Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 45. Bertemu


__ADS_3


Masih di suasana pagi yang indah nan cerah, sebuah rumah yang berada di salah satu pedesaan negara ini nampak tidak seperti biasa. Rumah itu terlihat ramai dengan keberadaan beberapa orang di sana. Pandangan mereka tertuju pada satu titik yang sama. Tertuju pada salah satu acara yang ada di dalam layar kaca.


"Apa? Jadi ini benar Dewi, anak bu Ambarwati?"


Kedua bola mata Mia terbelalak sempurna. Saat mendengar desas-desus bahwa Dewi akan tampil di salah satu program acara stasiun televisi ia sedikit tidak percaya. Namun, kini setelah ia melihat dengan mata kepala, ia baru percaya bahwa wanita itu memang Dewi yang pernah ia hina.


"Benar sekali bu Mia. Ini memang Dewi. Benar kan apa yang pernah saya katakan beberapa hari yang lalu? Setelah Dewi terkenal melalui media sosial, kini ia pasti akan semakin terkenal. Ia benar-benar diundang untuk menjadi bintang tamu di berbagai macam acara."


Tatapan Ine tidak lepas dari tetangga yang saat ini memenuhi layar kaca. Meski bentuk tubuhnya masih membengkak, namun riasan dan pakaian yang ia kenakan semakin membuat wanita itu nampak sempurna. Dewi benar-benar menjelma seperti wanita cantik yang dipuja-puja.


"Gawat ini Bu, gawat sekali. Kalau seperti ini, bu Ambarwati bisa kaya mendadak. Dia pasti akan lebih sering dikirim banyak uang dari Dewi. Jika sudah seperti itu, posisi kita sebagai tiga orang terkaya di RT 5 RW 3 ini akan terancam."


Seakan tidak perduli dengan apa yang disampaikan oleh Dewi di cara 'Pagi Happy' itu, Mini justru lebih fokus kepada posisi orang terkaya di tempat tinggalnya. Ia yang didaulat menjadi orang terkaya se-RT, merasa tidak terima jika posisi itu tergeser secara tiba-tiba. Ia merasa apa yang telah dipertahankan selama ini akan sia-sia jika ada orang lain yang menggeser posisi kekayaannya.


"Saya justru curiga jika ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenaran Dewi ini Bu, Ibu..."


Mia menggantung perkataannya. Entah dilanda oleh rasa iri atau apa itu, namun ia sampai memiliki pemikiran buruk terhadap Dewi. Hal itulah yang membuat Ine dan Mini begitu penasaran dibuatnya. Keduanya sama-sama saling melempar pandangan dan sama-sama menyipitkan mata.


"Curiga perihal apa Bu? Apa yang bu Mia curigai dari Dewi?"


"Bu Ine dan bu Mini mencurigai sesuatu atau tidak jika Dewi menggunakan cara-cara kotor untuk bisa terkenal seperti ini?"


"Cara kotor seperti apa maksud bu Mia? Saya benar-benar tidak mengerti."


Ine semakin dibuat penasaran. Apa yang diucapkan oleh Mia ini seakan menjadi topik pembicaraan yang mengasyikkan. Oleh karenanya, wanita paruh baya itu sudah tidak sabar untuk mendengar Mia memberikan pemaparan.


"Bu, di zaman seperti sekarang ini banyak yang menggunakan jalan pintas untuk bisa terkenal. Saya jadi curiga, kalau Dewi ini main gila dengan seseorang yang memiliki pengaruh besar terhadap dunia entertain seperti ini. Jika tidak seperti itu, mana mungkin Dewi bisa tiba-tiba terkenal seperti ini."


Fitnah keji yang bercokol di hati Mia, ia lisankan menjadi sebuah argumentasi. Ia berharap apa yang ia pikirkan sama seperti yang dipikirkan oleh teman-temannya ini. Berusaha mencari celah kesalahan Dewi.

__ADS_1


"Tapi Bu, bukankah lelaki ini yang menjadi kekasih Dewi. Itu artinya lelaki ini yang memiliki pengaruh besar terhadap dunia entertain?"


Mia menggelengkan kepala sembari mencomot kacang bawang yang tersaji di dalam toples. Jika sudah ada camilan seperti ini, ia merasa bersemangat untuk menggosip. Membicarakan keburukan orang lain yang entah benar atau tidak.


"Bukan Bu, bisa jadi lelaki ini juga hanya berpura-pura saja. Bisa jadi ia juga hanya ingin ikut tenar dengan jalan pintas. Sedangkan yang membuat Dewi terkenal ya orang yang berada di balik layar."


"Memang menurut bu Mia, apa yang dilakukan oleh Dewi sehingga bisa membuat orang di balik layar itu mengorbitkan Dewi?"


Kini giliran Mini yang dibuat pusing kepala. Argumentasi dari Mia memang terdengar menghebohkan, namun ia masih belum begitu paham dengan rentetan kronologinya.


Mia tersenyum sinis. Ia teringat akan kasus-kasus pros*titusi online yang beberapa kali menjerat sejumlah nama artis.


