Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 69. Tragedi


__ADS_3

Sinar lembut sangat rembulan terpantul melalui kaca mobil yang tengah melaju membelah jalanan yang nampak begitu sepi. Di sisi kanan kirinya hanya terdapat barisan pohon-pohon pinus dan cemara, yang menjadi tanda bahwa mereka tengah berada di kawasan dataran tinggi.


"Jika seperti ini bukankah kita sudah seperti presiden dan istrinya?"


Sembari melajukan mobilnya, Bhumi membuka obrolan dengan Dewi. Di waktu-waktu seperti ini, ia khawatir akan dilanda oleh rasa kantuk yang mendera jika tidak membuka obrolan dengan sang kekasih.


Dewi yang sudah terlihat sangat lelah dan mengantuk sekali, mencoba memaksakan diri untuk tetap terjaga. Tidak ingin jika Bhumi hanya sendirian melintas jalanan sepi ini.


Sejenak, Dewi menyimpan gawainya ke dalam tas yang ia bawa. Ia tautkan pandangannya ke arah Bhumi. "Mengapa bisa seperti itu Bang? Memang presiden sering keluar malam seperti ini ya?"


Bhumi tergelak mendengar jawaban dari Dewi, pasalnya bukan hal itu yang ia maksud. "Bukan seperti itu maksudku, Dew."


"Lalu, maksud bang Bhumi bagaimana?"


"Maksudku, di jalanan ini hanya ada mobil kita yang melintas. Aku merasa seperti seorang presiden karena bisa terhindar dari jalanan yang padat, macet dan dipenuhi oleh kebisingan. Aku merasa istimewa sekali bisa melajukan mobil di jalanan ini," terang Bhumi masih fokus dengan kemudinya.


"Hahaha hahaha kamu ini ada-ada saja Bang. Bagaimana bisa kamu menyamakan dirimu dengan presiden meski bisa menguasai jalanan sepi seperti ini. Kalau presiden bukankah ada paspampres yang mengiringi? Kalau kita apa yang mengiringi? Mungkin om gendru sama mbak kunti!" ucap Dewi dengan gelak tawa yang membahana.


Seperti terkena aliran listrik, Bhumi juga ikut tertawa mendengar perkataan sang kekasih ini. "Benar juga ya. Jangan-jangan sedari tadi om gendru dan mbak kunti ada di sekeliling kita."


"Hahaha tapi, pantas juga sih kalau Abang jadi presiden..." tutur Dewi menggantung.


"Iyakah?"


"Ya," jawabnya sambil menatap lekat manik mata Bhumi, "presiden rumah tangga, maksudku."


Bhumi hanya terkekeh geli mendengar celotehan ini. Seperti biasa, ia acak rambut Dewi yang selalu saja bisa membuat Dewi merasa begitu dicintai.


Mobil masih melaju membelah kegelapan malam. Nuansa yang temaram tidak membuat rasa takut itu bergelayut, namun justru suasana syahdu yang terasa. Keduanya masih hanyut di dalam obrolan hangat sampai ke mana-mana


"Mobil di belakang kita sepertinya sedari tadi mengikuti kita!"


Sorot lampu mobil yang terpantul melalui spion, membuat Bhumi sedikit terusik. Ia merasa sudah sejak keluar dari tempat acara manggung tadi mobil itu membuntuti. Bhumi mencoba berpikir positif, mungkin hanya jalanan ini yang bisa dilewati untuk bisa sampai ke kota.


Dewi turut menoleh ke arah belakang. "Benar juga ya Bang. Apakah mereka orang jahat?"


Bhumi mengedikkan bahu. "Entahlah Dew, namun jika dia orang baik, seharusnya dia bisa mendahului kita bukan? Namun sedari tadi mereka ada di belakang kita."


"Benar juga ya Bang, lalu saat ini kita harus bagaimana Bang?"

__ADS_1


Bhumi mencoba menambah laju kecepatan mobil yang ia kemudikan, berupaya untuk menghindar. Hal itu justru membuat mobil yang berada di belakangnya juga turut menambah kecepatannya. Hingga mobii itupun berhasil sejajar dengan mobil yang dikendarai olehnya.


Dewi terkejut saat melihat kepala seseorang yang ia kenal menyembul dari balik kaca. "Bang, itu Gilang!"


Bhumi ikut menoleh ke arah samping. Tak jauh berbeda dengan Dewi, lelaki itu juga ikut terkejut dengan keberadaan Gilang. Gegas, ia turunkan kaca.


"Apa yang kamu lakukan di sini Lang?"


"Kak Arga, pelankan laju kendaraanmu. Rem kak Arga blong!"


Bhumi dan Dewi sama-sama terkejut dengan berita yang dibawa oleh Gilang. Bhumi segera menginjak pedal rem mobilnya. Kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna di kala rem mobil yang ia kemudikan sama sekali tidak berfungsi.


"Bang ... ini bagaimana Bang? Jika seperti ini bisa berbahaya," ucap Dewi yang mulai sedikit panik.


Meskipun juga dilanda oleh rasa panik, namun Bhumi mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak ingin jika sampai membuat Dewi bertambah panik. "Tenang Dew, kita pasti akan baik-baik saja."


"Aku belum bertemu dengan ibu dan adikku. Dan kita pun juga belum jadi menikah Bang. Masa iya, kita akan langsung menghadap Tuhan?"


