Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 64. Masa Lalu


__ADS_3

Taxi online yang ditumpangi oleh Gilang berhenti tepat di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota. Rumah sederhana yang nampak tidak begitu dirawat oleh pemiliknya. Polesan cat tembok sudah mulai memudar dan lebih banyak menampilkan warna lapisan putihnya saja.


Selesai meeting bersama relasi, Gilang memilih untuk pergi ke tempat ini sendiri. Sedang mobil yang sebelumnya ia bawa, dipakai oleh sang kakak untuk menjemput Dewi. Dan pada akhirnya, dengan bantuan taxi online ini, tubuh lelaki itu bisa tiba di rumah ini.


Perlahan, sepasang telapak kaki yang berbalut sepatu pantofel warna hitam itu, tiba di teras bangunan ini. Sepi, sangat sepi. Seperti tidak berpenghuni. Namun Gilang tidak menyerah, ia tetap mencoba untuk bertemu dengan pemilik rumah ini. Dan ada hubungan apa dengan sang mama.


Tangan Gilang terulur untuk memutar kenop pintu. Sungguh sangat tidak terduga bahwa pintu ini tidak terkunci, sehingga memudahkannya untuk memasuki area dalam rumah ini. Tungkai kakinya pun bergerak perlahan, untuk bisa menjelajahi setiap sudut ruangan.


Langkah kaki Gilang terhenti saat tiba di dapur. Dari tempatnya berdiri, terlihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyeduh teh di dalam teko kecil, untuk kemudian ia tuang ke dalam cangkir. Disesapnya teh panas itu perlahan dan dari mimik wajah sang lelaki nampak begitu menikmati sajian teh panas ini.


Sebenarnya siapa lelaki ini? Mengapa mama mendatangi lelaki ini malam-malam seperti tempo hari. Dan ada hubungan apa sebenarnya mama dengan lelaki ini.


Gilang sibuk bermonolog di dalam hati. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika si pemilik rumah mulai menyadari akan kehadirannya. Mata lelaki paruh baya itu sedikit menyipit untuk mengenali siapa yang bertandang di rumahnya tanpa permisi ini.


"Siapa kamu? Mengapa kamu bisa masuk ke dalam rumahku? Apakah kamu salah satu tetangga yang tinggal di sekitar rumahku? Tapi mengapa aku belum pernah sekalipun melihatmu?"


Tubuh Gilang sedikit terperanjat saat manik matanya beradu dengan manik mata milik lelaki paruh baya ini. Ia pun hanya bisa tersenyum kikuk, merasa tidak enak hati.


"M-maaf jika saya masuk tanpa permisi Pak. Suasana rumah ini sepi sekali, saya kira tidak berpenghuni."


Lelaki paruh baya itu hanya menanggapi santai ucapan Gilang. Karena sudah biasa orang-orang terlebih para tetangga keluar masuk rumahnya biasanya untuk mengantarka makanan ataupun sembako. Oleh karena itu, pintu tidak pernah ia kunci sama sekali.


Ia berjalan ke arah Gilang dan mempersilakan Gilang untuk duduk di sebuah bangku dari kayu yang sudah nampak begitu tua. "Duduklah!"


Sekilas, Gilang menatap bangku kayu ini. Ia sedikit bergidik ngeri, membayangkan jika salah satu kaki kursi patah karena tidak sanggup menahan bobot tubuhnya ini.


"Tidak perlu takut, kursi itu masih kuat. Jadi duduklah!"


Meski sedikit cemas, namun Gilang menurut jua. Ia daratkan bokongnya di kursi kayu ini. Sedangkan si lelaki paruh baya juga ikut mendaratkan bokongnya di dipan kecil yang berada di depan dapur.


"Jadi, kamu ini sebenarnya siapa? Dan ada keperluan apa kamu datang kemari?"


Sejatinya Gilang merasa ragu untuk datang menemui lelaki ini, namun ia benar-benar dibuat penasaran dengan hubungan yang terjadi diantara sang mama dengan lelaki ini.


"Maaf jika saya lancang Pak untuk menanyakan hal ini Pak. Namun kemarin malam saya sempat melihat mama saya bertandang ke rumah Bapak ini. Kalau boleh tahu ada hubungan apa antara Bapak dengan mama saya?"


