
"Ibuuuuuuu...!!!"
Keheningan di kediaman Ambarwati pagi ini dipecah oleh suara Seruni yang terdengar memekak telinga. Membuat wanita paruh baya yang tengah berkutat di dapur sembari memotong sayuran itu terperanjat seketika.
Diletakkannya pisau yang ada di tangan di atas telenan. Ia tautkan pandangannya ke arah sang putri bungsu yang tengah berlarian. Seakan membawa sebuah kabar yang sangat penting untuk segera disampaikan.
"Runi, ada apa? Mengapa kamu berlarian seperti itu?"
Ambarwati hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Melihat polah tingkah putri bungsunya ini seperti seseorang yang panik karena ada gempa. Padahal kenyataannya, suasana pagi ini nampak aman-aman saja. Tidak ada satupun bencana yang menimpa.
"Lihat ini Bu, lihat ini! Ini kak Dewi Bu ... ini kak Dewi!"
Dengan wajah yang berbinar, Seruni memperlihatkan ponsel yang ia bawa. Ambarwati yang sebelumnya fokus menatap heran wajah sang putri bungsu, kini ia gulirkan manik matanya ke arah benda pipih yang menyala. Sekilas, ia melihat sebuah video yang menampilkan seorang laki-laki yang tengah berdiri bersisihan dengan seorang wanita.
Tangan Ambarwati meraih benda pipih yang masih berada di dalam kungkungan jemari Seruni. Ia menyipitkan mata, mencoba untuk menatap lekat video apa yang tersaji. Dan betapa terkejutnya ia tatkala menyadari bahwa di dalam video ini terekam jelas sosok sang putri.
"Dewi....!!!"
Kerinduan yang menghujam sedikit terobati dengan adanya video ini. Ia yang selalu menangis dalam diam di setiap malam, menghawatirkan keadaan sang putri, kini seakan sirna tatkala melihat wajah Dewi yang nampak berseri. Sebagai sebuah isyarat bahwa tidak ada marabahaya yang mengelilingi.
"Iya Bu ... ini kak Dewi. Lihatlah, kak Dewi viral Bu! Dia menjadi orang terkenal saat ini!"
Dahi Ambarwati berkerut dalam. Mendengar ucapan Seruni ini membuatnya semakin tidak paham. Apa mungkin seseorang bisa menjadi terkenal hanya dalam waktu beberapa malam?
"Viral? Terkenal? Bagaimana mungkin kakakmu bisa terkenal hanya dalam waktu beberapa malam, Runi? Bagi Ibu hal itu merupakan sesuatu yang mustahil."
Seruni menanggapi santai pertanyaan Ambarwati. Ia paham sekali dengan pemikiran ibunya ini. Bahwa seseorang bisa terkenal setelah proses panjang yang dilalui.
"Bu, saat ini merupakan era modernisasi. Semua hal bisa viral dan terkenal dalam waktu sekejap saja. Itu semua bisa terjadi karena perkembangan media sosial yang ada."
"Lalu, indikator apa yang membuat kakakmu ini disebut terkenal dan viral, Runi? Ibu sungguh tidak paham."
"Lihatlah jumlah like, jumlah tayangan dan video-video lain yang berseliweran di beranda, Bu. Ini semua isinya perihal kak Dewi. Itu yang menjadikan kak Dewi viral dan terkenal."
Menetes sudah titik-titik embun yang bergelayut manja di pelupuk mata Ambarwati. Raut penuh haru, bahagia, dan rasa syukur nampak membingkai wajah wanita paruh baya ini. Pada akhirnya, setelah kesakitan yang dirasakan oleh Dewi, kini hanya ada kebahagiaan yang mengelilingi. Sungguh ia masih belum sepenuhnya percaya, jika skenario dari penulis cerita akan seindah ini.
"Lalu, lelaki ini siapa, Runi? Jika Ibu lihat, dia begitu dekat dengan kakakmu. Apakah ia merupakan salah satu teman kakakmu di ibu kota?"
Dewi tersenyum penuh arti. Jika melihat video yang beredar ini, ia bisa menyimpulkan bahwa lelaki ini bukan hanya sekedar teman biasa Dewi. Karena, apa yang dilakukan oleh lelaki dalam video ini, mempertegas bahwa sang kakak merupakan orang yang sangat berarti.