Berada di dalam situasi yang tegang, Dewi justru berceloteh asal. Namun ucapan Dewi ini malah terasa menggelitik telinga milik Bhumi. "Tenang ya Dew. Lebih baik sekarang kamu berdoa semoga kita tidak akan pernah menghadap Tuhan sebelum kita menikah, oke?"


Dewi hanya mengangguk pasrah. Bibir wanita itu nampak bergerak-gerak, merapalkan doa untuk keselamatan mereka. Bhumi kembali menoleh ke arah samping. Ia lihat lelaki yang duduk di balik kemudi mobil milik Gilang masih berupaya untuk mengimbanginya.


"Tidak, tidak, aku tidak setuju Lang. Cara seperti itu bisa membahayakan kita semua," tolak Bhumi yang tidak sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Gilang.


"Hanya ini jalan satu-satunya Kak. Percayalah semua akan baik-baik saja!" ucap Gilang berupaya untuk meyakinkan sang kakak.


"Tapi Lang..."


"Kak, kita sudah tidak punya banyak waktu. Di depan nanti tabrakkan mobil Kakak dengan mobilku ini!"


Merasakan mobilnya semakin tidak terkendali, mau tidak mau Bhumi menuruti rencana yang diucapkan oleh adiknya ini. Ia pun menganggukkan kepala.


Bhumi menautkan pandangannya ke arah Dewi. "Dew, segera pindah ke bangku belakang. Jika di depan, akan sangat membahayakanmu!"


"Tapi Bang...?"


"Lekas pindah ke belakang, Dew. Jika di depan, kamu akan jauh lebih banyak terluka."


Tidak ingin membantah lagi, gegas Dewi melepas safety belt yang ia pakai dan berpindah ke bangku belakang. Wanita itupun hanya bisa menatap punggung Bhumi dengan tatapan yang dipenuhi oleh ke kecemasan.

__ADS_1


Bhumi memberikan isyarat kepada Gilang untuk menjalankan rencananya. Gilang pun mengacungkan jempol sebagai jawaban.


"Yah, Ayah benar-benar akan melakukan ini?" tanya Gilang kepada Rajasa yang sedari tadi fokus dengan kemudinya.


Rajasa menganggukkan kepala. "Ayah yakin, Nak. Setelah ini kita pasti bisa membongkar kejahatan yang dilakukan oleh ibumu."


Rajasa mengambil sesuatu yang berada di dalam saku celananya. Sebuah ponsel jadul ia berikan kepada putra kandungnya ini.


Gilang terhenyak. "Ini apa Yah?"


"Simpanlah ponsel itu Nak. Jika terjadi sesuatu terhadap Ayah, keberadaan ponsel itu bisa membantumu untuk membongkar kejahatan yang telah Wenda lakukan. Di dalam ponsel itu ada sebuah rekaman percakapan antara Ayah dengan Wenda saat ia datang ke rumah Ayah beberapa waktu yang lalu. Di sana terdengar jelas akan apa yang menjadi rencana Wenda."


"Jika ada ponsel ini, mengapa Ayah lebih memilih jalan membahayakan seperti ini? Bukankah kita bisa langsung ke kantor polisi untuk melaporkan perbuatan mama?" tanya Gilang yang semakin penasaran.


"Anggap saja ini sebagai salah satu cara untuk menebus dosa Ayah karena tidak bisa mendidik istri Ayah dengan benar hingga dia menjadi orang jahat seperti itu, Nak!"


Gilang hanya bisa tersenyum getir melihat apa yang telah dikorbankan oleh ayahnya ini. Tanpa basa-basi, Gilang memeluk tubuh lelaki paruh baya ini. "Ayah harus selamat. Setelah ini biarkan Gilang hidup bersama Ayah."


Air mata Rajasa menetes perlahan. Dalam hati, ia mengucap rasa syukur karena Tuhan mengabulkan doa yang ia panjatkan selama ini. Yakni bisa bertemu dengan darah dagingnya meski di batas waktu kehidupannya.


"Ayah janji Nak. Ayah janji. Sekarang, kamu turun. Biarkan Ayah yang menyelesaikan ini semua."


Rajasa menghentikan sejenak laju mobilnya untuk menurunkan Gilang. Setelah itu, ia kembali menginjak pedal gas dan kemudian mobil itu melaju kencang. Seakan berpacu oleh waktu, Rajasa menambah kecepatan mobil yang ia bawa. Dalam waktu sekejap, posisi mobil yang ia kemudikan bisa melampaui mobil yang dikemudikan oleh Bhumi. Dan Bhumi pun mengikuti ke mana laju mobil yang berada di depannya ini.


Rajasa membanting stir ke kiri dan menabrakkan mobil yang ia kendarai ke sebuah pohon dan disusul oleh mobil Bhumi yang menabrak bagian belakang mobil yang dikemudikan oleh pria paruh baya itu. Dan....


Ckiiittt.....


Brakkkk.... Brakkkkk.... Brakkkkk!!!!!


"Bang Bhumi!!!!!"


.


.


.


Apa kabar kakak-kakak tersayang???.... semoga senantiasa sehat ya... Hihihihi mohon maaf baru bisa up..., πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


selamat menjalankan ibadah puasa, semua... berkah, berkah, berkah❀️❀️❀️❀️


__ADS_2