
Kaki-kaki kecil berlarian dia atas air yang menggenang. Raut wajah yang dipenuhi oleh rasa girang. Mengundang nikmat yang tidak mampu di beli dengan uang. Diiringi dengan riuh suara tawa yang terdengar menggembirakan.
Tangisan langit baru saja mereda. Setelah dua jam meneteskan duka dan lara. Kini ia kembali tersenyum bahagia. Dengan menghadirkan lembayung di ujung senja.
Dewi masih menatap lekat koloni anak-anak kecil yang berlarian di depan tempat tinggalnya. Meski hidup dalam keadaan yang penuh dengan keterbatasan dan bahkan tak berpunya, namun mereka tetap tertawa lepas seakan tiada beban yang menghimpit jiwa.
"Kak Dewi mengapa tidak makan? Dan mengapa nasi kotak ini hanya untuk Sita dan ibu?"
Tungkai kaki kecil milik Sita terayun, untuk dapat lebih dekat dengan Dewi. Ia turut berdiri di sisi Dewi dengan menikmati segala potret kehidupan yang tersaji. Potret anak-anak kecil yang menemukan kebahagiaan di bawah kolong langit sore ini.
Diedarkannya manik mata Dewi ke arah Sita. Gadis kecil ini nampak begitu menggemaskan dengan rambut dikuncir kuda. Sehingga membuat senyum di bibir Dewi tersungging tiada hentinya.
"Kakak tadi sudah makan, Sita. Jadi nasi kotak itu khusus untuk Sita dan juga ibu. Oh iya, apakah bang Bhumi sudah lama tinggal di sini, Ta?"
Sita menggeleng kepala sebagai isyarat jawaban yang dilontarkan oleh Dewi. "Belum Kak, bang Bhumi baru sekitar tiga bulan tinggal di sini. Dan rumah yang ditempati oleh bang Bhumi dahulunya tempat tinggal bang Jack, yang merupakan kepala preman di kawasan ini."
"Apakah sedari dulu bang Bhumi sering membagi-bagikan rezeki kepada orang-orang yang berada di tempat ini?"
"Iya Kak, itu benar sekali. Setiap minggu jika bang Bhumi tidak membagi-bagikan sembako, ia pasti membagikan uang kepada orang-orang di sekitar sini. Maka dari itu, bang Bhumi menjadi orang yang paling disegani dan dihormati oleh semua yang tinggal di kawasan ini. Termasuk bang Codet, yang saat ini menjadi kepala preman, pengganti bang Jack."
"Oh, seperti itu?"
"Iya Kak, memang ada apa?"
"Tidak apa-apa Sita. Eh, tapi Sita merasakan tidak kalau bang Bhumi itu merupakan orang kaya yang sedang berpura-pura menjadi orang tidak berpunya. Uang milik bang Bhumi seakan tidak pernah habis meski sudah ia keluarkan untuk membantu banyak orang."
Sita hanya tersenyum tipis. "Setiap orang yang kenal dengan bang Bhumi pasti berpikir seperti itu Kak. Tapi menurut Sita bukan karena kaya, bang Bhumi bisa selalu berbagi rezeki dengan orang-orang yang berada di sekitar sini."
Dewi nampak begitu tertarik dengan topik pembicaraan yang ia obrolkan bersama Sita. Entah mengapa, Dewi merasa jika Sita ini merupakan salah satu teman yang begitu mengasyikkan untuk diajak berbagi cerita.
__ADS_1
"Lalu, jika bukan karena kaya, menurut Sita apa yang bisa membuat bang Bhumi seperti tidak kehabisan uang untuk berbagi?"
"Dulu Sita pernah melintas di sebuah masjid yang sedang mengadakan acara pengajian. Saat itu hujan turun sangat lebat, mau tidak mau Sita harus berteduh di sana. Sita mendengar, jika kita sering berbagi, maka rezeki yang Tuhan beri tiada henti mengalir. Jadi menurut Sita bang Bhumi bukan orang kaya melaikan orang yang senang berbagi sehingga rezeki yang dimiliki bang Bhumi banyak sekali."
Dewi tersenyum penuh arti. Lagi, di tempat ini ia temukan satu pelajaran tentang berbagi. Itulah yang membuat Dewi semakin betah tinggal di sini. Ternyata, Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang yang bisa membuat pikirannya lebih terbuka tentang kehidupan di dunia yang fana ini.
"Ya sudah, kak Dewi bersiap-siap dulu ya. Sebentar lagi, kak Dewi akan ikut bang Bhumi mengisi acara di kafe. Doakan Kakak agar semua berjalan lancar dan sempurna ya Sayang."
Sita menganggukkan kepala mantap. "Itu sudah pasti. Sita akan berdoa untuk kak Dewi, semoga melalui bang Bhumi, kak Dewi bisa menjadi seorang penyanyi terkenal yang wajahnya akan berseliweran memenuhi papan-papan besar yang berada di kota-kota besar seperti ini."
Dewi terkikik geli, rupa-rupanya doa yang dipanjatkan oleh Sita sama dengan doa yang ia panjatkan tatkala tiba di kota ini untuk pertama kali. Dengan penuh sayang, Dewi sedikit mengacak rambut milik gadis kecil ini.
"Aamiin ... semoga malaikat ikut meng-aamiinkan doa Sita ini ya."
***
Dengan hati-hati, Dewi melintas di gang sempit yang sedikit becek ini. Sembari berdoa agar tidak terpeleset yang bisa membuatnya terkapar di atas bumi. Memang seperti inilah kondisi gang di sekitar tempat tinggal Dewi. Namun di mata Dewi, medan yang seperti ini justru terasa mengasyikkan sekali.
