Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 34. Untuk Pertama Kali


__ADS_3


Pilar awan menghias angkasa. Merenda temaram di sudut buana. Belaian angin turut menerpa. Membasuh kesegaran di dalam jiwa.


Selepas perform di kafe milik Radit, dua manusia itu memilih untuk menikmati suasana malam di pinggir jalan ibu kota. Di mana tempat mereka duduk saat ini terdapat penjual sate yang menggelar dagangannya. Dan di bawah langit yang temaram, mereka duduk berdua sembari menikmati segala pesona malam yang ada.


"Kamu lapar?"


Raut penuh tanda tanya membingkai wajah Bhumi kala menatap Dewi. Wanita yang tengah duduk di sampingnya ini nampak begitu lahap dalam menikmati hidangan yang tersaji. Satu porsi sate lontong yang terlihat menggugah rasa ingin mencicipi.


"Aku lapar sekali Bang. Tahukah kamu Bang? Di kafe tadi aku hanya makan fish and chips dan itu tidak mengenyangkan sama sekali."


Dewi masih menikmati satu porsi sate lontong ini dengan antusiasme yang tinggi. Dari caranya memakan sajian ini sudah seperti seseorang yang tidak makan selama tiga hari. Nampak lahap sekali. Hal itulah yang membuat Bhumi sedikit terkikik geli.


"Boleh saja lapar, tapi jangan sampai belepotan seperti ini!"


Bhumi meletakkan sendok yang ia pakai. Menggeser jemarinya untuk membersihkan bumbu kacang yang belepotan di bibir Dewi. Usapan yang terasa lembut sekali. Membuat wanita itu tercengang setengah mati.


"Bang..."


Aliran darah dalam tubuh Dewi seketika membeku. Melumpuhkan syaraf-syaraf dalam tubuh hingga membuat tubuhnya terpaku. Lidah pun ikut kelu sehingga hanya mampu terdiam dan membisu.


"Pelan-pelan saja. Aku tidak akan meminta."


Wajah datar minim ekspresi masih saja di tampakkan oleh lelaki ini. Namun sama sekali tidak dapat menyembunyikan kehangatan yang merasuk hingga ke palung hati bagi jiwa yang tengah berinteraksi. Menghadirkan kuncup-kuncup kebahagiaan, memenuhi segala sudut di dalam diri.


Dewi mengerjap, mencoba untuk tersadar dari rasa kagum yang menguasai diri. Tidak ingin tenggelam dalam rasa yang mungkin hanya ia rasakan sendiri. Yang ia yakini tidak akan mendapatkan balasan sama sekali.


"Nih, kalau Abang mau!"


Pada akhirnya, Dewi memakai jalan ninja untuk menutupi kegugupannya. Ia mengulurkan satu tusuk sate lengkap dengan irisan lontong ke arah Bhumi yang tengah memasang wajah datarnya.


Hap!!


"Hmmmm ... rasanya enak juga!"


Di luar dugaan. Dewi semakin terperangah di kala tusuk sate yang ia arahkan ke arah lelaki ini justru tidak mendapatkan penolakan. Bhumi sama sekali tidak mengabaikan. Justru terlihat lahap menikmati potongan lontong dan daging ayam di dalam kecapan.


"Sudah jelas ini lebih enak dan mengenyangkan. Daripada fish and chips yang ada di kafe tadi Bang. Empat puluh lima ribu dapat satu porsi. Sedangkan sate ini, dengan harga yang sama dapat dua porsi. Lebih mengenyangkan lagi."


Tidak ingin terlalu ambil pusing dengan sikap Bhumi yang membuat Dewi panas dingin, wanita itu mencoba untuk menimpali ucapan yang di lontarkan oleh Bhumi. Ia mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja. Meski sejatinya sikap lelaki ini membuatnya terhenyak seketika.


"Tidak bisa kamu bandingkan makanan di kafe dengan makanan di pinggir jalan seperti ini. Keduanya memiliki kelas yang berbeda. Sehingga tidak mungkin bisa kamu bandingkan. Jika kamu ingin membuat perbandingan, bandingkan saja makanan yang sama-sama ada di kafe atau sama-sama yang ada di pinggir jalan."


