
Dewi berjalan di belakang Bhumi dengan jantung yang berdegup tiada terkendali. Kepalanya menunduk, menekuri setiap jejak yang telah terlewati. Bak seorang yang akan mengikuti kontes menyanyi. Wanita itu merasa sangat gugup sekali.
Siang ini, Bhumi akan membawa Dewi bertemu dengan salah satu dokter kecantikan yang berada di kota ini. Seorang dokter muda yang merupakan teman baik Bhumi. Yang entah berapa lama sudah tidak pernah ia temui.
"Jangan menunduk seperti itu. Tegakkan kepalamu. Kita hanya akan bertemu dengan dokter kecantikan, bukan presiden!"
Bhumi memberikan sebuah instruksi. Meminta Dewi untuk menegakkan kepala setelah sedari tadi menunduk seperti ini. Lelaki itupun menggenggam jemari tangan Dewi tanpa permisi. Yang membuat Dewi terkejut setengah mati.
"Tapi aku takut Bang."
"Takut karena apa? Dokter itu tidak akan memakan ataupun menerkammu. Jadi, apa yang kamu takutkan?"
Dewi mengedikkan bahu. Sejatinya apa yang membuatnya ketakutan seperti ini ia sendiri pun tidak tahu. Namun selain rasa takut ada pula rasa gugup yang menggebu. Gugup jika kondisi wajahnya ini hanya akan membuatnya semakin malu.
"Entahlah Bang. Aku benar-benar takut jika sampai dokter itu menanyakan bagaimana bisa kulit wajahku seperti ini. Pastinya aku akan terlihat sangat bo*doh karena pernah tertipu oleh krim abal-abal."
"Justru kamu harus menceritakan bagaimana kronologi yang sesungguhnya, sehingga dokter itu nanti dapat memberikan penanganan yang tepat untukmu."
"Tapi Bang..."
"Sudah .... jangan banyak protes. Yakinlah semua akan baik-baik saja."
Bhumi mengeratkan genggaman tangannya. Menjadikan Dewi semakin terperangah. Wanita itupun menggeser pandangan miliknya untuk menatap wajah lelaki yang penuh dengan sejuta pesona di matanya.
Senyum tipis terbit di bibir Dewi. Genggaman tangan lelaki ini semakin membuatnya tegar berdiri. Menjajakkan kaki, menjalani hari dengan rasa penuh percaya diri. Bagi Dewi sendiri, bertemu dengan Bhumi merupakan sesuatu yang patut untuk ia syukuri setiap hari.
"Jangan terlalu sering menatapku seperti itu. Takutnya jatuh cinta!"
Tanpa menatap wajah Dewi, lelaki itu menuturkan sesuatu yang terdengar ambigu. Ia masih saja dengan intens menggenggam tangan Dewi untuk bisa segera sampai ke tempat yang mereka tuju. Seperti biasa, raut wajah dingin minim ekspresi masih saja membingkai wajah lelaki berusia tiga puluh tahun itu.
Dewi semakin terperangah. Namun sejenak kemudian pipinya bersemu merah. Mendengar perkataan lelaki ini hanya bisa membuatnya semakin menunduk pasrah.
Sepertinya hatiku memang sudah terpaut kepadamu Bang!"
***
Denting suara sendok yang beradu dengan piring, memecah keheningan yang tercipta di ruang makan kediaman Wiraguna. Keluarga itu tengah menikmati sarapan pagi yang tersedia. Beraneka rupa sayur dan lauk menghiasi meja. Dan rasanya pun pastinya menggugah selera.
Meski tesaji hidangan beraneka rupa, namun rasa kosong dan hampa terasa begitu membalut jiwa. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Mungkin karena ada salah satu anggota keluarga yang tidak ikut sarapan bersama. Siapa lagi jika bukan tuan muda Arga.
"Bu, apakah Ibu mau diambilkan cumi asam manisnya? Biar Wenda ambilkan."
Ucapan lembut Wenda, sedikit membuyarkan sedikit lamunan Kartika. Ia mengedarkan manik matanya dan tersenyum tipis di depan menantunya. "Kamu menawarkan cumi asam manis? Kamu ingin cepat-cepat melihatku mati karena kolesterol tinggi?"
Semua yang duduk mengitari meja makan ini, seketika menautkan pandangan mereka ke arah Kartika. Mungkin mereka sama-sama bergidik ngeri ketika Kartika berbicara dengan intonasi tinggi seperti ini. Seperti seseorang yang menahan rasa kesal yang menumpuk tinggi.
Wenda terperangah. Rupanya ia salah berucap. "B-Bukan, bukan seperti itu maksud Wenda, Bu. Wenda hanya menawarkan menu masakan yang enak ini."
"Ckckckck ... jangan sok baik dan sok perhatian di depanku, Wenda. Lagipula ada apa denganmu? Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba berubah begitu perhatian seperti ini?"
__ADS_1
"Ibu... sudah, jangan sering marah-marah seperti ini. Ingat jantung Ibu."
