
Sorot mata Bhumi tidak lepas dari selembar kertas yang berada di genggaman tangannya ini. Selembar kertas yang berisikan coretan bait-bait lagu yang dibuat oleh Dewi. Dan Bhumi hanya sesekali menyunggingkan senyum di depan wanita ini.
"Bagaimana Bang? Kira-kira lirik lagu yang aku tulis itu bagaimana?"
Satu hal yang baru Bhumi sadari. Ternyata wanita yang baru beberapa hari ia kenal ini pandai menuliskan bait-bait lagu yang terasa indah sekali. Pilihan-pilihan kata yang tertulis benar-benar terasa menyentuh hati.
"Aku rasa lirik yang kamu buat ini tidak terlalu buruk. Coba nanti aku carikan nada yang pas."
Seutas senyum simpul terbit di bibir Dewi. Pada akhirnya, lirik lagu yang sempat ia tulis beberapa bulan yang lalu mendapatkan sebuah apresiasi.
"Aku yakin jika sudah berada di tangan Bang Bhumi pasti akan menjadi sebuah lagu yang indah sekali. Siapa lagi yang bisa meragukan kemampuan Bang Bhumi ini? Gitaris profesional kemampuannya diakui hingga ke seluruh penjuru dunia."
Seakan lupa dengan minim ekspresi yang sering ditampakkan, kali ini Bhumi tersenyum lebar di hadapan Dewi. Ucapan Dewi ini sungguh membuat lelaki itu seperti digelitiki hingga tidak sadar merekahkan senyum tiada henti.
"Oh astaga ... kamu bisa tersenyum lebar seperti ini Bang? I-ini sungguh kejadian yang sangat langka. Sepertinya aku harus mengabadikannya."
Seperti melihat sebuah fenomena yang langka, Dewi sampai berpikir akan mengabadikan momen ini. Ia sibuk mencari ponsel kesana kemari. Bermaksud ingin menggunakan fitur kamera untuk mengabadikan senyum lebar Bhumi. Namun, mendadak wajah Dewi berubah pias di kala ada satu hal yang ia sadari. Ya, ia tidak memiliki ponsel untuk bisa mengabadikan momen langka ini.
"Ada apa? Kamu tidak memiliki kamera?"
Rekahan senyum lebar di bibir Bhumi perlahan sirna. Seperti biasa, ia kembali menampakkan wajah minim ekspresi yang ia punya. Hal itulah yang membuat Dewi sedikit berdecak kesal karena telah gagal mengabadikan momen yang dirasa langka.
"Ckkk... ccckkkkk... iya, aku baru sadar jika aku tidak memiliki ponsel. Lagipula, di zaman yang serba modern seperti ini, mengapa ponsel yang bang Bhumi pakai masih seperti itu? Bukan ponsel android ataupun i-phone?"
Sejatinya, wanita itu sedikit keheranan dengan keberadaan ponsel zaman baheula yang dipakai oleh Bhumi. Di saat kebanyakan manusia menginginkan fitur sempurna yang dapat mereka akses hanya melalui satu sentuhan, Bhumi justru memilih ponsel yang hanya menyajikan fitur telepon dan berkirim pesan saja.
__ADS_1
"Apakah ada masalah jika aku menggunakan ponsel ini? Tidak ada salahnya bukan?"
"Ya memang tidak ada Bang. Tapi setidaknya dengan ponsel android ataupun i-phone, bang Bhumi bisa lebih up to date terhadap perkembangan berita yang ada di luar sana."
"Aku tidak memerlukan apapun. Lagipula aku jauh merasa lebih tenang dengan memakai ponsel ini."
Bhumi melipat lembaran kertas yang ia dapatkan dari Dewi kemudian ia simpan ke dalam saku celana. Ia menutup pintu rumah dan tanpa basa-basi mengajak Dewi untuk beranjak dari tempat ini.
"Ayo ikut aku!"
Dewi terperangah, di saat pergelangan tangannya seakan di cengkeraman erat oleh Bhumi. "I-ikut ke mana Bang? Bukanlah jika siang hari waktunya untukku beristirahat dan latihan?"
Meski sedikit terkejut, Dewi mengikuti ke mana lelaki itu akan membawanya pergi. "Kita akan ke mall. Belilah beberapa potong pakaian yang dapat kamu gunakan untuk perfom di kafe. Dan jangan lupa, beli ponsel sekalian sehingga kamu bisa menghubungi keluargamu di rumah."
***
Kartika yang tengah duduk di atas kursi roda sembari menikmati angin siang mlalui balkon, sedikit terperanjat dengan kedatangan Wiraguna yang tiba-tiba. Wanita berusia senja itu sekilas menatap kedatangan Wiraguna, dan kemudian ia tautkan lagi pandangannya ke arah sekitar.
"Ada apa Wira? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
Wiraguna menggeser kursi yang terbuat dari rotan untuk bisa lebih dekat dengan sang ibunda. Lelaki itu juga turut menikmati segala suasana yang ada di sekelilingnya.
