Mengubah Takdir : Sang Dewi

Mengubah Takdir : Sang Dewi
Bab 26. Semuanya Untukmu!


__ADS_3


"Yeaaay.... Kak Dewi!!! Lagi, lagi, lagi!!!"


Plok... plok... plok...


Riuh suara tepuk tangan itu terdengar menggema, memekak telinga. Menembus lapisan atmosfer sudut ibu kota di mana semakin malam justru nampak semakin ramai saja. Menyatukan mereka dalam suasana hangat yang semakin terasa. Berdiri di bawah payung langit yang menyimpan sejuta pesona.


Senyum di bibir Dewi merekah tiada henti. Ini sudah ke lima kalinya ia bernyanyi. Mendendangkan bait-bait penuh makna cinta yang begitu terasa hingga ke ulu hati. Menggetarkan nadi dan seakan tidak ingin berakhir sampai ini. Tak ayal, membuat para penikmat malam di tempat ini, meminta Dewi untuk bernyanyi lagi, lagi dan lagi.


Tempat yang sebelumnya tidak terlalu ramai, mendadak seperti lautan manusia yang mengerumuni. Suara merdu dengan iringan petikan gitar yang menciptakan sebuah harmoni semakin menjadikan Dewi dan Bhumi seorang bintang di malam hari ini. Perform keduanya pun tidak luput dari bidikan kamera paparazzi. Barangkali jalan inilah yang akan menjadikan mereka viral, tanpa mereka sadari.


Manik mata Dewi menatap lekat wajah Bhumi yang nampak tersenyum penuh arti. Nampaknya lelaki itu paham dengan rasa lelah dan dahaga yang menyerang teman duet nya ini. Ia pun mengayunkan tungkai untuk bisa lebih merapatkan ke tubuh Dewi.


"Malam semakin larut, sudah waktunya aku dan juga Dewi untuk undur diri. Jika ada kesempatan, kita akan bertemu kembali di malam minggu yang akan datang."


"Yaaahhhh .... kurang... kurang... kurang..!!"


"Ayo bernyanyi lagi...!!!"


Entah mengapa rasa bahagia itu memenuhi relung-relung hati Dewi. Bak dihujani oleh kelopak-kelopak kebahagiaan tiada henti. Mendapatkan respon semanis dan sebaik orang-orang yang berada di tempat ini, semakin membuat Dewi lebih bersemangat lagi.


"Terima kasih untuk semua atensi yang telah teman-teman berikan. Benar apa yang dikatakan oleh bang Bhumi, malam semakin beranjak pergi untuk berganti ke pagi. Sudah saatnya kami undur diri dari hadapan teman-teman semua. Terima kasih untuk semuanya dan bahagia selalu untuk kita."


Plok.... plok... plok...


Suara tepuk tangan kembali terdengar sekali lagi. Bersamaan dengan kerumunan manusia itu mengayunkan tungkai kaki untuk membubarkan diri. Dan kini hanya terlihat Dewi dan Bhumi yang masih berdiri dan perlahan suasana berubah menjadi sepi.


"Untukmu!"


Satu botol air mineral di ulurkan oleh Bhumi di depan Dewi yang tengah duduk bersila sembari menikmati kanvas langit Sangat Maha Kuasa. Wanita itu tersenyum simpul dan menganggukkan kepala sebagai salah satu ucapan terima kasih tiada terhingga.

__ADS_1


"Terima kasih Bang."


Di teguknya air mineral yang diberikan oleh Bhumi. Seketika kerongkongan yang kering kerontang terasa basah oleh tetes-tetes air mineral yang mengaliri. Wanita itu merasa tubuhnya segar kembali.


Bhumi ikut mendaratkan bokongnya di samping Dewi. Tak lupa, sebuah kardus yang berisikan lembaran-lembaran rupiah ia letakkan di hadapan wanita yang menjadi teman duetnya ini.


"Bagaimana? Apakah kamu cukup puas dengan penampilanmu?"


Dewi menganggukkan kepala mantap dengan senyum tiada henti merekah dari bibir. Melihat respon positif dari semua pengunjung di tempat ini semakin membuatnya yakin untuk kembali berdiri. Berdiri di atas pijakan kaki dengan segala kelebihan yang ia miliki.


"Bukan hanya cukup puas Bang, namun sangat puas. Aku merasa lebih mengenal siapa diriku sendiri. Di sini, aku merasa jauh dihargai sebagai seorang Dewi."


"Seperti itukah? Memang indikator apa yang membuatmu merasa jauh lebih dihargai?"


Sembari menghitung lembaran-lembaran uang yang didapat, Bhumi masih nampak begitu intens menanggapi perkataan Dewi. Meski atensinya terbagi, namun tak sedikitpun Bhumi mengabaikan keberadaan wanita ini.