__ADS_1
"Runi rasa dia bukan hanya sekedar teman atau sahabat kak Dewi, Bu. Coba Ibu dengarkan apa yang dikatakan oleh lelaki ini dan lihat bagaimana sikapnya. Ini seperti seorang laki-laki yang tengah mengutarakan perasaannya terhadap wanita yang ia cinta."
Seruni menambah volume ponsel yang ada di tangannya. Seketika membuat suara lelaki di dalam video ini semakin jelas di telinga. Tutur-tutur kata lelaki di dalam video ini lah yang membuat Ambarwati semakin terperangah dan tidak percaya.
"Apakah ini dapat Ibu artikan bila kakakmu sudah menemukan jodohnya Run? Apakah lelaki ini yang akan menjadi pelabuhan terakhir penantian kakakmu selama ini?"
Rasa tidak percaya semakin membuncah di dalam dada. Pagi ini ada dua kebahagiaan yang datang menghampirinya. Melihat sang anak yang tiba-tiba viral dan melihat ada seorang laki-laki dewasa yang mengungkapkan rasa cinta di dapat putri sulungnya. Sungguh, bagi Ambarwati sendiri merupakan sebuah kebahagiaan yang tiada terkira.
Senyum sumringah juga nampak merekah di bibir Seruni. Gadis belia itupun juga turut dipenuhi oleh rasa haru yang tidak dapat dihindari.
"Runi hanya bisa berdoa semoga lelaki ini memanglah jodoh kak Dewi, Bu. Ternyata, kota Jakarta memanglah kota yang bisa menerima keberadaan kak Dewi. Sehingga kak Dewi mendapatkan kebahagiaan yang banyak seperti ini."
Ambarwati memeluk tubuh Seruni. Setelah kepahitan yang dialami oleh Dewi, pada akhirnya saat ini sang putri dapat mengecap apa itu manis madu dalam perjalanan hidupnya.
"Runi juga punya kabar gembira untuk Ibu."
Ambarwati mengurai pelukannya dari tubuh Seruni. "Kabar bahagia apa Runi?"
"Kak Dewi mengirim uang untuk kita Bu. Uang untuk keperluan sekolah Runi dan untuk kehidupan sehari-hari."
"Benarkah? Memang berapa banyak uang yang dikirim oleh kakakmu, Run?"
"Sepuluh juta Bu. Kak Dewi mengirim uang sepuluh juta untuk kita."
Kedua bola mata Ambarwati terbelalak dan membulat sempurna. Lagi-lagi wanita itu diserang oleh keterkejutan tiada terkira. Mendengar kata sepuluh juta membuat wanita itu sedikit tidak percaya. Namun jika ini yang disampaikan oleh sang anak, pastinya merupakan sesuatu yang dapat ia percaya.
***
Pagi bermandikan cahaya mentari yang cerah menerangi. Kumpulan ibu-ibu itu nampak berkerumun mengerubungi lapak sayur yang berada di depan halaman Ambarwati. Mereka larut dalam obrolan-obrolan yang semakin meramaikan suasana pagi ini.
"Eh, eh, eh, ibu-ibu tahu tidak dengan berita yang baru viral di media sosial?"
Sembari memilih dan memilah sayuran segar yang ada di depan mata, Ine membuka bahan obrolan yang terdengar begitu mengasyikkan. Dari cara ia bertanya kepada kumpulan ibu-ibu yang berada di sini seakan membuat mereka dipenuhi oleh rasa penasaran.
"Berita viral di media sosial? Berita apa itu Bu? Bukankah yang sedang viral adalah berita tentang bu Roy Pujiarti yang menggugat cerai pak Dody Sudrajat?" jawab Mia sembari memilih cabe rawit yang nampak segar-segar.
"Ckkckkkckkckk... Bukan itu Bu. Saat ini ada berita yang jauh lebih viral dari berita Bu Roy Pujiarti yang menggugat pak Dody Sudrajat. Ibu-ibu apa ingin tahu apa itu?"
"Aduh, bu Ine ini semakin membuat penasaran saja. Memang berita apa sih Bu? Saya sudah tiga hari ini tidak berselancar di dunia maya karena ponsel milik saya dijual," sambung Mini yang nampak semakin penasaran.
"Hah! Ponsel Bu Mini dijual? Untuk apa Bu? Bu Mini tidak jatuh miskin kan?"