Dewi membasuh flat shoes yang ia kenakan menggunakan air kran yang berada di depan rumah Bhumi. Setelah lumayan bersih, ia sandarkan di dinding teras untuk membuatnya sedikit lebih tiris. Kemudian Dewi daratkan bokongnya di atas kursi rotan yang berada di beranda rumah ini.
Malam mulai merangkak perlahan. Membuat alam raya berbalut wajah yang temaram. Beruntung bulan yang menyabit menampakkan wajahnya sehingga nuansa terang itu sedikit tergores di hamparan langit malam.
Sembari menunggu Bhumi yang masih saja belum menampakkan batang hidungnya, Dewi mencoba untuk menuangkan kemampuan yang diam-diam ia miliki. Ia membuat bait-bait lagu yang nantinya akan ia serahkan kepada Bhumi. Dipadukannya dengan nada-nada yang pas hingga terwujud sebuah harmoni.
Senyum penuh semangat tiada henti merekah di bibir Dewi. Ia merasa di kota ini kemampuannya dalam bernyanyi semakin meningkat lagi. Bahkan tidak hanya bernyanyi, ia juga mengembangkan passion nya dalam membuat bait-bait lagu yang menyentuh hati.
Satu hal yang Dewi sadari. Ternyata pengaruh lingkungan terlebih orang-orang yang berada di sekitar, turut berpengaruh terhadap kesuksesan yang akan ia raih. Di kota ini, di tempat ini, Dewi merasa jika bakat dan kemampuan yang miliki dihargai sekali. Ia pun meyakini jika dari kota ini yang akan menjadi titik awal untuk mewujudkan mimpi.
"Bang Bhumi, sejak kapan bang Bhumi berdiri di situ?"
Dewi sedikit terperanjat tatkala manik matanya menangkap bayang tubuh seorang laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu dengan bersedekap dada. Sorot mata lelaki itu nampak tegas tiada terbaca.
__ADS_1
Dahi Dewi sedikit mengernyit di kala Bhumi sedikitpun tiada merespon ucapannya. Wanita itu bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah lelaki yang sepertinya tengah hanyut di dalam lamunannya.
"Bang, Bang Bhumi!"
"Eh, ya?"
Kedua bola mata Bhumi mengerjab di kala tangan Dewi menepuk pundaknya. Ia sedikit tergagap setelah sadar jika sebelumnya ia sempat terkesima dengan penampilan Dewi yang tidak seperti biasa.
"Bang Bhumi kenapa melamun di jam-jam seperti ini? Kata orang, pamali. Bisa-bisa kesambet mbak Kunti."
Bhumi hanya memasang wajah datar, untuk menghalau debar rasa yang tiba-tiba saja menyerang jantungnya. Penampilan Dewi dengan floral dress warna pastel ini nampak begitu anggun di matanya. Benar apa yang dikatakan oleh SPG di pusat perbelanjaan yang ia datangi siang tadi. Bahwa model pakaian yang dipakai oleh Dewi ini dapat menimbulkan kesan ramping meski dipakai oleh seseorang yang memiliki badan sedikit berisi.
"Tidak apa-apa." Bhumi menjeda sejenak ucapannya untuk mengatur kembali cara kerja jantungnya. "Apa yang kamu lakukan di sana? Aku lihat, kamu begitu fokus dengan ponsel barumu. Apakah kamu sedang menghubungi keluargamu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dewi, Bhumi justru malah melontarkan sebuah tanya tandingan untuk wanita ini. Percayalah para pembaca semua, saat ini Bhumi benar-benar sedang berupaya untuk menutupi segala rasa yang tiba-tiba bersemayam di hati. Sudah tentu ia sendiri juga belum bisa memahami perasaan apa yang ia rasakan ini.
"Aku hanya sedang mencoba untuk membuat lirik lagu Bang. Nanti jika sudah jadi, aku berikan ke Abang ya. Abang carikan nada yang pas."
Bhumi hanya mengulas sedikit senyumnya. Tanpa sadar, ia sedikit mengacak rambut Dewi yang membuat Dewi terperangah seketika. Bibirnya menganga lebar, tiada percaya jika Bhumi akan melakukan hal manis layaknya seorang laki-laki yang tengah mengacak rambut kekasihnya.
"Sebenarnya, kamu ingin menjadi penyanyi atau pencipta lagu?Mengapa sekarang kamu jadi sibuk membuat lirik lagu?"
Sumpah demi apa, perbuatan Bhumi yang mungkin nampak biasa ini justru terasa begitu istimewa di mata dan juga hati Dewi. Hampir saja Dewi tenggelam dalam lautan rasa bahagia tidak dapat ia hindari. Sebelum akhirnya, ia sadar jika lelaki di hadapannya ini mengajaknya berbicara sedari tadi.
"Jika aku bisa menjadi penyanyi sekaligus pencipta lagu, pastinya akan jauh lebih istimewa bukan?"
Bhumi hanya mengedikkan bahu. Ia pun juga tidak ingin terlalu terpaku dalam rasa terkesima yang tiba-tiba ada untuk wanita di depannya ini. Diambilnya gitar yang ia sandarkan di depan jendela dan menarik tangan Dewi untuk bersegera pergi dari tempat ini.
"Ayo lekas berangkat. Jangan sampai kita terlambat."
Ya Tuhan ... lagi-lagi tangan lelaki ini menggenggam tanganku erat. Apakah mungkin tangan lelaki ini yang kelak akan menjadi jembatan bagiku untuk meraih kesuksesan itu? Bang Bhumi, sesungguhnya siapa kamu ini?
__ADS_1