"Suara riuh tepuk tangan, teriakan lagi, lagi, lagi dari para pengunjung seperti menjadi oase di gersangnya padang hatiku, Bang. Aku yang selama ini merasa keberadaanku hanya sebagai figuran, malam ini aku seolah menjadi tokoh utamanya. Aku benar-benar merasa dihargai di tempat ini."


Bhumi berhasil menghimpun seluruh lembaran-lembaran uang ini. Sekilas, ia tersenyum tipis dan ia edarkan manik matanya untuk menatap Dewi.


"Ya, malam ini kamu adalah bintangnya. Dan kamu tahu berapa nominal uang yang terkumpul dari para pengunjung?"


Dewi menggelengkan kepala. "Tidak Bang, aku tidak tahu."


"Empat juta lima ratus ribu untuk tiga jam perform. Aku rasa akan menjadi awal yang baik untukmu mengawali mimpi-mimpi di kota ini."


Dewi terperangah tiada percaya. "E-empat juta lima ratus ribu? Bang Bhumi bercanda?"


"Sejak kapan aku suka bercanda?"


Bibir Dewi mencebik. "Issshhh ... iya aku lupa kalau bang Bhumi memang tidak pernah bisa bercanda. Wajahnya saja nampak datar dan minim ekspresi. Mana bisa Abang bercanda."

__ADS_1


Dewi teringat akan satu hal bahwa Bhumi merupakan salah satu lelaki yang terlalu serius dalam bersikap dan bertindak. Sejak pertama Dewi berinteraksi dengan Bhumi, sekalipun ia belum pernah mendengar lelaki ini mengobrol santai. Gestur penuh keseriusan lah yang begitu nampak memenuhi aura lelaki ini.


"Nah, kamu paham bukan? Jadi perihal uang ini, aku sama sekali tidak bercanda. Memang empat juta lima ratus yang terkumpul." Bhumi sejenak menjeda ucapannya. Ia ulurkan lembaran uang yang berada di genggaman tangan ke arah Dewi. "Ini semua untukmu!"


Lagi-lagi Dewi hanya bisa terperangah tiada percaya. Kedua bola matanya membulat penuh dan bibirnya menganga lebar. "Baru saja aku mengatakan bahwa Abang ini tidak pernah bercanda, tapi mengapa sekarang Abang justru bercanda?"


"Aku tidak sedang bercanda. Aku serius. Uang ini untuk kamu semua."


"Tapi Bang, kita perform berdua. Tidak seharusnya uang ini aku nikmati sendiri. Aku tidak mau Bang."


"Para pengunjung memberikan apresiasi terhadap suaramu melalui lembaran-lembaran uang ini. Jadi, ini adalah milikmu seutuhnya. Ambillah!"


"Tapi Bang, perform ku juga tidak akan maksimal jika tidak ada petikan gitar dari bang Bhumi. Jadi hasil ini kita bagi dua."


Bhumi meraih tangan Dewi yang seketika membuat wanita itu terkejut setengah mati. Tanpa basa-basi, Bhumi meletakkan lembaran-lembaran uang itu di atas telapak tangan Dewi.


"Ini semua milikmu."


Bhumi beranjak dari posisi duduknya dan mulai mengayunkan langkah kakinya. "Jika kamu tidak keberatan, sisihkan sedikit dari uang itu untuk Sita. Aku rasa dia jauh lebih membutuhkan daripada aku. Dan kalau boleh, aku minta dibelikan kebab saja, untuk mengusir rasa lapar yang mendera."


Dewi semakin terperangah, namun sejenak kemudian senyum itu kembali terbit di bibirnya. Entah mengapa sikap Bhumi yang seperti ini justru membuatnya merasakan bahagia tiada terkira. Dewi ikut beranjak dari posisinya dan mulai menyusul Bhumi yang sudah beberapa meter berada di depannya.


Tanpa sedikitpun merasa canggung, Dewi menggandeng lengan tangan Bhumi. Wanita itupun menatap lekat wajah sang lelaki yang masih saja fokus ke arah depan tanpa ingin diusik sama sekali.


"Baiklah, malam ini aku adalah bos nya. Dan si bos akan mentraktir kebab untuk anak buahnya. Hahahaha."


Untuk kali pertama Dewi bisa tertawa lepas seperti ini. Membebaskan segala lilitan yang membelenggu hati. Belenggu hati yang membuatnya berat untuk melangkahkan kaki. Kini semua musnah semenjak pertemuannya dengan lelaki bernama Bhumi.


Sedangkan Bhumi, lelaki itu masih saja menampakkan wajah minim ekspresi. Ia membiarkan wanita bernama Dewi ini menggandeng lengan tangannya hingga wanita itu akan menyadarinya sendiri.


Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang tulus yang berada di sekelilingku. Dan kamu adalah salah satu dari orang itu.

__ADS_1


__ADS_2