Wiraguna yang duduk di dekat Kartika hanya bisa menggenggam erat jemari tangan sang ibunda untuk meredam kekesalannya. Sudah bukan merupakan rahasia lagi jika sang ibu memang sedikit tidak cocok dengan Wenda. Sehingga apapun yang dilakukan oleh istrinya itu selalu saja salah di mata Kartika.
"Beri tahu istrimu ini Wira, jangan berpura-pura bersikap baik dan perhatian di depanku. Aku justru merasa jijik dibuatnya." Kartika meletakkan sendok dan juga gapunya. Sebelum berteriak memanggil mbok Jum yang masih berkutat di dapur. "Jum .... antar aku ke kamar. Aku ingin istirahat!"
"Bu, biar Wira saja ya yang mengantar Ibu?" ucap Wira menawarkan.
"Tidak perlu, Wira. Biarkan Jum saja yang mengantarkanku ke kamar."
Tak selang lama, asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Kartika ini memasuki ruang makan. Dengan penuh kehati-hatian asisten rumah tangga itu mendorong kursi roda milik Kartika.
"Lihat ibu kamu itu Pa. Dia selalu saja bersikap seperti itu ke Mama. Dia seolah benci sekali denganku."
Deru napas yang menggebu, seakan menegaskan jika saat ini Wenda tengah merasakan rasa kesal tak bertepi. Melihat sikap sang ibu mertua, seakan seketika membuatnya di serang oleh darah tinggi. Dan membuat kepala wanita itu terasa pusing sekali.
"Sudahlah, lain kali kamu tidak perlu bersikap seperti itu di depan ibu. Ibu memang tidak terlalu suka diperhatikan. Lagipula ketika kamu menawarkan sesuatu kepada ibu harus dipikir terlebih dahulu. Makanan seperti cumi, tidaklah baik untuk kesehatan ibu."
"Tapi Mama hanya ingin menunjukkan perhatian Mama kepada ibu, Pa. Ibu kamu saja yang terlalu membenciku. Sehingga apapun yang aku lakukan selalu saja salah di matanya."
Wiraguna hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Ia sendiri juga teramat heran mengapa sedari dulu sang ibu tidak pernah akur dan cocok dengan istrinya ini. Sang ibu seperti menyimpan sesuatu yang hanya dipendam sendiri mengenai sang istri.
"Sudahlah, lanjutkan sarapan kamu. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan relasi."
"Pa, biarkan Gilang yang menggantikanmu bertemu dengan relasi. Bukankah ini sudah saatnya kamu memberikan tanggung jawab penuh kepada Gilang untuk menjalankan perannya sebagai pengganti posisi direktur utama?"
Wenda melirik ke arah Gilang yang tengah menikmati santapan paginya. "Kamu sudah siap kan Lang, menggantikan posisi Papa untuk bertemu dengan relasi?"
Gilang sedikit terkesiap. Ia lebih dulu meneguk air putih sebelum menimpali perkataan ibunya ini. "Gilang belum bisa Ma. Gilang masih belum percaya diri untuk bertemu dengan relasi Papa. Lebih baik, Gilang yang berada di kantor saja."
"Gilang memang belum bisa menggantikan Papa, Ma. Ilmu dan pengetahuan Gilang masih sedikit dalam berbisnis dan menjalin kerjasama dengan relasi. Gilang belum mampu!"
"Kamu benar, belum bisa menggantikan Papa bertemu dengan relasi, Lang?"
Gilang menggelengkan kepala. "Belum Pa. Gilang belum bisa. Kalau Gilang diminta untuk menemani Papa, Gilang akan melakukannya. Tapi jika Gilang harus sendiri menemui relasi, lebih baik tidak saja. Gilang masih takut jika sampai mengecewakan Papa."
Wiraguna tersenyum penuh arti melihat sikap Gilang yang seperti ini. Ternyata putra hasil pernikahannya dengan Wenda ini, tidak terlalu menggebu untuk menempati posisi yang sebentar lagi akan ia lepaskan.
"Baiklah kalau begitu. Hari ini kamu temani Papa untuk bertemu dengan relasi. Dengan begitu, kamu bisa belajar banyak tentang menjalin komunikasi dengan para pengusaha-pengusaha besar di kota ini."
"Baik Pa. Nanti Gilang akan ikut dengan Papa."
Wenda hanya bisa memijit-mijit pelipisnya. Tidak menyangka jika sang putra mengabaikan usulannya begitu saja. Padahal ini merupakan salah satu jalan agar ia bisa menempati posisi direktur utama. Namun lagi-lagi usulannya ini ditolak mentah-mentah oleh sang putra.
Dasar anak tidak tahu diuntung dan tidak bisa diajak kerjasama. Padahal jalan untuk menempati posisi direktur utama terbuka lebar. Ini, ia malah justru menyia-nyiakan.
