
Lelaki paruh baya nampak terbaring lemah di atas hospital bed yang berada di ruang ICU sebuah rumah sakit. Setelah menjalani operasi, lelaki itu masih berada di dalam keadaan kritis dan memerlukan perawatan intensif. Membuat pemuda itu sedari tadi meneteskan air matanya karena tidak tega melihat keadaan sang ayah yang seperti ini.
"Ayah harus kuat. Ayah harus bertahan. Ayah harus sembuh. Izinkan Gilang untuk berbakti kepada Ayah. Izinkan Gilang untuk membahagiakan ayah di sisa hidup ayah."
Air mata pemuda itu belum juga mengering. Masih menetes membingkai wajahnya yang nampak sayu. Semalaman, pemuda itu bahkan belum sempat beristirahat hanya untuk menjaga sang ayah yang tengah terbaring lemah.
"Setelah ini, kita akan hidup bersama. Akan Gilang temani Ayah untuk melewati hari-hari tua Ayah. Ayah bangun ya."
Dengan suara bergetar, Gilang mencoba untuk mengajak berkomunikasi sang ayah. Meski ia tahu bahwa saat ini sang ayah masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, namun ia percaya bahwa sang ayah bisa mendengarkan suaranya. Berkali-kali ia mengecup punggung tangan Rajasa, untuk mentransfer energi dan kekuatan untuk tetap hidup dan bertahan.
"Lang!"
Suara seseorang membuyarkan lamunan Gilang. Gegas, ia menyeka air matanya dan menoleh ke arah sumber suara. Pemuda itu tersenyum tipis saat melihat Wiraguna memasuki ruangan ini.
"Papa!"
Wiraguna berjalan mendekat ke arah Gilang. Lelaki paruh baya itu berdiri di sisi sang putra dan di sisi lelaki yang tengah terbaring lemah ini. Dengan lekat, Wiraguna menatap wajah lelaki ini mencoba untuk mengenali siapakah gerangan dirinya.
"Lang, sebenarnya siapa lelaki ini? Dan ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki ini?"
Tidak dapat diingkari bahwa apa yang terucap dari bibir Gilang kala memanggil lelaki ini dengan sebutan ayah, membuat Wiraguna penasaran setengah mati. Maka dari itu, ia buru-buru menemui sang putra untuk mendengar cerita sesungguhnya.
Gilang hanya tersenyum tipis kala mendengar pertanyaan Wiraguna. Pemuda itu bahkan sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan ia dapat jika sampai ia menceritakan hal yang sebenarnya kepada Wiraguna.
"Lelaki ini suami mama, Pa. Dia adalah ayah kandung Gilang."
Tubuh Wiraguna terperanjat seketika. Kedua bola matanya membulat sempurna. "Apa? Dia ayah kandung kamu? Jangan bercanda kamu Lang!"
__ADS_1
Gilang bangkit dari posisi tubuhnya. Ia merasa harus menceritakan semuanya kepada Wiraguna. Dengan begitu, suasana hatinya bisa semakin lega.
"Ikut Gilang, Pa. Gilang akan menceritakan semua yang terjadi."
****
Hamparan perkebunan nan hijau nampak begitu jelas dari arah rooftop area rumah sakit. Udara sekitar pun terasa begitu sejuk. Bahkan terasa dingin daripada udara di Jakarta. Dan di rooftop ini, Gilang dan Wiraguna berada.
Satu jam lebih Gilang dan Wiraguna berada di tempat ini. Selama itu pulalah Gilang menceritakan dengan runtut bagaimana awal ia bertemu dengan Rajasa, hubungan apa yang ada diantara keduanya, kejahatan apa yang direncanakan oleh Wenda dan terakhir peristiwa apa yang sebenarnya terjadi terhadap mendiang istri Wiraguna terdahulu.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Gilang, membuat Wiraguna bertubi-tubi di serang oleh rasa terkejut setengah mati. Ia benar-benar tidak menyangka jika sahabat mendiang istrinya merupakan sosok sahabat yang berani menikam sahabatnya sendiri.
