
Harum biji aroma kopi menguar memenuhi tiap sudut tempat yang ada di kafe ini. Dengan skil yang tidak diragukan lagi, para barista nampak lihai dalam meracik dan menyeduh minuman yang terbuat dari bahan dasar biji kopi. Hingga menjadi sebuah sajian minuman yang nampak begitu estetik di mata maupun di hati.
Dengan telaten para barista membuat latte art yang akan menjadi daya tarik sendiri bagi para pecinta kopi. Tidak hanya tampilannya saja yang memikat, namun aroma dan rasanya pun juga menyisakan rasa tenang di dalam hati.
Rintik hujan yang mengalun merdu di luar sana tidak menyurutkan langkah kaki para penikmat kopi untuk mendatangi kafe ini. Bahkan kondisi kafe ini justru semakin ramai di jam-jam seperti ini. Hawa dingin yang sebelumnya terasa memeluk erat, perlahan memudar, terganti oleh suasana hangat yang kian terpancar. Mereka duduk mengitari meja-meja. Bercengkerama, mengobrol tentang kehidupan dan terlihat larut dalam setiap kehangatan yang tercipta.
"Arga!"
Lengkingan suara nyaring, membuyarkan lamunan Bhumi yang entah sudah sampai mana. Nampaknya rasa terkesimanya terhadap wanita yang baru beberapa hari ia kenal ini tidak bisa langsung musnah begitu saja. Karena setelah tiba di kafe ini pun ia masih saja terjerat akan bayang wajah Dewi yang lain dari biasanya.
"Radit! Bikin kaget saja."
Lelaki bernama Radit itu hanya tergelak lirih. Ia pun mengambil posisi duduk di hadapan lelaki ini. Dahi Radit sedikit mengerut karena hanya melihat temannya ini duduk sendiri tak ada yang menemani.
"Mengapa kamu sendirian? Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu akan tampil dengan teman duetmu?"
Radit nampak celingak-celinguk mencari keberadaan teman duet salah satu temannya di bangku kuliah ini. Ia begitu penasaran dengan wanita seperti apa yang dibawa oleh Bhumi yang tidak pernah terdengar kabar percintaannya ini.
"Dia sedang ke toilet. Sebentar lagi pasti akan kembali." Bhumi menyesap sajian kopi yang tersaji dan ia lanjutkan ucapannya kembali. "Ah iya, aku minta di hadapan wanita yang aku bawa nanti, jangan panggil aku Arga. Panggil aku Bhumi. Karena aku memperkenalkan diriku di hadapan wanita itu dengan nama Bhumi."
"Ckkk... ckkkk... baiklah. Apa kata kamu saja, Ga."
Derap langkah kaki seseorang, sedikit mengusik Bhumi dan Radit yang tengah larut dalam sebuah obrolan. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara dan Dewi nampak sudah selesai dengan segala keperluannya di balik pintu toilet.
"Maaf ya Bang, aku sedikit lama ada di kamar mandi."
"Tidak masalah. Oh iya kenalkan, ini adalah Radit. Dia pemilik kafe ini," ucap Bhumi memperkenalkan Radit kepada Dewi.
Dewi mengulurkan tangannya, sembari menundukkan kepala. "Aku Dewi, Bang."
__ADS_1
"Ah Dewi ... senang berkenalan denganmu."
"Terima kasih Bang."
"Oh iya Dew, kamu perform dengan grup akustik yang ada di sini saja ya. Kebetulan banyak yang ingin aku bicarakan dengan Bhumi. Maklum, kita sudah lama tidak saling bertemu sehingga ada banyak yang ingin aku bicarakan dengan Bhumi."
Dewi sedikit terkesiap mendengarkan penuturan lelaki ini. Sejatinya ia merasa kurang nyaman jika harus perfom dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Hingga pada akhirnya, ia memilih untuk melirik ke arah Bhumi yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Tidak apa-apa, jangan merasa tidak nyaman. Karena sang bintang pasti tetap merasa enjoy perform bersama siapapun meski ia tidak mengenalnya."
Entah mengandung sihir apa, setiap kata yang terucap dari bibir Bhumi selalu saja membuat Dewi menganggukkan kepala tanpa harus berpikir seribu kali. Dewi, yang sebelumnya merasa tidak nyaman karena harus perform dengan orang-orang yang tidak ia kenal, mendadak seperti mendapatkan suplay semangat baru lagi. Wanita itu membusungkan dada, bersiap untuk perform meski tidak bersama dengan Bhumi.
"Ya sudah, sekarang bersiap-siap lah untuk perform, Dew. Biarkan Bhumi tetap di sini."
"Baik Bang!"
Dewi mengayunkan tungkai kakinya untuk menyusul grup akustik yang sudah berada di atas space yang tersedia khusus untuk perform para pemusik yang live di kafe ini. Lagi-lagi Dewi mendapatkan sambutan hangat dari grup akustik ini, sehingga membuatnya lebih percaya diri lagi.
"Mengapa masih ada. Sisa rasa di dada. Di saat kau pergi begitu saja. Mampukah ku bertahan. Tanpa hadirmu Sayang. Tuhan sampaikan rinduku untuknya..."
