
Keadaan semakin bertambah riuh di saat Langit dan kawan-kawan disoraki, diteriaki oleh para penonton yang ada di tempat ini. Mereka berteriak lantang meminta Magatra untuk segera turun dari atas panggung. Sedangkan para personil Magatra hanya bisa menunduk pasrah. Teramat malu dengan apa yang menimpanya saat ini.
"Dew, ada apa ini? Mengapa riuh sekali seperti ini?"
Suara bariton yang tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran Dewi, membuat Dewi terkejut setengah mati. Netra yang sebelumnya ia tautkan ke arah para personil Magatra, kini bergeser ke arah belakang punggung. Nampak Bhumi telah berada di tempat ini.
"B-Bang Bhumi?"
"Ada apa ini Dew?" tanya Bhumi sekali lagi seakan menuntut untuk meminta penjelasan.
Dewi hanya terdiam seribu bahasa. Ia bahkan tidak berani berkata-kata. Mendadak, ia teramat takut jika sampai Bhumi murka atas apa yang telah ia lakukan terhadap grup Magatra.
"Itu Ga, tiba-tiba dua vokalis Magatra tidak dapat bersuara," timpal Aldo mulai menjelaskan.
Dahi Arga sedikit mengerut. "Tidak bisa bersuara? Maksud kamu apa Al?"
"Begini Ga, sebelumnya dua vokalis ini lancar-lancar saja dalam bernyanyi, namun mendadak mereka terbatuk-batuk dan akhirnya tidak dapat bersuara lagi. Suara mereka tidak keluar Ga."
Arga sedikit terkejut akan apa yang diceritakan oleh Aldo. Apa yang menimpa dua vokalis Magatra ini seakan tidak asing di telinganya. Ia seperti pernah mendengar kejadian seperti ini dialami oleh seseorang. Lama ia bergelut dengan pikirannya sendiri, pada akhirnya kedua netranya terpaut pada Dewi yang sedari tadi nampak menundukkan wajahnya ini.
Arga membuang napas sedikit kasar seiring dengan ingatannya yang pulih kembali tentang sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh Dewi. Lelaki itupun sedikit paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah ... untuk semua personil Magatra, silakan turun dari stage terlebih dahulu. Kalian bisa pulang untuk beristirahat," ucap Bhumi kepada para personil Magatra.
Langit terkesiap. Ia sungguh tidak bisa menerima jika sampai kesempatannya untuk bisa masuk ke dunia rekaman gagal total.
"Tapi, tolong berikan kami kesempatan sekali lagi. Kami yakin jika vokalis kami ini bisa kembali bernyanyi," mohon Langit dengan wajah memelas.
Bhumi hanya menanggapi santai permintaan Langit ini. "Pulanglah terlebih dahulu. Istirahatkan dua vokalismu ini. Karena aku merasa vokalis kalian ini tidak akan bisa kembali ke keadaan semula dalam waktu singkat. Yang terpenting kalian tinggalkan no kontak yang bisa dihubungi. Nanti dari pihak Svarga records akan menghubungi kalian kembali."
Mendengar perkataan Bhumi, membuat hati Langit sedikit lega. Ia berharap akan ada kesempatan lagi baginya untuk bisa menunjukkan penampilannya. Lelaki itupun kemudian menautkan pandangannya ke arah Amara dan Adelia yang masih berderai air mata.
"Mari kita kembali ke kontrakan terlebih dahulu. Setelah ini bisa kita bicarakan apa yang harus kita lakukan."
__ADS_1
Bak di telanjangi di depan umum, Amara dan Adelia merasa malu sekali. Rasa-rasanya mereka ingin menenggelamkan wajah dan tubuh mereka di dasar lautan untuk bisa bersembunyi dari olok-olokan para penonton yang menyaksikan penampilan mereka ini.
Aku benar-benar malu. Apakah seperti ini yang dulu dirasakan oleh Dewi saat berada di panggung Haji Amir? Aku merasa ini semua karma akan apa yang pernah aku lakukan.
Amara bermonolog lirih sembari mengingat-ingat apa yang pernah terjadi. Wanita itu masih sesenggukan dan menangis dalam kebisuan karena suaranya sama sekali tidak bisa keluar.
Apa yang menimpaku ini sama persis dengan apa yang dialami oleh Dewi. Apakah mungkin Dewi ada di balik peristiwa hilangnya suaraku ini? Apakah mungkin penjual minuman tradisional tadi telah bersekongkol dengan Dewi?
Tak jauh berbeda dari Amara, Adelia pun juga turut bermonolog di dalam hati. Wanita itu bahkan sempat berpikir jika ini semua ada kaitannya dengan Dewi. Namun, ia tidak dapat berbuat apapun. Ia sedikit tersadar bahwa ini semua memang balasan yang pantas untuk ia terima.
Amara dan Adelia yang sebelumnya terduduk di atas stage, kini sama-sama berdiri. Pada akhirnya, seluruh personil Magatra mulai turun dari panggung dan bermaksud untuk pulang dengan membawa beban rasa malu setengah mati. Teriakan-teriakan dari para penonton di sekitar panggung ini pun juga turut mengiringi langkah kaki mereka.
"Baiklah bang Ariel, Abang bisa melanjutkan acara ini bersama dengan Aldo. Namun untuk Dewi, harus ikut dengan saya terlebih dahulu karena ada suatu hal yang ingin saya bicarakan."
