
Bumi masih berputar pada porosnya. Waktu terus bergulir meninggalkan kisah lalu yang menjadi kenangan dan membuka lembaran baru untuk kehidupan berikutnya. Terserah, tinta seperti apa yang akan torehkan di lembar berikutnya. Mungkinkah tinta penuh kebaikan? Ataukah tinta yang penuh dengan keburukkan. Apapun itu, lembar demi lembar yang telah terlewati semoga bisa menjadi bahan renungan diri untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi.
Rekahan senyum lebar tiada henti membingkai bibir Dewi kala melewati ruas-ruas jalan yang enam bulan lebih tidak pernah ia jamah sama sekali. Jalanan yang dihiasi oleh barisan tanaman pohon jati yang nampak menjulang tinggi. Jalanan yang sebentar lagi akan kembali mempertemukannya dengan keluarga tercinta. Bhumi, yang melihat ekspresi wajah Dewi juga hanya bisa tersenyum lebar. Kebahagiaan yang Dewi rasakan, seakan turut ia rasakan.
Ya, hari ini Bhumi dan semua keluarga mengadakan perjalanan menuju kediaman Dewi. Lusa, sepasang kekasih itu akan menikah sebagai wujud nyata komitmen yang sudah mereka buat. Komitmen untuk hidup bersama di dalam ikatan suci pernikahan. Bhumi sengaja mengemudikan mobil sendiri, sedangkan yang lainnya, ada di mobil yang saat ini berada di belakang mobil yang ia kemudikan.
"Kira-kira, apa tanggapan orang tuamu ya Dew, saat bertemu denganku?" ucap Bhumi memecah keheningan yang ada.
"Mengapa bang Bhumi harus bertanya? Sudah pasti, keluargaku akan menyambut kedatangan bang Bhumi dengan penuh suka cita," tutur Dewi seraya menatap lekat wajah Bhumi.
"Aku hanya takut jika ibumu tidak bisa menerima kedatanganku Dew. Barangkali, keberadaanku tidak sesuai dengan ekspektasi beliau."
Mendengar cicitan Bhumi hanya membuat Dewi tergelak lirih. Bisa-bisanya sang kekasih memiliki pemikiran konyol seperti ini. "Kalau begitu, Abang langsung pulang saja. Kan keberadaan Abang di sana hanya sia-sia?"
"Begitu ya? Apa tidak diizinkan untuk menginap semalam saja? Untuk melepas lelah?"
"Aku rasa tidak Bang. Lagipula untuk apa menahan bang Bhumi untuk tetap berada di sana? Kan memang keberadaan bang Bhumi tidak diharapkan."
"Pasti akan sangat menyedihkan ya Dew?"
Melihat wajah Bhumi yang sedikit pias, membuat Dewi terkikik geli. Ia sama sekali tidak menyangka jika Bhumi memiliki pemikiran yang terlampau jauh seperti itu. Gemas, itulah yang Dewi rasakan dan...
"Aaawwwwhhh .... sakit, Sayang!" pekik Bhumi saat Dewi mencubit pinggangnya.
"Hmmmmmmmm ... makannya Bang, jangan bicara yang aneh-aneh. Lagipula mana mungkin ibuku tidak menerima kedatanganmu. Lusa, kita menikah Bang. Semua persiapan sudah matang tinggal pelaksanaan di hari H. Masa iya, ibuku tidak menerimamu?"
Bhumi hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata ia melupakan satu hal. "Iya juga ya. Lusa kita akan menikah ya Sayang? Aku ingatnya kita baru lamaran."
"Astaga Bang, bisa-bisanya kamu lupa sama hari pernikahanmu sendiri."
"Hahahaha...!"
****
"Ibu!!!!!"
__ADS_1
"Dewi!!!"
Tiba di halaman rumah dan setelah turun dari mobil Dewi berteriak kencang sembari berlari ke arah Ambarwati yang sudah berdiri di depan teras. Wanita itu tanpa banyak kata meluruhkan tubuhnya di atas paving block dan bersimpuh di bawah telapak kaki Ambarwati. Dengan erat, ia memegang tungkai kaki sang ibu.
"Dewi pulang Bu. Dewi pulang!"
Dewi menangis tergugu di bawah telapak kaki Ambarwati. Sekian lama berpisah dengan Ambarwati, membuat gejolak rasa dalam dada Dewi berkecamuk menjadi satu. Rasa rindu, rasa haru, dan rasa bahagia. Semua rasa itu bercampur hingga menghadirkan air mata yang mengalir deras menyusuri bingkai wajahnya.
Ambarwati membungkukkan tubuhnya. Ia pegang pundak sang putri dan menuntunnya untuk berdiri. Saat tubuh Dewi sudah berdiri tegap, di peluklah tubuh Dewi oleh Ambarwati dengan erat. Erat sekali, seakan meluapkan segala kerinduan yang membuncah di dalam dada.
"Anakku ... Tuhan begitu baik kepadamu, Nak. Akhirnya, apa yang menjadi mimpi dan anganmu selama ini dikabulkan olehNya. Ibu bangga kepadamu Nak. Ibu bangga."