Kening lelaki ini berkerut dalam. Mencoba mengingat siapa saja yang kemarin malam berkunjung ke rumahnya. "Siapa nama ibumu? Karena kemarin malam ada beberapa orang yang datang kemari."


"Wenda Pak, Wenda Puspita nama mama saya!"


Tubuh lelaki itu terperanjat seketika kala mendengar nama Wenda disebut oleh pemuda ini. Mendadak raut wajahnya berubah menjadi sendu dengan jantung yang berdegup kencang. Memaksa titik-titik bening berkumpul di sudut matanya. Keringat dingin pun mulai keluar dari pori-pori.


"K-kamu putra Wenda?"


Gilang menganggukkan kepala. "Benar Pak, saya putra mama Wenda. Lalu, Bapak ini siapa? Mengapa malam-malam mama saya berkunjung kemari?"

__ADS_1


Perlahan, titik-titik air mata itu jatuh membasahi pipi. Pandangan laki-laki itu sedikit menerawang, mengenang peristiwa yang terjadi di dua puluh empat tahun silam. Sebuah peristiwa yang memaksanya untuk melepaskan wanita yang ia cintai hanya demi sebuah ambisi.


Air mata lelaki itu bertambah deras saat menatap lekat sosok pemuda yang ada di hadapannya. Pemuda tampan dan juga gagah yang teramat ia rindukan. Demi sebuah ambisi sang istri, membuat hidupnya hidupnya tersiksa seperti ini. Tersiksa karena harus berpisah dengan putra kandungnya yang bahkan masih berada di dalam rahim sang istri.


"Jika aku katakan bahwa aku ini adalah ayah kandungmu, apakah kamu mempercayainya?"


Gilang terhenyak. Kedua bola matanya membulat sempurna dan bibirnya menganga lebar. Ucapan lelaki paruh baya ini sungguh tidak dapat ia mengerti sama sekali.


"Apa? Anda ayah kandung saya? Bagaimana bisa?"


Pandangan mata si lelaki paruh baya kembali menerawang. Sejatinya, ia ingin mengubur dalam-dalam kenangan yang terasa menyakitkan itu, namun ia rasa pemuda di depannya ini pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Seakan larut dalam kenangan masa lalu, lelaki itu mulai memutar kembali memori yang pernah terjadi.


***


Flashback On..


Dua puluh enam tahun silam...


Suara sirine mobil ambulans terdengar memenuhi ruas-ruas jalan ibu kota. Laju kendaraan yang begitu cepat, seolah menegaskan bahwa saat ini, kendaraan khas rumah sakit itu tengah membawa seorang pasien yang tengah bergelut dengan maut.


"Sayang .... kumohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku dan Arga Sayang. Kami masih membutuhkanmu!"


Di dalam mobil ambulans, nampak seorang lelaki tengah menangis tergugu sembari menggenggam erat jemari tangan seorang wanita yang terbaring di atas brankar. Tubuh wanita itu bersimbah darah, karena baru saja mengalami kecelakaan hebat di pinggir kota. Wajahnya pun semakin memucat seakan tidak ada aliran darah yang mengalirinya. Meski wajah wanita itu nampak pucat, namun ia masih berada dalam posisi sadar.


"Benar apa yang diucapkan mas Wira, As. Bertahanlah. Kamu harus selamat, Aster!"


"Mas Wira .... aku ingin bertahan, namun sepertinya tubuhku sudah tidak lagi memiliki kekuatan. Aku titip Arga ya Mas. Tolong besarkan dia dengan penuh cinta kasih. Didik dia untuk menjadi lelaki hebat sepertimu."


Wiraguna menggelengkan kepala. "Tidak Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu harus bertahan Sayang, kamu harus tetap hidup untukku dan untuk Arga. Aku belum siap untuk kehilanganmu Sayang."


Wanita berparas cantik bernama Aster itu tersenyum tipis. "Mas, jika aku pergi, menikahlah dengan sahabatku ini. Aku rasa Wenda bisa menggantikanku untuk membesarkan Arga."


Kedua bola mata Wiraguna terbelalak. Tidak bisa ia bayangkan, bagaimana mungkin ia harus menikah dengan Wenda yang menurut kabar baru beberapa bulan bercerai dari suaminya.


