Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 30. Jodoh Masa Kecil?


__ADS_3


Sorot mata tajam tiada henti membidik tubuh seorang laki-laki yang tengah kalap memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam keranjang belanja. Dari cara lelaki itu memasukkan pakaian tanpa melihat label harga yang tertera, seakan menunjukkan jika lelaki itu orang berpunya. Ia memasukkan beberapa potong pakaian sudah seperti memasukkan camilan saja. Ia seolah tidak perduli berapa banyak nominal uang yang harus ia keluarkan.


Dua jam lebih Dewi dan Bhumi mengelilingi salah satu pusat perbelanjaan yang berada di kota ini. Satu per satu outlet pakaian mereka masuki. Hasil dari perburuan outlet-outlet ini, entah sudah berapa banyak pakaian yang mereka beli. Dan seketika memunculkan sebuah tanda besar di hati Dewi.


"Sudah? Kalau sudah mari kita ke kasir!"


Setelah puas dengan beberapa potong pakaian yang masuk ke dalam keranjang, Bhumi mengajak Dewi untuk segera membayar belanjaan mereka. Dewi sedikit terkesiap dan hanya bisa menganggukkan kepala.


"Sudah Bang. Ini belanjaanku!"


Sekilas, Bhumi melihat pakaian-pakaian yang masuk ke dalam keranjang pakaian yang dibawa oleh Dewi. Lelaki itu hanya bisa berdecak lirih karena hanya tiga potong pakaian saja yang dimasukkan oleh wanita ini.


"Mengapa hanya tiga potong? Dan ini mengapa celana dan t-shirt lagi yang kamu ambil? Coba ambil yang lain!"


"Tapi Bang...."


"Ssstttt ... diam! Jangan banyak protes!"


Bhumi seakan memberikan sebuah titah tiada terbantah di hadapan Dewi. Manik mata lelaki itu mengedar seperti seseorang yang sedang sibuk mencari.


"Mbak, kemarilah!"


Bhumi sedikit berteriak, memanggil salah seorang SPG yang berada di outlet pakaian ini. Tak selang lama, seorang SPG berparas cantik dengan tinggi semampai mendekat ke arah Bhumi.


"Iya Kak, ada yang bisa saya bantu?"


"Mbak, tolong carikan beberapa potong dress yang cocok untuk wanita ini. Pilihkan model pakaian yang pas dengan postur tubuhnya."


Sang SPG menatap lekat tubuh Dewi yang berdiri di sisi. SPG itu hanya tersenyum penuh arti. "Kebetulan sekali, brand kami sedang launching beberapa model dress dari bahan siffon khusus untuk wanita yang memiliki postur tubuh seperti Kakak ini. Saya rasa akan cocok sekali dengan tubuh Kakak. Mari ikut saya."

__ADS_1


SPG itu perlahan mengayunkan tungkai kaki untuk mengajak Dewi. Wanita itu hanya bisa terperangah tiada henti. Sebelum mengikuti jejak sang SPG, Dewi lebih dulu merapatkan tubuhnya ke arah Bhumi. Wanita inipun lirih berbisik.


"Pssssttt ... Bang, bagaimana caranya aku bisa membayar belanjaanku ini? Uang yang aku bawa sudah menipis Bang?"


Wajah Dewi nampak dipenuhi oleh gurat-gurat kecemasan. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana malunya ia ketika uang yang ia bawa kurang untuk membayar pakaian yang sudah masuk ke dalam keranjang. Bisa jadi, di depan umum ia akan dipermalukan.


Lagi-lagi Bhumi hanya menggelengkan kepala. Selalu saja ada drama seperti ini yang terjadi di depan mata. Di mana Dewi selalu meributkan perkara nominal belanja.


"Sudah, ikuti SPG itu. Pilihlah beberapa potong dress yang kamu suka. Tidak perlu kamu pikirkan bagaimana cara kamu membayar."


"Tapi Bang....?"


"Aku tidak menerima sebuah bantahan!"


Bibir Dewi hanya bisa mencebik jika Bhumi sudah memberikan ultimatum seperti ini. Ia sampai bingung sendiri ekspresi seperti apa yang harus ia tampakkan. Haruskah ia berbahagia? Atau merasa tidak enak hati? Namun, jika mendengar ultimatum dari Bhumi, seakan menjadikan Dewi sebagai seseorang yang tengah mendapatkan durian runtuh. Ia bertekad akan memanfaatkan kesempatan ini.


Tuhan... aku anggap ini semua rezeki yang Engkau berikan. Jika aku ikut kalap belanja, jangan salahkan aku ya.. Aku hanya mengikuti kemauan Bang Bhumi. Hihihihi...


