Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 43. Persiapan


__ADS_3

Lembar-lembar kertas nampak berserakan di atas meja. Laptop yang dibiarkan menyala entah sudah berapa jam lamanya seakan menegaskan bahwa pemilik ruangan ini sedang sibuk tiada terkira. Sampai-sampai ia melewatkan jadwal makan siangnya.


"Lang!"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar memenuhi langit-langit ruangan, seketika menghentikan aktivitas Gilang. Meski nampak begitu keheranan karena sang direktur utama perusahaan ini mendatanginya, namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"P-Papa? Mari silakan duduk Pa!"


Wiraguna mendaratkan bokongnya di atas kursi ergonomis yang berada di ruangan milik putranya ini. Ia sangat jarang memasuki ruang kerja sang anak sehingga membuatnya merasa asing ketika berada di sini. Sekilas, lelaki paruh baya itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan membuat Gilang merasa kikuk setengah mati.


"Maaf jika berantakan ya Pa. Gilang belum sempat untuk merapikan kertas-kertas ini."


Wiraguna tersenyum simpul di kala melihat Gilang langsung bergerak cepat untuk merapikan kertas-kertas yang berantakan ini. "Sudahlah, tidak apa-apa. Biarkan saja seperti itu. Karena itu sebagai pertanda bahwa kamu memang bekerja. Tidak santai-santai saja."


Gilang ikut tergelak lirih. Ia akui jika dirinya jarang sekali bercanda dengan lelaki paruh baya ini. Sehingga ketika sang papa mengajaknya bercanda seperti ini, hanya ada kebahagiaan yang memenuhi hati.


"Papa bisa saja. Tumben, Papa mendatangi Gilang. Apakah ada hal penting yang ingin Papa bicarakan?"


Wiraguna menghembuskan napas pelan. Sejatinya tidak ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Namun ada satu hal yang sebenarnya mengganggu pikiran.


"Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin Papa sampaikan. Namun Papa begitu penasaran kepadamu, mengapa kamu tidak mau untuk menggantikan posisi Papa? Padahal mama kamu juga sudah berupaya keras untuk membujukmu."


Wiraguna benar-benar merasa heran dengan putra hasil dari pernikahannya bersama sang istri. Lelaki ini terlihat tidak begitu berambisi untuk menduduki jabatan direktur utama perusahaan ini. Sedangkan Wenda justru sebaliknya, ia seperti tergesa-gesa memaksa Gilang untuk menduduki posisi nomor satu di sini.


"Selain Gilang merasa belum pantas untuk menduduki posisi itu, sejatinya masih ada yang lebih berhak untuk menggantikan Papa. Kak Arga lah yang lebih berhak menduduki jabatan itu."


"Tapi bukankah kamu juga mengetahui bahwa Arga menolak untuk menjadi direktur utama? Apa kamu tidak berkeinginan untuk segera menempati posisi itu?"


Gilang menggelengkan kepala pelan. "Tidak Pa. Sebelum ada hitam di atas putih bahwa kak Arga tidak memiliki keinginan untuk menggantikan posisi Papa, Gilang tetap tidak akan pernah bersedia untuk menduduki jabatan itu. Gilang tidak ingin merampas hak kak Arga di sini."


Wiraguna hanya bisa berdecak lirih sembari memijit-mijit pelipisnya. Ternyata kedua putranya ini memiliki pendirian yang cukup kuat. Mereka tidak mudah untuk dibujuk ataupun dirayu jika tidak sesuai dengan apa kata hati milik mereka.


"Hah .... kalian ini memang sama-sama keras hati. Yang satu kekeuh ingin menjadi pemusik dan satu lagi tidak ingin cepat-cepat menggantikan posisiku. Bagaimana bisa ada hitam di atas putih, jika keberadaan kakakmu saja tidak Papa ketahui. Dia sangat pandai bersembunyi."


Gilang menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Meski lelaki di depannya ini juga turut memaksa untuk menempati jabatan itu, namun wajahnya tidak bisa berkata bohong. Lelaki ini masih berharap penuh menjadikan sang kakak untuk menggantikan posisinya.


"Setelah ini, Gilang yakin bahwa Papa akan segera bertemu dengan kak Arga."


