Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 56. Diundur


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh beberapa alat musik, seperti drum, gitar, orgen, ketipung, nampak seorang laki-laki tengah duduk di sebuah sofa kecil yang telah tersedia. Sedari tadi pandangannya belum beralih dari sebuah buku kecil yang berada di dalam genggaman tangannya. Buku kecil berwarna biru, yang di dalamnya tersimpan sebuah coretan tangan tentang sebuah rasa yang dicurahkan oleh seseorang. Meski sedikit basah, namun ia dapat dengan jelas membaca setiap kata yang terangkai.


"Ternyata selama ini dia memendam perasaan kepadaku. Haaahh ... kalau saja aku tahu bahwa takdir hidup Dewi akan seperti ini, aku pasti tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Dicintai oleh seorang wanita yang saat ini telah banyak mengalami perubahan. Terakhir kali aku melihatnya tampil di stasiun TV, dia nampak langsing, cantik dan modis. Berbeda jauh dari saat ia ikut bergabung dengan Magatra."


Pandangan Langit nampak menerawang, teringat akan semua yang telah berlalu. Wanita yang pernah ia hina, ternyata kini berada di puncak kesuksesannya. Jauh berbeda dengan keadaannya saat ini. Saat ini keadaannya begitu menyedihkan. Karena nama grup musik yang pernah ia dirikan berada di ambang kehancuran.


"Sepertinya aku harus menggunakan diary ini untuk ikut pansos ketenaran Dewi. Ya, aku akan muncul di depan media dan mengakui bahwa aku ini adalah mantan kekasih Dewi. Dengan begitu, aku pasti akan banyak diundang oleh stasiun televisi dan diundang untuk menjadi bintang tamu di berbagai acara podcast-podcast yang tengah nge-hits saat ini untuk memberikan klarifikasi."


Lembar demi lembar telah selesai ia baca. Senyum seringai pun masih nampak menghias bibirnya. Membayangkan bagaimana ketenaran itu dapat ia genggam dan menjadikannya orang terkenal. Hingga suara derap langkah kaki terdengar merembet ke dalam indera pendengarannya.


"Bang!"


Amara, dengan pakaian seksinya masuk ke dalam ruangan di mana Langit berada. Melihat ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan, membuatnya bergegas menyembunyikan diary berwarna biru itu.


"Ra, ada apa? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?"


Melihat raut wajah Amara yang nampak begitu serius, membuat Langit yakin jika ada suatu hal yang ingin disampaikan oleh salah satu vokalis Magatra ini. Ia yang sebelumnya fokus dengan dunia khayalannya sendiri, kini fokus ke arah sang vokalis.


"Lihatlah Bang, ada kesempatan emas bagi kita untuk mengikuti ajang ini. Di sini tertulis ada salah satu label rekaman yang sedang mencari grup-grup musik berbakat untuk bisa rekaman."


Amara menyodorkan ponsel yang ia bawa ke arah Langit. Ia menunjukkan salah satu akun instagram milik salah satu label rekaman yang mencari beberapa grup musik berbakat untuk bisa mengikuti rekaman.


"Svarga record. Sepertinya label rekaman ini baru ya? Aku sepertinya belum pernah mendengar nama ini."


Amara hanya tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala. Sebagai isyarat membenarkan apa yang diucapkan oleh managernya ini.


"Betul sekali, Bang. Svarga record merupakan label rekaman baru di belantika musik Indonesia. Namun tidak dapat kita ragukan lagi keberadaannya Bang. Karena melalui Svarga record ini, banyak sekali para penyanyi dan pemusik muda yang meraih kesuksesannya. Dan apakah Abang tahu?"


"Tahu perihal apa Ra?"

__ADS_1


"Svarga record merupakan tempat Dewi melakukan rekaman. Abang bisa lihat sendiri bukan bahwa Dewi baru sebentar masuk ke industri rekaman? Namun tidak bisa kita ragukan lagi keberhasilannya menjadi penyanyi pendatang baru."


Sorot mata Langit kembali menatap lekat feed instagram milik Svarga record ini. Ternyata memang benar bahwa Dewi bernaung di bawah label musik ini. Karena di feed instagram ini banyak sekali postingan-postingan yang memperlihatkan aktivitas Dewi.


"Boleh juga ini kita coba, Ra. Bukankah kita sudah memiliki beberapa stok lagu baru yang bisa kita launching? Aku yakin, melalui Svarga record ini, kita bisa ikut sukses di industri rekaman."


"Aku juga sependapat Bang. Namun kita harus bergerak cepat untuk bisa segera tiba ke Jakarta Bang."


Dahi Langit sedikit mengerut. "Mengapa bisa seperti itu Ra?"