"Apa yang Dewi capai dan peroleh, semua Dewi persembahkan untuk Ibu. Ini semua menjadi salah satu wujud rasa terima kasih Dewi kepada Ibu karena sudah menjadi sosok wanita tangguh untuk membesarkan dan mendidik Dewi. Meski Dewi tahu, berapapun banyak materi yang Dewi berikan, tidak akan pernah mampu untuk mengimbangi semua pengorbanan yang telah Ibu berikan."
"Bisa melihatmu berhasil meraih semua mimpi dan anganmu, itu semua sudah cukup membuat Ibu bangga, Nak. Tetaplah seperti ini, menjadi Dewi yang rendah hati dan tidak lupa diri dari mana kamu berasal."
"Dewi berjanji, Bu. Dewi berjanji."
"Kakak...!!"
"Runi!"
"Kak Dewi apa kabar? Baik-baik saja kan?"
Sama halnya dengan Ambarwati yang menyimpan rasa rindu yang menggebu terhadap Dewi, gadis belia itu juga turut menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Dewi. Kini, ketiga orang itu saling memeluk erat dan seolah tidak ingin saling melepaskan.
"Kakak baik-baik saja, Runi. Bagaimana dengan sekolahmu? Semua lancar bukan?"
Seruni menganggukkan kepala. "Semua lancar Kak. Terima kasih, kak Dewi sudah menjadi penopang semua kebutuhan pendidikanku."
"Itu semua sudah menjadi tanggung jawab Kakak sebagai anak pertama, Runi. Kamu tidak perlu berterima kasih. Tugas kamu hanya satu. Kamu harus tetap melanjutkan pendidikanmu setinggi-tingginya. Torehkan tinta emas di dalam keluarga kita, bahwa anak dari Ibu ada yang berhasil menjadi seseorang yang berpendidikan tinggi."
"Tinta emas itu telah tertoreh dengan keberhasilan kak Dewi menjadi seorang bintang. Runi, Ibu dan mendiang ayah teramat bangga dengan kak Dewi. Kami bangga kepadamu, Kak."
Mendadak atmosfer tempat ini dipenuhi oleh keharuan yang luar biasa. Melihat tiga orang wanita yang saling berpeluk dan menumpahkan segala kerinduan membuat Bhumi, Kartika, Wiraguna, dan Hans ikut meneteskan air mata. Mereka baru sadar bahwa selama ini, kehidupan Dewi terasa begitu pelik dan kini hanya tinggal mengecap rasa manisnya saja.
__ADS_1
Dewi mengurai pelukannya. Ia berbalik badan dan melihat ke arah Bhumi dan keluarga. "Ibu, perkenalkan. Mereka adalah keluarga Bhumi."
Ambarwati mengayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Kartika dan keluarga. Senyum lebar pun ia lemparkan ke arah keluarga Bhumi.
"Selamat datang semua di gubug kami. Mohon maaf jika penyambutan dari kami kurang berkenan ya Pak, Bu."
"Ini sudah lebih dari cukup Bu. Kami bahkan menyukai suasana di desa ini," ujar Wiraguna.
Kartika mendekat ke arah Ambarwati. Ia tatap lekat wajah ibunda Dewi ini. "Jadi kamu adalah putri Dharmawangsa?"
"Saya menantunya Bu. Suami saya lah yang merupakan putra Dharmawangsa."
"Ya Tuhan, ternyata Tuhan begitu indah menuliskan skenario kehidupan untuk hambaNya. Aku merasa tidak akan pernah bertemu dengan pemilik kalung yang sama persis diberikan oleh mendiang suamiku. Tapi kenyataannya Tuhan mempertemukan kita semua untuk menjadi keluarga."
"Iya Bu. Ini semua merupakan kehendak yang Maha Kuasa. Semua sudah tertulis dalam skenario kehidupan kita."
Kartika juga tidak luput dipenuhi oleh rasa haru. Ia teramat bersyukur karena bisa menunaikan janji kepada sang suami untuk bisa menemukan pemilik kalung yang sama persis dengan yang ia miliki. Jika Tuhan sudah berkehendak, maka tidak akan ada yang mustahil.
Ambarwati tersenyum penuh arti sembari menatap lekat sosok pemuda tampan dan gagah yang berdiri di samping Wiraguna. "Nak, apakah kamu yang bernama Bhumi? Calon suami Dewi?"
Bhumi bergerak maju. Sembari membungkuk, ia raih telapak tangan Ambarwati kemudian ia kecup dengan intens. "Iya Bu, saya Bhumi. Calon suami Dewi. Mohon doa restu ya Bu. Agar pernikahan Bhumi tetap langgeng hingga ajal menjemput kami."
"Ya Tuhan, kamu tampan sekali Nak. Mimpi apa Ibu, akan mendapatkan menantu setampan dan segagah dirimu ini."
Suasana yang sebelumnya dipenuhi oleh keharuan, kini bergant dipenuhi oleh riuh gelak tawa. Ya, Ambarwati tetaplah seorang wanita yang pasti akan terkesima kala bertemu dengan sosok pria tampan seperti Svarga Bhumi ini.
.
.
.
Berkah dan sehat selalu kakak-kakak semua ❤️❤️❤️
.
__ADS_1