Wiraguna merotasikan kedua bola matanya. Mendengar ucapan Gilang, seakan menegaskan bahwa lelaki itu begitu yakin jika dirinya akan segera bertemu dengan Arga. Entah itu benar atau hanya sekedar gurauan semata.


"Apa maksudmu Lang? Mengapa kamu begitu yakin aku akan bertemu dengan Arga?"

__ADS_1


Gilang mengarahkan laptop yang berada di hadapannya ke arah Wiraguna. Hingga kini ia dapat melihat jelas layar berukuran empat belas inchi ini.


"Lihatlah Pa, kak Arga dalam waktu sekejap bisa se viral ini. Ternyata selama ini kak Arga berada tidak jauh dari kita. Ia masih berada di kota ini."


Kedua netra Wiraguna menatap lekat sajian yang terpampang di layar laptop milik Gilang. Binar-binar kebahagiaan itu nampak jelas membingkai wajah sang putra setelah sekian lama menghilang. Wiraguna semakin merasa, jika selama ini Arga hidup dalam keadaan terkekang.


Kepala Wiraguna semakin menunduk dalam. Ada sileut kejadian beberapa bulan lalu yang nampak buram. Di mana ia memaksa sang putra untuk menggantikan posisinya, hingga membuatnya pergi tanpa berpamitan. Semata-mata hanya untuk menghindari segala perdebatan meski sudah terlanjur hanyut dalam pertengkaran.


Seonggok daging bernyawa dalam raga itu terasa mencelos. Membuat titik-titik embun dalam bingkai kelopak mata tiba-tiba lolos. Ia tersadar jika selama ini, ia telah melakukan kesalahan besar. Mengekang kebebasan sang putra yang bisa jadi merupakan sumber kebahagiaannya.


"Siapa wanita ini Lang? Apakah wanita ini sebelumnya pernah berada di sekeliling kita?"


Lega karena bisa melihat keadaan sang putra, kini lelaki paruh baya ini bertanya perihal wanita yang bersama Arga. Wanita ini nampak begitu asing di matanya. Bahkan sekalipun Arga belum pernah membawa wanita ini untuk bertemu dengannya.


"Gilang tidak tahu pasti siapa dia Pa. Namun sepertinya wanita ini adalah kekasih kak Arga. Karena di dalam konten ini kak Arga terlihat sedang mengungkapkan perasaannya. Dan wanita ini juga menerima kehadiran kak Arga."


Wiraguna menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak, tidak, tidak. Ini tidak bisa dibiarkan Lang. Arga tidak boleh menjalin hubungan dengan wanita itu."


Gilang terkesiap kala mendengarkan ultimatum dari sang papa. Ia yang mengira Wiraguna telah sadar akan kesalahan karena telah mengekang kebebasan Arga, kini ternyata ada lagi sesuatu yang akan menjadi penghalang bagi kebahagiaan sang kakak. Sungguh sangat tidak bisa ia percaya.


"Mengapa Papa melarang kak Arga untuk berhubungan dengan wanita ini? Apa yang salah terhadap hubungan mereka Pa?"


Wiraguna menyapu pandangannya ke sekeliling dengan tatapan menerawang. Ada satu hal yang ia kenang sekarang. Di mana sesungguhnya sejak kecil Arga sudah terikat dalam satu perjodohan.


Gilang semakin terperangah tiada percaya. Ia merasa jika perjodohan ini hanya akan kembali membuka cerita lama. Di mana kebebasan Arga kembali dikekang dan mungkin lelaki itu akan mengajukan aksi protes dengan cara pergi dari rumah untuk ke sekian kalinya.


"Kalau boleh Gilang memberi saran, jangan Papa paksakan kemauan Papa ini kepada kak Arga. Gilang hanya khawatir jika kak Arga akan pergi dari rumah lagi karena perjodohan itu Pa."


Wiraguna menggelengkan kepala. "Tidak Lang. Ini semua bukanlah kemauan dari Papa. Ini adalah wasiat dari almarhum kakek yang harus di jalankan."


Wiraguna kembali menatap wajah putra bungsunya ini. "Lang, bantu Papa. Bantu Papa untuk bisa bertemu dengan Arga."


Gilang hanya bisa mengangguk pasrah. Jika sudah seperti ini bukan lagi menjadi ranahnya untuk ikut campur perihal perjodohan itu. "Baik Pa. Gilang akan membantu Papa untuk mencari keberadaan kak Arga."


