Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 49. Pindah


__ADS_3


Dewi dan Bhumi mengambil langkah kaki lebar untuk dapat segera tiba di tempat yang dikabarkan menjadi tempat terjadinya kecelakaan. Kecelakaan yang melibatkan Sita dengan entah siapa yang pastinya membuat dua orang itu merasakan kecemasan. Dalam langkah kakinya, mereka menunjukkan pinta, semoga nyawa gadis itu terselamatkan.


Beberapa orang terlihat berkerumun memenuhi bahu jalan. Netra Bhumi dan Dewi sama-sama membulat sempurna di kala dari kejauhan melihat bercak-bercak da*rah segar berceceran. Pemandangan itulah yang membuat tulang belulang dalam tubuh seakan diremukkan.


"Sita!!!"


Dewi menerobos kerumunan agar bisa segera melihat keadaan gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri itu. Dadanya sudah bergemuruh dan air matanya sudah mengalir deras membasahi wajah sejak ia mendengar kabar bahwa Sita mengalami kecelakaan. Dan kali ini, ia benar-benar ingin memastikan keadaan gadis itu dengan mata kepalanya sendiri.


Dewi tertegun saat pandangannya terhenti pada sosok gadis kecil yang tengah menangis tersedu-sedu sembari memeluk tubuh seorang wanita yang tengah tergeletak dengan ditutupi oleh selembar kain. Tubuh wanita itu bersimbah da*rah seakan menjadi tanda bahwa kecelakaan ini memang kecelakaan maut yang tak terhindarkan.


"Sita?"


Gadis kecil yang ternyata Sita itu menoleh ke arah sumber suara. "Kak Dewi!"


Tak mampu lagi menahan segala rasa sesak dalam dada, Dewi ikut berjongkok di samping gadis itu. Ia pun merengkuh tubuh kecil Sita untuk kemudian ia bawa ke dalam dekapannya.


"Sita... kamu baik-baik saja? Tidak ada sesuatu yang menimpamu bukan?"


"Ibu Kak ... ibu Sita ..."


Tidak ada lagi yang keluar dari bibir Sita selain suara tangis yang terdengar menyayat hati. Gadis itu meraung seakan menumpahkan segala kesedihan dan kehancuran yang ia alami. Dan ia pun hanya bisa memeluk erat tubuh Dewi.


Mendengar Sita mengucap kata ibu, Dewi sudah paham bahwa yang mengalami kecelakaan maut ini bukanlah Sita, namun sang ibu. Meski hatinya turut merasakan kesedihan yang dialami oleh gadis ini, namun ia sedikit lega karena Sita dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang satu apapun. Ia pun hanya bisa terus memberikan ketenangan untuk gadis ini melalui hangatnya dekapan yang ia berikan.


"Sita yang sabar ya ... ini semua sudah merupakan takdir Tuhan. Sita harus mengikhlaskan ibu."


Gadis kecil itu tetap membisu. Napasnya juga nampak tersengal-sengal seperti menahan sesuatu yang menghimpit dada.


"Dew..."


Dewi mendongak. Nampak Bhumi mendekat ke arahnya.


"Bang, apakah jenazah harus dibawa ke rumah sakit dahulu?"

__ADS_1


Bhumi menganggukkan kepala. "Iya Dew, biarkan jenazah dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk disucikan. Setelah itu baru dimakamkan."


"Lalu, bagaimana dengan pengendara motor yang menabrak ibu Sita Bang?"


"Pengemudi motor juga meninggal karena terpelanting hingga beberapa meter di depan. Dan keluarganya pun juga sudah mengurus jenazahnya."


Bhumi mencondongkan tubuhnya di hadapan orang-orang yang berkerumun ini. "Bapak-Bapak, tolong segera dipersiapkan liang lahat untuk ibunda Sita. Setelah dari rumah sakit, langsung kita kebumikan saja, mengingat tidak ada anggota keluarga yang ditunggu."


Orang-orang itu mengangguk patuh. Sedangkan Bhumi ikut berjongkok di dekat Sita dan juga Dewi. Lelaki itupun juga turut memeluk tubuh Sita.


"Kamu yang sabar ya Ta. Ikhlaskan kepergian ibu. Sekarang kita pulang untuk mengurus jenazah ibu."


"Bang Bhumi .... Sita sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Sita sendirian Bang...!!!"


Bak tersayat sembilu, jantung Bhumi turut berdenyut nyeri. Apa yang dialami oleh Sita, sama persis dengan apa yang ia alami di masa kecil. Sama-sama ditinggal pergi oleh sosok seorang ibu dalam tragedi kecelakaan maut.


"Sita harus sabar. Biarkan ibu pergi dengan tenang. Setelah ini, Sita tinggal bersama bang Bhumi dan juga kak Dewi, ya. Jadi selamanya Sita tidak akan pernah merasa sendiri."


Tiga orang itu bangkit dari posisinya. Kini mereka berdiri dengan saling berpelukan untuk saling menguatkan. Tak selang lama, sebuah mobil ambulans tiba dan segera mengevakuasi jenazah ibunda Sita.


***


Sita, gadis kecil itu masih terlihat berselimut duka. Kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki, membuatnya seperti kehilangan separuh nyawa. Sejak acara pemakaman, gadis itu tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan benar. Pandangannya nampak kosong dan menerawang ke luar jendela.