"Karena audisi ini diadakan lusa. Itu artinya, kita harus segera berangkat ke Jakarta."


Langit nampak berpikir sejenak. Ia yang berencana ingin mengundang salah satu wartawan untuk pansos melalui diary milik Dewi ini terpaksa ia urungkan. Ia memilih untuk mengejar mimpi bisa masuk ke industri rekaman terlebih dahulu. Kapan lagi ada kesempatan bagus untuk mengikuti audisi seperti ini.


"Baiklah Ra, hubungi Adelia dan seluruh personil Magatra. Kita akan berangkat ke Jakarta sore ini juga."


"Baik Bang, aku akan segera menghubungi Adelia dan juga yang lainnya."


Amara mengambil kembali ponsel yang digeletakkan oleh Langit di atas meja yang berada di hadapannya. Dengan hati yang berbunga-bunga, wanita itu bergegas meninggalkan ruangan Langit ini.


Langit kembali menatap langit-langit ruangan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Membayangkan sebentar lagi ia akan menjadi terkenal. Jika sebelumnya ia bekerja di balik layar dengan menjadi seorang manajer, mulai besok ia berniat untuk ikut menjadi salah satu vokalis di grup musik yang ia dirikan ini.


"Haaaaahhhhh.... aku sudah tidak sabar untuk bisa terkenal dan lagu-lagu ciptaanku bisa memberi warna di belantika musik Indonesia."


***


Dewi tersenyum simpul melihat wajah Bhumi yang nampak begitu bersalah seperti ini. Berkali-kali ia mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja namun sepertinya belum bisa meredam perasaan bersalah yang menguasai hati Bhumi.


"Bang ... sudah. Tidak perlu lagi kamu pikirkan akan hal itu. Aku bahkan tidak mempermasalahkan."

__ADS_1


"Tapi aku sungguh merasa sangat bersalah kepadamu Dew. Aku merasa seperti seorang laki-laki yang tidak konsekuen dengan janji yang telah aku buat."


Bhumi membuang napas sedikit kasar. Tatkala ia menjanjikan akan datang ke kediaman orang tua sang kekasih, ternyata ia melupakan satu hal. Ia lupa bahwa lusa label musik miliknya akan mengadakan audisi pencarian bakat. Oleh karenanya, sedari tadi lelaki berusia tiga puluh tahun itu memasang wajah sendu karena secara tidak langsung ia yang membatalkan acara lamaran yang rencananya lusa akan ia adakan.


"Bang, harus berapa kali lagi aku mengatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan perihal itu Bang? Aku bahkan tidak masalah jika acara lamaran kita selenggarakan setelah Bang Bhumi selesai menyelenggarakan audisi pencarian bakat itu. Aku justru malah mendukungmu Bang."


"Serius kamu tidak apa-apa Dew? Aku sungguh merasa tidak enak hati."


Bhumi mencoba untuk mencari rasa kecewa yang dirasakan oleh Dewi melalui manik matanya. Namun tidak sepercik pun tersirat di sana. Justru di dalam manik mata itu nampak binar kebahagiaan yang begitu kentara.


Dewi menganggukkan kepala. "Benar Bang, tidak masalah bagiku jika acara lamaran itu diundur setelah audisi pencarian bakat yang diadakan oleh Svarga record. Itu artinya label musik milik Abang, akan lebih banyak lagi mencetak bintang-bintang baru di industri musik Indonesia."


Tidak ada ekspresi wajah yang dapat Bhumi tampakkan selain ekspresi bahagia. Lelaki yang sebelumnya berdiri di depan jendela lebar ruang kerja miliknya ini, ia ayunkan tungkai kakinya untuk bisa lebih dekat dengan sang kekasih. Ia ikut mendaratkan bokongnya di samping Dewi yang tengah duduk di atas sofa. Ia raih jemari tangan milik Dewi dan ia kecup buku-buku jemarinya dengan intens.


"Terima kasih Dew. Aku sungguh bersyukur bisa mendapatkan calon istri yang sangat pengertian seperti kamu ini."


Dewi juga hanya bisa tersenyum lebar. Mendapatkan perlakuan manis seperti ini, seakan hatinya dipenuhi oleh kelopak-kelopak kebahagiaan yang berhamburan.


"Sama-sama Bang. Aku juga hanya bisa turut mendukung atas apa yang Abang rencanakan."


.


.


.


Hai, hai, hai kakak-kakak tersayang.... Terima kasih banyak masih setia mengikuti tulisan saya ini ya kak... Mohon maaf, karena saya masih belum bisa membalas satu persatu komentar kakak-kakak semua... Jangan lupa untuk senantiasa meninggalkan jejak di setiap episodenya ya Kak... 😘😘😘


Salam love, love, love❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2