"Sekarang Papa sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Gilang bukanlah putra kandung Papa. Gilang adalah putra kandung lelaki bernama Rajasa. Setelah ayah Gilang keluar dari rumah sakit, Gilang akan mundur dari perusahaan. Gilang merasa tidak pantas untuk menempati posisi itu di perusahaan."
Ya, seperti itulah Gilang. Darah ketulusan Rajasa, benar-benar mengalir di dalam tubuh pemuda itu. Andai saja, pemuda itu dikuasai oleh ego seperti sang ibu, dapat dipastikan ia tidak akan pernah berkata jujur perihal siapa dia sebenarnya. Ia pasti akan tetap menikmati posisinya sebagai putra Wiraguna agar bisa merasakan semua fasilitas dan kemewahan yang ia dapatkan di tengah-tengah keluarga Wiraguna. Dan tatkala ia memilih jalan berkata jujur, ia sudah siap dengan semua konsekuensinya. Termasuk dikeluarkan dari rumah Wiraguna.
Wiraguna menghela napas dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan. "Tidak Lang, kamu tetap berada di perusahaan. Kamu tetap di sana, membantu Arga menjalankan tugasnya."
"T-tapi Pa? Gilang merasa tidak pantas untuk berada di sana setelah apa yang telah mama lakukan. Gilang benar-benar tidak pantas."
Wiraguna tersenyum penuh arti. Sejak kecil ikut mengurus Gilang, membuat Wiraguna juga begitu menyayangi pemuda ini. Sama seperti ia menyayangi Bhumi.
"Tidak Lang, kamu pantas untuk tetap berada di sana. Karena Papa memang membutuhkan sosok pekerja keras seperti kamu. Jadi Papa mohon, kamu tetap di perusahaan."
Entah apa yang harus Gilang katakan. Pemuda itu nampak begitu terharu dengan apa yang menjadi keputusan Wiraguna. Pemuda itu gegas memeluk tubuh Wiraguna dengan erat.
"Terima kasih banyak Pa. Terima kasih!"
__ADS_1
Wiraguna tersenyum sembari mengusap punggung Gilang. Akan sangat tidak adil jika pemuda sebaik dan setulus Gilang menanggung dampak yang bahkan bukan merupakan kesalahannya. Gilang tetaplah Gilang. Seorang pekerja keras yang mana menjadi kebanggaan bagi Wiraguna sendiri.
"Papa harap, kamu tetap tinggal di rumah besar. Jika kamu ingin membawa Rajasa, Papa akan sangat mengizinkan. Kamu tidak perlu sungkan."
Gilang melerai pelukannya. Ia tatap netra lelaki paruh baya di hadapannya ini dengan lekat. "Terima kasih banyak Pa. Tapi setelah ayah Rajasa keluar dari rumah sakit, Gilang akan membawanya tinggal bersama Gilang."
"Tinggal bersamamu? Tinggal di mana maksudmu Lang?"
"Gaji yang Gilang dapatkan selama ini, Gilang gunakan untuk berinvestasi sebuah rumah yang berada di pinggir kota. Gilang akan tinggal di sana bersama ayah Rajasa."
"Apakah Papa tidak bisa menahan dan mengurungkan rencanamu itu Lang? Tetaplah tinggal di rumah besar," ucap Wiraguna dengan nada memohon.
"Terima kasih untuk kebaikan Papa selama ini. Gilang akan tetap bekerja di perusahaan, namun untuk tempat tinggal, Gilang akan mulai membuka kehidupan baru bersama ayah Rajasa."
Wiraguna sudah tidak dapat berbuat apapun. Mau tidak mau. Suka tidak suka ia akan memenuhi permintaan Gilang. Yang terpenting, ia masih bisa menjalin komunikasi dengan Gilang.
"Baiklah kalau begitu Lang. Papa hanya bisa terus mendukung keputusanmu. Dan satu hal yang harus kamu ingat, Lang. Selamanya, kamu akan tetap menjadi putraku. Jangan pernah sungkan untuk berbagi cerita bersamaku."
Senyum lebar merekah di bibir Gilang. Ternyata memang benar apa yang pernah ia dengar. Tetaplah menjadi orang jujur dan orang baik. Karena dengan kejujuran dan kebaikan itu yang akan membuat kita berada di dalam kebaikan pula.
.
.
.
.
__ADS_1