Gemas, itulah yang dirasakan oleh Bhumi melihat Dewi yang sedikit protes dengan harga fish and chips yang sempat ia nikmati. Bagaimana mungkin fish and chips dapat dinikmati dengan harga murah jika bahan dasarnya saja sudah berharga tinggi yakni ikan dori. Lelaki itu hanya bisa berdecak lirih sembari menikmati sisa hidangan yang tersaji.

__ADS_1


"Benar juga ya Bang. Tapi bagiku makan itu yang terpenting kenyang. Meski harga murah tapi mengenyangkan jauh lebih aku pilih daripada makanan mahal tapi tidak mengenyangkan sama sekali. Ya, contohnya seperti sate ini."


Bhumi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Ya sudah, tidak perlu lagi kamu bahas perihal fish and chips yang ada di kafe milik Radit tadi. Bukankah kita juga memakan makanan itu geratis tanpa mengeluarkan biaya sama sekali?"


Mendadak, Dewi hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. Ternyata ia melupakan satu hal. Ia menikmati sajian di kafe tadi tanpa mengeluarkan biaya sama sekali. Setelah ia menyadari akan hal itu, ia merasa malu sendiri. Ia seperti seseorang yang tidak mensyukuri akan nikmat yang telah Tuhan beri.


"Astaga Dewi ... mulut kamu ini benar-benar tidak bisa dijaga sama sekali. Maaf ya Bang. Jangan sampai Abang menceritakan hal ini kepada bang Radit. Aku sungguh tidak enak hati karena sudah julid dengan sajian yang ada di kafe miliknya."


"Baiklah, rahasia dijamin aman." Bhumi meneguk jeruk hangat yang ada di hadapan dan menyingkirkan piring makan yang hanya bersisa tusuk satenya saja.


"Bang ..."


"Ya?"


Dewi menghela napas panjang dan perlahan ia hembuskan. Sejatinya ada sesuatu yang mengusik hati dan pikiran. Dan semua itu perihal penampilan.


"Seandainya aku berniat mengubah penampilanku bagaimana?"


Bhumi sedikit terkesiap mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Dewi. Ternyata, sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuannya untuk mengubah penampilan Dewi, wanita itu justru sudah memiliki niatan itu terlebih dahulu. Hal inilah yang patut disyukuri oleh Bhumi karena dengan seperti ini, ia tidak akan melukai hati Dewi di kala ia mengutarakan maksud dan tujuannya.


"Apa alasan kamu tiba-tiba ingin mengubah penampilanmu?"


"Sebenarnya tidak tiba-tiba Bang. Ini bahkan sudah pernah coba aku lakukan sebelum tiba di kota ini. Tapi hasilnya justru mengecewakan sama sekali."


"Lihatlah ini Bang!" Dewi memperlihatkan pipinya ke arah Bhumi dan lelaki itu juga nampak begitu intens menatap apa yang ditunjukkan oleh Dewi.


"Kulit wajahku ini mengelupas dan justru meninggalkan bekas noda hitam bukan? Ini semua karena kesalahanku. Kesalahan membeli krim pemutih abal-abal yang dijual di pasaran."


Jika teringat tentang krim abal-abal yang pernah dibelinya, hanya membuat dada Dewi terasa semakin sesak. Hari itu dua ujian hidup datang menyerang hingga terbesit dalam pikiran untuk menyerah saja. Beruntung ia masih memiliki kewarasan dan memilih untuk menjauh dari kehidupan sebelumnya.


"Aku rasa bukanlah hal buruk jika kamu memiliki niat untuk mengubah penampilan diri. Besok aku akan mempertemukanmu dengan salah satu temanku yang menjadi dokter ahli kulit dan kecantikan. Semoga perkara kulit wajahmu ini bisa segera teratasi."


Dewi membelalakkan kedua bola matanya. Lagi-lagi, ia begitu terkejut dibuatnya. Bhumi, lelaki yang baru beberapa hari ia kenal kembali menjadi sosok malaikat tak bersayap yang selalu mendukung perubahan yang ada di dalam dirinya.


"Bang Bhumi serius? Abang sedang tidak bercanda bukan?"


"Ya, aku serius. Dan aku juga berencana tidak hanya mengubah kulit wajahmu tetapi juga postur tubuhmu. Mulai besok, selain rutin melakukan perawatan wajah, lakukan juga fitness sehingga tubuhmu bisa semakin bugar dan ideal."


Dewi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Bak mendapatkan berjuta kenikmatan, ucapan Bhumi ini membuat hatinya diselimuti oleh rasa bahagia tiada tara.