__ADS_1
Alih-alih memangkas rasa penasaran Mini, Ine justru bertanya perihal ponsel tetangganya ini yang tiba-tiba dijual. Wanita itu justru lebih penasaran perihal ponsel milik tetangganya ini.
"Jatuh miskin bagaimana Bu? Ya jelas tidak. Malah saya semakin bertambah kaya. Ponsel lama saya memang saya jual karena saya ingin ganti merk ponsel, Bu," jawab Mini seraya memasukkan beberapa belanjaan di dalam keranjang belanja.
"Memang Bu Mini mau ganti ponsel apa? Saya kok jadi penasaran!" Ine bertanya dengan kerutan dalam di dahinya.
"Saya mau ganti ponsel i-phone yang harganya dua puluh tiga juta Bu. Bagaimana? Keren kan?"
"Waaahhh ... Bu Mini benar-benar keren. Saya juga jadi ingin membeli juga."
Mia yang mendengar obrolan dua temannya ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sejatinya ia yang dibuat penasaran oleh berita yang dibawa oleh Ine justru terhenti di tengah jalan. Saat ini mereka malah membicarakan perihal i-phone seharga dua puluh tiga juta.
"Eh Bu Ine. Bu Ine tadi memangnya membawa berita apa? Kok tiba-tiba malah berganti topik cerita. Saya penasaran lho Bu," ucap Mia mengingatkan.
Ine tergelak lirih ketika sadar bahwa ada yang ia lupakan. "Ah iya saya sampai lupa."
Ine mengambil ponsel yang ia simpan di dalam dompet yang ia bawa. Ia buka salah satu media sosial yang ia punya, dan memperlihatkan video yang sedang viral.
"Lihatlah Bu, Ibu.... Ini Dewi, anak Bu Ambarwati!"
Ine memperlihatkan sebuah video yang ada di beranda media sosial yang ia miliki di hadapan Mia dan juga Mini. Kedua wanita itu meletakkan kembali sayuran yang ada di tangan dan memilih untuk fokus melihat video di depannya ini.
"Eh iya benar .... ini Dewi, anak Bu Ambarwati. Dia kok bisa terkenal seperti ini ya Bu? Dan lihatlah Bu, di video ini Dewi seperti sedang dilamar," ucap Mini dengan raut wajah yang dipenuhi oleh keheranan.
"Halahhh ... jangan terlalu percaya dengan berita seperti ini Bu. Ini pasti hanya settingan. Tidak mungkin Dewi dilamar oleh lelaki ganteng seperti ini. Lihatlah, wajah Dewi nampak kampungan seperti itu," timpal Mia memberikan argumentasinya.
"Tapi dengan berita viral seperti ini pastinya akan membuat Dewi jauh lebih terkenal lho Bu. Dan pastinya bisa membuat bu Ambarwati kaya mendadak," ucap Ine yang turut memberikan argumentasinya.
"Hmmmm... berapa banyak sih uang yang akan mereka dapatkan, Bu? Setelah berita ini menghilang pastinya wajah Dewi juga tidak lagi viral. Saya yakin setelah tiga hari berita ini akan menghilang. Dan tidak mungkin Dewi maupun bu Ambarwati kaya mendadak."
"Benar, saya setuju dengan ucapan bu Mia. Selain Dewi dan bu Ambarwati itu tidak pantas menjadi orang kaya, mereka itu sudah ditakdirkan miskin sejak lahir Bu, jadi tidak akan pernah mereka menjadi orang kaya," seloroh Mini tanpa di filter terlebih dahulu.
"Hahaha hahaha ... iya benar sekali. Sekali miskin pasti akan tetap miskin ya Bu...."
"Hahahaha .... hahahaha .... hahaha!!!"
Ujang, yang sedari tadi mendengarkan ucapan julid ibu-ibu ini hanya bisa berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak habis pikir, ada saja kelakuan ibu-ibu ini yang membuatnya mengelus dada.
Tuhan, aku berdoa untuk kesuksesan anak bu Ambarwati yang ada di kota. Semoga suatu saat nanti keberhasilan Dewi bisa membungkam mulut pedas ibu-ibu ini.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Selingan tentang tetangga Dewi di kampung ya kak... Mohon maaf telat sekali update episode terbarunya. 😘😘😘😘