
Di sebuah tanah lapang di salah satu kota yang berada di kawasan Jawa bagian barat, nampak sebuah panggung berdiri kokoh dengan hingar bingar suara alat musik perkusi yang terdengar menggema. Berpuluh-puluh orang nampak mengelilingi panggung itu, pastinya untuk menyaksikan penampilan salah satu penyanyi yang tengah naik daun saat ini. Siapa lagi jika bukan Dewi.
Kehadiran Dewi disambut hangat oleh para penggemarnya di kota ini. Mereka terdengar ikut menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi pendatang baru itu. Bahkan mereka begitu hafal dengan lirik-lirik lagu yang berada di album pertamanya. Hal itulah yang menjadi satu kebahagiaan tersendiri bagi Dewi. Bisa melihat orang-orang larut dalam kebahagiaan seperti ini, membuat hati wanita itu diliputi oleh kebahagiaan yang hakiki.
Sementara itu, di lahan parkir dimana berpuluh-puluh kendaraan nampak berjajar rapi, lima orang keluar dari dalam mobil berwarna hitam. Sejak dari ibu kota, mereka membuntuti sebuah mobil tipe SUV warna putih hingga pada akhirnya tiba di tempat ini. Sebuah tempat terletak jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Kelima orang itu sama-sama saling memeriksa keadaan untuk memastikan bahwa keberadaan mereka tidak dicurigai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Setelah keadaan dirasa aman, mereka menuju ke arah mobil yang terparkir yang sejak sore tadi mereka buntuti.
"Bang, sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Sang pimpinan preman hanya bisa dibuat berdecak kesal oleh tingkah polah salah satu anak buahnya ini. Anak buah yang hanya bisa makan namun otaknya sangat bebal sekali. Sejak berada di dalam mobil, mulutnya sudah sampai berbusa-busa untuk menjelaskan strategi apa yang akan mereka lakukan, namun anak buahnya ini masih belum mengerti. Sungguh rasa-rasanya pimpinan preman itu ingin gantung diri. Sedangkan teman-temannya yang lain juga turut terkikik geli.
"Astaga Brandon, nama kamu saja yang terdengar garang, namun otakmu sangat dangkal. Apa aku masih harus mengulangi lagi akan apa yang harus kita lakukan?"
"Maaf Bang, perutku keroncongan lagi. Jadi, aku merasa tidak mampu untuk berpikir," ujar Brandon memberikan penjelasan.
"Apa? Kamu lapar lagi? Ingat, sebelum kita berangkat, kamu sudah menghabiskan dua porsi ketoprak, satu porsi rendang, satu porsi empek-empek kapal selam, empat porsi bakso, kamu bilang perutmu kembali keroncongan? Itu perut atau mobil tanki, Ndon?" teriak Brandy yang merasa semakin gemas.
"Yah, itu sudah beberapa jam yang lalu Bang. Sekarang aku lapar lagi!"
Brandy hanya bisa mengelus dada dan memijit-mijit pelipisnya. Jika keadaannya seperti ini, rasa-rasanya ia menyesal pernah merekrut Brandon sebagai salah satu anak buahnya. Jika seperti ini, komisi yang diberikan oleh sang bos bisa berkurang banyak hanya untuk mengenyangkan perut anak buahnya ini.
"Sudah, sudah. Sekarang, kita bekerja terlebih dahulu. Setelah semua pekerjaan telah selesai, kita cari makan."
Wajah Brandon nampak berbinar. Mendengar kata makan, seakan menambah semangatnya untuk bekerja keras. "Asiiaapppp Bang!"
Pada akhirnya, kelima orang itu mulai bekerja. Dua orang terihat bekerja untuk menyabotase rem mobil SUV warna putih ini. Dan tiga orang lainnya nampak berjaga-jaga untuk memastikan bahwa keadaan aman.
Sedangkan dari kejauhan, nampak dua orang pria sedang mengawasi apa yang tengah dilakukan oleh kumpulan preman itu dari balik kaca mobil. Sejak tadi, mereka juga turut membuntuti ke mana perginya putra tunggal Wiraguna itu.
"Ternyata trik seperti ini lagi yang Wenda lakukan untuk menghancurkan keluarga Wiraguna. Aku tidak menyangka jika Wenda masih belum puas untuk membuat celaka keluarga Wiraguna."
