saja dengan orang-orang yang pernah dekatnya. Di mana mereka lebih cenderung berteman karena background keluarga yang ia miliki. Seperti inilah cara Bhumi melihat ketulusan hati Dewi.


"Abang yakin? Maksudku, tidak ada sesuatu yang Abang sembunyikan bukan?"


Bhumi mengulas sedikit senyum yang ia miliki. "Aku tidak pernah memaksamu untuk percaya kepadaku. Namun satu hal yang harus aku tekankan, bahwa uang yang aku gunakan untuk membelikanmu barang-barang ini merupakan uang halal."


"Maafkan aku ya Bang karena sudah berprasangka buruk terhadapmu. Aku merasa heran saja mengapa Bang Bhumi bisa memiliki uang sebanyak ini."


"Sudahlah. Segera habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang. Ingat ya, malam ini kita akan perform di salah satu kafe yang berada di kota ini."


"Siap Bang!"


Pada akhirnya, Dewi mencoba untuk memangkas segala pertanyaan yang berkeliaran di hati dan pikiran. Setelah mendengarkan penjelasan dari Bhumi, setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang. Dan ia juga sadar akan satu hal, bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan selain percaya dengan semua kata yang terlisan dari bibir lelaki ini.


Dewi meraih sendok dan garpu yang sebelumnya ia abaikan. Ia nikmati kembali menu bakso rusuk yang begitu menggugah selera. Dan perlahan, kenikmatan khas tulang rusuk yang ada di dalam menu ini mulai memanjakan lidahnya.

__ADS_1


***


Prang.. Prang... Prang....!!!!


"Aaarrgghhhh .... kalian memang tidak becus dalam bekerja. Lihatlah, nenek tua itu kembali pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun. Aku benar-benar telah rugi karena telah membayar mahal kalian!"


Beberapa botol minuman beralkohol, di lemparkan ke sembarang arah oleh seorang wanita berusia paruh baya. Botol-botol itu pecah, berserakan memenuhi lantai sebuah gudang tua di mana menjadi tempat menyusun rencana. Jika tidak berhati-hati, pastilah pecahan-pecahan botol ini akan mengenai telapak kaki hingga membuatnya berdarah dan terasa begitu menyiksa.


"Kami benar-benar minta maaf Nyonya. Ini semua berada di luar prediksi kami. Karena setahu kami, kami sudah membuang nyonya Kartika dalam keadaan sekarat. Kami dapat memastikan jika nyonya Kartika meregang nyawa pada saat itu juga."


"Cih, alasan kalian saja. Pada kenyataannya si tua bangka itu bisa pulang ke rumah tanpa lecet sedikitpun. Dan kalian memaksaku untuk percaya bahwa kalian sudah melakukan pekerjaan ini dengan sempurna? Kalian benar-benar mengada-ada!"


Para bodyguard itu hanya bisa saling melirik satu sama lain. Mereka seakan khawatir jika sang bos akan melakukan hal yang jauh lebih parah dari sekedar memecahkan botol-botol minuman beralkohol ini.


"Sekali lagi, kami mohon maaf Nyonya. Apa yang harus kami lakukan agar Nyonya tidak murka seperti ini?"


Wanita paruh baya yang sebelumnya berdiri tegap di hadapan para bodyguard, kini ia putar tumitnya untuk menuju sebuah kursi roda ergonomis yang berada di tempat ini. Ia nampak memutar otak sembari memijit-mijit pelipisnya untuk membuat rencana lain yang jauh lebih matang dan sempurna. Tak selang lama, senyum seringai terbit di bibir berpoles lipstik dengan warna merah menyala itu.


"Jika kalian gagal menghabisi nyawa nenek tua itu, aku akan memberikan tugas yang lain untuk kalian."


"Apa itu Nyonya? Kami pasti akan mengerjakannya sebaik mungkin."


"Cari keberadaan Arga dan habisi nyawanya! Posisi putraku tidak akan pernah aman jika Arga belum enyah dari muka dunia ini!"


"Baik Nyonya, kami akan melaksanakan tugas ini sebaik mungkin."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tertawa terbahak hingga menggema memenuhi langit-langit ruangan. Pandangannya nampak menerawang dan larut dalam pikiran.


Sudah sejauh ini semua hal yang telah aku lakukan. Akan sia-sia jika aku harus berhenti di pertengahan jalan. Jika nyawa nenek tua itu sulit untuk aku habisi, aku rasa tidak dengan nyawa cucu kesayangannya. Hahahaha...


__ADS_2