Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 23. Nyonya Kartika


__ADS_3


Netra yang terbingkai indah dalam bulu mata panjang dan lentik itu masih saja setia menatap lekat dua manusia yang sedang berkomunikasi. Kali ini, ada yang berbeda dari cara keduanya saling mengungkapkan maksud hati. Tidak seperti kebanyakan manusia yang menggunakan rangkaian kalimat yang tersusun rapi. Namun menggunakan bahasa isyarat untuk dapat dimengerti.


Dewi tiada henti menautkan pandangannya ke arah Sita yang tengah berbincang-bincang dengan sang ibu. Entah mengapa melihat gadis kecil ini berkomunikasi dengan sang ibu membuat hati Dewi diliputi oleh awan kelabu. Ternyata, ibunda Sita mengalami sedikit gangguan mental dan bisu. Hal itulah yang semakin membuat hati Dewi dipenuhi oleh perasaan haru.


"Kak Dewi kenapa menangis?"


Suara lembut Sita yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengaran, membangunkan Dewi dari lamunan panjangnya. Wanita itu mengerjabkan mata dan kemudian menggiring atensinya ke arah gadis kecil yang tengah berdiri di sisinya. Gegas, ia pun menyeka bulir bening yang sempat menetes dari kedua pelupuk mata.


"Ah ... tidak apa-apa Sita. Kak Dewi hanya terenyuh melihat Sita yang sedang berbicara dengan ibu. Memang Sita tinggal di sini hanya dengan ibu saja?"


Gadis kecil itu mengangguk samar. "Iya Kak, Sita hanya tinggal dengan ibu. Sejak berusia enam tahun, ayah pergi begitu saja meninggalkan Sita dan juga ibu. Sebelumnya ibu tidak seperti ini. Namun baru satu tahun terakhir ibu seperti orang yang terkena gangguan mental."


Dengan pandangan menerawang, Sita mencoba untuk mengenang apa saja yang pernah dilalui. Wajah polos yang dipaksa untuk tetap tegar berdiri, seakan membuat Dewi merasakan nyeri hingga ke ulu hati. Ia sampai tidak bisa membayangkan bagaimana cara Sita untuk tetap bertahan menghadapi semua ini sendiri.


"Sita, maafkan kak Dewi. Kak Dewi tidak bermaksud untuk membuat Sita bersedih hati."


Membawa gadis kecil ini ke dalam dekapan. Dewi mencoba untuk meminta maaf karena telah telah membuat Sita teringat akan satu peristiwa yang mungkin sudah ia paksa untuk dilupakan. Sembari mengusap-usap punggung Sita, berupaya untuk menenangkan.


"Tidak apa-apa Kak. Sekarang Sita malah senang karena kak Dewi tinggal di sini. Sita jadi punya teman."


"Apakah ibu Sita sering mengamuk? Maksud kak Dewi sering berbuat sesuatu yang di luar kendali?"


"Tidak Kak, ibu Sita tidak pernah mengamuk. Apalagi kalau Sita pulang dengan membawa makanan, ibu pasti akan senang. Maka dari itu, setiap Sita pulang dari mengamen, pasti Sita sempatkan untuk membeli makanan."


Dewi semakin mengeratkan pelukannya. Di tempat ini, ada banyak sekali yang membuat wanita itu jauh lebih bersyukur akan anugerah yang telah Tuhan berikan. Dan, perkara fisik yang ia miliki yang sering mengundang cemoohan sejatinya bukanlah penghambat upayanya untuk meraih kesuksesan. Dari sini lah semangat Dewi untuk bisa mengubah takdir hidupnya, layaknya kobaran api yang tidak bisa dipadamkan.

__ADS_1


"Sita jangan bersedih lagi, kak Dewi akan selalu menemani Sita di sini. Kita akan selalu bersama sebagai keluarga."


"Terima kasih Kak."


Tidak perduli kemana angin menerbangkan dan menjatuhkan kelopak dandelion, pada kenyataannya kelopak bunga itu masih tetap bisa hidup dan bertahan. Ia akan kembali bersemi di tempat baru dengan menghadirkan segala sisi keindahan yang tersimpan. Dan Dewi layaknya dandelion. Akan selalu ada tempat baru dan orang-orang baru yang dapat menerima keberadaan wanita itu.


****


Manik mata Dewi masih menatap lekat langit-langit ruangan yang hanya terbuat dari seng bekas yang sudah nampak berkarat. Sedari tadi, wanita itu mencoba untuk memejamkan mata namun sangat sulit untuk ia buat. Bayangan sang ibu masih saja bermain-main dan memeluk pikirannya erat. Hingga mata itu sulit terpejam, meski sudah dilanda oleh rasa kantuk yang begitu hebat.


Dew, kamu baik-baik saja kan? Kamu mendapatkan tempat tinggal yang layak kan di Jakarta? Tidak ada orang yang berbuat jahat kepadamu kan?