"Sita ... sudah ya. Sita jangan terus-terusan seperti ini. Jika seperti ini, Sita pasti bisa sakit."


"Sita merindukan Ibu, Kak. Andai saja Sita bisa menjaga ibu dengan baik, pasti ibu tidak akan tertabrak motor. Ini semua salah Sita, Kak."


Lelehan air mata itu kembali mengalir deras menyusuri tiap sudut wajah Sita yang nampak sayu. Ia seperti tengah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sang ibu dengan baik. Dan memilih untuk menenggelamkan dirinya ke dalam rasa bersalah itu.


"Ssssttt ... Sita tidak boleh berbicara seperti itu. Ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan, jadi ini semua bukan kesalahan Sita. Sita harus bisa menerima keadaan ya. Ibu pasti sudah tenang berada di sisi Tuhan."


Dewi kembali menguatkan jiwa Sita yang tengah terguncang. Ia memeluk tubuh gadis ini dengan erat. Ia usap punggung dan pucuk kepalanya dengan penuh sayang. Kehilangan seseorang yang paling dicintai, sungguh membuat gadis kecil ini kehilangan pijakan kakinya.


"Setelah ini Sita harus bagaimana Kak? Sita hidup sebatang kara. Tidak memiliki keluarga."

__ADS_1


Dewi tersenyum simpul. Ternyata gadis ini takut hidup sendiri tanpa ada keluarga yang menemani. "Sita tidak perlu khawatir. Sita ingat bukan dengan apa yang diucapkan oleh bang Bhumi? Hari ini Sita dan kak Dewi akan pindah ke rumah bang Bhumi. Itu artinya Sita tidak hidup sebatang kara karena Dewi dan bang Bhumi adalah keluarga Sita."


Sita sedikit terhenyak. Ia renggangkan pelukannya dari tubuh Dewi. "Maksud kak Dewi apa? Memang kita akan pindah ke rumah bang Bhumi yang hanya berjarak sedikit dari rumah Sita ini?"


"Bukan, Sita. Kita akan pindah ke rumah bang Bhumi yang sebenarnya. Bukan di sini lagi."


Sita mencerna ucapan Dewi. Ia yang sebelumnya merasa khawatir akan hidup sendiri pada kenyataannya ada sedikit kebahagiaan yang mengaliri. Air muka gadis itu sedikit berubah. Binar kebahagiaan nampak jelas di raut wajahnya.


"Sudah ya, sekarang Sita tidak boleh bersedih lagi. Sita harus semangat untuk hidup di dunia ini. Jadilah Sita yang kuat dan tangguh, sehingga bisa membuat almarhum ibu berbahagia."


Derap langkah kaki seseorang terdengar mengalun lirih di indera pendengaran Sita dan juga Dewi. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihat, Bhumi dengan pakaian sedikit basah masuk ke dalam rumah ini.


"Bang, kamu hujan-hujanan?"


Sembari menggelengkan kepala, Bhumi tersenyum tipis. "Tidak Dew. Aku memakai jaket untuk menutupi kepalaku kok."


"Mengapa tidak nunggu reda dulu sih Bang?"


"Sudah reda Dew, hanya tinggal rintik gerimisnya saja. Oh iya, apakah kalian semua sudah siap? Jika sudah siap, ayo kita berangkat. Aku sudah meminta Hans untuk menjemput kita."


Dewi memberikan sebuah isyarat kepada Bhumi dengan melirik ke arah Sita. Lirikan mata Dewi itu seakan berbicara agar lelaki ini ikut menenangkan hati Sita. Paham dengan maksud yang tersirat, Bhumi membawa tubuhnya untuk lebih dekat dengan Sita dan ia usap lembut pucuk kepala gadis kecil ini.


"Sita tidak ingin membuat ibu sedih bukan?"


Sita menggeleng pelan. "Tidak Bang, Sita ingin membuat ibu selalu bahagia."


"Jika Sita tidak ingin membuat ibu sedih, maka Sita juga tidak boleh terus menerus bersedih hati. Mulai hari ini, Sita harus lebih bersemangat untuk bisa membuat ibu tersenyum bahagia di surga."


"Tapi...."


"Sudah ya Sayang. Jangan diucapkan lagi. Sekarang kita bersiap-siap ya. Setelah ini, Sita akan kembali mendapatkan keluarga yang utuh bahkan jauh lebih ramai daripada di sini. Jadi, selamanya Sita tidak akan pernah sendiri."


Pada akhirnya, gadis itu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Bhumi. Tidak ada yang ia bawa dari rumah ini. Ia hanya membawa tubuhnya saja, karena Bhumi sudah mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Sita.


Hujan benar-benar telah reda. Ketiga orang itu melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah ini. Tiba di depan pintu, Dewi menghentikan sejenak langkah kakinya. Ia tatap lekat bangunan ini dengan tatapan sulit terbaca.

__ADS_1


Mendadak hatinya diselimuti oleh keharuan. Matanya memanas dan meloloskan bulir bening dari sana. Wanita itu tersenyum getir kala menatap lekat bangunan dari triplek ini.


Selamat tinggal rumahku... Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyingkirkanmu dari memoriku. Karena kamu adalah tempat pertama yang menampungku di kala raga ini tidak memiliki tempat untuk berteduh.


__ADS_2