"Bang ... aku...."


Tes... tes... tes...


Air langit kembali menetes. Bhumi beranjak dari posisi duduknya dan mengulurkan tangannya untuk menarik lengan tangan Dewi yang masih setia duduk bersila di atas tikar.

__ADS_1


"Ayo kita segera pulang. Hujan semakin lebat."


Perbuatan Bhumi ini yang membuat Dewi juga ikut berdiri tegap. Tanpa basa-basi Bhumi menggandeng tangan Dewi untuk meninggalkan tempat ini. Mereka berlari setelah air hujan semakin deras membasahi bumi.


Bhumi melepas jaket yang ia kenakan. Ia letakkan jaket itu di atas kepala, mencoba untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Dewi agar tidak kehujanan. Meski hal itu nampak sia-sia namun sedikit lumayan untuk melindungi kepala dari hujaman air langit yang semakin membabi buta.


"Bang berhenti!"


Teriakan Dewi membuat langkah kaki Bhumi terhenti. "Ayo kita berlari!"


Napas Dewi nampak terengah-engah. "Stop Bang. Percuma kita berlari. Hujan semakin lebat. Pastinya akan membuat kita basah kuyup. Lebih baik, kita berteduh di emper toko itu."


Dewi menunjuk ke arah toko kelontong yang sudah tutup di jam setengah dua belas malam seperti ini. Tanpa basa-basi, Bhumi mengangguk menyetujui usulan dari Dewi. Kedua manusia itupun bergegas menuju toko kelontong yang berada di ujung gang ini.


Keduanya berdiri berhimpitan sembari memandang air langit yang turun semakin lebat. Dewi mengusap-usap kedua lengan tangannya di kala rasa dingin itu mulai menyergap. Kedua bola mata yang sebelumnya intens menatap air hujan dengan pandangan menerawang, kini ia geser untuk menatap sosok laki-laki yang masih setia memegang jaketnya di atas kepala. Padahal saat ini, ada lembaran asbes yang melindungi kepala mereka dari rintik air hujan.


Dewi tersenyum penuh arti. Menatap wajah Bhumi dari jarak sedekat ini semakin membuat jantungnya berdegup kencang tiada terkendali. Membuatnya tidak sadar jika saat ini Bhumi juga turut menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Keduanya saling menatap lekat. Sorot mata yang keluar dari dua bola mata keduanya seakan menuntun wajah mereka untuk saling mendekat. Semakin dekat dan lebih dekat. Hingga jarak wajah keduanya semakin terkikis tak bersekat. Dan...


Cup...


Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Dewi. Untuk kali pertama, ia merasakan suasana seintim ini dengan makhluk bernama laki-laki. Ia pun hanya bisa berdiri mematung sembari meresapi sensasi rasa asing yang baru sekali ia alami.


"Maaf ... aku tidak bermaksud untuk melecehkanmu!"


Tersadar akan kesalahan yang ia lakukan, Bhumi mengakhiri sentuhan bibirnya di atas bibir Dewi. Ia juga sungguh tidak mengerti mengapa ia begitu terpesona dengan bibir yang dimiliki oleh wanita ini. Seperti ada sebuah magnet yang menariknya untuk bisa mencicipi.


Kedua bola mata Dewi mengerjap. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan di kala bibir Bhumi mendarat di bibirnya meskipun itu hanya sekejap. Rasa hangat justru terasa semakin merayap di dinginnya udara malam yang menyergap.


"Bang..."


"Ya?"


"Sepertinya kita melupakan satu hal."


Dahi Bhumi mengernyit. Ia beranikan diri untuk menatap manik mata Dewi lagi. "Apa?"


"Sate yang kita makan tadi, belum kita bayar!"


Bhumi menepuk keningnya sendiri. Ia tidak habis pikir sampai lupa belum membayar sate yang ia makan. "Astaga ya Tuhan. Kalau begitu, ayo kita ke sana lagi!"


🍁🍁🍁🍁


Ahahaha maafkan Bhumi ya kakak-kakak semua... dia mencuri ciuman pertama DewiπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Fiks , Bhumi jatuh hati tanpa memandang fisik yang Dewi miliki ya... Karena sebelum Dewi berubah jadi cantik pun, ia sudah merasakan getar asmara itu. cmiwiiiwwwww... ❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2