Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 70. Kabar


__ADS_3

Kepulan asap nampak keluar dari bagian kap mobil yang dikemudikan oleh Rajasa dan juga Bhumi. Sedangkan Dewi, wanita itu nampak ling-lung. Ia bahkan tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya bisa menatap nanar kondisi Bhumi yang tidak sadarkan diri.


"Kak Dewi, ayo keluar!"


Teriakan seseorang memulihkan kesadaran Dewi. Ia menoleh ke arah sumber suara. "Gilang?"


"Lekas keluar Kak. Ayo kita segera bawa kak Arga ke rumah sakit!"


"Tapi bagaimana kita bisa membawa bang Bhumi Lang? Kita tidak memiliki kendaraan!"


"Kak Dewi tenang saja, aku sudah meminta pertolongan penduduk di salah satu perkampungan yang ada di sana."


Dewi menoleh ke arah telunjuk tangan Gilang. Benar saja dua mobil pickup sudah berada di tempat ini.


"Pengemudi mobil di depan itu siapa Lang? Mengapa dia mau mengorbankan dirinya?" tanya Dewi begitu penasaran. Pasalnya, ia sama sekali belum pernah melihat lelaki itu.


"Nanti akan aku beritahu Kak. Yang jelas sekarang kak Dewi segera turun. Kita bawa kak Arga dan pengemudi mobil depan ke rumah sakit."


Dewi menurut, tidak ada luka serius yang ia alami. Hanya saja kepala wanita itu terasa begitu pusing. Mungkin efek dari keterkejutannya. Ia pun turun dari mobil dengan hati-hati. Disusul oleh beberapa penduduk yang mulai mengeluarkan Arga dan juga Rajasa. Untuk kemudian gegas mereka bawa ke rumah sakit.


"Ayah .... bertahanlah... Setelah ini kita akan hidup bersama!" batin Gilang kala menatap wajah sang ayah.


"Bang Bhumi ... kamu harus bertahan. Ingat mimpi-mimpi kita yang belum terwujud Bang. Jadikan itu penguqat untukmu!" batin Dewi yang juga diliputi oleh kesedihan ketika melihat wajah Bhumi yang sudah dihiasi oleh tetes-tetes darah.


***


"Bagaimana? Apakah pekerjaan kalian sempurna?"


"Nyonya tenang saja. Semua sudah saya kerjakan sesuai rencana. Sekarang, Nyonya tinggal duduk manis sembari menunggu kabar duka atas kematian anak tiri Nyonya dan calon istrinya."


"Bisa kamu pastikan tidak ada yang tahu pergerakan kalian bukan?"


"Itu sudah pasti Nyonya. Semua aman terkendali. Bisa saya pastikan tidak ada yang melihat pekerjaan kami."


"Bagus, aku puas dengan pekerjaan kalian. Akan segera aku transfer upah untuk kalian. Dan jika memang Arga bisa mati dalam tragedi itu, akan aku berikan bonus untuk kalian."


"Terima kasih Nyonya. Terima kasih."

__ADS_1


Percakapan melalui telepon antara Wenda dan sang anak buah terputus. Wenda yang tengah berada di balkon, kembali menatap langit dengan senyum lebar yang mengembang di bibirnya. Malam ini suasana hatinya begitu bahagia. Tidak sabar untuk segera mendengar kabar bahagia perihal kecelakaan maut yang dialami oleh Arga.


"Aster, bukankah aku adalah sahabat yang baik? Sebentar lagi, kamu bisa bertemu dengan putramu. Sehingga, kamu tidak sendiri lagi."


Wenda sibuk bermonolog lirih. Pikirannya berkelana jauh. Ia ingat saat-saat kebersamaannya dengan Aster. Sahabat terbaik yang ia miliki namun tega untuk ia hancurkan. Selama ini Wenda memang tidak pernah tulus bersahabat baik dengan Aster, karena di mata Wenda, Aster selalu saja mendapatkan keberuntungan di dalam hidupnya. Menjadi seorang penyanyi terkenal pada masanya dan mendapatkan suami yang kaya raya dan sempurna. Sedangkan ia? Ia hanya selalu berada di dalam bayang-bayang Aster. Hal itulah yang membuat kebencian itu bercokol di hati Wenda.


"Wen, sedang apa kamu? Mengapa kamu tidak segera tidur?"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar, membuat Wenda yang sebelumnya larut dalam lamunannya, terperanjat seketika. Terlihat Wiraguna berjalan mendekat ke arahnya.


