
"O-Oma ..."
Dahi Dewi mengernyit kala melihat Bhumi berdiri terpaku, membeku dan membisu kala netra lelaki itu menatap lekat sosok seseorang yang berada di atas kursi roda dan di dorong oleh seorang laki-laki yang nampak gagah.
"Oma? Beliau nenek bang Bhumi?"
Tidak sedikitpun respon keluar dari bibir Bhumi. Lelaki itu masih terlihat hanyut dalam pikirannya sendiri. Hingga perlahan, sosok wanita berusia senja dan pengawal pribadinya itu memangkas jarak untuk bisa berada tepat di hadapan Bhumi.
Jika sebelumnya Bhumi yang terperangah, kini giliran Dewi yang terkejut setengah mati di saat manik matanya lebih intens menatap sosok wanita yang ada di depannya ini. Seorang wanita yang sangat tidak asing di penglihatannya karena baru beberapa saat yang lalu ia bertemu.
"A-Anda...."
Bahkan Dewi tidak dapat berucap. Keberadaan nenek ini sungguh membuatnya tergagap. Tubuhnya juga terasa kaku tak dapat bergerak. Wanita berusia senja ini seakan melumpuhkan otot dan juga syarafnya hingga hanya bisa membuat bibir Dewi menganga lebar.
"Hans, bukankah aku hebat karena bisa membuat dua orang dalam mode tertegun dalam waktu yang bersamaan?"
Hanya dijawab dengan anggukan kepala, Hans memberikan sebuah isyarat bahwa ia sependapat dengan apa yang diucapkan oleh Kartika.
Kartika menablek pantat Bhumi, hingga perlakuannya ini berhasil membuat Bhumi terkejut setengah mati.
"Oma..."
"Dasar cucu durhaka! Sudah berapa bulan kamu tidak pulang ke rumah, hah? Apa kamu lupa jalan pulang? Sehingga tidak pernah menengok Oma mu ini? Sini kamu. Rendahkan tubuhmu!"
Bhumi menurut. Lelaki itu menyamakan tinggi badannya dengan tinggi Kartika dengan bertumpu pada kedua lutut. Dan...
"Aaaahhhh ... sakit Oma.... Mengapa Oma menarik telingaku?!"
Bhumi memekik kesakitan di kala sensasi rasa panas mulai menjalar di telinganya. Meski sudah berusia senja, namun omanya ini masih memiliki tenaga ekstra. Bahkan jika tidak dihentikan, bisa saja telinganya ini lepas dari tempatnya bersemayam.
"Ini akibatnya karena kamu sudah menjadi cucu durhaka. Kamu sudah berani me..."
Suara Kartika seakan tercekat di tenggorokan. Rasa-rasanya sudah tidak ada sepatah katapun yang dapat ia ucapkan. Ketika tubuhnya di selimuti oleh kebahagiaan. Kebahagiaan karena pada akhirnya setelah sekian lama, ia dapat bertemu dengan cucu kesayangan.
"Mengapa kamu tidak pernah pulang anak bandel? Apa kamu ingin membunuhku perlahan karena menahan kerinduan kepadamu?"
Tangis Kartika pecah di dalam dekapan Bhumi. Wanita berusia senja itu nampak menumpahkan segala kerinduan yang bersemayam di hati. Dan kini, semuanya telah terobati tatkala raga sang cucu bisa ia temui.
Tak jauh berbeda dengan Kartika, Bhumi pun ikut menumpahkan air mata. Berada jauh dari sang Oma bukan berarti ia dalam keadaan baik-baik saja. Karena ia pun juga menahan rasa rindu yang membara.
__ADS_1
Kartika mengurai pelukannya. Ia tepuk pundak sang cucu dengan kuat. "Oma lihat, tubuh kamu semakin berisi. Apakah itu pertanda kamu bahagia ketika pergi dari rumah?"
Bhumi sedikit tersentak. "Arga tidak berm..."
"Tidak perlu kamu jawab. Oma sudah tahu jawabannya. Kamu pasti berbahagia karena kamu bisa hidup bebas tanpa merasa terkekang. Oma rasa sudah cukup kamu berkelana. Setelah ini, Oma minta kamu pulang!"
Bhumi terkesiap. Mendapatkan perintah dari sang oma, sungguh membuatnya tidak siap. Ia masih ingin hidup bebas dan melakukan sesuatu tanpa paksaan.
"Tapi Oma, Arga masih ingin hidup di luar. Arga belum ingin pulang."
"Kamu tidak perlu khawatir. Oma jamin tidak akan ada lagi yang memaksamu untuk menggantikan posisi papamu untuk menjadi direktur utama perusahaan. Jadi, kamu bisa tenang sekarang."
"M-maksud Oma?"
"Kamu tidak perlu pergi dari rumah lagi hanya untuk menghindar dari keinginan Papa. Karena Papa akan memberimu kebebasan untuk menentukan jalan hidupmu sendiri!"
Bhumi terhenyak di kala gelombang suara bariton merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Ia bangkit dari posisi jongkoknya dan berdiri tegap di hadapan seorang laki-laki paruh baya yang sudah lama tidak ia jumpai ini.