Sederet pertanyaan sang ibu yang ia dengar melalui sambungan telepon milik Bhumi masih saja terngiang di telinga. Dan pertanyaan itulah yang memaksa Dewi untuk menjadi seorang pendusta. Tidak ingin membebani pikiran sang ibu dengan berbagai hal yang mungkin bisa menjadi bahan pikiran, Dewi terpaksa menutupi semua yang ia alami di kota Jakarta.


Namun, setidaknya Dewi tidak berbohong jika saat ini ia memang dalam keadaan baik-baik saja. Bisa mendapatkan tempat berteduh meski jauh dari kata layak. Bertemu dengan orang-orang baru yang begitu luar biasa baiknya. Dan kehadirannya bisa diterima tanpa memandang siapa dia. Beberapa poin itulah yang membuat Dewi semakin terbuka hati dan juga pikirannya untuk lebih bersemangat mengubah keadaan hidupnya.


Terima kasih Tuhan, dalam perjalanan hidupku Engkau pertemuan aku dengan malaikat kecil ini. Aku benar-benar banyak belajar dari gadis ini. Belajar tentang kesabaran, kekuatan dan juga keikhlasan. Hanya satu yang menjadi pintaku, Tuhan... Semoga kelak, aku bisa meraih semua yang aku impikan. Dengan begitu, aku dapat membahagiakan orang-orang yang telah banyak berjasa dalam hidupku.


****


Tirai putih di ruang VVIP sebuah rumah sakit nampak berayun-ayun tatkala belaian lembut sang bayu menerpa. Hawa segar nan sejuk seketika memenuhi atmosfer ruangan yang didominasi oleh peralatan medis yang sedang bekerja.


Kelopak mata wanita berusia senja yang tengah berbaring lemah di atas hospital bed itu perlahan terbuka. Ia sedikit memincing, saat cahaya mentari pagi sedikit terasa menusuk kornea. Ia mencoba untuk menyesuaikan pantulan cahaya yang berada di sekelilingnya.


"Nyonya Sepuh!"


Seorang laki-laki dengan pakaian tiga potong, sedikit memekik di kala matanya menangkap bayangan, wanita yang ia panggil dengan sebutan nyonya sepuh ini mulai membuka mata.

__ADS_1


"Hans, tolong sedikit tegakkan bantalan ranjangku!"


Lelaki bernama Hans itu memutar sebuah tuas untuk bisa menyesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh wanita berusia senja ini. "Apakah ini sudah nyaman, Nyonya?"


Kartika menganggukkan kepala. "Sudah Hans, terima kasih."


Hans kembali duduk di sebuah kursi yang berada di sisi ranjang Kartika. Lelaki itu nampak begitu lega, melihat sang nyonya bisa kembali meraih kesadarannya. Ia pikir, Kartika akan berada dalam fase tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Namun pada kenyataannya hanya semalam saja.


"Nyonya? Nyonya Sepuh mau apa? Biar saya ambilkan?"


Kartika menggelengkan kepala. "Tidak Hans, aku tidak ingin apa-apa."


Kartika memijit-mijit kening sembari melihat ke sekeliling. Wanita itu nampak seperti sedang mencari sesuatu. "Hans, di mana gadis itu?"


Dahi Hans sedikit berkerut. "Gadis? Gadis siapa Nyonya?"


"Gadis yang membawaku sampai ke rumah sakit ini Hans! Dia adalah malaikat penolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika aku tidak dipertemukan dengan gadis itu."


Hans semakin terperangah. Ternyata ada satu hal yang luput dari perhatiannya. "Namun, ketika saya menemukan keberadaan Nyonya Sepuh di rumah sakit ini, saya sama sekali tidak bertemu dengan siapapun, Nyonya."


"Segera cari gadis itu Hans! Aku harus memberikan imbalan yang layak untuknya. Aku berhutang nyawa kepada gadis itu. Dan apakah kamu juga sudah mengetahui keberadaan Arga, cucuku?"


Hans menggeleng pelan. "Belum Nyonya. Keberadaan tuan muda Arga benar-benar sangat sulit untuk dapat dilacak. Beberapa anak buah yang saya kerahkan untuk mencari tuan muda Arga juga sama sekali belum mendapatkan hasil apa-apa. Saya benar-benar minta maaf Nyonya."


"Tidak Hans, ini bukanlah kesalahanmu. Biarkan dengan kepergian Arga membuat mata hati yang saat ini tengah dibutakan oleh keangkuhan, bisa segera tersadar. Asal aku bisa mendengar cucuku dalam keadaan baik-baik saja, aku sudah cukup lega mendengarnya."


"Baik Nyonya, akan saya upayakan untuk bisa segera mengetahui keberadaan tuan muda Arga."

__ADS_1


Hans hanya bisa mengangguk patuh. Saat ini ada dua pekerjaan besar yang harus menjadi prioritasnya selain mencari dalang di balik penculikan Kartika. Yaitu mencari gadis yang disebut-sebut oleh Kartika dan mencari keberadaan cucu dari Kartika yang bernama Arga.


__ADS_2