Berbeda dengan Wiraguna, di dalam hati Wenda justru bersorak gembira. Ternyata sahabatnya ini menginginkannya untuk menggantikan posisinya sebagai nyonya Wiraguna. Ia teramat bahagia karena ambisinya untuk menjadi istri orang kaya akan segera terwujud. Namun, saat ini ia harus berakting untuk memasang wajah sendu.


"Sayang, aku tidak mau. Kamu harus tetap hidup Sayang. Kamu harus bertahan. Arga hanya akan dirawat dan dibesarkan oleh kamu, bukan oleh orang lain."


"Benar apa yang dikatakan oleh mas Wira, As. Kamu harus bertahan kamu harus tetap hidup," ucap Wenda dengan menampakkan air mata buayanya.


Aster menggeleng pelan. "Aku mohon, kamu mau menikah dengan mas Wira, Wen. Kamu teman terbaik yang aku miliki. Aku percaya bahwa kamu bisa merawat putraku dengan baik..."


Napas Aster semakin tersengal-sengal. Wanita itu semakin kesusahan untuk bernapas. Perawat yang berada di dekat brankar ini juga nampak cemas sekali.


"Sayang ... Sayang .... kumohon bertahan Sayang. Jangan pejamkan matamu. Tetap buka kelopak matamu!"

__ADS_1


Hati Wiraguna semakin kacau saat kelopak mata sang istri perlahan mulai terpejam. Dan tak selang lama, denyut nadi dan napas istrinya ini terhenti, sebagai pertanda bahwa ia telah pergi.


"Mohon maaf Pak ... istri Bapak tidak dapat diselamatkan."


"Asteerrrrrrr!!!!"


****


"Mau kemana kamu Wen? Mengapa kamu mengemasi barang-barangmu?"


Rajasa, lelaki yang tidak lain adalah suami dari Wenda itu begitu keheranan saat melihat sang istri memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah tas besar. Wanita itu seperti ingin pergi dalam waktu yang lama.


Wenda menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik badan dan menatap lekat wajah Rajasa. "Aku akan pergi dari sini. Aku akan menikah dengan Wiraguna."


Rajasa terhenyak. "Apa? Kamu akan menikah dengan Wiraguna? Bagaimana bisa kamu menikah dengan Wiraguna Wen? Kamu itu masih sebagai istriku. Dan saat ini kamu sedang mengandung janin berusia dua minggu yang merupakan darah dagingku."


Wenda tersenyum sinis. Hidup susah dengan suaminya ini sungguh hanya membuatnya seperti hidup di dalam neraka. "Persetan dengan itu semua. Yang mereka tahu, aku sudah lama bercerai darimu. Maka dari itu, ceraikan aku saat ini juga, Ja. Aku akan menikah dengan Wiraguna!"


Rajasa menggelengkan kepala. "Tidak Wen, aku tidak mau."


Tidak ingin berdebat dengan Rajasa, Wenda mulai mengayunkan tungkai kakinya untuk bersegera keluar dari rumah ini. "Terserah apa katamu Ja. Yang pasti mulai saat ini, jangan sekali-kali kamu muncul di kehidupanku. Jika sekali saja kamu muncul di kehidupanku, aku pastikan aku akan membunuh janin ini. Camkan itu baik-baik!"


Flashback Off


.


.


.


Hai kakak, kakak semua.. Mohon dukungannya di karyaku ini ya...



Karya ini ada di web Bukulaku.id ya kak, jadi bukan di aplikasi. Lalu caranya bagaimana? Hihihi hihihi


1. masuk ke web Bukulaku.id


2. daftarkan akun menggunakan e-mail (nanti ada langkah-langkahnya)


3. nah kalau sudah berhasil, lalu klik ramadhan berkesan👇



4. Lalu cari di sini👇

__ADS_1



5. Berikan like, komentar dan share ya kak.. Dengan seperti itu kakak-kakak bisa mendukung karya saya ini. Terima kasih 😘😘 Atau kalau masih ada yang bingung, DM saja IG yulia_rasti nanti saya copy kan link nya.. ❤️❤️


__ADS_2