__ADS_1
Rajasa menggeleng-gelengkan kepala sembari berdecak heran. Ia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang begitu ia cintai ternyata memiliki hati sekotor dan sebusuk ini. Yang tega melakukan apapun untuk bisa meraih ambisinya.
"Yah, apa kita hentikan saja perbuatan mereka? Aku rasa, jika kita menyusul mereka, mereka akan menghentikan niat jahat itu."
Gilang mencoba memberikan usul kepada Rajasa. Sebagai seorang anak, ia juga merasa geram dengan rencana jahat yang dilakukan oleh mamanya ini. Sehingga, ia berpikir untuk menghentikan niat jahat itu sebelum memakan korban.
Rajasa menggeleng, pertanda tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Gilang.
"Tidak Nak, bukan dengan cara seperti itu kita menghentikan perbuatan mamamu. Ayah memiliki rencana agar bisa membuat mamamu jera dan menyesal dengan semua kejahatan yang pernah ia lakukan. Namun apakah kamu setuju akan satu hal, Lang?"
"Setuju tentang apa Yah?"
"Apakah kamu setuju, jika setelah ini mamamu akan masuk ke dalam penjara?"
Ada rasa iba yang bergelayut manja di dalam hati Gilang ketika membayangkan sang mama akan menghabiskan sisa usianya di balik jeruji besi. Namun, ini semua sudah menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh sang mama dan ia harus bertanggung jawab atas semua.
Senyum manis terukir di bibir Rajasa. Ia benar-benar bangga memiliki seorang putra seperti Gilang ini. Meski sejak kecil Gilang berada di bawah didikan Wiraguna, namun pada kenyataannya, didikan Wiraguna berhasil membuat Gilang memiliki jiwa ksatria seperti ini.
"Bagus Nak. Ayah bangga kepadamu!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang Yah?"
Rajasa sedikit merapatkan tubuhnya ke tubuh Gilang. Lirih dia berbisik di telinga sang putra.
Gilang terhenyak, dengan kedua bola mata yang terbelalak sempurna. "Ayah serius akan melakukan hal itu?"
Rajasa mengangguk pelan. "Sudah pasti Ayah serius melakukannya Lang."
"Tapi, bagaimana jika sampai Ayah yang terluka? Bukankah itu akan sama-sama menjatuhkan korban?"
__ADS_1
Rajasa hanya tersenyum simpul dan menepuk pundak Gilang dengan pelan, sebagai sugesti agar putranya ini tidak terlalu cemas. " Kamu tidak perlu risau, Lang. Rencana ini sudah Ayah pikir matang-matang. Percayalah, jika niat kita baik, pasti Tuhan juga akan turut melindungi kita."
Sejatinya, ada sedikit perasaan yang mengganjal di hati, namun Gilang mencoba untuk tetap mempercayai ucapan sang ayah. "Baik Yah, kali ini Gilang percaya pada Ayah."
"Terima kasih Nak."
Sementara itu, setelah menyabotase rem mobil milik Bhumi, kelima penjahat yang dibayar oleh Wenda itu kembali masuk ke dalam mobil. Mereka bisa bernapas lega karena tugas mereka telah paripurna tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
"Hah... akhirnya selesai juga!" ucap Brandy sembari meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Lalu, setelah ini kita akan ke mana Bang?" tanya salah seorang anak buah yang bernama Burik.
"Kita kembali ke penginapan untuk beristirahat sambil menunggu kabar bahagia dari penumpang mobil itu mengalami kecelakaan akibat rem blong," jawab Brandy dengan riang gembira.
"Itu artinya, setelah ini kita bisa langsung makan kan Bang?" timpal Brandon yang masih saja ingat perihal makan.
Brandy pun hanya bisa tersenyum jengah, karena hanya perihal makan yang diingat oleh anak buahnya ini. Ia berniat setelah pekerjaan ini, ia akan memecat Brandon sehingga tidak menjadi anak buahnya lagi.
"Iya, iya setelah ini kamu boleh makan apapun dan berapa pun banyaknya. Aku akan membelikannya untukmu."
"Hahaha aseekkk... Kalau begitu, mari kita cap cuss Bang!"
Pada akhirnya, mereka meninggalkan tempat ini untuk kembali ke penginapan sembari menunggu sebuah berita dari salah satu stasiun televisi yang mengabarkan bahwa sang diva yang tengah naik daun meninggal dalam keadaan mengenaskan bersama sang kekasih yang merupakan putra dari pemilik Wiraguna grup.
.
.
.
__ADS_1