"Apakah sejauh ini Arga pernah menghubungi Ibu? Sudah enam bulan ia meninggalkan rumah dan sampai sekarang tidak ada kabar beritanya."
Kartika hanya bisa tersenyum getir. Jika teringat akan keberadaan sang cucu, seakan membuat jantungnya semakin berdesir. Tak ayal menjadi satu beban yang ia pikir.
"Sampai saat ini pun, aku tidak mengetahui keberadaan Arga. Bahkan hanya sekedar mendengar kabar berita darinya pun tidak aku dapatkan."
__ADS_1
"Apakah Wira telah salah mengambil langkah dengan menjadikan ia sebagai pengganti Wira yang kelak akan meneruskan perusahaan, Bu? Apakah Wira keliru?"
Kartika menggelengkan kepala. "Tidak, kamu tidak salah jika mengarahkan putramu untuk menggantikan posisimu di perusahaan. Namun kamu melupakan satu hal, Wira. Kamu melupakan kebebasan Arga dalam menentukan jalan hidupnya."
Wiraguna membuang napas sedikit kasar. Seakan menunjukkan sebuah belenggu rasa yang terasa semakin membesar. Seketika, memori tentang pertengkaran hebat yang sempat terjadi antara dirinya dengan Arga di enam bulan yang lalu kembali mengedar, memenuhi isi kepala.
"Masa depan seperti apa untuk seorang pemusik, Bu? Menjadi seorang pemusik bukanlah hal yang patut untuk Arga perjuangkan. Ia jauh lebih layak dan pantas menjadi seorang pemimpin perusahaan. Dan kehidupannya akan jauh lebih terjamin dengan menjadi seorang direktur utama."
"Jangan terlalu sombong dengan sebuah jabatan dan kedudukan, Wira. Tuhan menyebar rezeki dan rahmatNya di semua tempat tidak hanya di sebuah perusahaan saja. Aku justru mendukung cucuku untuk menjadi seorang pemusik, jika memang ia bisa totalitas di bidang itu. Karena aku melihat passion Arga ada di dunia musik. Dan bagiku, seseorang yang bekerja sesuai passion yang ia miliki, akan cenderung lebih mudah untuk meraih kesuksesan."
"Tapi Wira benar-benar trauma jika sampai nasib Arga seperti mendiang mamanya, Bu. Wira tidak ingin jika nasib buruk yang pernah dialami oleh Aster, dialami pula oleh Arga."
Tetiba rasa sesak menyerang tubuh Wiraguna. Dadanya seakan dihimpit oleh dua bongkahan batu besar yang membuatnya kesulitan untuk meraup udara. Hingga pada akhirnya, titik-titik embun yang berkumpul di pelupuk mata miliknya lah yang berbicara, jika saat ini ia tengah merasakan guncangan dalam jiwa.
Kolase-kolase peristiwa tragis di dua puluh empat tahun lalu kembali berkeliaran di dalam pikiran Wiraguna. Sang istri, yang saat itu sedang berada di puncak kejayaan menjadi seorang diva harus berakhir di kala tiba-tiba wanita itu mengalami kecelakaan tragis setelah pulang dari show. Setelah diselidiki, ternyata mobil yang ditumpangi oleh Aster disabosate oleh seseorang hingga membuat sang istri meregang nyawa.
Di mata Wiraguna, dunia musik dan dunia hiburan merupakan dunia yang begitu keras. Siapapun bisa saling menikam untuk mencapai obsesi dan ambisi yang mereka inginkan.
Kartika mencoba menelaah apa yang diucapkan oleh Wiraguna. Ia paham jika kejadian di dua puluh empat tahun lalu masih membuat putra tunggalnya ini merasakan trauma.
"Di dunia hiburan ataupun dunia bisnis sama-sama memiliki peluang persaingan tidak sehat. Namun, aku justru merasa jika Arga akan jauh lebih tenang dan aman ketika memilih jalan bermusik. Karena, masih banyak orang-orang di sekeliling Arga yang memiliki rencana jahat untuk menyingkirkan Arga sehingga ia tidak akan pernah bisa menjadi penerusmu."
Kedua bola mata Wiraguna terbelalak dan membulat sempurna. Ia berpikir jika terlalu banyak hal-hal yang luput dari perhatiannya. "Maksud Ibu?"
Senyum tipis terbit di bibir Kartika. Ia merasa belum waktunya untuk mengungkap kecurigaan apa yang selama ini ia rasakan. Ia baru saja akan melangkah bersama Hans, untuk membongkar semua kejahatan yang ada di sekelilingnya.
"Sudahlah, tidak perlu kamu risaukan. Tugasku hanya memastikan bahwa cucuku, Svarga Bhumi senantiasa dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa ada seorang pun yang bisa mencelakainya."
__ADS_1