Riuh suara tepuk tangan mengiringi lantunan lagu yang dibawakan oleh Dewi. Wajah penuh kekaguman nampak terekam jelas di wajah para pengunjung kafe ini. Dan teriakan lagi, lagi, lagi seakan menjadi bukti bahwa mereka begitu puas dengan suara emas yang dimiliki oleh wanita berusia dua puluh tujuh tahun ini.
"Gila Ga .... suara temanmu ini benar-benar memiliki daya tarik tersendiri. Aku yakin sebentar lagi dia akan menjadi penyanyi yang memiliki penggemar di seantero negeri."
Radit tiada henti memuji suara emas milik Dewi di hadapan Bhumi. Mungkin sama seperti pengunjung kafe yang lain, ini merupakan kali pertama bagi mereka mendengarkan suara seorang penyanyi kafe yang begitu khas seperti milik Dewi. Hal itulah yang membuat orang-orang yang berada di sini berdecak kagum akan suara yang Dewi miliki.
Bhumi memandang teduh tubuh wanita yang saat ini tengah berada di atas stage. Ia mengangguk pelan, membenarkan apa yang diucapkan oleh Radit.
"Ya, aku sependapat denganmu. Maka dari itu, sejak pertama aku mendengarkan suara Dewi, aku langsung mengajaknya berkolaborasi."
"Aku yakin dia akan menjadi bintang besar Ga. Lihatlah, para pengunjung kafe memberikan apresiasi dengan kehebohan seperti ini. Jika suara Dewi hanya pas-pasan saja, tentu ia tidak akan mendapatkan apresiasi seperti ini."
__ADS_1
"Aku percaya itu. Karena ketika kita perform di TMII pun dia juga mendapatkan sambutan hangat dari para pengunjung. Dan apresiasi yang ditunjukkan oleh para pengunjung kafe ini, semakin mempertegas bahwa dia layak untuk menjadi seorang bintang."
Lagi-lagi Radit berdecak kagum akan suara yang dimiliki oleh Dewi. Lelaki itu memuji kemampuan yang Dewi miliki tiada henti. Sampai-sampai ia terus menerus menatap tubuh Dewi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Lalu, apakah kamu akan segera mengajak Dewi rekaman? Pastinya bukanlah hal yang sulit bukan mengorbitkan Dewi untuk menjadi seorang penyanyi terkenal?"
"Ya, aku memang berencana seperti itu. Namun, nanti dulu. Aku baru memperkenalkannya seperti apa dunia industri musik seperti ini. Sehingga nantinya, ia memiliki bekal yang cukup tatkala menghadapi hantaman-hantaman psikis yang akan ia temui."
"Jadi, dia pun juga belum tahu jika kamu memiliki label musik?"
Bhumi menggelengkan kepala. Senyum tipis terbit di bibir lelaki itu. "Belum. Jangankan Dewi, keluarga besarku pun tidak ada yang tahu bahwa aku adalah pemilik salah satu label musik di kota ini. Yang mereka tahu, aku hanyalah musisi recehan yang berkeliling untuk perform di sana-sini."
"Ga, bolehkah aku memberi saran untukmu?"
Pandangan mata yang sebelumnya menatap lekat sosok wanita yang sedang perform di atas stage, kini ia geser ke arah lelaki yang tengah duduk di sampingnya ini. "Saran? Saran apa itu?"
"Rubahlah penampilan Dewi sehingga ia bisa menjadi seorang bintang bernilai jual tinggi."
Dahi Bhumi sedikit mengerut. Ia kurang sependapat dengan perkataan Radit ini. "Jadi menurut kamu, yang akan menjadi nilai jual tinggi adalah bentuk tubuh Dewi? Aku menjual suara Dewi, Dit. Bukan tubuhnya. Lagipula, tidak masalah jika bentuk tubuh Dewi seperti itu."
Radit sedikit terkesiap. Ia sadar jika caranya menyampaikan maksud dan tujuannya sedikit kurang tepat.
"Bukan, bukan seperti itu maksudku Ga. Gini, sejatinya aku memintamu mengubah penampilan Dewi karena yang aku lihat adalah dari sisi kesehatan. Kamu tahu bukan, jika seseorang yang memiliki berat berlebih cenderung lebih sering terkena penyakit. Nah, bisa kamu bayangkan bukan, bagaimana nantinya jika Dewi sudah menjadi seorang bintang, ia justru sakit-sakitan? Sekali lagi, ini aku lihat dari kacamata kesehatan Ga."
Bhumi terdiam seribu bahasa. Lelaki itu nampaknya memikirkan setiap kata yang diucapkan oleh Radit. Setelah menimbang-nimbang, tidak ada salahnya pula jika usulan dari temannya ini ia jalankan.
"Baiklah. Nanti akan aku coba membujuk Dewi untuk rutin fitness dan melakukan perawatan wajah."
🍁🍁🍁🍁
Kapan Dewi sukses dan menjadi bintang Thor? Kok lama banget? Hihi hiihiihiiii sabar ya Kak.. Karena seorang bintang itu juga harus memperhatikan penampilan, maka Bhumi juga akan membantu Dewi dalam proses ini. Dan karena Dewi tidak melakukan operasi plastik, maka prosesnya akan panjang untuk sampai ke titik body goals. Sabar ya semua 😘😘😘😘
__ADS_1