"Ah, aku hanya sedang menikmati angin malam Pa. Papa juga mengapa belum tidur?"


Wiraguna membuang napas sedikit kasar. Entah mengapa sedari tadi ia merasa ada yang mengganjal di hati. Rasa-rasanya ada sesuatu yang terjadi.


"Aku heran, mengapa malam ini aku merasa sesuatu yang lain. Hatiku benar-benar gelisah. Aku takut terjadi apa-apa dengan anak-anak kita."


Dahi Wenda mengernyit. "Anak-anak kita? Bukankah yang pergi hanya Arga ya Pa?"


Wiraguna sekilas menatap wajah istrinya ini. "Apakah kamu tidak tahu jika sejak siang tadi Gilang juga tidak ada di rumah? Sampai sekarang dia juga belum pulang."


"Iya Wen, Gilang tidak ada di rumah."


Mendadak hati Wenda terasa berdesir. Tidak biasanya sang putra tidak pulang ke rumah ataupun keluyuran di jam-jam seperti ini. Bahkan wanita paruh baya itu sedikit merasa ketakutan.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara ketukan pintu kamar membuat Wenda dan Wiraguna saling bertatap netra. Tanpa basa-basi, mereka mengayunkan kaki ke arah pintu kamar.


"Hans? Ada apa? Apakah terjadi sesuatu terhadap Ibu?" tanya Wiraguna yang sedikit terkejut dengan kedatangan Hans malam-malam seperti ini.


"Mohon maaf jika saya mengganggu istirahat Tuan dan Nyonya. Ada kabar buruk yang harus saya sampaikan Tuan."


Kedua bola mata Wiraguna terbelalak. "Kabar buruk? Kabar buruk apa Hans?"


"Tuan muda Arga mengalami kecelakaan Tuan!"


"Apa kamu bilang? Arga kecelakaan? Kamu sedang bercanda kan Hans? Tidak mungkin Hans, tidak mungkin!"

__ADS_1


Berbeda dengan raut wajah Wiraguna yang sudah terlihat sendu dan titik-titik embun mulai berkumpul di sudut mata, wajah Wenda justru terlihat berbinar. Namun ia berupaya untuk menyembunyikan kebahagiannya itu dan bergegas memasang wajah sendu.


"Pa, Papa yang sabar ya. Ini semua sudah merupakan kehendak yang Maha Kuasa, Pa."


Seakan turut merasakan kesedihan yang mendalam, Wenda seakan mengucapkan sesuatu yang terdengar bijak. Bahkan air mata buayanya ia paksa untuk keluar agar menyempurnakan aktingnya. Padahal hatinya bersorak gembira.


Hans menatap wajah majikannya ini dengan tatapan tiada terbaca. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang Nyonya.


"Namun sepertinya ada kabar buruk lagi Nyonya... " lanjut Hans yang sontak membuat Wenda terkejut.


Namun, dalam hati, Wenda malah merasa kabar buruk yang dibawa oleh Hans ini akan membuatnya bahagia. Ia mengira nyawa Arga sudah tidak dapat tertolong lagi.


"Kabar buruk apa lagi yang kamu maksudmu Hans? Apakah Arga terluka parah? Apakah Arga...? Ohh.. Tidak, tidak. Aku tidak ingin kalau sampai Arga menyusul mamanya!"


Hans menggeleng. "Bukan, bukan itu Nyonya."


"Lalu apa? Cepat katakan Hans!"


"Mobil yang ditabrak oleh Tuan Muda Arga adalah mobil milik Tuan Muda Gilang. Dan mobil yang dikemudikan oleh Tuan muda Gilang lah yang mengalami kerusakan paling parah."


Wenda terkejut setengah mati. Kedua bola matanya melotot, bahkan seperti akan keluar dari tempatnya bersemayam.


"Apa? Mobil Gilang? Itu artinya Gilang yang mengalami luka yang lebih parah?" cecar Wenda.


Hans mengangguk pelan. "Sepertinya memang seperti itu, Nyonya!"


Sendi-sendi di tubuh Wenda seakan melemas seketika. Karena tidak kuat untuk menopang beban bobot tubuhnya, wanita paruh baya itupun merosot hingga terduduk di atas lantai.


"Gilangggggg!!!!!!" teriak Wenda terdengar membahana memenuhi segala penjuru ruangan.


.


.


.


Selamat menunaikan ibadah puasa kakak-kakak semua... berkah, berkah, berkah 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2