***


"Bang ... aku takut!"


Di sebuah ruang tunggu, jemari tangan Dewi menggenggam erat jemari milik Bhumi. Sejak tiba di Uye TV, jemari tangan wanita itu seakan tidak ingin terlepas dari sang lelaki. Entah apa yang sedang ia alami, yang jelas genggaman tangan Dewi terasa begitu dingin. Bulir-bulir keringat dingin seakan memenuhi pori-pori.


Bhumi menyunggingkan senyum manis yang ia miliki. Ia yang sebelumnya fokus memperhatikan keadaan sekitar, kini ia tautkan pandangannya ke arah Dewi. Tanpa basa-basi, ia mengecup intens kening wanita yang duduk di hadapannya ini.

__ADS_1


"Apa yang harus kamu takutkan? Di dalam nanti tidak akan ada singa ataupun serigala, sehingga kamu bisa tenang."


"Entahlah Bang, aku merasa gugup jika harus berhadapan langsung dengan kamera."


Bhumi yang mendengar cicitan Dewi semakin tergelak. Lelaki itu kembali menatap manik mata milik Dewi dengan lekat. Ia rapikan anak-anak rambut yang sedikit menutupi wajah wanita ini.


"Wanitaku harus memiliki rasa percaya diri. Dia tidak boleh merasa gugup ataupun rendah diri. Percayalah, bahwa kamu pantas berada di tempat ini."


Mendengar kata 'wanitaku' seakan membuat membuat hati Dewi berbunga-bunga. Rasa gugup dan takut itu seakan sirna secara tiba-tiba. Entah mantra apa yang dimiliki oleh lelaki ini. Yang pasti, setiap tutur kata yang terucap dari bibir Bhumi seakan membuatnya semakin tegar untuk berdiri. Dan sudah pasti membuatnya lebih percaya diri.


Dewi tersenyum di hadapan Bhumi. Tidak ada kebahagiaan yang saat ini ia rasakan selain rasa bahagia karena dalam garis takdirnya, Tuhan mempertemukannya dengan sosok lelaki ini. Sosok malaikat tak bersayap yang sudah memberikan kebahagiaan tiada bertepi.


Lagi, Bhumi mengecup kening Dewi. Mengalirkan rasa cinta yang ia miliki untuk sang kekasih hati. Membasuh raga wanita ini dengan rinai cinta kasih yang tidak akan pernah berhenti. Mengantarkannya hingga ke telaga cinta yang akan senantiasa memberikan warna dalam setiap denyut nadi.


"Selama ada aku di sini, kamu tidak perlu merasa takut."


Eheemmm....


Suara deheman seseorang yang tiba-tiba terdengar di dalam indera pendengaran, membuat Dewi dan Bhumi terperanjat seketika. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya mereka, ketika ada beberapa crew MUA yang datang menghampiri.


"Mohon maaf mas Bhumi dan mbak Dewi jika mengganggu."


Dewi tersenyum kikuk. "Ah, tidak Kak. Sama sekali tidak mengganggu."


"Sebelum acara dimulai, mbak Dewi ikut kami terlebih dahulu ya."


"Ikut kemana Kak?"


Beberapa crew MUA itu hanya tersenyum simpul. "Agar penampilan mbak Dewi lebih sempurna, mbak Dewi kami make over terlebih dahulu ya."


Dewi terperangah. Pertama kali diundang mengisi acara stasiun televisi, membuat Dewi seperti orang linglung yang tidak tahu apa-apa. Wanita itu nampak kebingungan.


"Tapi Kak..."


Bhumi menggenggam erat jemari tangan Dewi. Hingga membuat pandangan wanita itu fokus ke arah lelaki ini.


"Sudah, ikuti saja apa yang diinstruksikan oleh MUA ini. Kamu hanya tinggal menikmati."


"Tapi Bang..."


Bhumi mendekatkan bibirnya di telinga Dewi. Lelaki itu berbisik lirih. "Apakah aku harus menciummu terlebih dahulu agar kamu tidak terlalu banyak mengucapkan kata tapi?"

__ADS_1


Kedua bola mata Dewi terbelalak sempurna. Meski ucapan Bhumi terdengar begitu mengejutkan namun semburat rona merah jambu di pipi milik wanita itu tidak dapat terhindarkan.


"Bang Bhumi....!!!"


__ADS_2