Lagi-lagi Bhumi hanya bisa berdiri terpaku. Menatap wajah sang Papa dengan tatapan yang dipenuhi oleh berjuta tanda tanya. Ia sampai keheranan, mengapa lelaki ini tiba-tiba melupakan keinginannya untuk menjadikan dirinya sebagai direktur utama.
"Apakah kamu tidak ingin memeluk Papa sebagai salah satu ungkapan rasa terima kasihmu?"
"Papa ... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membangkang akan semua yang Papa perintahkan. Namun..."
"Ssstttt ... sudah, sudah. Papa lah yang seharusnya meminta maaf karena tidak pernah mengerti atas apa yang menjadi keinginanmu. Maafkan Papa, karena secara tidak langsung Papa menjadi penghalang atas semua mimpi dan citamu."
Wiraguna melerai pelukannya. Saat ini, ia dapat dengan jelas menatap wajah sang putra yang telah lama ia rindukan ini.
"Setelah ini pulanglah. Kita kembali berkumpul untuk menjadi keluarga yang utuh."
Larut dalam sebuah drama pertemuan yang mengharu biru, membuat mereka lupa akan keberadaan Dewi yang saat ini juga tengah berdiri terpaku. Namun, seketika Kartika tersadar bahwa ada banyak hal yang ia ingin sampaikan kepada wanita ini.
"Dan kamu, kemarilah!"
Dewi terperanjat di saat Kartika dengan suara lantang mengarah kepadanya. Bahkan bukan hanya Dewi, Bhumi dan semua yang ada di sini pun juga terkejut di saat Kartika sedikit meninggikan intonasi suara.
"S-saya?"
"Iya kamu. Rendahkan tubuhmu!"
__ADS_1
Sama seperti yang dilakukan oleh Bhumi, Dewi turut berjongkok di depan Kartika. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia memberanikan diri untuk menatap manik mata wanita berusia senja ini.
Tanpa basa-basi, Kartika mendekap erat tubuh Dewi. Perlakuan Kartika inilah yang membuat Bhumi dan Wiraguna bertanya-tanya dalam hati. Mengapa wanita berusia senja ini nampak begitu dekat dengan Dewi.
"Kamu juga kenapa tiba-tiba meninggalkanku di rumah sakit? Mengapa kamu tidak menungguku sampai aku sadar? Apakah kamu juga ingin membunuhku secara perlahan karena mengungkungku dalam rasa penasaran akan sosok malaikat tak bersayap yang telah menyelamatkan nyawaku? Dan apakah kamu juga bertujuan menyiksaku dengan hutang budi yang merajai hati?"
"Nyonya ... maaf. S-saya tidak bermaksud seperti itu. Saya bergegas pergi dari rumah sakit, karena saya rasa Nyonya sudah bertemu dengan anggota keluarga Nyonya."
"Lain kali jangan seperti itu. Izinkan wanita tua renta ini mengucapkan rasa terima kasihnya kepadamu."
"Oma... sebenarnya ini ada apa? Mengapa Oma bisa mengenal Dewi?"
Tidak ingin terlalu larut dalam sebuah tanda tanya besar, pada akhirnya Bhumi memberanikan diri untuk bertanya ada hubungan apa antara sang oma dengan wanita yang ia cinta ini. Kartika pun mengurai pelukannya. Dan memandang teduh wajah Dewi.
"Wanita inilah yang menyelamatkan Oma ketika Oma di buang oleh para penjahat itu Ga. Jika saat itu tidak ada wanita ini, entah apa yang akan terjadi pada Oma. Mungkin Oma sudah meregang nyawa. Maka dari itu, Oma ingin mengajak malaikat penolong Oma ini untuk tinggal di rumah besar. Kamu tidak keberatan kan Nak?"
Dewi semakin terperangah. Ia bahkan tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
"Nyonya, saya..."
Kartika mengusap lembut pundak Dewi. Bahkan jemari tangan wanita itu membelai wajah Dewi. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah benda yang melingkar di leher Dewi yang nampak tidak asing di penglihatannya.
Kartika menatap lekat liontin yang menggantung pada kalung yang dipakai oleh Dewi. Kedua bola matanya membulat sempurna tatkala ia menyadari bahwa kalung yang dipakai oleh Dewi ini persis dengan kalung yang ia simpan di dalam kotak kayu.
"Nak, ini kalung milikmu?"
"Iya Nyonya, ini kalung milik saya."
Kartika menoleh ke arah Hans dengan raut wajah yang berbinar. "Hans, aku sudah menemukan orangnya Hans. Aku sudah menemukannya!"
Hans menganggukkan kepala seraya tersenyum lebar. "Iya Nyonya. Seseorang yang Nyonya cari sudah Nyonya temukan. Dan tidak pernah kita duga bahwa tuan muda Arga selama ini dekat dengan jodohnya."
.
.
.
Mohon maaf belum bisa membalas satu persatu komentar Kakak-kakak semua ya... 🙃🙃🙃🙃
__ADS_1