Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 57. Magatra Tiba di Ibu Kota


__ADS_3

Hiruk pikuk keramaian kota mulai terasa. Menemani laju mobil tipe MPV berwarna putih itu membelah jalanan ibu kota. Kuda-kuda besi nampak berjalan lambat untuk bisa terbebas dari kemacetan yang ada. Suara klakson yang bersahutan pun seakan menegaskan bahwa sang pengendara sudah tidak sabar dibuatnya.


Inilah potret ibu kota di jam pulang kerja seperti ini. Semua pengendara seakan dikuasai oleh rasa mau menang sendiri untuk bisa segera keluar dari belenggu di sore hari. Belenggu yang menjebak mereka dalam kemacetan yang tidak terkendali.


Inilah Jakarta. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa kota ini masyhur dengan segala kemacetannya. Namun, Jakarta tetaplah Jakarta. Kota tujuan mengadu nasib untuk bisa memperbaiki taraf hidup orang-orang yang berasal dari pelosok negara.


Beberapa pasang mata itu menatap takjub gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Bahkan kelopak mata mereka tak berkedip sama sekali. Terpukau akan segala pemandangan yang tersaji.


"Jakarta .... i'm coming!!!" teriak Adelia yang sukses membuat para penumpang mobil ini menoleh ke arah wanita itu.


Langit yang berada di balik kemudi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak lirih. "Kamu itu kenapa sih Del, pakai teriak-teriak segala?"


"Iya nih, seperti baru pertama kali saja datang ke Jakarta," timpal Anki yang sedikit terusik dengan teriakan Adelia.


Adelia memandang sinis wajah-wajah orang yang dirasa mencibirnya ini. "Hei... kalian jangan sok-sokan seperti orang kota ya. Aku juga yakin kalau hari ini juga kali pertama kalian menginjakkan kaki di Jakarta. Jadi kalian itu juga sama sepertiku!"


"Meski ini juga merupakan pertama kali kami menginjakkan kaki di Jakarta, namun setidaknya kami tidak se-norak kamu Del. Kami jauh lebih kalem daripada kamu yang nampak heboh sendiri seperti itu."


Sembari mengusap wajahnya dengan toner untuk memberikan kesan segar, Amara ikut menimpali perkataan teman duetnya ini. Ia tidak menyangka jika temannya ini norak sekali. Ia sampai membayangkan jika keberadaan teman duetnya ini justru akan mempermalukan nama Magatra ketika audisi nanti.


"Halah ... kalem apa Ra? Kalem-kalem pada akhirnya nanti juga akan terlihat aslinya. Lagipula, kita harus memiliki ciri khas yang berbeda dari para peserta audisi yang lainnya. Seharusnya kita memiliki ciri khas sendiri. Contohnya ya seperti ini. Kita harus powerfull dan juga aktif. Masa calon bintang hanya diam-diam saja? Tidak asyik itu namanya."

__ADS_1


Tidak ingin kalah dengan apa yang diucapkan oleh Amara, lagi-lagi Adelia memberikan argumentasinya. Ia merasa bahwa apa yang telah dilakukannya bukanlah hal yang memalukan.


"Ah iya Lang, apa benar yang mengadakan audisi ini label rekaman yang mengorbitkan Dewi?"


Satya yang sedari tadi nampak hening, mulai angkat bicara. Sejauh ini, ia juga sering mengikuti perkembangan berita tentang Dewi. Namun ia masih kurang paham akan label rekaman yang mengorbitkan nama salah satu mantan vokalis Magatra itu.


"Itu benar Sat. Dewi rekaman melalui Svarga record. Meski baru di industri rekaman, namun Svarga record bisa mengorbitkan Dewi secepat itu. Itu artinya Svarga record bukanlah label rekaman kaleng-kaleng."


Masih berusaha untuk membuang jenuh akan kemacetan jalan, Langit menjawab pertanyaan salah satu personil Magatra ini sembari memainkan benda pipih yang ada di dalam genggaman tangannya. Sedari tadi, lelaki itu sibuk stalking di instagramnya milik Dewi. Ia berupaya keras untuk mendapatkan petunjuk tentang seseorang yang tengah menjalin hubungan dengan Dewi, namun tidak ia temukan. Keadaan itulah yang semakin membuat Langit percaya bahwa Dewi memang tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun. Dan lelaki yang pernah viral di awal-awal kemunculan Dewi di dunia hiburan, dapat ia pastikan itu semua hanya gimmick dan settingan semata.


"Aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Dewi, Lang. Bagaimana ya respon Dewi saat melihat kita ada di kota ini untuk mengikuti jejaknya? Aku tidak menyangka jika salah satu mantan vokalis Magatra bisa sukses mengambil jalan untuk bersolo karier. Dan Dewi saat ini menjelma menjadi wanita yang sangat cantik. Ia benar-benar membuktikan bahwa ia bisa terkenal dengan usahanya sendiri. Aahhhh .. seandainya saja saat itu Dewi tidak hengkang dari Magatra, mungkin saat ini nama Magatra sudah terkenal sampai ke pelosok negeri."


Satya berbicara panjang lebar untuk sekilas flashback ke masa-masa Dewi masih menjadi vokalis Magatra. Dengan tatapan menerawang, ia mencobanya untuk mengenang sosok Dewi. Salah seorang wanita yang pernah ia kenal, yang memiliki akhlak begitu baik. Meski pada saat itu fisik Dewi tidaklah sempurna, namun wanita itu selalu berupaya profesional dalam bekerja. Ia selalu saja tampil percaya diri ketika berada di atas panggung. Meski terkadang banyak mulut-mulut jahat yang merendahkannya.


Amara masih merasa tidak rela jika salah satu rival terberatnya di Magatra dipuja dan dipuji tiada henti seperti ini. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak jika mendengar Dewi begitu dielu-elukan sedangkan dirinya tidak. Terlebih tiga bulan terakhir wajah Dewi yang semakin cantik dan bersinar berseliweran di layar kaca. Hal itulah yang membuat Amara semakin dilukai harga dirinya.


"Kamu jangan berbicara asal Ra. Perihal teknik vokal, Dewi jauh lebih baik dan lebih matang daripada kamu. Mana bisa kamu samakan seperti itu?"


Anki tidak sependapat dengan apa yang dilontarkan oleh Amara. Ia merasa wanita ini terlalu mengada-ada jika sampai menyamakan kualitas suaranya dengan Dewi. Padahal, suara keduanya jauh berbeda. Tidak bisa disamakan sama sekali.


"Omong kosong macam apa itu Ki? Kamu tahu bukan, selama kita manggung, aku dan Amara yang banyak mendapatkan uang saweran? Itu artinya suara yang aku miliki dan Amara jauh lebih bagus daripada Dewi. Kamu jangan coba-coba untuk menutup mata perkara itu," timbrung Adelia yang juga tidak terima jika Anki beranggapan bahwa Dewi memiliki teknik vokal yang jauh lebih baik.

__ADS_1


"Ceh, uang saweran tidak dapat kamu jadikan parameter untuk menilai teknik vokal seseorang Del. Jelas saja uang saweran yang kamu dan Amara dapatkan jauh lebih banyak daripada Dewi. Itu semua karena aksi kalian di atas panggung terbilang sangat berani," papar Anki dengan nada tinggi.


Dahi Adelia sedikit mengerut. "Apa maksud ucapanmu itu Ki? Aksi panggung berani seperti apa yang kamu maksud?"


Anki tersenyum sinis. Akhir-akhir ini ia baru paham bahwa ternyata ada sikap kurang elok yang dilakukan oleh dua penyanyi itu.


"Bagaimana tidak mendapatkan saweran banyak jika kalian membiarkan aset-aset berharga yang ada di dalam tubuh kalian dijamah oleh para penonton yang memberikan saweran? Dan pakaian minim yang kalian kenakan semakin membuat mata para penonton jelalatan sampai berani menyawer kalian dalam nominal yang besar. Ternyata aksi panggung Dewi jauh lebih baik dan sopan daripada kalian."


"Tidak usah sok suci kamu Ki. Ini dunia hiburan, jadi hal itu sudah sangat wajar. Lagipula apa yang aku dan Amara lakukan yang membuat grup musik kita bertahan dan bernilai jual tinggi. Ingat kamu Ki, Magatra bukan apa-apa jika tidak ada aku dan juga Adelia. Camkan itu baik-baik," geram Adelia dengan kedua bola mata yang sedikit melotot.


Langit yang mendengarkan pertikaian antar personilnya ini hanya bisa membuang napas kasar. Kemacetan jalan, pertikaian antar personil dengan suara lantang seakan membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri. Pusing tujuh keliling.


Satu jam berada di dalam kemacetan, pada akhirnya mobil yang ia kemudikan ini dapat keluar dari situasi ini. Ia arahkan laju mobilnya untuk menuju sebuah kontrakan yang akan menjadi tempat tinggal selama berada di ibu kota. Pastinya, letak kontrakan itu tidak terlalu jauh dari Svarga record.


.


.


.


Hari Senin datang lagi Kakak.. Jangan lupa Vote nya yah

__ADS_1


Salam love, love, love😘😘😘


__ADS_2