"Baiklah Ga, aku dan Aldo yang tetap melanjutkan acara ini," ucap Ariel menanggapi perkataan Bhumi.
"Yang jelas untuk semua penilaian, aku serahkan sepenuhnya kepada bang Ariel dan Aldo. Aku percaya pada kalian untuk memutuskan siapa yang terbaik untuk bisa masuk ke dunia rekaman."
"Oke Ga, beres pokoknya."
"Ayo ikut denganku Dew. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu."
***
Hampir satu jam berada di jalanan untuk bisa terlepas dari kemacetan, pada akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bhumi tiba di tempat ini. Sebuah restaurant mewah yang berada di pusat kota yang sudah lebih dulu di booking oleh Bhumi. Setelah turun dari mobil, mereka memilih privat room lantai tiga untuk bisa mereka jadikan tempat saling bertukar cerita.
Dewi duduk di sebuah kursi yang telah tersedia, sedangkan Bhumi memilih untuk berdiri di depan jendela lebar yang dari sana bisa ia nikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang memanjakan mata.
"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan perihal kejadian di panggung tadi Dew?"
Tanpa basa-basi, Bhumi melontarkan sebuah tanya kepada Dewi yang masih berada di dalam mode hening sembari menundukkan wajah. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu, namun ia nampak larut dalam pikirannya sendiri.
Dewi terhenyak. Kepala yang sebelumnya menunduk, kini ia tegakkan. "M-maksud Abang apa? Aku sungguh tidak paham."
__ADS_1
Bhumi berbalik badan, ia ayunkan tungkai kakinya untuk bisa mendekat ke arah Dewi. Ia daratkan bokongnya di bangku yang berada di samping kekasihnya ini. Tidak lupa, ia berikan seutas senyum yang ia miliki.
"Apakah Dewi yang pernah aku kenal saat ini telah berubah? Dewi yang mudah memaafkan. Dewi yang bukan seorang pendendam dan Dewi yang bisa berdamai dengan keadaan?"
Jantung Dewi berdenyut nyeri kala meresapi apa yang Bhumi katakan ini. Ucapan sang kekasih benar-benar telah membuatnya tersadar akan kesalahan yang telah ia lakukan kepada Langit dan kawan-kawan.
"Bang, aku..."
Suara Dewi tercekat di dalam tenggorokan. Dadanya terasa bergemuruh hingga menimbulkan titik-titik air di pelupuk mata. Ia akui bahwa ia merasa puas karena bisa membalas semua perbuatan Langit dan kawan-kawan. Namun di sudut hati terdalam, rasa bersalah itu benar-benar terasa menikam.
Bhumi kembali tersenyum. Ia geser tubuhnya untuk duduk satu kursi dengan Dewi. Ia genggam erat tangan kekasihnya ini.
"Apakah kamu sudah merasa lega dan puas karena bisa membalaskan semua rasa sakitmu?"
Dewi menatap lekat manik mata Bhumi. "Bang, aku..."
"Tidak perlu kamu ceritakan secara detail. Aku sudah mengerti akar dari kejadian di atas panggung tadi."
Dewi terdiam. Tidak mampu untuk berucap apapun. Melihat Bhumi sudah paham dengan apa yang terjadi, sungguh hanya membuatnya semakin tidak enak hati. Sedangkan Bhumi, lelaki itu mengusap pipi sang kekasih yang sudah dibasahi oleh air mata.
"Meski kamu merasa puas karena bisa membalas semua perlakuan Langit dan kawan-kawan, namun kamu harus ingat akan satu hal, Dew. Jika kamu membalas mereka dengan cara yang sama itu artinya kamu juga tidak jauh berbeda dari mereka. Seharusnya, kamu hanya tinggal berdiam diri, biarkan Tuhan yang membalaskan."
Dewi semakin tergugu mendengar ucapan Bhumi. Kali ini hatinya benar-benar tertampar dan membuatnya tersadar akan kelapangan hati yang pernah diajarkan oleh sang ayah. Dewi sedikit membungkuk dan semakin menunduk dalam. Wanita itu semakin larut dalam tangisnya.
"Semua sudah terlanjur terjadi. Aku sudah terlanjur menjadi orang yang jahat. Saat ini aku harus bagaimana Bang? Aku harus bagaimana?"
Bhumi merengkuh tubuh Dewi untuk ia bawa ke dalam dekapan. Dengan lembut, ia mengusap punggung kekasihnya ini. "Aku yakin bahwa kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan. Sekarang, semua terserah padamu akan apa yang kamu putuskan perihal mantan grup musik yang pernah menjadi tempatmu bernaung dulu."
Sejenak Dewi nampak berpikir. Pada akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. "Beri kesempatan mereka untuk bisa ikut rekaman Bang. Aku percaya, mereka bisa memberikan performa terbaiknya."
Bhumi tersenyum penuh arti. Ia berikan kecupan lekat di pucuk kepala kekasihnya ini. "Ya, ini lah Dewi yang aku kenal. Wanita penuh kasih dan tidak akan pernah membiarkan dendam menguasai kemurnian hatinya. Kamu harus selalu ingat. Tetaplah berbuat baik kepada siapapun termasuk kepada orang yang pernah menyakitimu. Dengan begitu kebaikan-kebaikan juga akan turut menyertai kehidupanmu."
.
__ADS_1
.
.