***


Masih duduk di balkon kamar sembari menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi, Kartika menghabiskan waktunya di siang hari ini. Jika sebelumnya ia ditemani oleh sang putra, kini pengawal pribadinya lah yang menemani. Pada kesempatan ini, Kartika menanyakan perihal keberadaan seorang gadis yang berhasil mengusik pikiran dan hati.


"Baru beberapa informasi yang bisa saya kumpulkan, Nyonya."


"Benarkah? Informasi apa itu?"


"Wanita yang menolong Nyonya, ternyata sempat pergi ke pegadaian sebelum membayar biaya administrasi yang harus ia bayarkan sebagai jaminan."


Dahi Kartika sedikit mengernyit. "Apa? Dia pergi ke pegadaian? Apakah mungkin dia menggadaikan barang berharga yang ia punya untuk membayar biaya administrasi?"


Hans menganggukkan kepala. Lelaki itu juga berpikir hal yang sama dengan sang nyonya. "Saya juga berpikir seperti itu, Nyonya. Ada barang berharga yang dimiliki oleh wanita itu yang ia jual atau ia gadaikan."

__ADS_1


"Lalu, apakah kamu sudah berhasil menemukan barang apa yang digadaikan oleh gadis itu?"


"Belum Nyonya. Hari ini merupakan hari Minggu, sehingga pegadaian yang berada di sekitar rumah sakit libur. Saya baru berencana esok hari pergi ke pegadaian itu."


"Bagus Hans. Aku benar-benar puas dengan cara kerjamu. Seandainya saja aku belum terikat janji dengan salah satu sahabatku untuk menjodohkan cucu-cucu kita, pastinya aku akan menjodohkan gadis penyelamat nyawaku itu dengan Bhumi."


Hans sedikit terperangah. Ada satu hal yang baru ia ketahui perihal cucu kesayangan Kartika ini. "Jadi, tuan muda Arga sejak kecil sudah dijodohkan, Nyonya?"


Kartika menganggukkan kepala. "Iya Hans. Dia sudah aku jodohkan dengan cucu dari sahabatku."


"Lalu, di mana sahabat Nyonya saat ini?"


Tiba-tiba saja Kartika membuang napas sedikit kasar. Pandangannya tiba-tiba menerawang. "Itulah yang menjadi beban pikiranku Hans. Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaan sahabatku itu. Entah ia masih hidup atau sudah tiada."


Hans bahkan sampai memijit-mijit pelipisnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Kartika perihal bagaimana caranya ia dapat bertemu dengan sahabat lamanya itu. Hans sampai berpikir jika sebentar lagi akan ada tugas khusus yang diberikan oleh Kartika selain mencari Arga dan si gadis penyelamat nyawa. Yakni ditambah dengan mencari keberadaan sahabat lama Kartika.


"Lalu, bagaimana caranya Nyonya bisa mempertemukan tuan muda Arga dengan jodohnya?"


Kartika mengendikkan bahu. "Aku juga tidak mengerti Hans. Sepertinya hal yang mustahil aku bisa bertemu dengan sahabat lamaku itu. Namun, aku masih memegang satu petunjuk yang aku yakini bisa mempertemukanku dengan cucu dari sahabat lamaku itu."


"Petunjuk? Petunjuk apa Nyonya?"


"Tolong bawa kemari kotak kayu yang aku simpan di dalam laci nakas Hans!"


Dengan patuh, Hans mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah nakas. Ia buka laci dan segera ia bawa kotak kayu yang dimaksud oleh Kartika. Ia pun menyerahkan kotak itu kepada sang Nyonya.


Perlahan, Kartika membuka kotak kayu yang sudah lama ia simpan dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia ambil sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk hati dan ia tatap lekat-lekat dengan wajah berbinar.


"Ini merupakan kalung yang akan menjadi pengikat antara cucuku dengan cucu sahabat lamaku. Dulu ia pernah mengatakan bahwa cucunya akan selalu memakai kalung seperti yang aku simpan ini. Meski peluang untuk bertemu dengan cucu sahabat lamaku ini sangatlah kecil, namun entah mengapa aku merasa bahwa orang itu berada di dekat sini, Hans."


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Nah... semua pertanyaan sudah terjawab kan Kak? Perihal Bhumi, Kartika dan kalung yang dimiliki oleh Dewi?? Hihihihi hihihihi 😂😂😂 Lalu?? Apakah kalung yang dimiliki oleh Dewi yang kebetulan ada di pegadaian bisa kembali?


Tetap ikuti kelanjutan ceritanya ya Kak😘😘😘


__ADS_2