Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 65. Rencana Jahat


__ADS_3

Gilang tercengang mendengar kata demi kata yang terlisan dari bibir lelaki yang ada di hadapannya ini. Bibirnya terkatup, lidahnya kelu tak mampu untuk berucap sepatah katapun lagi. Dadanya bergemuruh, emosi naik ke pucuk kepala yang seketika menimbulkan sensasi rasa nyeri. Bulir bening pun turut menetes perlahan tanpa ia sadari.


"Apakah saya harus mempercayai semua yang Anda ceritakan?" tanya Gilang masih dengan menatap Rajasa dengan tatapan nyalang.


Lelaki di hadapan Gilang ini pun juga turut tersenyum simpul. Seraya menggeleng pelan. "Aku tidak akan pernah memaksamu untuk percaya kepadaku. Namun, aku merasa bahwa kamu berhak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang aku ceritakan tadi adalah kebenarannya."


Gilang tiada bergeming sedikitpun. Apa yang baru saja ia dengar pada kenyataannya telah menyeretnya ke dalam pusaran rasa yang tidak mampu untuk dijabarkan. Dan hanya membuat pemuda itu menatap Rajasa dengan tatapan menerawang, sulit diartikan.


"Selama ini aku hanya bisa berharap sebelum aku menemui ajalku semoga waktu dapat mengungkap tabir pekat ini. Dan hari ini, Tuhan mengabulkannya. Kamu tahu tentang cerita yang sebenarnya. Namun aku pun juga tidak terlalu berharap bahwa kamu akan mengakui keberadaanku sebagai ayah kandungmu."


Ada rasa sesak yang menyeruak saat lidah dipaksa untuk mengucapkan hal itu. Lelaki mana yang tidak ingin diakui keberadaannya sebagai ayah kandung dari darah dagingnya sendiri? Siapapun pasti akan menginginkan hal itu. Namun, Rajasa tidak berharap lebih. Karena sudah sejak Wanda pergi dari kehidupannya dengan membawa semua yang menjadi napas kehidupannya, harapan itu mati dan terkubur dalam di dasar hati.


Lagi-lagi senyum penuh kegetiran terbit di bibir Rajasa. Ingin sekali rasanya ia rengkuh tubuh putra kandungnya ini. Namun ia cukup sadar diri tentang siapa dirinya.


"Saat ini kamu sudah memiliki kehidupan yang jauh lebih sempurna, aku..."


"Ayah...!!!"


Perkataan Rajasa terpangkas di saat Gilang bangkit dari posisi duduknya dan mengayunkan kaki untuk mendekat ke arah lelaki paruh baya itu. Pemuda itu mengambil posisi jongkok untuk kemudian memeluk pinggang Rajasa yang tengah terduduk di atas dipan.

__ADS_1


Sebuah kata yang terucap dari bibir Gilang nyatanya dapat membuat genangan air di pelupuk mata Rajasa yang sedari tadi ia tahan mengalir deras. Batin yang selama dua puluh empat tahun ini terbelenggu dalam rasa perih bak luka yang ditaburi garam karena ditinggal oleh sang istri yang sedang mengandung darah dagingnya kini penawar itu dapat ia temukan. Di saat sang anak memanggilnya dengan panggilan 'ayah'.


"Putraku..."


Tak jauh berbeda dengan Rajasa, Gilang juga ikut menumpahkan air matanya di dalam pelukan lelaki paruh baya ini. Ternyata inilah jawaban dari pertanyaan yang selama ini pendam sendiri. Hatinya seakan tidak menyatu dengan Wiraguna. Meski ia hidup bersama Wiraguna yang sejauh ini ia ketahui sebagai ayah kandungnya namun terbesit rasa segan terhadap lelaki itu.


"Aku minta maaf Yah. Maaf, Gilang baru mengetahui tentang hal ini. Gilang kira, mama adalah wanita baik-baik meskipun terkadang sikapnya memang buruk. Namun kenyataannya, mama memiliki segudang rahasia yang benar-benar tidak dapat Gilang maafkan. Karena perbuatan mama yang telah merenggut kebahagiaan papa Wiraguna, kak Arga dan pastinya juga Ayah sendiri."


"Ada lagi yang terenggut kebahagiaannya akibat perbuatan buruk mamamu di masa lalu Nak."


Gilang terhenyak. "Siapa Yah?"


"Pramudya? Lalu, sekarang di mana orang itu Yah? Apakah ia masih menjalani masa tahanan?"


Rajasa menggeleng pelan. "Tidak, tiga bulan berada di dalam sel tahanan, ia ikut meregang nyawa karena makanan yang masuk ke dalam mulutnya mengandung racun."


Gilang semakin terperangah. Mendengar cerita sang ayah prasangkanya tertuju pada seseorang. "Apakah kematian Pramudya juga ada hubungannya dengan mama?"


"Ayah rasa memang ada hubungannya dengan Wenda, namun sampai saat ini tidak ada yang mengetahui."

__ADS_1


Tubuh Gilang semakin terasa lemas. Tulang-tulang di tubuhnya terasa terlepas dari tempatnya bersemayam. Ia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang melahirkannya memiliki hati yang jahat seperti itu.


"Lalu, kemarin malam mama datang kemari dengan tujuan apa Yah? Entah mengapa Gilang merasa ada hal buruk yang direncanakan oleh mama."


Rajasa tersenyum penuh arti. Ia menepuk bahu putranya ini. "Ternyata hatimu begitu peka Nak. Mamamu datang kemari memang ingin mengajak Ayah untuk merencanakan kejahatan."


Dahi Gilang mengerut. "Merencanakan kejahatan? Untuk siapa Yah?"


"Untuk kakakmu."


"Kak Arga?"


"Ya, untuk Arga!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2