
Sepasang telapak kaki berbalut sepatu pantofel warna hitam itu menyusuri lorong-lorong rumah sakit Sayap Rajawali. Langkah kakinya lebar, dengan suara derap yang menyita perhatian orang-orang di kanan kiri. Langkah itulah yang semakin menegaskan jika saat ia ingin bersegera bertemu dengan salah seorang yang berada di tempat ini.
"Tuan Hans!"
Seorang wanita dengan pakaian serba putih itu menyambut kedatangan Hans tatkala ia masuk ke ruangan kerja di mana ia berada. Wanita itu berdiri seketika sembari membungkukkan badan sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada salah satu orang penting di tempat ia bekerja.
"Duduklah, aku ingin menanyakan beberapa hal kepadamu."
Hans mendaratkan bokongnya di sebuah kursi ergonomis yang sudah tersedia. Begitu pula dengan wanita yang ia temui ini. Ia juga ikut mendaratkan bokongnya di sebuah sofa yang berada di salah satu sudut ruangan.
"Ada apa Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tunjukkan kepadaku rekaman CCTV rumah sakit ini, kemarin."
Wanita itu sedikit terperangah. Permintaan Hans yang tiba-tiba ini seperti menandakan bahwa telah terjadi sesuatu yang salah. Hal itulah yang membuat wajah wanita ini semakin menunduk pasrah.
"Baiklah Tuan, akan saya perlihatkan."
Wanita itu bangkit dari posisi duduknya. Ia ambil sebuah laptop yang berada di atas meja kerja. Ia ambil untuk kemudian ia bawa ke arah meja yang berada di depan sofa.
"Ruang mana yang ingin Tuan ketahui rekamannya?"
Sembari menjamah papan keyboard dan fokus ke arah layar, wanita itu melisankan sebuah tanya kepada lelaki yang masih anteng duduk di kursi ergonomis ini.
"Tunjukkan kepadaku rekaman CCTV area lobby rumah sakit, dan bagian kasir, sekitar pukul delapan pagi."
Wanita itu menurut. Dengan dahi sedikit mengerut, ia mencoba untuk fokus mencari bagian rekaman yang diinginkan oleh Hans. Pada akhirnya, ia pun menemukan bagian yang diinginkan oleh Hans.
"Apakah ini yang Tuan cari?"
Hans bangkit dari posisi duduknya. Ia mendekat ke arah Sally, di mana merupakan orang yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berada di ruangan ini. Lelaki itupun duduk tepat di samping Sally.
"Benar, ini yang aku cari."
__ADS_1
Wajah Hans nampak berbinar di kala rekaman CCTV ini begitu jelas menampilkan gambar seorang wanita yang tengah memapah Kartika. Semua terekam jelas di sana. Bahkan ketika gadis itu memberikan satu lembar uang seratus ribuan ke arah sopir bajaj itu juga terekam di sana.
"Apakah Tuan mengenal wanita di dalam rekaman CCTV ini? Ataukah mungkin saudara dari Nyonya Kartika?"
"Tidak. Aku rasa wanita itu bukanlah salah satu kerabat Nyonya Kartika. Karena sejauh ini aku tidak pernah melihat keberadaan wanita itu di sekeliling Nyonya."
"Berarti ini memang orang luar yang menolong Nyonya Kartika."
Hans hanya mengedikkan bahu karena pada dasarnya ia tidak mengenal wanita asing ini. Kedua netranya pun sedikit menyipit tatkala melihat wanita itu melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah sakit.
"Dia keluar dari rumah sakit? Kira-kira ke mana dia?"
"Menurut saya, dia pergi mengambil uang, Tuan. Karena setiap pasien yang dirawat di rumah sakit ini setidaknya harus membayar uang adminstrasi terlebih dahulu."
Hans mengangguk-anggukkan kepala. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Sally. Rekaman itu terus berputar. Bahkan dalam waktu yang lama, wanita itu tidak kunjung kembali. Itulah yang membuat tanda tanya besar muncul ke permukaan hati.
"Ke mana wanita itu? Jika ia ke ATM, bukankah seharusnya dalam waktu tidak terlalu lama ia kembali? Namun mengapa ini lama sekali? Coba kamu percepat durasi rekaman ini."
Kening semakin berkerut dalam seiring tidak kunjung kembalinya wanita di dalam rekaman CCTV. Ia pun meminta Sally untuk mempercepat tampilan rekaman ini.
Hans semakin mempertajam indera penglihatannya. Nampak wanita itu kembali memasuki area lobby rumah sakit dengan membawa sebuah amplop putih dan juga parcel buah di tangannya. Parcel itulah yang mengingatkan Hans kepada parcel yang ia temukan teronggok begitu saja di depan ruang rawat sang nyonya.