"Bisa jadi Dewi menjual diri kepada pria hidung be*lang untuk bisa membuatnya terkenal seperti ini Bu. Jadi semacam simbiosis mutualisme. Dewi menjual diri dan dibayar dengan ketenaran seperti ini. Lagipula bukankah mustahil jika Dewi langsung terkenal dalam waktu yang singkat seperti ini? Sangat tidak masuk akal bukan?"


Ine dan Mini sama-sama menganggukkan kepala. Seakan mengandung hipnotis, kedua wanita paruh baya itu percaya akan ucapan Mia begitu saja. Tanpa mencari tahu bagaimana kebenarannya.


"Tapi tenang saja Bu. Bu Ine dan bu Mini jangan terlalu khawatir. Seseorang yang mencari uang dengan cara seperti itu pasti tidak akan bertahan lama. Saat ini mungkin bu Ambarwati bisa menjadi orang kaya baru. Tapi saya yakin, tak selang lama harta dan kekayaan mereka akan habis karena berasal dari pekerjaan ha*ram."


"Hahhh .... rasanya begitu lega Bang, akhirnya acara ini telah paripurna."


Di sebuah taman yang masih berada di kawasan stasiun televisi, Dewi dan Bhumi duduk berdua di sebuah bangku kayu yang telah tersedia. Berkali-kali wanita itu menghembuskan napas lega. Sejak berlangsungnya acara di studio beberapa saat yang lalu, rasa gugup terasa begitu meraja. Dan kini setelah semua paripurna, senyum penuh kelegaan itu tiada henti menghias bibir tipisnya.


Kelopak-kelopak bunga Bougenville berjatuhan dari ranting tatkala hembusan angin kencang menerpa. Satu persatu berjatuhan dan berserakan di atas hamparan rumput manila di taman yang dipenuhi oleh bunga yang beraneka rupa. Ada yang terbang, membiarkan sang bayu membawanya pergi entah kemana.


"Aku rasa kamu harus sering-sering berada di depan kamera, Dew!"


Sembari meneguk air mineral, Bhumi mencoba untuk menghalau rasa haus yang menyerang. Udara panas seakan membuat kerongkongannya kering kerontang.


"Mengapa bisa begitu Bang?"


"Ya agar kamu terbiasa berhadapan dengan kamera. Karena pada saat kamu menjadi seorang bintang, hidup kamu tidak akan jauh dari kamera dan media."

__ADS_1


"Haaah.... aku benar-benar tidak bisa membayangkan Bang. Bisa tidak jika aku bernyanyi di belakang layar saja. Tidak perlu memperlihatkan wajahku?"


Bhumi mencubit hidung Dewi yang mancung ini. Diiringi pekikan lirih yang keluar dari bibir Dewi.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu? Bukankah kamu ingin jika wajahmu menghiasi billboard-billboard yang ada di kota-kota besar? Lalu bagaimana bisa kamu hanya ingin bernyanyi di belakang layar?"


Dewi sedikit terkejut dengan perkataan Bhumi. Ia merasa belum pernah bercerita perihal mimpi-mimpinya ini.


"Bang, aku merasa belum pernah bercerita perihal billboard itu kepada Abang, namun mengapa bang Bhumi bisa tahu? Apakah Sita yang menceritakannya kepada Abang?"


Lagi-lagi Bhumi hanya bisa tersenyum simpul. Ia belai pucuk kepala wanita ini dengan penuh kelembutan. "Bukankah hatiku dan hatimu sudah terpaut? Jadi, aku tahu meskipun kamu belum menceritakannya kepadaku."


Dewi hanya bisa menunduk malu. Mendadak ia tersipu dan wajahnya kembali membiaskan semburat warna merah jambu. Laki-laki ini paling bisa membuat jantungnya bertalu-talu.


"Sudahlah Bang, jangan menggombal seperti ini. Lagipula aku benar-benar heran. Aku kira Abang orang yang dingin. Namun kenyataannya receh juga."


"Kamu salah, Dew. Itu bukanlah receh."


"Lalu apa?"


"Itu romantis plus so sweet."


Keduanya larut dalam tawa yang membahana. Sesekali Bhumi menjahili wanita ini dengan memberikan cubitan-cubitan kecil di hidungnya. Dan keduanya pun berlarian di hamparan rumput ini. Nampak begitu bahagia seakan tiada beban hidup yang mereka rasakan. Semua terasa ringan, layaknya sebuah kapas yang diterbangkan oleh angin hingga ke atas awan.


Bughhh!!!!


Dewi menubruk punggung Bhumi ketika lelaki ini tiba-tiba berhenti. Dewi memandang Bhumi dengan tatapan penuh tanda tanya di saat Bhumi hanya terdiam, terpaku sembari berdiri. Tatapan lelaki ini menatap lekat salah satu objek yang berada tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


Nampak di manik mata Dewi, seorang wanita yang duduk di atas kursi roda dan didorong oleh seorang laki-laki yang nampak begitu gagah.


"Bang ... siapa? Apakah Abang mengenal orang itu?"

__ADS_1


"O-Oma????"


__ADS_2