***
Setelah hampir empat jam, Dewi melakukan beraneka rupa perawatan wajah seperti chemical peeling, microneedling, laser dan filler, pada akhirnya seluruh rangkaian perawatan wajah yang dilakukannya hari ini paripurna. Ia kembali bergabung dengan Bhumi dan sang dokter yang tengah berbincang-bincang di ruang khusus miliknya.
"Bang, aku sudah selesai!"
__ADS_1
Percakapan Bhumi dan Sandy terpangkas ketika suara seorang wanita terdengar di dalam indera pendengaran keduanya. Bhumi menoleh ke arah sumber suara dan nampak, Dewi sudah berdiri di sampingnya.
Bhumi terpaku, melihat wajah Dewi yang nampak berbeda. Baru sekali melakukan treatment wajah saja kulit wajah wanita ini sudah nampak lebih putih, bagaimana jika ia rutin melakukannya? Pastinya akan jauh lebih baik daripada ini, bukan?
Sandy terkikik geli melihat salah satu teman dekatnya ini berada di dalam mode terkesima. Nampak jelas di raut wajah Bhumi jika ia sedang terpesona. Terpesona akan kecantikan wanita yang entah baru berapa lama ia jumpa.
"Bagaimana Ga? Memuaskan bukan?"
Bhumi tersentak seketika. Suara Sandy ini sukses membuyarkan mode terkesimanya. Ia yang sebelumnya menatap lekat wajah Dewi, kini ia geser untuk menatap Sandy.
"Tidak sia-sia aku memiliki kawan sepertimu San. Aku benar-benar takjub dengan hasil treatment yang ada di klinik kecantikan milikmu ini."
Sandy hanya tersenyum simpul. "Dew, mengapa hanya berdiri seperti itu? Ayo duduk!"
Dewi menganggukkan kepala. Ia geser sebuah kursi yang ada di samping kursi yang ditempati oleh Bhumi. "Terima kasih Dok."
"Hahaha jangan panggil aku Dok. Panggil aku Sandy saja."
"Baik Bang."
"Nah, itu jauh lebih enak didengar. Bagaimana? Apa yang kamu rasakan setelah melakukan treatment ini?"
Binar-binar kebahagiaan nampak jelas terpancar di wajah Dewi. Entah mengapa setelah melakukan treatment ini, suasana hatinya jauh lebih baik. Ia sampai bingung sendiri ada kaitan apa antara perawatan wajah dengan suasana hatinya.
"Aku merasa wajahku jauh terasa lebih segar Bang. Dan entah mengapa suasana hatiku jauh lebih bahagia."
Sandy hanya bisa tergelak. Rupa-rupanya wanita yang dibawa oleh temannya ini merupakan salah satu wanita ekspresif yang mudah mengekspresikan suasana hatinya.
"Wajahmu terasa lebih segar karena salah satu treatment yang kamu lakukan tadi ada yang memiliki fungsi mengangkat sel-sel kulit mati. Aku harap setelah ini, kamu rutin melakukan treatment sehingga kulit wajah yang sehat dan cantik bisa kamu miliki."
"Untuk treatment nya sendiri harus berapa kali dalam satu bulan Bang?"
"Aku rasa, kamu cukup melakukan treatment dua kali dalam satu bulan. Dengan rutin treatment dan ditambah dengan krim yang akan aku berikan, kulit wajah kamu ini akan selalu terjaga kesehatannya."
"Baik Bang, aku mengerti."
"Nah kalau untuk suasana hatimu yang terasa lebih bahagia, itu semua karena Arga."
Dewi terperangah. "M-maksud Abang apa? Aku sungguh tidak paham."
Lagi-lagi Sandy hanya terkikik geli. Ia bisa menangkap sinyal saling mengagumi diantara dua orang ini namun keduanya masih malu-malu untuk mengakui.
"Jangan jauh-jauh dari Arga. Karena Arga ini yang merupakan sumber kebahagiaan hatimu. Jika hatimu bahagia, pastinya binar kecantikan wajahmu jauh akan lebih terpancar."
Sandy menjeda sejenak ucapannya. Ia tautkan pandangannya ke arah Bhumi yang masih memilih untuk diam seribu bahasa. "Benar begitu kan Ga? Bahwa kamu akan selalu menjadi sumber kebahagiaan untuk Dewi?"
"Ya, itu benar sekali!"
Meski Bhumi menimpali perkataan Sandy dengan wajah datar minim ekspresi, namun tetap saja membuat Dewi terhanyut dalam godaan pikirannya sendiri.
Sebenarnya, apa maksud ucapan Bang Bhumi ini? Mengapa ia seolah membenarkan semua yang dikatakan oleh Bang Sandy? Apakah mungkin Bang Bhumi .... Astaga Dewi, jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin Bang Bhumi jatuh cinta kepadamu yang penuh dengan kekurangan ini.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Hari Senin Kakak... Vote nya nya jangan lupa ya... Untuk suplay energi biar lebih bersemangat lagi... Terima kasih.. Salam love, love, love😘😘😘