"Baiklah. Saat ini, aku minta rekaman di bagian kasir dan panggilkan pula kasir yang kemarin melayani wanita itu."
Sally mengangguk patuh. Wanita itu memperlihatkan rekaman CCTV bagian kasir, dan diperhatikan begitu intens oleh lelaki ini. Sembari mengambil ponsel yang tergeletak di samping laptop dan segera memanggil salah seorang kasir yang dimaksud oleh Hans.
Ternyata benar, parcel buah yang ada di depan ruangan Nyonya Kartika adalah parcel milik wanita yang menolong Nyonya. Siapa sebenarnya wanita ini? Apakah dia merupakan salah satu antek dari dalang penculikan Nyonya sepuh yang berkhianat? Aahh... Aku benar-benar ingin bisa segera memecahkan kasus ini.
***
Langit senja kota Jakarta mulai menyapa. Kilau warna jingganya terlihat begitu memanjakan mata. Menjadi salah satu goresan tinta keindahan Tuhan di alam semesta. Dan sudah selayaknya manusia mengunjukkan rasa syukur dalam menikmati itu semua.
Dewi nampak berkutat di depan jendela kaca tempat tinggal Bhumi. Dengan outfit celana jeans, t-shirt warna putih dan ia padukan dengan blazer jeans senada dengan warna celana, Dewi seperti sudah begitu siap untuk tampil di TMII. Meski sudah nampak siap, namun ada saja yang membuatnya merasa tidak percaya diri.
"Apakah masih membutuhkan waktu lama untukmu berkutat di depan kaca itu?"
__ADS_1
Suara bariton yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Dewi tersentak seketika. Ia menggeser manik matanya ke arah sumber suara. Nampak Bhumi sudah siap dengan penampilannya yang sempurna.
"Maaf Bang, aku masih merasa kurang percaya diri."
Sembari tersenyum kikuk, Dewi mencoba untuk mengutarakan apa yang ia rasakan di dalam hati. Meski berkali-kali ia berupaya untuk meyakini bahwa penampilannya sudah sempurna, namun ia merasa tetap ada sesuatu yang kurang pas di dalam diri. Namun semakin ia mencari, justru kebuntuan yang ia dapati. Ia bahkan tidak dapat menemukannya sama sekali.
"Apa yang membuatmu tidak percaya diri? Bukankah kamu sering tampil di depan umum? Jadi mengapa harus merasa tidak percaya diri?"
"Entahlah Bang, aku juga tidak mengerti. Namun aku merasa ada yang kurang."
"Apakah karena fisik yang kamu miliki?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Bhumi sukses membuat netra Dewi terbelalak sempurna. Ternyata laki-laki yang baru sehari ia kenal ini bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Bahwa memang perihal fisik lah yang membuatnya merasa ada yang kurang dalam penampilannya.
"Apakah bang Bhumi yakin ingin mengajakku tampil di TMII? Apakah bang Bhumi tidak merasa malu jika ada yang mengolok-olok bang Bhumi karena memilih partner bernyanyi seperti aku ini?"
"Memang ada apa dengan fisikmu? Bukankah tidak ada satu pun kekurangan dalam fisikmu? Anggota tubuhmu lengkap. Sama sepertiku."
"Tapi, aku gemuk Bang. Wajahku tidak bersinar, dan wajahku juga tidak menjual. Apakah Abang tidak malu?"
Bhumi hanya memasang wajah datar. Ia mendekat ke arah Dewi sembari membawa sebuah gitar. Jarak yang semakin terpangkas inilah yang membuat tubuh Dewi seketika mematung namun sedikit bergetar.
"Kita perform di TMII bukan untuk menjual wajah atau tubuh. Kita perform di sana untuk menghibur para pengunjung dengan suara yang kita miliki. Jadi untuk apa kamu mempermasalahkan perihal fisik? Itu semua tidak akan berpengaruh apapun."
"T-tapi Bang...."
"Ingat, aku hanya ingin berkolaborasi dengan seseorang yang bisa mencintai dirinya sendiri. Mensyukuri apa yang ia miliki dan bangga dengan apa yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya. Jika kamu hanya terpaku pada persoalan fisik, lalu bagaimana bisa kamu maju?"
Bhumi kembali menggeser tubuhnya. Ia langkahkan kakinya perlahan untuk keluar dari beranda.
"Aku hitung sampai lima. Jika kamu masih tetap tidak percaya diri akan penampilanmu, lebih baik kamu tidak perlu ikut denganku. Satu .... dua .... tiga ..."
Dewi terkesiap. Ia geser manik matanya ke arah lelaki yang semakin lama semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
"Bang Bhumi tunggu!!!"
__ADS_1